
Duka menyelimuti, Raymonda pada akhirnya melepas kepergian istrinya dan calon anaknya dengan berat hati. Anhastasia pun dikebumikan.
Semenjak kejadian itu, Raymond tidak beranjak dari rumahnya. Tidak bekerja, tidak mau menemui siapapun. Hidup Raymond sangat kacau.
Setiap hari hanya ada tangaisan dan penyesalan. Menyesal karena masih belum bisa membuat Anhastasia bahagia sepenuhnya. Menangis karena tak bisa bersama lagi untuk seumur hidup.
Karena merasa sangat kehilangan, Raymond pun melakukan hal bodoh. Ia menelan obat penenang dalam dosis tinggi dan mengalami keracunan. Untung saja nyawa Raymond bisa diselamatkan tepat waktu berkat Mattew. Mattew segera membawa Raymond kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
Bukan terima kasih yang diterima Mattew, justru kekesalan Raymond. Raymond dengan penuh emosional mengungkapkan jika ia ingin bersmaa Anhastasia. Tak ingin hidup tanpa Anhastasia.
#flashback off#
***
Selesai menceritakan kejadian masa lalu. Raymond mengajak Caroline tidur.
"Ayo tidur. Sudah larut malam," ajak Raymond, menggandeng tangan Caroline keluar dari ruang kerjanya.
Caroline mengangguk, "Ya," jawabnya mengikuti langkah kaki Raymond.
Sesampainya dikamar, Caroline dan Raymond bersiap tidur. Mereka sudah berbaring dalam satu tempat tidur yang sama dan juga dibawah selimut yang sama.
Caroline masih memikirkan cerita Raymond mengenai Anhastasia. Mendengar cerita suaminya itu, ia sangat yakin jika suaminya sangat mencintai Anhastasia. Rasa kehilangan orang terkasih memanglah sangat berat.
Raymond berbalik menatap Caroline, "Belum tidur?" tanya Raymond.
Caroline menatap Raymond, "Belum mengantuk. Aku masih memikirkan ceritamu," jawab Caroline.
"Kenapa dengan ceritaku?" Raymond bingung.
"Kamu sangat mencintainya. Apakah kamu bisa melupakanya?" tanya Caroline.
Raymond membelai rambut Caroline, "Rasa cintaku padanya memang tak akan pernah hilang. Walau hanya sebentar bersama, Anha adalah wanita pertama yang aku cintai. Namun, bukan berarti aku tak akan membuka hati untumu. Kamu sudah menikah denganku, tentu akan mencoba mencintaimu juga." kata Raymond menjelaskan.
Mendengar kata-kata Raymond, Caroline teringat akan misinya. Caroline menjadi dilema akan misinya, ia ragu untuk melukai pria di hadapannya itu
"Terima kasih. Aku juga akan mencoba menjadi istri yang terbaik untumu," jawab Caroline.
Raymond mencium kembut kening Caroline, "Perlahan saja. Jangan terlalu memaksakan diri membuka hati untukku. Begitu juga denganku, kita bisa saling mengenal satu sama lain lebih dulu. Saling mengerti, saling peduli, agar benih cinta diantara kita tumbuh." kata Raymond.
Kata-kata Raymond memang sangat lembut. Suara khasnya terdengar merdu ditelinga Caroline. Caroline melebarkan senyuman menatap lekat Raymond.
"Apa boleh aku bertanya lagi?" kata Caroline.
__ADS_1
Raymond tersenyum, "Tanyalah, tak perlu izin seperti itu, sayang."
"Apakah Rumah ini juga Rumah yang kamu tinggali bersamanya? kamar ini juga?" tanya Caroline.
Raymond menganggukkan kepala perlahan, "Ya, kamu benar. Rumah ini, kamar ini, semua adalah tempat yang sama saat aku dan Anha bersama. Tak ada yang berubah," jawab Raymond.
"Oh, begitu." sahut Caroline.
"Kenapa? kau tidak suka? ingin pindah?" tawar Raymond.
Caroline melebarkan mata, lalu menggelengkan kepala cepat. Ia segera membantah tawaran Raymond.
"Tidak. Bukan seperti itu yang aku maksudkan. Bukan karena aku bertanya, lalu aku tidak merasa nyaman, karena aku penasaran saja." jelas Caroline.
"Aku berpikir jauh, maafkan aku. Aku tidak tahu maksudmu," kata Raymond.
"Tidak apa, jangan terlalu dipikirkan. Apapun itu, mau kamu masih menyimpannya dalam hatimu pun, kamu sekarang adalah suamiku. Aku adalah istrimu, kita akan berjalan bersama menyebrangi lautan." kata Caroline.
Raymond tertawa kecil, "Ya, kita akan selalu bersama. Sampai akhir kita akan terus bersama," jawab Raymond, "Kemarilah, biarkan aku memelukmu tidur. Aku tidak akan macam-macam," sambung Raymond.
Caroline menganggukkan kepala. Lalu masuk dalam pelukan Raymond. Pelukan Raymond terasa begitu hangat dan nyaman.
"Bagaimana aku tega meracunimu jika kamu bersikap sangat baik seperti ini? aku akan sangat merasa bersalah," batin Caroline.
"Ya, selamat malam dan selamat tidur juga."
Raymond memejamkan mata dan terlelap tidur. Berbeda dengan Raymond, Caroline masih membuka mata tidak bisa tidur.
Caroline memikirkan cara untuk menjalankan misinya. Dengan menyelesaikan misinya, ia bisa bertemu Mamanya dan menyembuhkan Mamanya. Caroline tidak habis berfikir, mengapa Lily dan Alex ingin Raymond tiada. Ingin menghancurkan Raymond sampai hancur.
"Apa kesalahan Raymond pada Nyonya Lily dan Alex? bagaimana jika aku tidak bisa lakukan apa seharusnya aku lakukan? bagaimana jika aku gagal," batin Caroline.
Caroline terus berpikir, meski matanya telah terpejam, ia masih belum bisa untuk terlelap tidur. Misinya berat, membuat hatinya ragu dan bimbang. Meski Caroline tidak memiliki rasa pada Raymond, namun Caroline masih enggan untuk melancarkan serangan untuk menyakiti Raymond.
Malam semakin larut, lelah berpikir, Caroline pun akhirnya terlelap tidur. Ia terlelap dalam dekapan Raymond.
***
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Raymond bangun. Ia sedang berolah raga pagi, Caroline pun juga langsung bangun usai membuka matanya perlahan.
Caroline keluar dari kamar menuju dapur. Matanya menatap sekeliling mencari dimana Raymond, karena saat dia terbangun Raymond sudah menghilang dari pandangannya.
Bibi Ann menyapa Caroline, "Selamat pagi, Nyonya. Ingin makan apa pagi ini?" tanya Bibi Ann ramah.
__ADS_1
Caroline ingat kejadian semalam, ia tidak menjawab dan Raymond meminta Bibi Ann memasak begitu banyak makanan.
Caroline tersenyum, "Masak saja yang biasa dimakan Raymond. Oh ya, Bibi melihatnya?" tanya Caroline.
"Tuan sedang berolah raga di halaman belakang," jawab Bibi Ann.
"Oh, ok. Kembalilah bekerja, Bi."
Caroline berjalan menuju meja makan. Ia menuang air minum dan lalu meminumnya. Caroline berniat menyusul Raymond ke halaman belakang.
***
Raymond teridam, menadahkan kepala menatap langit pagi yang cerah. Terlihat Matahari sudah bersinar, saatnya Raymond menyudahi kegiatannya. Raymond berbalik dan terkejut, melihat Caroline berdiri sudah ada dihadapannya.
"Kamu mengejutkanku," kata Raymond.
Caroline tertawa, "Maafkan aku, aku tidak ingin mengganggumu. Makanya aku diam," jawab Caroline.
Raymond tersenyum, menghampiri Caroline dan langsung mengecup kening istrinya itu lembut.
"Selamat pagi, istriku yang cantik."
Caroline tersenyum, "Selamat pagi juga," jawab Caroline.
"Ingin berjalan-jalan denganku?" ajak Raymond.
"Tapi, aku hanya pakai gaun tidur. Apa perlu aku ganti baju dulu?" kata Caroline.
Raymond membenahi pakaian Caroline. Menutupi bagian dada Caroline yang sedikit terlihat dengan kimono tidur yang dikenakan.
"Begini saja tidak apa-apa. Hanya ada aku dan kamu saja," kata Raymond.
"Baiklah jika begitu. Ayo," kata Caroline, mengiyakan ajakan Raymond.
Raymond merangkul pinggang Caroline dan mereka pun berjalan-jalan diarea halaman belakang rumah.
"Kamu bangun awal, apakah tidak bisa tidur?" tanya Caroline.
"Bukan seperti itu. Aku hanya terbangun untuk ke kamar mandi, lalu tidak bisa tidur lagi. Aku akhirnya keruang kerja dan langsung olah raga. Kanu sendiri? kenapa sudah bangun?" tanya balik Raymond.
"Aku terbiasa bangun pagi, aku bukan wanita pemalas."
"Tidak apa jika kamu ingin bermalas-malasan. Kamu istriku, dilarang bekerja dalam bentuk apapun. Tugasmu hanya melayaniku," ucap Raymond.
__ADS_1
Caroline tersentak kaget, "Aku kan tidak boleh berpangku tangan begitu saja. Aku akan tetap melakukan tugasku," jawab Caroline tersipu. Pikirannya sudah mengartikan lain ucapan Raymond.