
[Raymond]
Aku yang baru saja masuk dalam kamar. Ingat kalau ponselku tertinggal dalam ruang kerja, aku pun kembali keluar dari kamar. Aku hendak menghubungi Mattew, tanpa ponsel bagaimana bisa aku menghubunginya?
Aku akhirnya melangkah menuju ruang kerja untuk mengambil ponsel. Saat melewati ruang tengah, aku tidak melihat Caroline ataupun Lily. Aku melihat sekeliling, instingku tertuju pada halaman belakang rumah. Akupun pergi ke arah dapur untuk melihat apakah benar apa yang aku pikirkan.
Aku melihat dari jendela dapur, dari balik tirai. Benar saja, Lily dan Caroline ada di sana. Perbincangan mereka tampak serius, entah apa yang kedua orang itu bicarakan. Jarakku jauh, jadi tak bisa mendengar apa-apa. Aku hanya bisa melihat ekspresi yang berbeda dari wajah dua orang yang ada di halaman belakang itu.
Lily tampak begitu marah, apakah akan melakukan sesuatu pada Caroline? pikiranku sudah menerka yang bukan-bukan. Caroline terlihat diam menunduk, aku yakin Lily sudah menekannya atau berbicara sesuatu hal pada Caroline sehingga wanita itu tidak berani bertatap muka dengan Lily.
Cukup lama mereka berbincang, sampai akhirnya Lily memutuskan untuk pergi. Saat Lily berjalan ke arah dapur, aku segera pergi bersembunyi di belakang pintu.
Tidak lama, aku melihat Lily masuk ke dapur dan bergegas pergi keluar dari rumah. Aku keluar dari persembunyianku, aku melihat Caroline masih berdiri diam di halaman belakang.
Wanita itu kemudian bergerak, ia melangkahkan kakinya untuk masuk dalam rumah. Melihat itu, aku segera pergi dari dapur dan langsung ke ruang kerja untuk mengambil ponsel.
Pintu ku tutup rapat, segera ku ambil ponselku yang tergeletak di atas meja. Pikiranku terpaku pada Lily dan Caroline, aku penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Apa yang mereka rencanakan dan kenapa Lily terlihat marah pada Caroline.
Aku menatap layar ponselku, aku melihat Mattew menghubungiku beberapa saat yang lalu, ada juga pesan masuk darinya. Segera aku menghububginya kembali.
Panggilanku langsung diterima oleh Mattew, ia menyapaku di seberang sana.
"Hallo, Tuan. Apa Anda sudah tidak sibuk?" tanya Mattew.
"Matt, ada apa?" tanyaku datar.
"Saya sudah menyelesaikan apa yang Tuan perintahkan. Saya membuat Tuan Alex melakukan pekerjaanya dengan baik," katanya.
"Baguslah, aku tidak sabar menantikan pergerakannya. Bagaimana dia bisa tahan dengan banyaknya pekerjaan?" ucapku tersenyum tipis.
"Anda benar, sejauh ini dia masih bisa tahan. Namun kita tidak akan tahu berapa lama dia akan bertahan," sahut Mattew.
"Ya, dia sangat manja dan keras kepala. Bukankah jika aku terlalu keras, dia akan mengadu pada Mamanya? entah mengapa aku sangat senang melihat Ibu dan Anak itu kesal," jawabku.
"Anda selalu saja membuat keduanya kesal, Tuan. Apakah Anda akan pergi ke kantor hari ini?" tanya Mattew.
"Tidak, Mattew. Ada sesuatu hal yang harus aku urus. Ubah jadwalku dua sampai tiga hari ke depan, aku akan pergi bersama Caroline." jawabku yang tiba-tiba punya ide bagus.
"Baiklah, Tuan. Jika seperti itu, saya akan atur ulang jadwal Anda."
__ADS_1
"Terima kasih, Matt. Bekerjalah dengan baik, awasi Alex dengan cermat." kataku.
"Saya mengerti, Tuan."
Aku langsung mengakhiri panggilanku. Aku membawa ponselku dan keluar dari ruang kerjaku.
***
Saat di kamar, aku melihat Caroline sedang merapikan lemari pakaian. Melihatku masuk ia hanya menatapku sekilas lalu kembali merapikan isi lemari.
"Kamu darimana?" tanyanya padaku.
"Oh, aku baru dari ruang kerja. Aku ingin menghubungi Mattew, ponselku tertinggal di sana. Aku kembali untuk mengambilnya," jawabku.
"Aku mengira kamu sudah mandi," katanya.
"Aku baru saja akan mandi. Ingin temani aku mandi?" godaku, "Apakah Kakakku sudah pulang?" aku pura-pura bertanya, yang sebenarnya aku sudah tahu jika Lily sudah pergi.
"Sudah," jawabnya singkat.
Caroline menghampiriku. Wajahnya murung, tidak secerah tadi saat bangun dari tidur.
"Apa yang terjadi, sayang? kau terlihat tidak baik?" tanyaku.
"Aku baik-baik saja. Jangan cemas," katanya lembut padaku.
Aku memeluknya, ku dekap erat tubuh wanita itu. Ini gila, dia adalah komplotan Lily, wanita licik dan jahat yang selalu menjadi ancaman bagiku, yang berkedok menjadi Kakak yang baik hati di hadapan orang lain. Namun, aku tidak bisa membenci Caroline, meski dia juga tidak bicara jujur padaku.
Aku melepaskan pelukanku, ku kecup lembut keningnya. Aku menatap matanya, mata kami saling memandang satu sama lain.
"Ada apa? kenapa menatapku seperti itu? tanyaku merasa tidak nyaman.
Caroline kembali menggeleng, " Tidak ada apa-apa. Mandilah, aku akan siapkan pakaian kerjamu." katanya.
"Tidak perlu, aku tidak bekerja hari ini sampai lusa. Ayo kita jalan-jalan," jawabku .
"Jalan-jalan? bukankah kamu sibuk?" tanyanya balik dengan ekspresi wajah penasaran.
Aku menganggukkan kepalaku, "Aku memang sibuk. Tapi aku juga akan luangkan waktu untuk menemani istriku, bukan?" jawabku lagi.
__ADS_1
Caroline tersenyum cantik, "Baiklah. Aku akan siapkan pakaian gantimu. Mandilah," suruhnya lagi.
Aku hanya tersenyum dan bergegas ke kamar mandi, sebelum dia kembali memerintahku untuk mandi.
Kira-kira lima belas menit aku ada di dalam kamar mandi. Selesai mandi aku keluar, Caroline masih ada di kamar. Dengan senyuman manis dia kembali menyapaku.
"Cepat ganti pakaianmu," suruhnya.
Aku segera melangkah mendekatinya. Disisinya duduk sudah ada pakaianku yang siap aku pakai.
"Apa kau ingin ikut bersamaku?" tawarku sembari berganti pakaian.
"Ikut? ke mana?" tanyanya menatapku.
"Aku akan pergi ke sebuah tempat," jawabku.
"Baiklah, aku ikut," jawabnya.
Jawabannya membuatku tersentuh. Dia tidak ragu padaku, begitupun aku yang juga tidak ragu bersamanya, meski aku tahu sewaktu-waktu nyawaku akan terancam. Caroline adalah orang suruhan Lily, banyak cara dan banyak hal bisa dia lakukan padaku. Semakin aku pikirkan, semakin kuat kepercayaanku padanya. Aku percaya Caroline tidak akan menyakitiku, dia akan luluh dengan apa yang aku berikan.
***
"Apa ini? mengapa Raymond begitu berbeda hari ini? apa terjadi sesuatu?" batin Caroline.
"Ayo, segeralah bersiap," ajak Raymond.
Caroline mengambil pakaian ganti di lemari dan berjalan menuju kamar mandi untuk berganti pakaian. Raymond menunggu istrinya sambil duduk di ranjangnya yang empuk.
Tidak berselang lama, Caroline keluar. Dengan memakai dress berwarna biru muda selutut ia nampak begitu cantik dan anggun.
Raymond tersenyum menatap Caroline, "Cantik sekali," puji Raymond pada istrinya itu.
"Cantik apa?" jawab Caroline tersipu, melangkah mendekati Raymond.
Raymond menarik tangan Caroline dan membuat Caroline jatuh kepangkuan Raymond.
"Kamu sangat cantik," puji Raymond lagi.
Kecupan lembut akhirnya mendarat di kening Caroline. Raymond membuat jantung Caroline berdebar untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
Deg ... deg ... deg ...
"Pria ini, selalu saja membuatku berdebar," batin Caroline menyentuh dadanya sendiri dengan kedua tangan.