
Anhastasia mengangguk, "Ya, kamu benar, Ray. Sejujurnya, aku kabur dari rumahku. Orang tua angkatku ingin aku menikah dengan orang pilihan mereka. Aku menolak, karena pria itu ingin menjualku pada teman prianya. Aku mencoba bicara baik-baik, tapi aku gagal. Aku pergi dari rumah, dan di jalan aku dihadang oleh seseorang yang, yang, yang ingin melecehkanku. Aku berusaha kabur darinya," jelas Anhastasia. Ia bercerita dengan menangis.
Raymond memegang tangan Anhastasia, "Penjelasan singkatmu sudah bisa membuatku tahu bagaimana keadaanmu. Jangan takut, ada aku di sini yang akan membantumu, juga melindungimu. Mamaku pernah bekata, jika wanita adalah mahluk Tuhan yang paling rapuh. Wanita hanya terlihat kuat di luar, namun dalam hatinya mudah hancur berkeping-keping. Aku mengerti apa yang kamu alami," jawab Raymond tersenyum.
Mendengar jawaban Raymond, Anhastasia terkejut. Pria yang terlihat kejam sebelumnya kini berubah manis dan penuh kelembutan, sentuhan tangan yang hangat. Sungguh membuat Anhastasia jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Istirahatlah, aku ada sesuatu yang harus dikerjakan. Jika kamu butuh sesuatu, kamu hubungi saja aku lewat ponsel ini. Jangan keluar kamar jika tidak ada keperluan mendesak, sayangi kakimu sendiri." kata Raymond mengingatkan Anhastasia.
Raymond memberikan ponselnya pada Anhastasia, "Hanya ada satu kontak saja. Karena ini adalah ponsel pribadiku. Baiklah, selamat malam Anha, juga selamat tidur." imbuhnya.
Anhastasia merasa diperlakukan istimewa. Raymond adalah pria yang jauh dari imajinasinya.
"Ya, selamat malam dan selamat tidur juga," jawab Anhastasia.
Raymond berdiri, membawa nampan dan keluar dari kamar Anhastasia. Anhastasia menatap ponsel yang dipegangnya, dia mencoba membuka isi ponsel. Berharap bisa menemukan sesuatu yang menarik dari ponsel Raymond.
***
Dua bulan kemudian...
Waktu terus berjalan. Hari-hari dilewati Anhastasia dan Raymond dengan baik. Tidak terasa, dua bulan sudah berlalu. Hubungan keduanya juga semakin akrab dan dekat, luka di tubuh Anhastasia juga sudah menghilang. Raymond merawat pasiennya dengan sangat baik.
Pagi itu, Anhastasia memasak sarapan untuk Raymond. Setelah selesai memasak, ia memanggil Raymond untuk segera keluar kamar dan sarapan.
Dengan langkah cepat Anhastasia pergi ke kamar Raymond. Tanpa mengetuk pintu, Anhastasia langsung membuka pintu. Di dalam kamar, Raymond yang sudah siap juga sedang membuka pintu. Pintu terbuka tiba-tiba, membuat Anhastasia tidak imbang dan hampir jatuh. Untung saja Raymond langsung memeluknya.
Keduanya terdiam, sama-sama merasa canggung. Anhastasia buru-buru mendorong Raymond dan memalingkan wajah.
"Ayo sarapan," kata Anhastasia.
Ia segera berbalik, namun ditahan oleh Raymond. Raymond menghentikan langkah Anhastasia, ia mencium pipi Anhastsia dan berlalu meninggalkannya.
"Selamat pagi," bisik Raymond sebelum pergi.
Anhastsia tersenyum malu, meraba pipinya. Namun ia langsung mengikuti Raymond dan berpura-pura kesal.
"Kamu jangan mencoba mendapat keuntungan. Dasar ... " gerutu Anhastasia.
__ADS_1
"Keuntungan apa? Aku menolongmu agar tidak jatuh, itu hanya ciuman di pipi kan?" jawab Raymond santai.
"Tetap saja tidak diizinkan," jawab anhastasia.
Raymond menghentikan langkah, membuat Anhastasia kaget. Raymond berbalik menatap Anhastasia yanh berada dihadapannya.
"Lalu ... " ucap Raymond mendekati Anhastasia.
"Lalu apa?" sambung Anhastsia bingung.
"Bagaimana jika aku meminta izin? apakah kamu mengizinkanku menciummu?" tanya Raymond.
Anhastasia terkejut, "Apa? apa kamu salah minum obat? jangan bercanda lagi, cepat sarapan dan pergi bekerja." kata Anhastasia.
Raymond tersenyum, ia perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Anhastasia dan langsung mencium bibir Anhastasia.
Ciuman itu begitu lembut, Raymond memeluk Anhastasia juga menahan tengkuk leher wanita dihadapannya itu. Ia memperdalam ciumannya, membuat ciumannya selembut mungkin.
Perlakuan Raymond membuat Anhastasia terkejut. Namun karena kelembutan dan rasa nyaman, Anhastasia pun menerima perlakuan Raymond. Ia menutup mata, menikmati ciuman Raymond yang begitu manis.
"Kamu berencana menatapku sampai kapan?" ucap Anhastasia.
"Sampai mataku tidak bisa melihatmu lagi. Kamu selalu membuatku tergoda," jawab Raymond.
Anhastasia tertawa kecil, "Trik murahanmu muncul lagi. Aku tidak akan tertarik," kata Anhastasia dengan tatapan mata menggoda pada Raymond.
Anhastasia berbalik, dengan cepat Raymond memeluknya dari belakang. Tentu saja itu membuat Anhastasia kaget dan menjerit kecil.
"Aaa ... kamu ini. Jangan bergurau lagi, Ray. Ayo lepaskan aku," ucap Anhastasia merengek.
Raymond tersenyum, ia mengeratkan dekapannya dan mencium leher Anhastasia. Aroma wangi yang dihirup Raymond dari tubuh Anhastasia membuatnya tak ingin jauh dari wanita itu.
"Aku ingin menghukummu, karena kamu selalu menggodaku. Katakan, bagaimana caranya aku akan menghukummu, huh?" bisik Raymond ditelinga Anhastasia.
Anhastasia tersenyum, "Ray, ayolah. Kamu akan terlambat nanti," kata Anhastasia mengingatkan.
Raymond merasa sedikit kecewa, dieratkannya pelukannya dan dibenamkannya wajahnya ke bahu Anhastasia. Tidak beberapa lama Raymond melepas tangannya dan memutar tubuh Anhastasia agar berhadapan dengannya. Ciuman lembut mendarat di hidung Anhastasia, area yang sangat disukai Raymond jika mencium Anhastasia adalah di hidung.
__ADS_1
Anhastasia menggandengan tangan Raymond berjalan mendekati meja makan. Kedua duduk berdampingan, dengan cekatan Anhastasia melayani Raymond. Pelayanan istimewa itu sudah dilakukan Anhastasia selama kurang lebih dua bulan, selama ia tinggal bersama Raymond.
"Aku akan ke luar kota besok lusa. Kamu ingin ikut?" tawar Raymond.
Anhastasia menggelengkan kepala, "Tidak. Aku akan menunggumu kembali. Aku harus selesaikan rajutanku," jawab Anhastasia.
"Kamu yakin?" tanya Raymond menatap Anhastasia.
"Kenapa tidak? ada apa? kenapa kamu ingin sekali aku ikut, hm?" Jawab Anhastasia penasaran.
"Aku hanya tidak mau kamu kesepian saja," kata Raymond.
"Tidak apa. Aku baik-baik saja. Ayo makan, matahari sudah meninggi." kata Anhastasia.
Raymond dengan lahap memakan sarapannya. Anhastasia tersenyum manis melihat Raymond yang lahap makan.
Raymond sadar jika ia terus ditatap oleh Anhastasia disampingnya. Raymond menyendok makanan dan menyodorkan ke mulut Anhastasia bermaksud menyuapi.
"Buka mulutmu," pinta Raymond.
Anhastasia mengangguk senang lalu membuka mulut dan memakan makanan yang disuap untuknya. Senyumnya mengembang sembari mengunyah makanan dimulutnya, ia senang Raymond begitu perhatian padanya.
"Manis sekali," batin Raymond memuji senyuman Anhastasia.
"Sudah, aku bisa lakukan sendiri. Kamu makanlah dan cepat berangkat kerja. Bukankah pagi ini ada pertemuan penting?" kata Anhastasia.
Raymond mengernyitkan dahi lalu membulatkan mata. Seakan teringat akan sesuatu.
"Aaaahh, aku lupa. Ray, apa yang kamu pikirkan sampai lupa dengan hal sepenting ini. Memalukan sekali," gumam Raymond.
Anhastasia tertawa kecil, "Sudah-sudah, tidak apa. Kamu tidak akan terlambat jika kamu cepat makan dan bergegas. Ayo cepat," kata Anhastasia menanggapi.
Raymond menyudahi sarapannya, ia melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kirinya.
"Aku berangkat. Jangan lupa bekal makan siangku," kata Raymond yang langsung berdiri dan pergi setelah mengusap lembut kepala Anhastasia.
Anhastasia menatap kepergian Raymond sampai hilang dibalik dinding pembatas ruang tengah ke ruang tamu. Anhastasia yang belum menyelesaikan makan segera menyelesiakan sarapannya.
__ADS_1