
Sebelumnya ...
Raymond yang baru saja mengakhiri paggilannya dengan Caroline, mendapat kunjunga tiba-tiba dari Alex. Melihat kedatangan keponakannya itu, Raymond tak bisa berkata-kata. Jujur ia bingung. Apakah kedatangan Alex akan membawa berita baik atau sebaliknya.
"Paman, apakah aku boleh bicara sebentar? lima menit saja. Tolong luangkan waktu untukku," kata Alex.
Alex sebenarnya takut menemui Raymond hari itu. Namun, ia berusaha menenangkan diri. Alex tidak peduli, kalaupun Pamannya akan marah, bahkan memukulnya. Saat ini yang terpenting adalah menyelamatkan nyawa pamannya lebih dulu.
"Ada apa, Lex?" tanya Raymond menatap Alex yang berdiri di hadapannya.
Raymond mempersilakan Alex duduk dan bicara pelan-pelan. Alez menurut, ia duduk dan mulai bicara apa tujuannya datang menemui Raymond.
Alex mengatakan, jika ia mencuri dengar pembicaraan Mamanya ditelepon dengan seseorang entah siapa. Mamanya seperti sedang melakukan transaksi. Baru setelah beberapa lama, Alex tahu kalau Mamanya membeli obat khusus yang akan digunakan pada Pamannya.
"Setelah bertelepon, Papa pulang dan keduanya bicara. Pembicaraan mereka awalnya biasa-biasa saja, hanya membicarakan pekerjaan. Tapi tak beberapa lama setelahnya Mama mengatakan kalau Mama sudah jenuh dan bosan. Ingin mengakhiri semuanya. Papa latas bertanya, apa maksud Mama. Barulah disitu aku mengerti, apa alasan Mama sejak dulu tak menyukai Paman. Bahkan selalu memepringatkanku, kalau Paman itu berbahaya dan bisa ssja melulaiku. Karena itu juga aku menanamkan rasa takut dan kebencian di hatiku untuk Paman." kata Alex panjang lebar.
Raymond mengerutkan dahi, "Jadi, inti ceritamu? tanya Raymond menatap Alex yang duduk di hadapannya.
"Apa Paman tahu apa tujuan Mama? Apa Paman tahu, seberapa tidak sukanya Mama pada Paman yang dinilai sebagai pengacau hidup Mama?" tanya Alex.
Raymond tahu ke mana arah pembicaraan mereka. Ia diam saat ditanya Alex, itu artinya Alex tahu sesuatu sampai mendatanginya.
"Katakan langsung pada Paman, apa yang kamu ketahui, Lex?" tanya Raymond.
"Aku tak yakin dengan apa yang kudengar, Paman. Aku hanya berharap Paman berhati-hati. Mama sudah menyiapkan sesuatu yang bisa sewaktu-waktu membahayakan Paman. Dan aku juga baru tahu, kalau Mama ada hubungannya dengan kecelakaan Bibi. Oh, ya ... sebentar. Aku akan kirim sesuatu pada Paman." kata Alex.
__ADS_1
Alex mengambil ponselnya dari saku celana dan mengirimkan sesuatu pada Raymond. Alex meminta pada Pamannya untuk mendengar baik-baik rekaman yang dikirimnya. Direkaman itu, Lily mengaku sendiri, jika ia adalah dalang dibalik kecelakaan yang menimpa Bibinya dulu.
Tiba-tiba ponsel Alex berdering. Ia melihat layar ponselnya, ternyata Mamanya memanggil. Aleex menatap Raymond, ia segera berpamitan dan pergi meninggalkan Raymond tanpa mendengar jawaban Raymond.
Alex membiarkan ponselnya terus berdering, ia tidak mau menerima panggilan Mamanya di kantor Pamannya. Ia buru-buru keluar dari dalam gedung kantor Raymond menuju mobilnya diparkiran.
Sesaat setelah masuk dalam mobil, Alex balik menghubungi sang Mama. Ia juga ingin tahu, ada kepentigan apa Mamanya sampai telepon berulang-ulang aseolah itu adalah panggilan yang amat penting.
Begitu panggilannya diangkat Lily, Alex langsung meminta maaf dan menjelaskan kenapa ia tak menerima panggilan. Alex beralasan ponselnya tertinggal di mobil, dan ia buru-buru pergi menemui temannya.
"Ada apa, Ma?" tanya Alex.
"Mama akan menemui Caroline. JIka kamu dihubungi Papamu dan bertanya soal Mama, katakan saja Mama pergi belanja denganmu. Apa kamu mengerti?" kata Lily.
Alex mengiakan perkataan Mamanya. Sepertinya ia tahu apa alasan dibalik itu. Alex lantas bertanya, apa tujuan Mamanya bertemu Caroline. Lily pun menjawb, jika ia akan memberikan sesuatu pada Caroline untuk diberikan pada Raymond.
Alex mengerutkan dahi. Ia tahu kalau Mamanya sudah mendapatkan obat yang bisa membunuh Raymond, hanya saja ia tak menyangka, kalau Mamanya akan langsung cepat bertindak.
"Ya, Ma. Kalau begitu aku lanjut berbincang dengan temanku dulu. Mama hati-hati, ya. Kabari aku kalau Mama sudah selesai bertemu Caroline," kata Alex.
"Ya," jawab Lily.
Panggilan pun berakhir. Alex segera mengemudikan mobilnya untuk pulang ke rumah. Ia harus cepat mengambil vitamin yang sudah ia siapkan.
***
__ADS_1
Beberapa hari sebelum Alex bertemu Raaymond ....
Pada saat ia sendirian di rumah, Alex diam-diam menyelinap masuk kamar Mamanya dan menggeledah lemari Mamanya. Ia menemukan sesuatu yang disembunyikan sang Mama dari Papanya. Dan Alex tahu itu adalah obat yang akan Lily berikan pada Caroline untuk diberikan pada Pamannya. Alex langsung memfoto botol obat dan mengirim foto pada salah satu temannya yang seorang peneliti. Alex mengatakan, kalau ia butuh botol yang sama dengan cairan warna yang sama, tapi isinya tak membahayakan kalau dikonsumsi. Alex menuliskan, kalau ia akan menjelaskan detail setelah bertemu.
Alex buru-buru mengembalikan obat dalam kotak perhiasan sang Mama dan menutup kembali lemari. Sesegera mungkin Alex lekas pergi dari kamar Mama dan Papanya. Ia tidak mau sampai ketahuan kalau diam-diam menyelinap.
Alex mengambil jaket dan kunci mobilnya, ia menghubungi temannya karena takut pesan darinya tak terbaca oleh temannya karena sibuk.
Alex yang sedang dalam perjalanan menemui temannya pun mengatakan, kalau ia butuh segera apa yang ia pesan. Saat temanya bertanya, apa obat yang dikirim Alex padanya, Alex hanya menjawab kalau itu adalah obat milik Mamanya dan ia yakin itu adalah obat berbahaya. Alex tak bisa berbicara banyak di telepon. Untuk lebih jelasnya dia akan segera datang dan menjelaskan semuanya secara mendetail.
"Apa kamu bisa siapkan pesananku?" tanya Alex.
"Botol yang sama dengan isi serupa tapi tak berbahaya? benar, kan? kalau semisal aku isi botolnya dengan vitamin, bagaimana?" tanya teman Alex.
Alex tersenyum, "Tentu saja boleh. Itu kan lebih baik daripada obat yang yang aku kirim tadi." jawab Alex.
Alex pun mengakhiri panggilan. Ia harus fokus mengemudi karena ia akan melakukan perjalanan yang cukup jauh.
Kira-kira dua jam perjalanan. Alex akhirnya sampai di laboratorium milik keluarga temannya. Alex pun meminta pada penjaga keamanan untuk bertemu temannya yang merupakan salah satu peneliti di situ. Alex pun diminta menunggu.
Tak lama teman Alex keluar membawa pesanan Alex. Ia memberikn pesanan Alex dan minta cerita detailnya. Teman Alex mengajak Alex ke ruangannnya. Di sana Alex menjelaskan semuanya pada temannya. Ia tak ingin Mamanya bertindak nekat.
"Ah, begitu. Begini saja, setelah kamu dapatkan obat itu, kirimkn padaku langsung. Aku akan teliti apa saja kandungan di dalamnya. Jujur aku penasaran," kata teman Alex.
"Ya, nanti aku akan berikan setelah berhasil menukarnya." jawab Alex.
__ADS_1
Setelah panjang lebar Alex dan temannya bicara, Alex pun berpamitan. Ia ingin segera pulang dan cepat menukar botol obat yang ia punya dengan milik Mamanya.
Esok harinya. Saat ada waktu menyelinap, Alex masuk dan mencari botol obat milik Mamanya, sayang sekali botol itu sudah tidak ada lagi ditempatnya.