Terjebak Permainan Cinta

Terjebak Permainan Cinta
TPC (20)


__ADS_3

Diamnya Alex membuat Caroline geram. Ia berdiri dan ingin memgambil lagi bungkusan plastik hitam yang tadi diberikan Lily. Tangan Caroline ditahan oleh Alex.


"Apa yang kamu lakukan, Caroline!" sentak Alex melebarkan matanya.


"Aku hanya akan mengambil barang yang Mamamu berikan. Kembalikan itu padaku," pinta Caroline.


Alex mengerutkan dahi. Ia mengambil bungkusan itu dan memasukkanya ke dalam saku mantelnya.


"Apa kamu sudah hilang akal? kamu mau berikan racun mematikan itu pada Paman? pada suamimu?" kata Alex.


"Lalu apa cairan dalam botol yang kamu berikan itu? bukankah itu sama saja? kamu jangan mencoba menipuku, Alex!" kata Caroline marah.


Alex mengusap wajahnya kasar, "Yang aku berikan itu vitamin. Karena aku tidak ingin kamu meracuni Paman, makanya aku memintanya darimu." kata Alex.


Caroline dibuat bingung oleh kata-kata dan sikap Alex. Ia pun bertanya, Bukankah Alex berkomplot dengan Mamanya untuk menjatuhkan Raymond? lantas apa maksud tindakan aneh yang Alex lakukan?


Alex meminta Caroline untuk duduk dulu, agar ia bisa menjelaskan. Caroline pun duduk, ia menatap Alex dengan penuh rasa penasaran.


Alex lantas menjawab, jika ia memang mendukung Mamanya saat berkata ingin menjatuhkan Pamannya. Menjatuhkan, buka ingin menghabisi nyawa Paman. Dan lagi Alex baru tahu, ternyata dalang dibalik kematian Istri pertama Pamannya adalah sang Mama. Dulu ia tidak tahu apa-apa dan hanya ikut-ikutan benci sang Paman karena melihat Mamanya yang sangat tak nyukai Pamannya.


Caroline kaget, "Apa kamu bilang? Mamamu adalah orang yang membunuh istri pertama Pamanmu? apa maksudmu, Anhastasia?" tanya Caroline.


"Oh, kamu tahu? apa Paman sudah pernah menceritakan Istri pertamanya itu?" tanya Alex. Tidak menyangka Caroline tahu nama Bibinya.

__ADS_1


"Iya. Rayomond pernah cerita. Jawablah, Lex. Apa benar semua itu perbuatan Mamamu? bagaimana bisa kamu tahu?" tanya Caroline.


Alex menjawab, jika ia tak sengaja menguping dengar percakapan Papa dan Mamanya. Papanya terus memperingatkan Mamanya agar tidak melakukan sesuatu yang nantinya akan berdampak buruk. Akan tetapi sang Mama malah marah dan memaki Papanya. Dan keributan pun terjadi. Sang Papa akhirya buka suara perihal kematian Anhastasia. Mengatakan, jika bukan karena Lily yang membayar orang untuk mengutak atik mobil Anhastasia, maka Anhastasia dan calon bayinya tak akan mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.


"Tentu saja Mama yang mendengar perkataan Papa langsung marah dan pergi dari ruang tengah ke kamar. Aku yang bari datang langsung pergi dari rumah karena tak tahu harus apa." jelas Alex.


"Hah ... (menghela napas) Apa yang dipikirkan Mamamu itu, Lex. Dia tega sekali melakukan itu pada adik ipar dan calon keponakannya.


"Entahlah. Aku tak mau pusing memikirkan hal itu. Mamaku sepertinya memang sudah gila." kata Alex.


Caroline mengambil botol berisi cairan bening di atas meja di hadapannya. Ia kembali bertanya, apakah isi dalam botol itu aman dikonsumsi atau ada efek samping meski vitamin?


Alex menjawab, kalau cairan itu aman dan tanpa efek samping. Itu hahya vitamin biasa untuk kulit. Hanya itu satu-satunya cairan yang berwana bening mirip dengan racun yang diberikan Mamanya pada Caroline.


"Aku sudah beritahu Paman rencana Mama. Aku juga katakan, kalau Mama mau Paman lenyap, apapun yang terjadi." kata Alex.


"Hah, Gilaa!" kata Caroline.


Caroline terkejut bagaimana bisa Alex yang amat menyebalkan baginya kini berubah menjadi seseorang yang peduli pada orang lain, terutama Pamannya yang dibenci Mamanya.


Caroline lantas bertanya, apakah ada alasan khusus, kenapa Alex memberitahu Mamanya? Dan Caroline bertanya, apakah Alex menceritakan juga pada Raymond, kalau ia adalah komplotan Lily? Orang yang diperintah Lily membunuh Raymond?


Alex menggelengka kepala, "Aku tak menyangkutkanmu. Soal itu sepertinya aku tak bisa ikut campur. Aku bercerita agar Paman setidaknya waspada. DanĀ  aku menukar obat itu untuk jaga-jaga kalau Mama mendatangimu dan memastikan kamu menjalankan perintahnya atau tidak. Aku tahu betul sifat Mamaku." jelas Alex dengan ekspresi wajah yang serius.

__ADS_1


Caroline diam. Ia tidak tahu harus bicara apa. Akan tetapi setidaknya ia bersyukur dan merasa lega, Alex tak menceritakannya pada Raymond.


Melihat Caroline yang diam, Alex pun bertanya. Apa yang sedang Caroline pikirkan? apa Caroline takut kalau misalkan ketahuan Pamannya?


"Apa kamu takut akan langsung diceraikan Pamanku? tenang saja, semisal itu terjadi, aku yang akan menikahimu." kata Alex menggoda Caroline.


Caroline langsung menatap Alex, "Sejak tadi sikapmu sangat tidak sopan, ya. Aku ini istri Pamanmu. Yang artinya aku ini Bibimu," kata Caroline protes.


Alex tertawa, "Ya, ya, ya. Kalau begitu aku pamit pergi, Bibi Caroline. Aku harus meneliti kandungan dalam obat yang tadi aku minta." kata Alex.


Caroline merasa aneh, kalau Alex memanggilnya Bibi. Bagaimanapun ia dan Alex seumuran. Karena ia menikah dengan Raymonda yang adalah Paman Alex, maka ia pun telah menjadi Bibi bagi Alex. Meski aneh, itulah yang terjadi.


"Ya, pergilah. Aku juga harus pergi. Hmm ... terima kasih. Aku tidak tahu kalau kamu tidak memberitahuku soal obat itu. Raymond akan ada dalam bahaya, kalau aku memberikannya." kata Caroline.


"Ya, sama-sama. Itulah yang harus kulakukan untuk bisa menebus kesalahanku. Kini aku tak akan berpihak pada Mama lagi. Dan aku akan beritahu apa yang Mamaku rencanakan padamu. Kalau aku tahu, kalau tidak ya tidak. Mama suka kesal karena aku acuh tak acuh padanya. Hahaha ... " kata Alex.


Alex berdiri dan melangkah pergi, tapi ia tiba-tiba menghentikan langkah dan berbalik. Ia menatap Caroline, mengatakan pada Caroline untuk lebih baik jujur pada Pamannya daripada nantinya Pamannya akan semakin kecewa. Dan Alex minta maaf pada Caroline. Ia tidak bermaksud menyakiti hati dan perasaan Caroline lewat kata-katanya yang pedas sebelum-sebelumnya.


"Intinya maafkan aku. Mau itu kesalahan kecil atau kesalahan besarku padamu. Aku melakukan itu kerena yang kutahu Mama kesal dan hanya sekadar ingin memberi Paman pelajaran saja. Jika tahu sejak awal rencana Mama membunuh Paman, maka tentu saja aku akan menentangnya." kata Alex.


Alex berbalik dan langsung pergi begitu saja tanpa mendengar jawaban dari Caroline. Mendengar kata-kata Alex, membuat Caroline mengerti akan sesuatu. Alex bukanlah orang yang tak bisa berpikir. Meski kata-kata Alex sebelumnya pernah ada yang menyakiti hatinya, namun dengan berani ia mau meminta maaf.


"Dia punya sisi yang berbeda, ya?" batin Caroline.

__ADS_1


Caroline memanggil pelayan. Ia meminta tagihan minuman yang dipesannya. Pelayan datang dan Caroline melakukan transaksi pembayaran. Setelah itu Caroline pun langsung pergi meninggalkan Caffe menuju parkiran. Ia membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil, langsung menutup pintu. Ia mengenakan sabuk pengaman, menyalakan mesin mobil dan mengemudikan mobil pergi meninggalkan parkiran Caffe.


__ADS_2