Terjebak Permainan Cinta

Terjebak Permainan Cinta
TPC (10)


__ADS_3

Setelah mandi lalu sarapan, Raymond berpamitan untuk pergi bekerja. Ia berpesan agar Caroline baik-baik saja di rumah. Dan agar Caroline menghubunginya jika menginginkan sesuatu.


Caroline hanya mengiyakan apa yang diminta Raymond. Tidak ingin menghambat kepergian Raymond dengan banyak bicara hal yang tidak penting.


Raymond pergi, Caroline beranjak dari teras depan rumah kedalam rumah untuk masuk dalam kamar. Ia ingin bersantai membaca buku yang sudah diambilnya di ruang baca suaminya semalam.


***


Raymond dijemput oleh Mattew. Mattew menyambut Raymond dengan senyumana manis.


"Selamat pagi, Tuan."


"Hai, Matt. Bagaimana harimu?" tanya Raymomd masuk kedalam mobil.


"Cukup baik. Ada sedikit masalah dengan istri di rumah," jawab Mattew.


"Jangan terus bertengkar. Kasihan anak-anakmu," nasihat Raymond.


"Ya, Tuan. Terima Kasih."


"Bagaimana dengan apa yang kamu selidiki. Apa ada hasil?" tanya Raymond.


Mattew mengangguk, mengemudi mobil perlahan meninggalkan halaman rumah Raymond.


"Seperti yang Anda sudah ketahui. Nyonya Caroline dan Nyonya Lily, mereka bukan kenalan atau teman dekat. Mereka secara tidan sengaja bertemu," jelas Mattew.


"Lalu?" Sambung Raymond penasaran.


"Apakah Anda tahu jika Ibu dari Nyonya Caroline sedang diawasi oleh orang-orang dari Nyonya Lily?" tanya Mattew melirik kaca depan yang mengarah ke Raymond.


Raymond mengernyitkan dahi, "Apa maksudmu?" tanya Raymond, "Caroline berkomplot dengan Lily, begitu?" imbuhnya.


"Orang kita beberapa kali menangkap basah Nyonya dan Nyonya Lily bertemu, ada Alex juga. Dan Alex sering kali menggoda Nyonya. Untuk detail apakah Nyonya ada sesuatu dengan Nyonya Lily saya tidak bisa pastikan. Sepertinya..., hanya Anda yang bisa menggali rahasia ini, Tuan."


Raymond terdiam, "Sudah kuduga. Seharusnya dari awal aku bisa membaca naskah Lily. Tidak hanya membunuh Anhastasia, ia juga ingin memperalat Caroline untuk mencelakaiku. Wanita jahat," geram Raymond dalam hati.


"Tetap selidiki diam-diam Matt. Anggap saja kita tidak pernah tau apa rencana mereka. Aku menantikan permainan cantik istri dan Kakak tiriku," ucap Raymond.


Mattew menganggukan kepala, "Ya, Tuan. Saya mengerti," jawabnya.


Raymond sudah mengerti siasat dari sauadari tirinya. Namun Raymond akan bersikap seolah ia tidak tahu apa-apa dan mengikuti alur cerita yang ditulis oleh Lily.

__ADS_1


***


Caroline mendapat panggilan diponselnya. Ponselnya berdering mengalihkan perhatiannya dari buku.


Caroline mengangkat ponselnya dari atas meja dan menatap layar ponsel. Matanya melebar, saat melihat nama Lily di ponsenya.


"Nyonya Lily," gumam Caroline.


Panggilan berakhir tanpa jawaban dari Caroline. Tidak lama ponselnya kembali berdering dan mengejutkan Caroline.


Caroline dengan segera menerima panggilan dari Lily. Keduanya berbincang ditelepon.


"Ha-halo," jawab Caroline menerima Lily.


"Caroline, bagaimana dengan misimu. Jangan mmebuang waktu, mulailah segera. Ingat, nyawa Mamamu dipertaruhkan disini," (peringatan Lily sekaligus ancaman bagi Caroline)


"Aku mengerti," jawab Caroline.


"Bagus! aku menunggu kabar baik darimu," kata Lily.


"Ya," jawab Caroline.


Caroline mencengkram kuat buku yang ada dipangkuannya. Rasanya sangat sulit bagi Caroline untuk melakukan misinya.


"Aku tahu, kamu jangan lupa saja dengan kesepakatan kita. Jika kamu berani berkhianat, kamu tahu sendiri akibatnya. Mengerti?" ancam Lily lagi.


"Ya, aku mengerti. Aku tutup teleponmu," jawab Caroline yang segera menutup panggilan dari Lily.


Caroline menatap kosong meja dihadapannya. Pikirannya mulai kacau, ia masih enggan untuk melakukan apa yang sudah ia sepakati dengan Lily. Namun, jika ia tidak segera lakukan, Caroline takut terjadi sesuatu pada Mamanya.


"Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan. Bagaimana bisa aku menyakiti Raymond yang sudah bersikap baik dan lembut padaku," batin Caroline.


Sepanjang siang Caroline berpikir, ia sungguh dilema. Antara iya dan tidak, antara mau dan tidak mau.


Ponsel Caroline kembali berdering, Caroline yang larut dalam lamunan kembali terkejut. Melihat nama Raymond dilayar ponsel, membuat Caroline tampak lega. Dengan segera Caroline menerima panggilan dari suaminya.


"Ya?" jawab Caroline.


"Sayang, kamu ingin makan siang denganku? ada restorant yang baru dibuka di sekitar kantor," ajak Raymond.


"Kamu tidak sibuk?" tanya Caroline.

__ADS_1


"Istriku juga penting. Aku bisa lanjut bekerja setelah selesai makan siang denganmu," jawab Raymond.


"Oh, baiklah jika seperti itu. Aku akan datang ke kantormu," jawab Caroline.


"Ya, datanglah. Aku menunggumu, sayang. Aku akan minta Mattew menjemputmu," kata Raymond.


"Hm, ok. Aku akan bersiap sekarang." kata Caroline.


"Sampai nanti, aku menyayangimu," ucap Raymoan lembut.


"Ya," jawab Caroline tersenyum masam.


Raymond mengakhiri panggilannya. Caroline terdiam sesaat, banyak hal ia pikirkan. Mulai dari cerita Raymond, Lily, sampai hubungannya dengan Raymond saat ini. Perlakuan Raymond yang selalu membuatnya nyaman, suara Raymond yang lembut dan hangat. Sentuhan Raymond yang bisa membuatnya terbuai. Semuanya dirasa Caroline berat untuk di lepaskan.


Caroline teringat jika ia harus segera bersiap. Dengan segera ia berdiri dari sofa dan menuju ruang ganti untuk berganti pakaian. Caroline akan pergi ke kantor Raymond dan makan siang bersama Raymond.


***


Raymond meminta Mattew menjemput Caroline di rumah. Raymond kembali mengingatkan Mattew, tidak boleh bicara sembarangan di depan Caroline dan bersikap sewajarnya saja. Mattew mengiyakan permintaan bossnya itu. Mengerti akan maksud dari atasannya.


"Jemputlah Caroline di rumah, Matt. Aku akan mengajaknya makan siang," kata Raymond menatap ke arah Mattew di hadapannya.


"Baik tuan," jawab Mattew.


"Oh, ya. Jaga ucapanmu, dan sikapmu. Jangan sampai Caroline curiga. Ingat pesanku ini baik-baik," Raymond memberi peringatan.


"Saya mengerti, Tuan."


"Pergilah, jangan membuatnya menunggu. Hati-hati juga," kata Raymond mengalihkan pandangannya dari Mattew.


"Ya, Tuan. Saya permisi," jawab Mattew yang langsung pergi meninggalkan ruangan Raymond.


Raymond terdiam sesaat. Tidak lama kemudian ia membuka laci meja kerjanya dan mengeluarkan sebuah bingkai foto. Itu adalah foto dari Anhastasia. Raymond meraba lembut foto itu, matanya mulai berkaca.


"Maafkan aku, aku baru bisa mengungkapnya setelah sekian lama kepergianmu, Anha. Aku suami yang tidak berguna, aku bahkan tidak mampu menyelidiki kecelakaan itu," ucap Raymond sedih.


Mata Raymond lekat memandang foto yang dilihatnya. Raymond memeluk foto Anhastasia dan memejamkan mata.


"Sudah delapan tahun kamu dan anak kita pergi meninggalkanku. Dan semenjak itu juga kamu tidak pernah sekalipun datang dalam mimpiku. Apakah kamu sangat membenciku, Anha?" batin Raymond.


"Apa kamu tahu, aku selalu merindukanmu? aku selalu datang ke pemakamanmu setiap tanggal kelahiranmu, dan tanggal peringatan kepergianmu. Aku tidak tahu harus apa, aku hanya ingin kanu tahu, jika aku masih sangat mencintaimu jauh dalam lubuk hatiku. Aku tak pernah bisa lupa senyumanmu," batin Raymond lagi.

__ADS_1


Raymond merasa sesak di dalam dadanya, saat ia mengingat peristiwa delapan tahun yang lalu. Tidak ada kata perpisahan, tidak ada firasat atau hal aneh lainnya. Penyesalan Raymond adalah, ia tidak pergi bersama istrinya saat itu. Ia memilih pergi bersama Papanya lebih dulu.


__ADS_2