Terjebak Permainan Cinta

Terjebak Permainan Cinta
TPC (25)


__ADS_3

Alex sedang mendengarkan penjelasan temannya tentang kandungan apa saja yang ada dalam cairan obat yang diberikan Alex padanya. Teman Alex mengatakan, kalau banyak macam kandungan dalam obat tersebut dan efek sampingnya sangat mengerikan. Orang yang mengkonsumai obat tersebut dalam beberapa hari akan mengalami batuk darah dan sesak napas, bahkan bisa sampai meninggal.


Teman Alex menatap Alex, "Obat ini akan kamu berikan pada siapa? jangan macam-macam, Lex." kata teman Alex khawatir pada Alex.


Alex menatap temannya, "Kamu pikir aku sejahat itu mau membunuh orang. Meski aku seperti ini, aku bukan orang yang akan berbuat sekeji itu. Itu milik ... ah, lupakan saja. Bukan apa-apa." kata Alex.


Hampir saja Alex mengatakan, jika itu adalah milik Mamanya. Kalau sampi temannya tahu Mamanya orang yang tak punya hati ingin menghabisi nyawa Adiknya sendiri, maka Temannya pasti akan menjauhinya secara tak langsung. Berpikir Alex berasal dari keluarga yang aneh.


Teman Alex mengerutkan dahi. Ia ingin bertanya lebih jauh perihal obat tersebut, tapi ia menghargai urusan pribadi Alex. Kalau Alex tidak cerita, ia juga tak akan bertanya. Ia sudah sejak lama mengenal sosok Alex. Baginya, Alex memang pemuda gila yang terkadang menyebalkan, tapi Alex punya sisi baik yakni tak pernah menyusahkan temannya dan memaksakan kehendaknya sendiri. Itulah kenapa ia mau berteman dengan Alex.


"Katakan saja kalau kamu butuh sesuatu. Jangan di simpan sendiri," kata teman Alex.


"Ya, terima kasih niat baikmu. Terima kasih juga mau membatuku, padahal kamu sangat sibuk dengan penelitianmu." kata Alex.


Setelah berbincang cukup panjang. Teman Alex berpamitan karena harus kembali ke laboratorium, teman Alex mendapat panggilan dari Papanya dan itu hal yang mendesak. Alex mempersilakan temannya pergi. Ia juga pergi dari Caffe setelah temannya itu pergi.


***


Siang harinya ...


Raymond mengajak Caroline berbelanja. Raymond ingin membelikan pakaian, sepatu dan tas baru untuk istrinya. Caroline sempat menolak, ia berkata tak perlu membuang uang hanya untuk pakaian, sepatu dan tas yang nantinya jarang terpakai.


Raymond mengatakan, setelah menikah sampai hari itu ia belum memberikan apa-apa. Meminta pada Caroline untuk menerima saja apa yang ia berikan dan tidak perlu khawatirkan apa-apa.


Karena terus didesak, akhirnya Caroline menyerah dan menerima apa yang diberi Raymond. Saat Raymond meminta Caroline mencoba beberapa pakaian, maka Caroline akan mencobanya. Begitu juga dengan sepatu. Untuk tas Caroline memilih sendiri tas-tas mana saja yang ia inginkan.


"Sudah cukup belanjanya. Sekarang sebaiknya kita kembali ke kantor. Bukankah kamu masih ada rapat?" tanya Caroline.


"Apa kamu sudah selesai dengan pilihanmu?" tanya Raymond.


"Ya, sudah." jawab Caroline.

__ADS_1


Setelah melakukan transaksi pembayaran, Raymond dan Caroline pun pergi meninggalkan toko. Dalam perjalanan pulang, Raymond membelikan dessert untuk Caroline agar bisa dimakan di kantor.


Raymond dan Caroline pergi dari pusat perbelanjaan menuju kantor. Caroline sangat senang, meski rasanya lelah. Tak lupa Caroline mengucapkan terima kasih pada suaminya itu.


***


Sambil menunggu Raymond rapat, Caroline memakan dessert dan membaca buku. Ia membaca buku yang ada di lemari buku milik Raymond.


Ponsel Caroline beedering. Ia melihat ponselnya yang tergeletak di atas meja. Saat ia melihat nama "Lily" di layar ponsel, Caroline pun langsung merasa malas.


"Dia pasti ingin tahu, aku sudah berikan obat pemberiannya atau belum. Sejak tadi dia menghubungiku. Padahal aku sama sekali tidak ingin bicara dengannya." batin Caroline.


Caroline mengambil ponselnya dan menerima panggilan dari Lily. Begitu panggilannya diterima, Lily langsung mencecar Caroline dengan banyak pertanyaan. Membuat Caroline tak bisa berkata-kata.


"Hallo ... hallo ... kamu dengar tidak, Caroline? hallo ... " panggil Lily emosi.


"Um, i-iya. Aku dengar," jawab Caroline memijat pelan pelipisnya.


"Kamu ini selalu saja membuatku kesal, Caroline. Apa saja yang kamu lakukan selama ini?" kata Lily.


"Aku selalu saja ketakutan dan tak bisa berkata-kata kalau dihadapannya. Menyedihkan sekali," batin Caroline.


"Maaf, maaf, maaf saja yang kamu bisa. Aku bosan mendengarnya." kata Lily.


"Bagaimana dengan apa yang perintahkan padamu. Sudah kamu lakukan atau belum? awas saja kamu beralasan lupa atau apalah itu yang intinya kamu belum memberikannya. Aku tak akan segan-segan memberikan hal serupa pada Ibumu, Caroline. Ingat ini baik-baik." kata Lily mengancam.


"Ahh ... i-itu. Su-sudah aku berikan. Sejak kamu berikan obat itu padaku, aku langsung memberikannya," kata Caroline berbohong.


"Apa kamu yakin? jangan mencoba menipuku!" kata Lily marah.


"Su-sunguh. Aku berkata jujur, dan aku ti-tidak menipu." kata Caroline takut bercampur khawatir. Ia terpaksa berbohong karena tak mau Lily semakin marah dan pembicaraan mereka berlarut-larut.

__ADS_1


Lily terus mengomel. Sampai akhirnya ia mengakhiri panggilan begitu saja tanpa bertanya lagi. Caroline mengerutkan dahi menatap layar ponselnya. Ia merasa kesal, ia muak dengan sikap Lily yang semena-mena padanya.


Tidak lama pintu ruangan terbuka, Raymond yang baru selesai rapat mausk ke dalam ruang kerjanya. Melihat Caroline duduk di sofa memegang ponsel, ia tersenyum dan menghampiri sang istri.


"Sayang ... "panggil Raymond. Duduk di samping Caroline.


Panggilan Raymond tak didengar Caroline. Karena seriusnya berpikir, Caroline tidak sadar dengan kedatangan Raymond.


"Dia memikirkan apa?" batin Raymond.


Raymond memeluk Caroline, "Sayang ... " panggilnya lembut penuh kasih sayang.


"Eh, ahh ... i-iya. Ka-kamu kapan datang? kenapa aku tidak dengar kamu membuka pintu?" kata Caroline terkejut.


Raymond mengatakan, Caroline tidak sadar karena sibuk memikirkan sesuatu entah apa. Ia sudah memanggil Caroline, dan panggilannya pun diabaikan.


Caroline meminta maaf. Ia mengatakan apa alasan pikirannya tidak fokus. Tak lain karena memikirkan panggilan dari Lily. Caroline juga langsung kepikiran pada sang Mama.


"Lily menghubungimu?" tanya Raymond.


Caroline menganggukkan kepala, mengiakan pertanyaan Raymond. Caroline juga mengatakan, kalau Lily mengancamnya.


"Ray ... aku boleh minta sesuatu?" tanya Caroline menatap Raymond.


Raymond menganggukkan kepala, "Ya, katakan padaku, apa yang kamu inginkan?" tanya Raymond.


"Bisakah kamu mengirim Mamaku ke luar negeri. Ke tempat yang tidak bisa dijangkau Lily. Aku tidak mau Mama terlibat dalam masalah ini, Ray." kata Caroline.


Raymond terdiam. Ia sedang berpikir. Tak lama ia bersuara, ia bertanya apakah ada tujuan khusus ke mana Caroline ingin mengirim Mamanya pergi? dan kira-kira untuk berapa lama?


"Aku bertanya untuk jaga-jaga saja. Jika ada tujuan yang kamu inginkan, maka aku akan mengikuti tujuanmu." kata Raymond.

__ADS_1


"Ke mana saja. AsalkanĀ  Mamaku bisa aman. Jika terus di sini, aku takut Lily akan menjahati Mama. Sudah beberapa kali dia mengancamku dengan menggunakan Mama. Aku tidak mau sampai sesuatu terjadi pada Mama, Ray. Bantu aku," kata Caroline menjelaskan.


Raymond menganggukkan kepala. Ia akan segera menyiapakan segala sesuatunya. Raymond meminta Caroline bicara lebih dulu dengan Mamanya perihal kepergian ke luar negeri. Caroline mengiakan, ia berkata akan mengurus soal itu.


__ADS_2