Terjebak Permainan Cinta

Terjebak Permainan Cinta
TPC (17)


__ADS_3

Waktu liburan yang ditentukan Raymond ternyata lebih panjang. Semula ia hanya akan libur kerja selama tiga hari. Ternyata ia dan Caroline tak puas dan menghabiskan waktu satu minggu untuk bersenang-senang.


Caroline sangat bahagia. Sepanjang hidup, ia baru pertama kali merasakan kehidupan mewah dan menyenangkan seperti saat itu. Jika dulu, ia harus bekerja mati-matian demi pengobatan Mama tanpa kenal waktu. Di hari libur pun ia masih sibuk mencari pekerjaan paruh waktu serabutan.


Raymond yang tadinya waspada dan berhati-hati pada Caroline, kini perlahan mulai melonggarkan pengawasan. Ia bahkan tak masalah, kalau saja Caroline melukainya suatu saat nanti.


***


Raymond dan Caroline baru saja tiba di rumah. Raymond meminta Caroline mandi dan istirahat. Sedangkan ia mau ke ruang kerja sebentar karena ada pekerjaan mendesak yang harus dikerjakan.


Caroline munurut. Ia berjalan menuju kamar. Melihat sang istri sudah masuk dalam kamar, Raymond langsung perge ke ruang kerjanya dan menyelesaikan pekerjaan mendesaknya.


Caroline selesai mandi. Ia duduk di depan meja rias dan menatap cermin. Caroline memandangi wajahnya sendiri. Ia mengambil pelembab wajah dan mengenakannya.


"Bagaimana kabar Mama, ya?" batin Caroline.


Caroline berdiri dan berjalan mendekat ke tempat tidur. Ia mengambil ponsel di nakas, lalu menghubungi Mamanya. Sayang sekali panggilannya tak dijawab oleh Mamanya. Caroline berpikir mungkin Mamanya sudah tidur. Ia lantas mengirim pesan, bertanya tentang kabar sang Mama.


Caroline melihat ada pesan masuk yang dikirm oleh Alex dan Lily. Caroline membuka pesan dari Alex. Pesan Alex berisi peringatan untuk Caroline. Alex mengatakan, kalau Mamanya sangat marah Caroline tak bisa dihubungi dan tak menjawab pesannya.


"Aku malas menjawabnya," batin Caroline.


Ia langsung menghapus pesan dari Alex. Pesan dari Lily pun dibuka, Caroline diminta menghubungi Lily kalau sudah membaca pesan yang dikirim Lily.


Merasa tak enak hati, Caroline lantas menghubungi Lily. Panggilannya pun langsung diterima oleh Lily.


"Kamu baru menghubungiku. Ke mana saja kamu selama ini Caroline?" sentak Lily.


"Tidak ada waktu menjelaskan. Cepat katakan, ada apa? Aku sendirian di kamar, tapi sebentar lagi Raymond pasti akan masuk ke dalam kamar." kata Caroline.


"Hah ... (menghela napas kasar) dasar! Baiklah, kalau begitu temui aku besok. Ada yang mau aku berikan padamu." kata Lily.


"Ya, kirim saja alamat tempatnya padaku. Maaf, tapi aku tak bisa berlama-lama. Sampai jumpa besok." pamit Caroline yang langsung mengakhiri panggilan.

__ADS_1


Caroline menghela napas, ia merasa lega bisa cepat mengakhiri panggilan dengan Lily. Tak beberapa lama, ponsel Caroline bergetar. Lily mengirim pesan, lokasi dan waktu janjian esok hari. Setelah membaca, Caroline langsung membalas pesan Lily dengan jawaban singkat, "Ya"


"Kira-kira kenapa Lily mau bertemu denganku, ya? apa mungkin dia mau mendesakku lagi? Aku harus bagaimana menghadapinya besok?" batin Caroline.


Pintu kamar terbuka. Raymond masuk dan menutup pintu. Caroline buru-buru menghapus pesan dan mematikan ponselnya. Ia meletakkan ponsel ke dalam laci nakas.


"Belum tidur?" tanya Raymond berjalan mendekati Caroline.


"Belum mengantuk. Apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Caroline..


Raymond menganggukkan kepala, "Ya, sudah. Aku pergi mandi dulu," kata Raymond.


Caroline berjalan mendekati lemari dan mengambilkan pakaian ganti suaminya. Ia meletakkan pakaian ganti di atas tempat tidur.


Mata Caroline terpaku menatap pakaian Raymond. Caroline meraba pakaian itu dan berpikir, apa yang akan terjadi kalau sampai Raymond tahu, ia menikah dengan Raymond karena butuh uang dari Lily? dan bagaimana tanggapan Raymond saat tahu, istrinya sendiri adalah orang yang akan membahayakan nyawanya.


"Apa kamu akan marah padaku?" gumam Caroline.


Tiba-tiba Raymond menyahuti. Ia berdiri tepat di sisi Caroline dan mendekatkan wajahnya ke wajah Caroline.


Caroline memalingkan pandangan, "Ah ... kamu sudah selesai mandi? tidak, bukan apa-apa. Aku hanya bergumam asal saja," kata Caroline.


Raymond mengambil pakaian gantinya. Ia langsung berganti pakaian. Karena sudah sering melihat Raymond ganti baju langsung dihadapannya, sekarang Caroline sudah terbiasa dan tidak terkejut lagi. Hanya saja, kadang ia merasa malu. Ia sering kali menatap lekat ke arah punggung atau memandangi perut berotot milik suaminya.


"Ray ... " Panggil Caroline menatap Raymond.


"Ya? ada apa, sayang?" jawab Raymond.


"Besok aku mau ke tempat Mamaku. Boleh, kan?" tanya Caroline meminta izin.


Caroline merasa tetap harus meminta izin dan tak boleh asal pergi atau keluar dari rumah.


Raymond tersenyum, "Kenapa harus izin. Jika ingin pergi maka pergilah. Aku tidak akan pernah melarangmu pergi. Apa mau aku temani? kalau mau kutemani, tunggu aku selesai rapat dan kita akan bisa pergi kira-kira sore." jawab Raymond menawari.

__ADS_1


Caroline menolak halus tawaran Raymond. Ia meminta Raymond fokus saja bekerja. Ia akan pergi sendiri. Lagipula, kepergiannya hanya kunjungan biasa saja.


"Bukannya aku tidak ingin kamu antar. Hanya saja kamu kan sibuk kerja. Pasti pekerjaanmu juga menumpuk setinggi gunung karena kamu libur satu minggu. Lain waktu saat senggang kita mengunjungi Mama." jelas Caroline.


Raymond tersenyum membelai wajah istrinya, "Istriku ini memang pengertian, ya. Aku adalah pria beruntung yang bisa menikah dengamu, Caroline." ucap Raymond dengan wajah seriusnya.


Deg ...


Caroline langsung dibuat tersentak oleh kata-kata Raymond. Ia merasa sedih, saat Raymond mengatakan ia adalah sebuah keberuntungan.


"Jangan bicara hal yang berlebihan. Aku tak sebaik itu, Ray." kata Caroline.


"Apa yang kamu katakan. Bagiku kamu adalah perempuan yang baik dan manis. Memangnya aku tidak boleh memuji istriku sendiri, ya?" jawab Raymond.


"Bukannya tidak boleh. Tapi aku merasa aneh saja. Aku tak pernah beruntung dalam hidupku. Jadi aku merasa kamu berlebihan mengatakan kalau aku adalah keberuntungan buatmu." kata Caroline.


Raymond terdiam menatap sang istri. Raymond tahu, apa maksud ucapan istrinya itu. Ia jug tahu, apa isi kepala istrinya.


"Boleh aku menciummu?" tanya Raymond.


Caroline kaget, "Ti ... tiba-tiba?" kata Caroline melebarkan mata.


"Karena kamu sangat menggemaskan. Aku ingin menciummu," pinta Raymond.


Caroline menatap Raymond dan menganggukkan kepala sebagai jawaban. Mendapat izin, Raymond langsung merangkul pinggang Caroline dan mencium bibir Caroline dengan gemas.


"Umh ... " lengkuh Caroline. Suhu tubuhnya mulai meningkat.


Caroline merasakan perasaan aneh. Ini bukan pertama atau kedua kalinya ia berciuman dengan Raymond. Saat liburan bahkan ia dan Raymond sering berciuman.


"Kenapa perasaanku aneh, ya?" batin Caroline.


Raymond melepas ciumannya, "Rasanya aku tak mau berhenti. Bolehkah aku menciummu sepuas yang kumau?" tanya Raymond lagi.

__ADS_1


Entah apa yang ada dalam pikiran Caroline. Ia langsung mengalungka kedua tangannya ke leher Raymond dan mencium Raymond.


Mata Raymond melebar, ia terkejut. Ini pertama kalinya Caroline berani menciummya lebih dulu. Biasanya ia lah yang duluan mulai, dan Caroline baru akan membalas ciumannya.


__ADS_2