
Caroline datang ke tempat yang janjiannya dengan Lily. Ia berada di dalam mobil, di parkiran sebuah Caffe. Ia melihat sekeliling, tampaknya Lily belum datang. Sebab ia tak melihat adanya mobil Lily disekeliling.
"Apa dia belum datang?" batin Caroline.
Ponsel Caroline berdering. Ia ditelepon Raymond. Tak ingin membuat suaminya itu khawatir, Caroline langsung menerima panggilan dari Raymond.
Mereka berbincang. Raymond bertanya, apakah Caroline sudah pergi menemui Mamanya? dan bertanya tentang kabar Mama Caroline. Caroline menjawab, dan menjelaskan keadaan Mamanya. Memberitahu kalau Mamanya sehat dan tak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Kabar bagus kalau seperti itu." kata Raymond.
"Apa kamu masih sibuk? sedang apa?" tanya Caroline.
"Sedang menunggu Alex. Dia tadi menghubungiku, katanya mau bicara sesuatu hal yang penting. " jawab Raymond.
"Alex?" gumam Caroline mengerutkan dahi.
Saat memalingkan pandangan, ia melihat Lily baru saja memasuki pintu Caffe. Caroline langsung berpamitan, mengakhiri panggilan Raymond. Ia beralasan kalau ia akan baru saja keluar dari rumah Mamanya dan hendak pergi ke supermarket membeli sesuatu.
Panggilan pun berakhir. Caroline melepas sabuk pengaman yang terpasang dan segera membuka pintu mobil. Ia lantas turun dan menutup kembali pintu mobil. Caroline mengatur napasnya. Sejujurnya ia tegang.
Caroline berjalan perlahan menuju Caffe. Ia membuka pintu Caffe dan masuk. Berjalan mendekati Lily yang terlihat sedang berbincang di telepon. Caroline duduk di hadapan Lily. Lily menatap Caroline, dan tak lama mengakhiri panggilannya.
Keduanya sama-sama saling diam beberapa saat. Sampai Caroline membuka sura. Caroline bertanya ada urusan apa Lily ingin bertemu dengannya? Dan meminta Lily segera bicara.
"Tolong jangan mengulur waktu. Karena aku harus segera pergi," kata Caroline.
Kata-kata caroline mengundang amarah Lily datang. Membuat Lily langsung memaki Caroline.
"Wanita sialan! berani sekali kamu bicara seperti itu padaku, hah? apa kamu sudah gila?" sentak Lily.
__ADS_1
Caroline diam saja menatap Lily. Ia tidak peduli pada sentakan Lily. Yang ia inginkan hanya cepat enyah dari hadapan Lily.
"Lihat wanita sialan ini. Berani sekali dia menanatapku tanpa tahu malu. Apakah dia tidak sadar diri, siapa aku yang ada di hadapannya ini?" batin Lily.
"Sebenarnya apa yang ingin dia katakan padaku?" batin Caroline.
Lily menghela napas. Ia mengambil tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Ia meletakan apa yang baru saja diambilnya di dalam tas ke atas meja, di hadapan Caroline.
"Berikan ini pada Raymond. Kamu bisa mencampurkan ini pada teh yang biasa diminumnya. Berikan setidaknya sehari sekali selama seminggu penuh. Apa kamu mengerti?" Kata Lily melebarkan mata.
Caroline menatap bungkusa plastik di atas meja di hadapanya. Ia bertanya apa yang diberikan Lily padanya? bukan jawaban, Caroline malah kembali mendapatkan sentakan.
"Kamu tak perlu tahu! diam dan ikuti saja apa kataku. Kalau kamu tak melakukannya, aku akan membuat Mamamu yang meminumnya." kata Lily.
Caroline kegat, "Jangan! jangan sakiti Mamaku!" serunya.
Caroline menganggukkan kepala. Ia awalnya ragu mengambil bungkusan di atas meja di hadapannya, tapi pada akhirnya ia mengambilnya dan menggenggamnya erat. Caroline memasukkan bungkusan itu ke dalam tas.
"Jika dalam seminggu aku tak mendapati hasil. Maka aku anggap kamu gagal menjalankan tugasmu, Caroline. Satu hal yang perlu kamu ingat dalam kepalamu itu. Akulah orang yang membantumu membiayai pengobatan Mamamu. Tanpaku kamu tak akan bisa apa-apa, kan? Jangan berpikir untuk membantu Raymond sekecil apapun. Aku tidak peduli, mau kamu kasihan atau iba. Atau kamu mungkin saja telah jatuh cinta padanya. Yang aku inginkan hanya satu, yakni kematian Raymond! Paham?" kata Lily menekankan kata-katanya.
Lily begitu tampak marah dan kesal. Ekspresi wajahnya pun menyeramkan. Caroline tak menjawab dan hanya terus menganggukkan kepala. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, karena ia merasa tertekan oleh Lily.
Tak beberapa lama, Lily pun pergi. Ia meninggalkan Caroline begitu saja. Caroline menunduk tanpa suara. Ia tidak tahu harus melakukan apa, sampai ponselnya berdering dan membuatnya kaget.
Caroline mengambil ponsel dalam tas dan melihat layar ponsel. Ia melihat Alex menghubunginya. Caroline menggeser panel merah, ia menolak panggilan Alex. Tal lama ponsel Caroline kembali bersering dan Caroline kembali menolak.
Alex rupanya tak menyerah, meski sudah lima kali panggilannya ditolak oleh Caroline. Panggilan keenam pun diterima. Caroline hanya diam tak menjawab apa-apa.
"Jagan berikan!" Kata Alex seolah memerintah.
__ADS_1
Caroline kaget, "A-apa maksudmu?" gumam Caroline.
"Jangan berikan apa yang diberikan Mamaku padamu papa Paman. Itu racun!" kata Alex.
Mata Caroline melebar, "Racun apa?" tanya Caroline.
"Kamu di mana? kirim lokasimu segera. Aku akan datang menemuimu dan menukar obat yang diberikan Mamaku." kata Alex.
Caroline semakin tak mengerti. Ia kebingungan. Ia pun mengatakan letak Caffe di mana ia berada. Alex meminta Caroline menunggu, dan mengakhiri panggilan.
Caroline mengerutkan dahi. Ia tak menyangka kalau yang ia terima dari Lily adalah racun. Ia mengira hanya obat, semacam obat yang membuat sakit kepala atau sejenisnya yang akan mrmbuat orang yang mengkonsumsinya merasa tidak nyaman.
Caroline mendekap erat-erat tasnya. Sebelumnya juga Caroline diminta memberikan bubuk obat yang harus dicampur ke dalam makanan. Tapi ia tak lakukan. Karena ia takut. Karena itu Lily sempat beberapa kali mendatangi dan memperingatkan Caroline.
***
Alex datang menemui Caroline. Sesampainya di Caffe, Alex duduk bersandar dengan napasnya yang terenggah-enggah. Alex menyeka keringatny dan mengatur napas. Setelah cukup tenang, ia langsung meminta barang pemberian Mamaya pada Caroline.
"Berikan barang yang diberi Mama. Aku tahu kamu sudah bertemu Mamaku, kan. Tadi Mama sempat menghubungiku dan memberitahu kalau barangnya sudah ada padamu." kata Alex.
Caroline sempat ragu-ragu, tapi pada Akhirnya Caroline memberikan bungkusan yang di dapat dari Lily pada Alex.
Alex menerima pemberian Caroline dan langsung membuka botol berisi cairan bening. Alex mencium aroma dari dalam botol. Memang benar, sesuai dugaan Alex, jika itu adalah racun khusus yang dipesan Mama Alex pada seseorang di pasar gelap.
Alex segera menutup botol dan memasukkan botol ke dalam kantung plastik hitam di atas meja. Alex meraba saku celananya, dan mengelurkan sesuatu. Ia mengeluarkan sebuah botol kecil seukuran botol yang tadi dipegangnya tadi. Dalam botol ads caiaran bening. Sekilas baik botol maupun isi terlihat sama. Tapi nyatanya khasiat dan kandugan cairan dalam dua botol itu berbeda.
Caroline menatap Alex dingin, "Apa ini? Apa yang sedang kamu rencanakan, Lex." Kata Caroline.
Alex terdiam. Ia tak menjawab apa-apa. Ia tahu, meksi dijelaskan pun, Caroline tetap akan mau percaya pada ucapannya.
__ADS_1