
Caroline terkejut setelah mendengar perkataan Raymond. Ia tidak percaya Raymond akan memintanya tetap mengikuti perintah Lily setelah ia jujur mengakui semuan. Caroline lantas bertanya, apakah Raymond tidak marah atas apa yang sudah dilakukannya?
"Setelah semua yang aku aku, apakah kamu tidak membenciku?" tanya Caroline.
"Tidak. Karena aku yakin kamu tak berniat seperti itu. Mungkin situasimu yang mengharuskanmu mematuhi perintah Lily." jawab Raymond menerka-nerka.
Caroline menunduk, "Kamu benar. Aku berada dalam situasi yang tidak bisa menolaknya." jawab Caroline.
"Tidak perlu memaksakan diri untuk bercerita, jika kamu masih belum siap. Cukup sampai di sini saja kita bicarakan ini. Karena kamu terlihat sangat lelah. Ayo, kita tidur. Pejamkan matamu, pikirka hal-hal baik saja." kata Raymond.
Raymond menidurkan Caroline, memeluknya dan menepuk-nepuk punggung Caroline. Ia mengerti betapa sulitnya Caroline selama ini. Ia kesal, tetapi rasa kesalnya tak sebanding dengan rasa sayangnya. Sehingga ia tidak bisa marah ataupun menghukum Caroline begitu saja.
Caroline memejamkan mata, memeluk Raymond dengan erat. Ia tidak habis pikir, pria macam apa yang dipeluknya itu. Apakah pria gila yang memang tak bisa marah, pria yang polos dan bodoh atau apa? Sehingga tak terlihat amarah sedikitpun dalam tatapan matanya
"Mungkin aku sudah salah menilaimu, Ray. Jika tahu kamu tak bereaksi seperti ini, seharusnya sejak awal kita bertemu aku mengakuinya. Aku tak perlu susah payah menggodamu dan aku tak perlu berpura-pura baik padamu. Maaf, karena aku hanya peduli pada Mamaku saja. Bagiku Mamaku segalanya, dan bagiku sekarang kamu juga segalanya. Aku tidak akan pernah menyakitimu, Ray. Tak akan," batin Caroline.
Lelah menangis dan banyak berpikir, Caroline kembali terlelap. Begitu juga Raymond yang juga tertidur masih dengan posisi memeluk Caroline.
***
Keesokan harinya ....
Matahari sudah meninggi. Dan Caroline baru saja bangun. Saat membuka mata dan meraba sisi tempat tidurnya, ia tidak mendapati Raymond. Caroline teringat akan kejadian semalam dan langsung bangun dari posisi berbaringnya.
"Oh ... yang semalam itu sungguhan, kan? buka mimpi atau khayalanku saja?" batin Caroline bertanya-tanya.
Caroline segera turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Saat melihat jam di dinding kamar, ia menerka jika Raymond sudah pasti berangkat kerja. Ia ingin mandi, ingin berendam air hangat.
Pada saat Caroline berendam. Raymond datang menghampiri. Raymond sudah memanggil-manggil Caroline sejak di depan pintu kamar mandi, tapi sepertinya Caroline tidak mendengar panggilan Raymond.
"Sayang, sudah cukup berendamnya. Nanti kamu sakit," bisik Raymond.
Bisikan Raymond mengejutkan Caroline yang sedang memejamkan mata sambil berendam. Ia menikmati waktu berendamnya.
__ADS_1
"Aahh ... Ray-Raymond. Kamu tidak bekerja? aku mengira kamu sudah berangkat kerja," kata Caroline.
"Aku memang sudah di jalan, tapi ada sesuatu yang tertinggal. Saat kembali dan masuk kamar kamu tidak ada. Aku panggil-panggil dari luar kamar mandi pun tidak ada jawaban. Karena itu aku masuk, dan melihatmu berendam sampai ketiduran." jawab Raymond.
"Apa yang tertinggal? apa dokumen pekerjaan?" tanya Caroline menatap Raymond.
Raymond menggelengkan kepala, "Bukan. Bukan dokumen pekerjaan. Melainkan istriku yang cantik dan manis." jawab Raymond mencium bahu Caroline.
"Umhhh ... " gumam Caroline saat bahunya dicium Raymond.
Mendengar gumaman Caroline, Raymond semakin ingin menjahili istrinya itu. Ia mencium tengkuk leher dan meraba bagian bagian depan tubuh Caroline lembut.
"Ra-Ray ... mmmhh ... ja-jangan seperti ini." Kata Caroline dengan tubuh bergetar.
"Kenapa tidak boleh? aku mencium dan menyentuh istriku sendiri, bukan istri orang lain. Katakan, kdnapa tidak boleh, hm?" kata Raymond sengaja menggoda Caroline lebih lagi.
Puas menggoda Caroline, Raymond pun mendapat omelan dari Caroline. Sepanjang Caroline ganti pakaian sampai selesai mengenakan make up, ia terus mengomel. Sedangkan Raymond hanya duduk di tepi tempat tidur sambil terus tersenyum.
"Kamu menertawakanku?" kata Caroline menatap Raymond.
"Uh, dasar. Sudah jelas-jelas menertawakanku masih bilang tidak." gumam Caroline menggerutu.
Caroline sudah siap. Dan ia berjalan mendekati Raymond. Ia sudah siap pergi bersama Raymond.
"Apa benar aku boleh ikut? aku takut mengganggumu bekerja," kata Caroline tidak enak.
"Kenapa mengganggu, aku malah akan bersemangat karena kamu terlihat di depan mataku. Bukankah rasanya seperti terisi energi hidup. Jangan khawatir, mulai sekerang jangan merasa sungkan dan bsrsikaplah lebih egois." kata Raymond.
Mereka berdua pergi bersama meninggalkan kamar. Raymond sengaja mengajak Caroline ke kantor, karena ia ingin mengajak Caroline jalan-jalan saat jam makan siang tiba nanti. Juga setelah pulang kerja. Raymond punya kejutan untuk Caroline.
***
Di rumahnya Lily gelisah menunggu kabar terbaru dari Caroline. Ia ingin tahu apakah Caroline sudah memberikan obat pemberiannya pada Raymond atau belum. Saat Caroline dihubungi, panggilanya tidak dijawab. Sudah lima kali Lily mencoba menghubungi Caroline, tapi tidak sekalipun panggilannya dijawab.
__ADS_1
"Apa-apaan wanita ini. Berani sekali dia mengabaikanku. Padahal aku sudah bilang kalau dia harus menerima panggilanku kapanpun aku menghubunginya. Dasar tidak berguna!" kata Lily sangat kesal.
Alex keluar dari kamarnya hendak keluar. Ia sudah janjian dengan temannya untuk bertemu di sebuah Caffe. Temannya ingin memberikan hasil penelitian yang diminta Alex.
Melihat Mamanya yang diam di ruang tengah membuat Alex penasaran. Ada apa dengan Mamanya? Alex brpikir, apakah Mama dan Papanya bertengkar lagi?
"Ma, Mama sedang apa? kenapa Mama melamun di sini?" tanya Alex.
Lily menatap Alex, "Oh, kamu mau pergi? Mama tidak apa-apa. Hanya sedikit kesal saja," jawab Lily.
"Kesal kenapa?" tanya Alex ingin tahu.
"Alex, apa kamu pernah menghubungi caroline akhir-akhir ini?" tanya Lily.
Deg ...
Alex terkejut. Ia mengerutkan dahinya. Ia tidak tahu kenapa Mamanya tiba-tiba bertanya tentang Caroline.
"Apa ada sesuatu? kenapa Mama bertanya soal Caroline?" tanya Alex.
"Wanita sialan itu tidak bisa dihubungi. Mama sudah berkali-kali menghubunginya, tapi tidak dijawab." kata Lily.
"Memangnya Mama ingin apa sampai menghubunginya? Mungkin dia sedang sibuk. Mama jangan marah-marah, nanti kulit wajah Mama keriput." kata Alex menggoda Mamanya.
Lily tersenyum, "Kamu bisa saja menghibur Mama, ya. Pergilah, jangan hiraukan Mama. Oh, apa kamu akan pulang malam?" tanya Lily.
"Iya, Ma. Aku janjian dengan teman-teman sekolah. Semacam reuni. Kami akan pergi main dan pulang setelahnya," jawab Alex berbohong.
Ia tidak bisa memberitahu kebenaran kalau ia menemui temannya yang merupakan seorang peneliti untuk melihat hasil kandungan obat yang diberikan Lily pada Caroline untuk diberikan pada Pamannya.
"Maaf, Ma. Aku terpaksa berbohong." batin Alex.
Lily tersenyum sambil mengusap wajah Alex, "Pergilah, Nak. Hati-hati di jalan dan hubungi Mama kalau ada apa-apa." kata Lily.
__ADS_1
"Ya, Ma. Mama juga istirahat saja. Dahh, Ma." Kata Alex.
Alex mencium pipi Lily dan langsung pergi meninggalkan Mamanya itu. Lily menatap kepergian Alex sampai menghilang dari pandangannya, lalu beranjak pergi ke kamarnya.