
Raymond pulang ke rumah. Ia disambut Caroline yang sudah membuatkannya hidangan makan malam. Raymond yang biasanya pulang awal, hari itu pulang terlambat karena harus menemui sesorang lebih dulu sebelum pulang ke rumah.
Di dalam kamar. Raymond dibantu Caroline melepas pakaian. Raymond senang, kini Caroline lebih berani dan terlihat tak malu-malu lagi. Justru terkadang Raymond lah yang tertipu, dan terjebak oleh Caroline.
"Kamu sudah mandi?" tanya Raymond.
Caroline menggelengkan kepala, "Belum. Kenapa? mau mengajakku mandi? " tanya Caroline dengan senyum nakalnya.
Raymond mengusap wajah Caroline, "Dengan denang hati. Kalau kamu mau," jawab Raymond.
Caroline tersenyum dengan wajah merona. Raymond mendekatkan wajahnya ke wajah Caroline dan mencium bibir Caroline lembut.
Caroline mengalungkan dua tangan ke leher Raymond dan membalas panas ciuman Raymond. Ia tak mau kalah dengan suaminya itu.
Tak beberapa lama ciuman terlepas. Raymond tersenyum mengecup hidung Caroline. Ia mengatakan, bagaimana bisa Caroline yang dulunya takut dan malu-malu padanya, berubah menjadi nakal dan liar? Dan juga semakin berani menggodanya secara terang-terangan.
Caroline tersenyum, "Hm ... kenapa bisa, ya? Entahlah. Aku sendiri tidak tahu jawabannya. Bisa saja karena aku terjerat pesonamu yang luar biasa," jawab Caroline.
Keduanya kembali berciuman. Caroline menghisap dan menggigit lembut bibir bawah Raymond, membuat Raymond terkejut. Padahal Caroline tak perna melakukan itu saat berciuman dengannya. Raymond merasa malu, semua yang lakukan Caroline mungkin saja dipelajari Caroline darinya. Karena saat berciuman dengan Caroline, Raymond selalu menghisap dan menggigit lembut bibir atas Caroline sampai membuat bibir istrinya itu bengkak
Raymond langsung menanggalkan pakaian Caroline dan tangannya bergerak cepat menyusuri tubuh Caroline. Caroline juga tak mau diam saja, ia buru-buru melepas celana Raymond dan menarik Raymond ke tempat tidur.
Keduanya bermain sampai puas dia atas tempat tidur. Seluruh kamar dipenuhi erangan-erangan dan *******. Caroline begitu menikmati waktu menyenangkannya bersama Raymond. Begitu juga Raymond, yang rasanya tak akan bisa puas hanya dengan satu kali permaianan saja.
Setelah keduannya puas. Raymondan Caroline mandi bersama. Di dalam kamar mandi mereka melakukannya lagi. Suara-suara yang sebelumnya terdengar dari kamar tidur, kini terdengar dari kamar mandi. Bahkan sesekali Caroline menjerit kecil. Entah apa yang sudah Raymond lakukan pada Caroline sampai membuat istri cantiknya itu menjerit.
***
__ADS_1
Caroline dan Raymond makan malam bersama. Raymond memangku Caroline dan menyuapi Caroline makan.
"Apa kamu lelah?" tanya Raymond.
"Ya, kamu cukup membuatku kehilangan tenaga," kata Caroline.
Raymond tertawa, "Hahaha ... itu karena kamu terus membuatku gila. Sampai-sampai aku tak bisa puas hanya dengan dua kali permainan." kata Raymond.
Caroline menyuapi Raymond makan. Ia tersenyum melihat suaminya lahap makan. Melihat dari dekat wajah tampan Raymond, membuat jantung Caroline terus bergemuruh.
"Tadi Alex datang menemuiku," kata Raymond.
"Apa dia butuh sesuatu? tidak biasa dia menemuiku di kantor. Biasanya dia akan datang ke rumah, kan?" sahut Caroline.
Caroline pura-pura tidak tahu. Padahal ia sudah tahu apa tujuan datangnya Alex ke kantor suaminya.
Caroline tersentak kaget. Ia menunduk dan makan makanannya pelan-pelan. Caroline merasa aneh, mendengar cerita Raymond.
Raymond melihat Caroline hanya diam saja, tapi bahunya menegang dan kaku. Ingin menguji seberapa kuat Caroline menahan diri, Raymond pun kembali memancing pembicaraan.
"Menurutmu apa yang akan Kakakku lakukan? hubungan kami memang tidak baik-baik saja sejak saat itu. Sejak mendiang Papa memberikan hak dan wewenang sebagai CEO." kata Raymond.
"Hm ... Lily, ah maksudku Kakak ipar. Dia itu, orangnya seperti apa?" tanya Caroline.
"Dia akan berjuang mati-matian untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Dia memang terlihat baik dari luar, tapi bagai ular di dalam. Dia bisa langsung melilit dan menelan mangsanya hidup-hidup." jawab Raymond.
Caroline terdiam. Ia ketakutan, tapi tak bisa menunjukkan itu pada Raymond.
__ADS_1
"Be-begitu, ya. Apakah tak ada cara lain menghentikannya? dan apa yang membuatnya sampai ingin menyingkirkanmu?" tanya Caroline.
"Mungkin tidak ada cara yang bisa menghentikannya. Selain dia sadar sendiri. Lily itu tak selemah yang terlihat, Caroline. Dia punya sejuta trik licik dan pikiran jahat untuk menjatuhkan lawannya. Yang dia inginkan, aku mundur dari posisiku saat ini. Dia ingin mengusai semua harta keluarga seorang diri." jawab Raymond.
"Kenapa tidak kamu berikan saja. Dengan begitu kamu akan baik-baik saja, kan? Dia tidak akan mengusikmu lagi," kata Caroline memberikan saran.
Raymond tersenyum, "Pikirkan ini baik-baik. Semisal aku berikan apa yang Lily inginkan, apakah hidupku bisa terjamin? Bukankah Lily justru bisa dengan mudah melenyapkanku? Lagipula kalau aku menyerahkan semuanya pun, dia tak akan berhenti menjadi seseorang yang tamak. Jika aku kehilangan semuanya, aku tak akan bisa melindungimu juga. Bagaimana kalau Lily melukaimu, melukai keluargamu. Lily akan nenyeret siapa saja orang yang dekat dengan musuhnya dan tak kenal ampun." jelas Raymond.
Deg ...
Caroline langsung teringat pada mamanya. Ia tidak bisa kehilangan sang Mama karena Mamanya adalah satu-satunya keluarga yang tersisa.
"Apa yang dikatakan Raymon ada benarnya juga. Kalau dia tak punya posisi dan kekuasaan, Lily akan dengan mudah membunuhnya. Karena itulah dia menggunakanku yang lemah ini sebagai alat pembunuh. Dia sudah memanfaatkan kelamahanku, dan berhasil mengekangku. Dia benar-benar wanita jahat," batin Caroline.
Raymond memeluk Caroline, "Apa yang kamu pikirkan sampai diam begitu, sayang?" tanya Raymond.
Caroline kaget. Ia pun beralasan kalau sedang memikirkan sesuatu. Caroline bingung, ia ingin jujur pada Raymond, tapi ia takut kalau Raymond tahu akan membencinya dan langsung menceraikannya. Ia masih belum siap kehilangan Raymond, setelah apa yang ia terima dan rasakan.
Caroline memohon pada dirinya sendiri, untuk sebentar saja menunggu. Kalau saatnya tiba, ia akan mengaku dan mengatakan semuanya pada Raymond.
"Sebentar lagi. Ya, sebentar saja. Biarkan aku menikmati kebersamaan ini. Aku tidak akan menyesalinya nanti, saat kamu sudah tidak menginginkanku lagi, Ray." batin Caroline.
Tiba-tiba Caroline merasa sedih. Ia membayangkan bagaimana kalau ia diusir dan dibuang. Siapa yang tak marah, saat tahu istrinya ternyata adalah orang yang mencincar nyawanya. Raymond pun pasti akan marah dan murka. Begitu tujuannya terbongkar, maka apa yang disembunyikan Caroline selama ini pun juga akan ikut ketahuan.
Raymond sudah selesai makan, begitu juga Caroline. Mereka saling membantu membersihkan meja dan mencuci peralatan makan yang kotor.
Setelah itu mereka berjalan-jalan berkeliling taman belakang. Sepanjang memutari taman, keduanya hanya saling diam. Mereka larut dalam pemikiran masing-masing.
__ADS_1