
Mattew melihat Nyonyanya sudah keluar dari dalam rumah. Nyonyanya memang tampak cantik.
"Selamat siang, Nyonya. Saya di perintah Tuan untuk menjemput Anda," sapa Mattew membukakan pintu mobil. Mattew mempersilakan Caroline naik kedalam mobil.
"Halo juga, Mattew. Terima kasih," kata Caroline masuk kedalam mobil.
Mattew menutup pintu mobil dan masuk juga ke dalam mobil.
"Nyonya, kita langsung pergi?" tanya Mattew.
"Ya, langsung saja." jawab Caroline.
"Baik," jawab Mattew langsung mengemudikan mobil meninggalkan rumah.
Sepanjang perjalanan, Caroline hanya diam dan memandang jalan. Begitu juga Mattew yang fokus menyetir. Caroline tiba-tiba buka suara bertanya pada Mattew.
"Kamu sudah berapa lama bekerja dengan Tuanmu?" tanya Caroline.
"Sudah sekitar lima belas tahun, Nyonya." jawab Mattew.
"Waktu yang lama," sahut Caroline.
"Ya, saya mengikuti Tuan sejak Tuan masih muda. Dulu, saya bekerja untuk Tuan besar," jelas Mattew.
"Jika seperti itu, kamu tentu mengenal betul karakter Tuanmu." kata Caroline ingin tahu.
Mattew mengernyitkan dahi, "Apa maksud, Nyonya? dia ingin tahu tentang Tuan lebih dalam begitu?" batin Mattew.
"Mattew," panggil Caroline karena merasa tidak ada jawaban dari ucapannya.
"Ah, maaf nyonya, saya melamun. Ya, saya sangat mengenal Tuan. Tuan sangat keras dan tidak mengenal ampun. Meski begitu, beliau adalah pria yang lembut dan hangat jika pada istrinya." jawab Mattew.
Jawaban Mattew mengejutkan Caroline. Caroline menjadi gelisah, ia pun mencoba mengalihkan rasa gelisahnya dengan terus mencari tahu tentang Raymond dari Mattew.
***
Usai makan siang, Raymond mengajak Caroline berbelanja. Setelahnya, Raymond mengajak Caroline kembali ke kantornya. Raymond meminta Caroline untuk menunggu sampai jam kerjanya berakhir.
Caroline dibawa Raymond kesebuah ruanga. Ruangan pribadi Raymond, tempat biasa Raymond beristirahat.
"Masuklah dan istirahat," pinta Raymond.
"Ruangan apa itu?" Kata Caroline canggung.
"Ayo," ajak Raymond menggandeng tangan Caroline masuk dalam ruangan.
__ADS_1
Keduanya masuk dalam ruangan. Raymond kemudian menutup pintu dan tersenyum menatap Carol
"Ini adalah ruangan pribadiku. Tidak ada yang pernah datang kecuali aku, atau bagian kebersihan."
"Wah, kamu juga punya tempat seperti ini di kantor. Apakah dulu kamu sering tidak pulang ke rumah?" tanya Caroline.
Raymond mengangguk perlahan, "Kamu benar. Dulu aku sangat jarang pulang ke rumah. Aku akan sibuk bekerja dan akan tidur di ruangan ini," jawab Raymond.
"Aku harap kamu tidak akan menginap di sini lagi. Aku akan merasa canggung jika di rumah sendiri," ucap Caroline.
Raymond memeluk Caroline dari belakang, " Aku pasti akan pulang. Bagaimana bisa tidak pulang, ada istriku di rumah yang sedang menungguku. Benarkan?" jawab Raymond mengeratkan dekapannya.
"Hm, itu benar sekali. Aku juga tidak mau tidur seorang diri. Aku mau kamu temani aku," kata Caroline menggoda.
"Nakal," bisik Raymond mencium tengkuk leher Caroline.
Suasana kembali hening, setiap kecupan Raymond membuat Caroline panas dingin. Raymond selalu membuatnya lupa jika ia adalah targetnya. Membuat Caroline merasa enggan untuk bertindak sesuai rencanaya dengan Lily. Caroline perlahan mulai goyah, pikiran dan hatinya bersebrangan. Pikirannya memikirnya nyawa Mamanya, hatinya tak rela menyakiti suaminya.
Raymond melepas dekapan, "Aku masih ada pekerjaan. Kamu bisa istirahat dan bersantai," kata Raymond.
"Ya, bekerjalah. Aku akan tinggal di sini," jawab Caroline.
"Kirim pesan padaku, aku ada di ruang rapat. Selesai rapat aku akan menemuinu. Aku menyayangimu," ucap Raymond mengecup lembut pelipis Caroline dan langsung pergi keluar dari ruangan itu.
"Andai saja kamu tau niatanku yang sesungguhnya. Akankah kau masih bersikap lembut dan hangat seperti ini, Ray?" batin Caroline.
Caroline menghela napas panjang, ia kemudian berkeliling di ruangan itu.
Matanya sibuk menyelisik setiap sudut. Mewah dan elegan, itu kesan yang didapat Caroline. Dekorasi ruang pribadi Raymond di kantor, hampir sama seperti di rumah.
"Pria ini punya selera yang tinggi," batin Caroline.
Lelah berjalan dan berkeliling ruangan, Caroline pun duduk di tepi tempat tidur. Perlahan ia merebahkan tubuhnya, tubuhnya terasa letih setelah pergi makan siang dan berbelanja bersama Raymond.
Caroline menatap langit-langit sembari berbaring. Ada bintang-bintang gemerlap di langit-langit itu. Pikiran Caroline kembali memikirkan kejadian saat di butik. Mata Caroline terpejam perlahan, sembari membayangkan kejadian sebelumnya.
Terbayang kejadian yang membuatnya panas dingin. Raymond membuatnya kacau, hanya dengan membayangkan saja, ia sudah merasa napasnya tertahan dan suhu tubuhnya meningkat.
Kepala Caroline menggeleng perlahan, tangannya menepuk-nepuk wajahnya perlahan.
"Apa yang kamu pikirkan, Caroline. Sadarlah," gumamnya meniruskan pipi dengan tangan.
"Tidak, tidak, ini tidak boleh terjadi. Bagaimana bisa? aku tidak boleh bermain perasaan. Fokus pada rencana awal, mengelabuhinya adalah hal yang harus aku lakukan," gumam Caroline lagi.
Caroline menarik napas dalam lalu mengembuskan napas perlahan. Matanya perlahan terpejam, ia pun terlelap tidur tidak lama kemudian.
__ADS_1
***
Raymond selesai rapat, ia segera bergegas menuju ruangannya untuk melihat Caroline. Sebelum masuk dalam ruangannya, ia menyampaikan pesan pada Sekertarisnya.
"Jika tidak ada kepentingan, jangan ganggu aku. Aku ingin istirahat," kata Raymond.
"Baik, Pak." jawab Sekretaris.
"Dan, kirim pesan padaku saja jika ada apa-apa." kata Raymond.
"Saya mengerti," jawab Sekretarisnya.
Raymond pun pergi masuk dalam ruangannya. Dengan langkah cepat, ia segera menuju ruang istirahat pribadinya.
Raymond masuk dan menutup pintu, ia terkejut melihat Caroline yang terlelap tidur. Raymond mendekat, ia naik ke atas tempat tidur dan tidur disamping Caroline.
Diangkatnya kepala Caroline dan diletakkannya d iatas lengannya. Caroline bergerak, mencari kenyamanan. Caroline tanpa sadar memeluk Raymond.
"Manis sekali," batin Raymond, melihat Caroline yang terlelap.
"Ayo bermain, sejauh mana niatmu itu. Aku pastikan kamu akan bertekuk lutut padaku," batin Raymond lagi.
Raymond mengusap-usap rambut Caroline. Sejujurnya, ia tidak membenci Caroline. Meski tau niat jahat Caroline, ia tetap bersikap tenang dan seolah tidak tahu apa-apa.
***
Malam harinya. Setelah makan malam, Raymond mengajak jalan-jalan Caroline di taman belakang kediamannya.
Raymond menyentuh wajah Caroline dengan dua tangannya. Raymond menatap lekat mata indah Caroline. Caroline juga menatap Raymond, kedua mata saling memandang dalam.
Perlahan kedua tangan Raymond mengusap-usap kedua pipi Caroline. Tentu saja hal itu membuat Caroline tidak nyaman, Wajahnya semakin merah seperti tomat.
Melihat wajah istrinya yang merah, Raymond sedikit panik. Ia segera mendekat dan menempelkan keningnya ke kening Caroline. Mencoba merasakan suhu tubuh Caroline.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Raymond.
Caroline mengangguk, "Ya," jawab singkat Caroline.
Raymond lalu mendekap erat tubuh Caroline, "Ayo masuk ke dalam rumah. Badanmu dingin," kata Raymond.
"Ya," jawab Caroline lagi.
Raymond dan Caroline berjalan berdampingan. Raymond erat memeluk istrinya agar tetap hangat. Diperjalanan menuju rumah, Raymond menunjukan seluruh lokasi halaman belakang.
Caroline mengangguk tanda mengerti. Mata Caroline tak lepas menatap Raymond saat Raymond sibuk menjelaskan. Merasa aneh dilihat istrinya, Raymond pun menghentikan penjelasan dan mengajak Caroline lekas kembali masuk dalam rumah.
__ADS_1