
Raymond terbangun saat tengah malam. Ia melihat Caroline sedang terlelap tidur di sisinya. Dengan hati-hati Raymond menyibakkan rambut Caroline yang menutupi wajah. Raymond membungkuk, mengecup pelipis Caroline.
"Dia sangat manis saat tidur," batin Raymond.
Karen tidak tahu harus melakukan apa, Raymond pun turun dari tempat tidur dan berjalan hendak pergi ke ruang kerja.
Baru beberapa langkah, ia mendengar suara rengekan dan tangisan seseorang. Raymond berbalik, ia menghampiri Caroline yang tertidur. Benar saja, Caroline terlihat sedang mengerutkan dahi dan menangis.
"Tidak mau. Jangan paksa aku melakukanya. Tidak mau. Aku tidak mau!" teriak Caroline masih dengan keadaan mata tertutup.
Raymond mengerutkan dahi, "Apa yang dia mimpikan sampai berteriak seperti ini?" batinnya.
Raymond mengusap wajah Caroline dan memanggil-manggil Caroline.
"Sayang ... Caroline ... " panggil Raymond pelan.
Hiks ... hiks ...
Caroline menangis tersedu-sedu. Dalam tangisannya Caroline memanggil-manggil nama Raymond.
"Ray ... hiks ... " gumam Caroline.
"Caroline ... " panggil Raymond.
"Sayang bangun ... " panggil Raymond berusaha membangunkan Caroline.
Setelah beberapa lama akhirnya Caroline bangun. Ia langsung membuka mata lebar-labar. Ia melihat Raymond menatap ke arahnya. Caroline segera bangun dan memeluk Raymond. Ia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Raymond.
Raymond bingung. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba Caroline menangis. Ia mengeratkan pelukan dan mengusap-usap punggung Caroline.
Raymond sengaja tak bicara apa-apa. Ia tidak tahu alasan Caroline menangis, tidak tahu apa yang sedang Caroline pikirkan. Karena itu ia memilih menunggu Caroline tenang dan menunggu Caroline bicara.
__ADS_1
Cukup lama Caroline menangis. Sampai akhirya ia tenang dan melepas pelukan. Raymond menadahkan wajah Caroline, menyeka air mata istrinya itu.
"Apa terjadi sesuatu? kenapa menangis?" tanya Raymond. Ia tidak bisa menunggu dan diam saja.
"Sepertinya aku bermimpi buruk," gumam Caroline.
"Mimpi buruk? mimpi buruk yang seperti apa? bisa ceritakan padaku?" tanya Raymond ingin tahu.
Caroline terdiam menatap Raymond. Ia berpikir, bagaiamana bisa ia cerita, jika Raymond meninggal karena dibunuh olehnya. Mata Caroline membali berair, ia sangat takut.
"Katakan saja. Jangan takut," kata Raymond.
"Aku bermimpi kamu meninggal, Ray. Kamu tertelegak di lantai," jawab Caroline.
Raymond terkejut. Ia menarik napas dalam, lalu mengembuskan napas. Raymond tahu kalau nyawanya manjadi incaran Lily. Hanya saja ia tidak menyangka kalau Caroline akan memimpikannya meninggal di depan mata.
"Itu hanya mimpi, Caroline. Kenyataannya aku kan masih hidup. Jangan pikirkan mimpimu lagi. Karena itu tidak akan pernah terjadi." kata Raymond.
Caroline terkejut, "Kenapa kamu sangat yakin tak akan meninggal? padahal seseorang yang berbahaya bagimu tepat berada di sisimu, Ray." batin Caroline.
"Bagaimana kalau apa yang aku mimpikan itu adalah sebuah peringatan dan menjadi kenyataan. Nyawamu kan memang berada dalam bahaya saat ini. Kita tidak akan tahu apa hal yang terjadi nantinya." kata Caroline.
"Ya, aku tahu itu. Nyawaku sudah mencari incaran. Bohong kalau aku bilang aku tidak takut. Aku sangat takut. Memikirkan tiba-tiba ada seseorang yang membunuhku, membuatku terkadang tidak bisa tidur." kata Raymond.
Caroline memikirkan. Apakah dia akan benar-benar menjadi pelaku pembunuhan?
"Tidak! aku tak bisa melukai Raymond. Obat yang diberikan Lily kan sudah diganti vitamin oleh Alex. Aku tahu Alex memang berkomplot dengan Lily, tapi aku percaya pada ucapannya yang mengatakan tak ingin Pamannya dibunuh Mamanya. Alex berkata dia juga akan meneliti kandungan obat yang dibawanya." batin Caroline.
Raymond meminta Caroline kembali tidur. Ia akan menjaga Caroline sampai tertidur.
Caroline yang tidak bisa lagi menahan diri pun akhirnya memberanikan diri mengakui kebenaran yang ia sembunyikan. Ia bangun dan duduk menghadap Raymond. Kepalanya menunduk. Caroline tak punya keberanian menatap mata Raymond.
__ADS_1
Caroline mengaku, jika ia adalah orang suruhan Lily dan bekerja untuk Lily. Ia juga diminta Lily untuk diam-diam mengawasi Raymond. Caroline mengatakan semuanya, sambil menangis tersedu-sedu. Ia jujur mengakui kalau ia bersalah.
Caroline menyeka air matanya, "Aku tahu perbuatanku tak akan bisa kamu maafkan. Meski begitu aku akan tetap minta maaf padamu. Maafkan aku, Ray." ucap Caroline.
Raymond terkejut. Ia tidak sangka, kalau Caroline tiba-tiba mengakui perbuatan jahatnya yang bersekongkol dengan Lily. Juga meminta maaf padanya. Padahal Raymond berpikir kalau waktu bagi Caroline mengaku masih lama.
Caroline semakin gelisah. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Dan ia pun sudah pasrah. Ia akan menerima semua keputusan Raymond. Kalau memang ia pada akhirnya harus pergi, maka ia akan pergi.
"Apa dia akan langsung mengusirku?" batin Caroline.
Caroline berpikir dibiarkan hidup saja ia sudah berayukur. Jika hanya diceraikan dan usir pergi, itu sudah lebih baik dibandingkan ia harus menerima hal lain seperti disiksa, atau bahkan sampai diseret ke kantor polisi. Bagaimanapun, ia masih harus merawat sang Mama.
"Caroline ... " panggil Raymond.
"Ya?" jawab Caroline tak berpaling dari pandanganya.
"Bisakah kamu menatapku? Dan menjawab apa yang akan aku tanyakan dengan jawaban jujur?" tanya Raymond.
Jantung Caroline berdegup kencag. Caroline perlahan menadahkan kepala menatap Raymond. Pandangan mata Raymond dan Caroline pun bertemu.
"Jawab jujur. Apakah perasaanmu padaku itu nyata? atau kamu hanya sekadar menggodaku saja?" tanya Raymond.
"Perasaanku nyata. Aku mencintaimu itu adalah kebenaran. Meskipun awalnya aku memang tidak menyukaimu dan berusaha memikatmu agar aku bisa memenuhi keinginan Lily, tapi pada akhirnya akulah yang terpikat olehmu. Perlakuanmu, kebaikanmu, dan perhatianmu. Membuatku terus dihantui rasa bersalah. Karena itulah aku mengaku sekarang. Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku tidak bisa ..." jawab Caroline menangis.
Mata Raymond terasa panas. Ia tidak tega melihat Caroline yang menangis di hadapannya. Raymond langsung memeluk Caroline erat-erat dan mengatakan kalau Raymond menyayangi Caroline.
"Aku menyayangimu, Caroline. Aku tak akan pernah melepaskanmu," kata Raymond.
Caroline melepas pelukan Raymond, "Apa maksudmu? apa kamu berniat menyiksaku karena aku adalah orang suruhan Lily?" tanya Caroline.
"Apa maksdumu menyiksa. Aku bukan orang sejahat itu. Aku sudah tahu sejak awal kalau kamu adalah orang Lily. Lepas dari itu, aku memang menyukaiku sejak awal bertemu. Sekilas aku melihat ada sedikit kemiripan antara kamu dan dia, Anhastasia. Dulu aku gagal melidungi orang yang kusayangi, tetapi sekarang aku tidak lagi. Apapun yang terjadi aku akan melindungimu." kata Raymond.
__ADS_1
Caroline terkejut mendengar pernyataan Raymond. Meski sudah tahu kalau istrinya adalah orang yang bisa saja membunuhnya, Raymond tetap bersikap baik dan begitu perhatian. Caroline pun merasa malu.
Raymond mengusap kepala Caroline, "Lakukan saja apa yang Lily katakan. Aku akan terus berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang rencananya. Kamu mengerti maksudku, kan?" tanya Raymond.