Terjebak Permainan Cinta

Terjebak Permainan Cinta
TPC (12)


__ADS_3

Lily dan Alex selesai makan siang. Lily meminta Alex untuk masuk dalam perusahaan yang dikelola Raymond. Berniat membuat Alex menjadi orang terdekat di perusahaan Raymond.


"Masuklah ke perusahaan Pamanmu, Lex." kata Lily.


"Tidak, Ma. Aku masih ingin bersantai," jawab Alex malas.


"Omong kosong apa yang kamu katakan. Bersantai? kita harus bergerak cepat," sentak Lily marah. Ia tidak senang dengan jawaban putranya.


"Mama, aku masih ingin menikmati hidupku. Baru saja beberapa bulan aku datang, Mama sudah ingin menyulitkanku," gerutu Alex tidak mau dengar pemintaan Mamanya.


"Kamu ini, selalu bertindak sesukamu. Kamu tidak pernah mau dengar apa kata Mama," keluh Lily menahan diri agar emosiny tidak meledak.


"Bagaimana bisa aku mendengar perintah Mama. Mama selalu saja mengomel, aku melakukan apa saja selalu salah di mata Mama. Aku malas," jawab Alex lagi mengutarakan isi hatinya yang dipendamnya.


"Ya sudah, jika begitu. Lakukan apa saja sesukamu, jika ada apa-apa jangan panggil Mama ataupun minta bantuan Mama. Mama tidak akan membantumu," ucap Lily beranjak pergi. Ia meninggalkan putranya begitu saja.


Melihat Mamanya pergi dengan kesal. Alex takut, jika ucapan Mamanya adalah benar adanya. Ia tidak bisa bayangkan hidup tanpa campur tangan Mamanya. Selama ini Mamanya adalah sandarannya.


"Apa Mama sungguh-sungguh marah? aku kan hanya menjawab asal saja karena kesal tadi," batin  Alex.


"Ma," panggil Alex, menatap Mamanya yang berjalan tak jauh darinya.


"Ada apa?" jawab Lily menghentikan langkah tanpa memalingkan pandangan.


"Apakah Caroline akan terus bersama Paman?" tanya Alex tiba-tiba.


Lily memijat pangkal hidungnya, "Apa yang kau inginkan, Lex. Apa kamu sungguh mengincar wanila liar itu?" tanya Lily. Ia berbalik menatap putranya dari tempatnya berdiri.


"Ya, aku menyukainya, Ma. Seharusnya dia menikah denganku. Bukan dengan Paman," kata Alex tidak terima.


"Kamu ini, bodoh atau memang sedang mabuk? bisa-bisanya kamu seperti ini," kata Lily yang langsung pergi setelah bicara.


Alex mencengkram jemarinya sendiri, "Apapun itu, Caroline harus menjadi milikku. Aku akan gunakan cara apapun agan Paman dan Caroline berpisah," batin Alex, beranjak pergi ke kamarnya.


Alex menyukai Caroline sejak pandangan pertama. Kecantikan dan keanggunan Caroline mampu membuat jantung Alex berdegup kencang. Sikap dingin Caroline pada Alex membuat Alex semakin gencar ingin mengejar wanita cantik tersebut. Namun sayang, Caroline adalah pion yang dimainkan oleh Lily untuk menghadapi Raymond, menjadikan Caroline sebagai racun mematikan untuk membunuh Raymond yang merupakan Adiknya sendiri.


***


Sore harinya, Caroline terjaga dari tidurnya. Ia membuka mata dan merasakan seseorang memeluknya.


"Emhhh," suara Caroline mengusap lembut matanya.

__ADS_1


Caroline menadahkan wajah, "Raymomd?" lirih Caroline.


Sejenak Caroline memandangi Raymond. Alis hitam tebal, bulu mata lentik, hidung yang mancung, wajah sempurna yang dimiliki Raymond membuat Caroline tidak bisa berpaling.


"Tampan sekali," batin Caroline.


"Wanita mana yang tidak akan tergila-gila olehmu, Ray. Kamu begitu tampan, meski sudah menginjak usia yang tidak lagi muda. Bahkan aku mulai tertarik padamu," batin Caroline lagi.


Perlahan Caroline membelai rambut dan wajah Raymond dengan lembut. Tanpa sadar, Caroline tersenyum cantik menatapi Raymond yang sedang terlelap tidur disampingnya.


Gerakannya terhenti, senyumnya memudar. Caroline kembali ingat jika ia tidak boleh bermain dalam api.


"Mengapa aku bisa seperti ini? aku tidak bisa mengendalikan diri," batin Caroline.


"Tidak bisa, aku harus tetap pada batasan. Tidak boleh menerobos melewatinya. Caroline, sadarlah!" Batinnya geram.


Caroline berusaha bangun, namun Raymond menahannya. Raymond memeluknya erat, tak ingin melepaskan Caroline.


"Ray, aku harus bangun. Lepaskan," kata Caroline bersuara pelan.


"Sebentar saja. Izinkan aku memelukmu seperti ini beberapa menit," jawab Raymond.


Caroline diam. Mau tidak mau ia menuruti permintaan Raymond. Ia diam saja saat tubuhnya didekap erat oleh Raymond.


***


Lily datang ke rumah Raymond untuk berkunjung. Tidak hanya itu, tentu saja Lily juga punya motif tersembunyi. Sebenarnya ia kesal saat Caroline menyambutnya datang, apalagi melihat Caroline tersenyum.


"Lihat wanita bodoh ini. Empat bulan sudah berlalu, dan dia asik bersantai begini?" batin Lily menatap Caroline.


Caroline sudah memiliki perasaan buruk, saat tahu Lily lekat menatapnya.


"Untuk apa dia datang?" batin Caroline penasaran.


Dengan tersenyum palsu, Lily menyapa Caroline dengan manis. Sungguh, Lily sudah tidak sabar untuk terus berakting manis seperti sekarang.


"Hai Caroline, bagaimana kabarmu, sayang?" tanya Lily berbicara lembut.


Caroline tersenyum palsu, "Hai, Kak. Kabarku sangat baik. Bagaimana dengan Kakak sendiri?" tanya balik Caroline.


"Aku tidak baik. Aku sedang kesal pada seseorang karena hanya makan gaji buta selama empat bulan ini," sindir Lily tersenyum manatap Caroline.

__ADS_1


Caroline mengernyitkan dahi, "Wanita ini, dia sungguh terang-terangan menyindirku. Menyebalkan sekali," batin Caroline.


"Sayang, siapa?" tanya Raymond yang baru saja keluar dari ruang kerja.


Raymond berjalan mendekati Caroline, ia melihat Lily dan menyapa Lily.


"Oh, Kakak," sapa Raymond, segera duduk di samping Caroline.


Caroline menatap Raymond, "Kamu sudah selesai dengan pekerjaanmu?" tanya Caroline.


"Hm, sudah. Aku sangat merindukanmu sampai-sampai aku tidak tahan ingin keluar dari ruang kerja," ungkap Raymond menggoda Caroline.


"Kamu ini, ada kakak di sini. Jangan bicara seperti itu," jawab Caroline.


Lily merasa kesal, "Huh, bisa-bisanya mengumbar kemesraan di hadapanku. Sungguh membuatku kesal saja. Aku sudah muak," batin Lily.


Lily kembali tersenyum palsu, "Tidak apa Caroline. Itu tandanya, Adikku sangat sayang padamu. Aku senang kalian rukun dan harmonis seperti ini," ucap Lily berdusta.


"Terima kasih, Kak. Bukankah semua ini berkatmu," kata Raymond.


Lily tersenyum lagi, "Iya, tidak perlu berterima kasih. Sudah seharusnya aku sebagai Kakakmu, perhatian padamu. Meski kita hanya saudara tiri," jawab Lily.


Caroline terdiam, ia sungguh merasa tidak nyaman akan kehadiran Lily. Caroline sudah menerka jika Lily punya maksud yang tidak baik dengan datang berkunjung.


"Apa yang akan dia lalukan?? batin Caroline.


Lily menatap Caroline, "Apa yang wanita bodoh itu pikirkan? berani sekali dia terus menghindari tatapanmu." batin Lily.


Caroline pun terus mengajak suaminya bicara. Ia punya alasan melakukan itu. Agar Lily tidak punya kesempatan mengajaknya bicara.


Sayang sekali, Raymond menatap Kakaknya dan mengajak Kakaknya bicara. Membuat Caroline mau tidak mau menatap ke arah Lily.


Lily menjawab semua pertanyaan yang lontarkan Raymond. Ia pun bertanya balik pada Raymond. Bagaimana kehidupan Raymond setelah menikah.


"Apakah semua baik-baik saja?" tanya Lily.


"Tentu saja baik, Kak. Kehidupanku setelah menikah ... hm, sangat asik dan seru." jawab Raymond.


Raymond tersenyum menatap Lily, "Apa  yang akan direncanakannya kali ini? batin Raymond.


Raymond menatap istrinya dan tersenyum. Ia juga menantikan apa yang akan istrinya itu lakukan padanya.

__ADS_1


Meski tahu dirinya sendiri akan dalam bahaya, Raymond sama sekali tidak takut. Ia ingin tahu, sampai mana Kakaknya bertindak dan sejauh mana keberanian istrinya untuk menyakitinya.


__ADS_2