Terjebak Permainan Cinta

Terjebak Permainan Cinta
TPC (15)


__ADS_3

Caroline tidak memusingkan diri ke mana Raymond akan membawanya. Caroline percaya, semua akan baik-baik saja dan tidak akan terjadi apa-apa.


Caroline mengabaikan ucapan Lily untuk sesaat. Masalah Raymond ia kesampingkan lebih dulu. Ia lebih memikirkan apa yang ia terima dan apa yang ia dapat dari Raymond. Kemewahan, kekayaan, dan juga kepercayaan. Dengan itu semua, masihkan Caroline berniat menghancurkan Raymond?


Akankah Caroline tetap pada pendiriannya? ingin membantu melancarkan serangan Lily pada Raymond? membuat Raymond terpuruk bahkan sampai tidak berdaya?


***


Raymond dan Caroline tiba di villa pribadi milik Raymond. Ia sengaja mengajak Caroline ke tempat yang dulu sering ia datangi bersama Anhastasia. Bukan untuk mengenang masa lalu dan membuat Caroline tidak nyaman, tapi untuk mengetahui dalamnya isi hati Caroline


"Ini di mana?" tanya Caroline menatap Raymond.


"Di villaku. Dulu aku sering datang ke sini bersama Anha. Semenjak Anha tiada, sekalipun aku tidak pernah datang. Karena aku melihatmu terus murung, aku mengajakmu ke sini. Apa kamu tidak suka?" tanya Raymond menatap Caroline.


"Kenapa tidak suka? aku sangat suka tempat ini. Boleh aku berjalan-jalan di sekitar sini" tanya Caroline.


Raymond menganggukkan kepala. Ia melihat dengan cepat Caroline sudah turun dari dalam mobil dan berjalan melihat sekeliling villa.


"Apa yang aka kamu rencanakan padaku, Caroline? akankah kamu membunuhku sesuai permintaan Lily?" batin Raymond.


Ia membuka pintu mobil dan turun dari dalam mobil. Ia berjalan perlahan mengikuti Caroline yang sudah berjalan jauh di depan.


***


Carolie menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napasnya pelan. Ia merasa udara di sekitar terasa sejuk dan segar. Caroline menyukai tempat kakinya berpijak.


Diam-diam Caroline berpikir. Apa yang harus ia lakukan dengan Raymond. Ia tidak bisa terus diam mengabaikan perintah Lily. Ia juga tidak bisa melihat Raymond terluka karena Raymond sudah sangat baik padanya.


"Bagaimana, ya?" gumam Caroline.


Tiba-tiba Raymond menghampiri Caroline dan menggandeng tangam Caroline. Karena sangking fokusnya memikirkan apa yang hendak ia lakukan pada Raymond. Ia sampai tidak sadar Raymond sudah ada di sampingnya.

__ADS_1


"Bagaimana pemandangannya?" tanya Raymond.


"Bagus. Aku suka. Bagaimana perasaanmu? bukankah ini kali pertama setelah kamu datang delapan tahun lalu?" tanya Caroline menatap Raymond.


"Aku sangat suka tempat ini. Kembali ke sini lagi, tentu saja aku merasa sangat senang." jawab Raymond.


"Berapa lama kita di sini?" Tanya Caroline.


"Terserah kamu ingin berapa lama di sini. Tujuanku, hanya untuk menyenangkankmu." jawab Raymond.


Kata-kata Raymond membuat Caroline berdebar. Ia merasa disayang dan dicintai oleh Raymond. Tapi ia tidak mau salah paham. Bagaimana pun, pada akhirnya, ia harus membunuh Raymond dan akan pergi jauh membawa Mamanya ke luar negeri untuk menjalani mengobatan. Itulah keinginan  Caroline jauh dalam lubuk hatinya.


"Caroline ... " panggil Raymond.


Caroline menatap Raymond, "Ya?" jawab Caroline.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Raymond.


"Te-tentu saja boleh. Silakan bertanya," jawab Caroline.


"Begini, mungkin ini terdengar aneh. Aku hanya ingin kamu tahu satu hal. Aku menikahimu karena aku tulus memiliki rasa padamu. Aku menyukaimu dan juga menyayangimu. Jika kamu menemui kesulitan atau ada hal yang ingin kamu katakan, katakan langsung padaku. Aku tidak bagaimana perasaanmu padaku. Apakah kamu menikah denganku karena ada alasan khusus?" tanya Raymond.


Mata Caroline melebar, "A-apa ma-maksudnya? Alasan khusus apa?" kata Caroline terbata-bata.


"Hm ... misalnya saja karena paksaan?" jawab Raymond memancing pertanyaan.


"Tidak. Itu tidak benar. Aku mau menikah denganmu karena aku yakin kamu adalah orang yang sangat bertanggung jawab dan penuh kasih. Apa kamu bertanya seperti ini karena aku masih terlihat canggung di hadapanmu?" tanya Caroline.


"Entahlah. Aku terus merasa kamu menghindariku dan mendekat kalau ada sesuatu yang kamu inginkan. Aku bucara seperti ini bukan untuk mengkritikmu. Ini hanya sekadar perasaanku saja." jawab Raymond.


Mendenngar jawaban Raymond. Caroline langsung terdiam. Ia tidak bisa berkata-kata karena apa yang dipikirkan Raymond memanglah banar. Caroline sebisa mungkin menghindar, agar ia tidak melibatkan perasaan dalam misinya. Ia mendekat karena ingin tahu lebij banyak tetang Raymond agar bisa mempermudah menjalankan misinya.

__ADS_1


Raymond menatap Caroline yang diam menundukkan kepala. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan Caroline.


"Maaf, kalau kata-kataku membuatmu tidak nyaman. Aku bukannya tidak percaya padamu, aku hanya ingin kamu tahu apa yang aku rasakan tentangmu. Kamu mengerti, kan?" kata Raymond.


Caroline mantap Raymond, "Aku juga minta maaf. Aku akan berusaha lebih lagi agar terbiasa denganmu. Mungkin aku masih canggung dan gugup karena aku juga tidak punya pengalaman dalam berumah tangga. Lagipula kamu tahu, kan.. umurku masih di awal dua puluhan. Jadi pikiranku masih sempit dan kekanakan. Itulah kenapa aku memintamu untuk menunggu dan mau mengerti keadaanku." jelas Caroline.


Raymond tersenyum, "Ya, aku akan menunggu. Aku sudah berjanji tidak akan melakukan hal-hal yang kamu tidak sukai kan. Aku juga akan izin padamu kalau ingin menyentuh atau menciummu. Apa dengan begini kamu merasa tenang?" tanya Raymond.


Caroline tersenyum, "Terima kasih sudah mau mengerti." jawab Caroline.


Caroline semakin merasa tidak enak. Ia takut Raymond akan bosan kalau harus terus menunggunya. Sedangkan ia memang belum siap melakukan kewajibannya sebagai istri untuk melayani Raymond. Caroline takut.


"Maafkan aku, Ray. Maaf ... " batin Caroline.


Raymond mengajak Caroline berkeliling sekali lagi sebelum masuk ke villa. Udara semakin dingin, Raymond memakaikan mantelnya pada Caroline agar tidak kedinginan. Ia takut Caroline akan jatuh sakit.


***


Raymond membuatkan cokelat panas untuk Caroline. Ia juga sudah memasang perapian agar ruang tamu hangat.


"Apa tidak apa-apa kita di sini tanpa pelayan? maaf, aku tidak menempatkan pelayan untuk tinggal. Mereka akan datang untuk bersih-bersih saja seminggu dua kali dan sebulan sekali menyiagi rumput." kata Raymond.


"Tidak apa-apa. Kalau untuk makan, biar aku yang memasak. Apa di sekitaran sini ada pasar atau supermarket? kalau ada kan kita tinggal membeli bahannya." tanya Caroline.


"Apa kamu tidak lelah? kita pesan makanan saja atau pergi ke restoran." kata Raymond.


"Aku tidak lelah. Memasak kan tugasku." sahut Caroline.


"Baiklah. Besok saja kita memasaknya. Malam ini kita makan di luar, ya? kamu tidak boleh menolak permintaanku ini." kata Raymond.


Caroline tersenyum. Ia melihat wajah menggemaskan Raymond saat membujuk. Lagi-lagi ia dikejutkan oleh sisi lain dari suaminya itu.

__ADS_1


"Dia punya sisi seperti ini ternyata. Lucu sekali ... " batin  Caroline.


Raymond duduk di samping Caroline. Ia mengambil cangkir berisi cokelat panas dari atas meja dan meminumnya sedikit demi sedikit agar tubuhnya hangat. Ia dan Caroline lantas berbincang. Mereka membicarakan menu makan malam yang nanti akan mereka makan.


__ADS_2