Terjebak Permainan Cinta

Terjebak Permainan Cinta
TPC (18)


__ADS_3

Raymond dan Caroline berciuman panas. Mereka yang awalnya berdiri pun kini sudah berpindah ke tempat tidur.


Ciuman terlepas, Raymond mencium kening, kedua kelopak mata, hidung, kedua pipi dan dagu Caroline. Ciuman Raymond turun ke leher Caroline. Wajah Caroline memerah. Ia menutup mulutnya agar tak bersuara. Raymond menatap Caroline dan tersenyum tampan.


"Tampan sekali ... " batin Caroline terpesona.


"Apa yang kamu lihat sampai seperti terdiam begitu?" tanya Raymond.


Caroline menjulurkan tangan mengusap wajah Raymond, "Aku mengagumi wajah tampan suamiku." jawab Caroline.


Raymond memegang tangan Caroline dan mencium tangan Caroline. Mata Raymond melirik ke arah Caroline yang kembali diam menatapnya.


"Jika kamu terus menatapku, bagaimana aku bisa tahan untuk tak menerkammu?" kata Raymond.


Caroline tersenyum, ia langsung bangun dan berguling menindih Raymond. Caroline membelai wajah tampan Raymond, mencium hidung dan dagu Raymond.


Raymond kembali terkejut. Ia tidak pernah membayangkan Caroline akan mendominasinya dan lebih aktif.


"Apa kamu sadar apa yang kamu lakukan sekarang? atau kamu memang sengaja menggodaku?" tanya Raymond.


Caroline berpikir, jika dia memang sudah gila. Ia belum pernah menyentuh atau disentuh pria manapun sebelumnya. Ia juga tidak punya pengalaman apa-apa. Hanya saja saat ia bersentuhan dengan suaminya, rasanya sangat aneh dan itu membuatnya senang.


"Kenapa? aku tidak boleh menggoda suamiku sendiri?" tanya Caroline menatap lekat dan tersenyum tipis seakan menggoda Raymond.


"Uhh ... " gumam Raymond  mengatur napas. Ia lantas memalingkan pandangannya.


Raymond sebenarnya hanya menggoda Caroline saja. Ia tahu Caroline masih enggan menerimanya dan masih terlihat takut. Akan tetapi ia tak menyangka kalau Caroline akan bertindak jauh dan seberani ini padanya.


"Sayang ... " panggil Caroline lembut.

__ADS_1


Caroline mengusap dada bidang Raymond. Tentu saja Raymond langsung memegang tangan istrinya itu dan memperingatkan agar tak bercanda lagi. Raymond sudah berusahan menahan diri. Ia juga tak mau memaksa Caroline melayaninya.


"Jangan bercanda lagi, Caroline. Tolong hentikan. Aku tidak akan bisa menahan diri lagi, jika kamu terus menggodaku seperti ini." kata Raymond.


Caroline diam menatap Raymond. Ia berpikir, apakah Raymond menganggap apa yang dilakukannya hanya sekadar bercanda? padahal ia bener-benar sedang menggoda Raymond.


"Apa dia mengira aku bercanda, ya? Wajar saja, aku kan sebelumnya bahkan mendorongnya jauh saat kami berciuman." batin Caroline ingat masa setelah keduanya baru saja menikah.


Caroline mendekatkan wajahnya ke wajah Raymond, "Apa aku tampak sedang bercanda? aku sungguh-sungguh menggodamu saat ini, Raymond. Aku memang belum siap saat setelah kita baru saja menikah. Sekarang ... " kata-kata Caroline terhenti karena Raymond menciumnya dengan ganas.


Raymond melepas ciuman, "Jangan sesali apa yang terjadi nanti. Kamu berani menggodaku, berarti kamu siap dengan akibatnya, kan?" tanya Raymond.


Caroline menganggukkan kepala. Raymond bertanya lagi, apakah Caroline benar-benar sudah siap dan mau menyerahkan diri? jika ingin mundur, maka Caroline bisa mundur detik itu juga, tetapi jika jika Caroline tak keberatan, maka Raymond tak akan menahan diri lagi.


"Masih ada kesempatan untukmu mundur, Caroline. Jika tidak kamu  tak mundur, aku tak akan menahan diri lagi. Aku ini pria normal yang bisa langsung bereaksi jika bernafsu." kata Raymond.


Deg ...


"Apa yang aku takutkan selama ini? Aku dan Raymond kan sudah menikah. Mungkin sebelumnya aku takut bersentuhan dengannya karena belum mengenalnya. Namun, setelah aku banyak menghabiskan waktu dengannya, aku pun tahu seperti apa pria ini." batin Caroline.


"Apa aku boleh menyerahkan diri padamu?" tanya Caroline menatap penuh harap pada Raymond.


Deg ... deg ... deg ...


Raymond terkejut. Ia pun  langsung mencium bibir Caroline dengan lembut. Caroline membalas ciuman Raymond dan kali ini ia lebih berani dengan membuka pakaian suaminya itu.


"Aku tak akan menyesalinya. Meski nantinya kamu akan membenciku, saat tahu apa tujuanku menikah denganmu, Ray." batin Caroline memejamkan mata.


Raymond berguling, ia menindih tubuh Caroline dan menaggalkan pakaian yang dikenakan Caroline. Tangannya menyusuri setiap inci tubuh istrinya.

__ADS_1


"Aku tak akan pernah melepaskanmu, Caroline!" batin Raymond.


Ciuman lembut perlahan memanas. Keduanya sudah sama-sama dipenuhi nafsu yang menggebu. Pada akhirnya Raymond dan Caroline menghabiskan  malam panas. Mereka bahkan bersenang-senang sampai menjelang dini hari dan terlelap tidur setelahnya.


***


Keesokan harinya ...


Caroline pergi menemui Mamanya di rumahnya. Caroline membawakan bahan makanan, buah, sayur dan vitamin untuk sang Mama.


Mama Caroline tampak senang putri satu-satunya yang dia miliki datang berkunjung. Sang Mama bertanya, bagaimana kehidupan pernikahan Caroline dan Raymond? apa Caroline kesulitan dan masih banyak pertanyaan yang lain.


"Aku baik-baik saja, Ma. Aku sehat dan aku bahagia. Raymond memperlakukanku dengan baik. Dia pria yang hangat dan lembut juga perhatian. Mama tak perlu khawatir. Mama fokus saja pada pengobatan Mama, ya." kata Caroline.


"Mama bersyukur. Putri kesayangan Mama akhirnya bisa menemukan sosok yang baik dan bertanggung jawab. Mama harus berterima kasih pada Lily. Dia kan orang yang mengenalkanmu pada Raymond." kata sang Mama.


"Andai Mama tahu, seberapa benci dan tidak senangnya Lily pada Raymond. Apakah Mama masih menganggapnya seseorang yang baik? padahal dia adalah wanita jahat yang mengenakan topeng." batin Caroline.


"Bagaimana kesehatan Mama? mama rajin periksa ke dokter, kan? tidak ada keluhan, kan?" tanya Caroline khawatir.


"Mama sudah lebih baik, Nak. Semua berkat bantuan dari Lily. Dia juga memberikan Mama uang untuk simpanan. Dia bahkan meminta maaf, karena sibuk bekerja, dia kurang memperhatikanmu. Dia sungguh orang yang baik, ya." kata Mama Caroline.


Caroline mengerutkan dahi, "Ini perasaanku saja, atau memang Mama yang terasa aneh, ya? Sepertinya Mama sejak tadi terus memuji dan mengatakan Lily sangat baik, sampai membuatku sedikit mual." batin Caroline.


Caroline melihat jam tangannya. Ia pun perpamitan pada Mamanya untuk segera pergi karena sudah ada janji. Caroline berkata akan sering datang berkunjung paling tidak seminggu dua atau tiga kali untuk kedepannya. Ia juga mengatakan akan menemami Mamanya saat pergi ke rumah sakit, agar sang Mama tak sendirian lagi saat datang berobat.


Sang Mama tersenyum, mengiakan kata-kata putri kesayangannya. Ia tahu putrinya selalu kesulitan semenjak ia dinyatakan sakit. Putrinya yang seharusnya masih belajar harus bekerja setelah lulus sekolah menengah. Padahal sang Mama tahu benar, jika putrinya bercita-cita menjadi seorang designer ternama.


"Maafkan Mama, Nak." batin sang Mama. Merasa sedih.

__ADS_1


Sang Mama tak ingin terlihat menangis dihadapan putrinya. Ia sebisa mungkin terus mengurai senyuman dan menenangkan diri.


Caroline melambai, lalu masuk ke dalam mobil. Ia melihat putrinya pergi mengendarai mobil meninggalkan halaman rumahnya. Sang Mama pun masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumah.


__ADS_2