
Tengah malam ....
Caroline tidur dipelukan Raymond. Ia memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan pada Raymond. Ia tak bisa terus diam, karena Lily pasti akan terus mengganggunya.
Raymond mengeratkan pelukannya, memendamkan wajahnya ke punggung Caroline.
"A-apa yang dia lakukan?" batin Caroline terkejut. Wajahnya memerah.
Caroline bisa merasakan embusan napas hangat Raymond di punggungnya. Rasa geli dan aneh, membuat bulu-bulu halus ditubuhnya berdiri. Anehnya Caroline tak risih, ia hanya terkejut karena Raymond tiba-tiba bergerak dan memendamkan wajah di punggungnya.
Meski tak nyaman, Caroline mencoba untuk tidur. Ia tidak bisa terus berpikir dan tidak tidur semalaman.
***
Di bar. Alex sedang duduk termenung ditemani gelas minumannya. Alex memikirkan Caroline. Saat datang ke rumah Raymond, pelayan rumah mengatakan, jika Raymond dan Caroline pergi ke luar kota. Saat ditanya kapan Paman dan Bibinya itu pulang, Bibi pelayan menggelengkan kepala pelan, tanda Bibi pelayan itu tidak tahu apa-apa.
Alex tidak bisa menghubungi Pamannya. Dan ia juga tak bisa menghubungi Caroline meskipun tahu nomor ponsel Caroline. Jika Raymond sampai tahu Alex menghubungi Caroline, entah apa yang akan terjadi. Bisa-bisa Raymond curiga, dan rencannya juga Mamanya akan berakhir.
"Kenapa tiba-tiba Paman dan Caroline pergi, ya? Apa Paman ingin berusaha menyenangkan Caroline?" batin Alex penasaran.
Ponsel Alex bergetar. Ia meraba saku jaketnya dan mengeluarkan ponsel dari saku jaket. Dilihatnya layar ponselnya. Ternyata Mamanya menghubunginya.
Dahi Alex berkerut. Ia lantas mengabaikan panggilan sang Mama. Diletakkannya ponselnya di atas meja di hadapannya. Alex tak mau diganggu.
"Kenapa aku terus memikirkan Caroline, ya?" batin Alex.
Setiap memikirkan Caroline. Jantung Alex akan ikut bedebar kencang. Ia tak pernah begitu pada wanita lain. Meski wanita-wanita yang menggodanya kebanyakan adalah wanita cantik dan seksi. Anehnya Alex tak pernah sekalipun punya keinginan menyentuh salah satu dari mereka.
Setelah bertemu Caroline untuk pertama kali. Saat itulah timbul rasa yang kuat untuk Alex bisa memeliki Caroline. Awalnya ia tidak tahu, jika wanita yang dibawa Mamanya itu adalah umpan yang akan diberikan pada Pamannya. Dan saat tahu, Alex sempat meminta sang Mama mencari wanita lain sebagai ganti Caroline mendekati Pamannya. Sayangnya keinginanya ditolak oleh Mamanya. Mau tak mau Alex harus menerima keputusan Mamanya.
Alex ingat dengan jelas, bagaimana Mamanya memberikan peringatan padanya. Saat itu Lily bahkan mengancam, Alex akan dikirim ke luar negeri, jika tidak patuh pada ucapannya.
__ADS_1
Alex menatap layar ponselnya. Mamanya terus saja menelepon. Begitu ponselnya berhenti bergetar, Alex segera mematikan ponselnya agar Mamanya tak bisa menghubunginya lagi.
"Mengesalkan sekali. Apa aku ini terlihat seperti anak-anak yang masih harus diawasi? aku sudah dua puluh tahun, bukan anak belasan tahun lagi." batin Alex.
Malam itu Alex banyak minum. Sampai ia pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Tentu saja Lily tak tinggal diam. Ia mengomeli Alex yang mabuk habis-habisan karena sudah mengabikan panggilannya dan mematikan ponsel.
***
Keesokan harinya ....
Selesai sarapan, Caroline diajak jalan-jalan oleh Raymond. Mereka menuju pantai tak jauh dari Villa. Keduany berjalan menyusuri pantai ditemani ombak yang pasang surut.
"Apa tidak apa-apa kamu tidak kerja?" tanya Caroline menatap Raymond.
Raymond menatap Caroline, "Kenapa? apa kamu tidak senang pergi berlibur denganku?" tanya Raymond.
Caroline kaget, "Tidak! Bu-bukan itu maksudku. Aku, aku hanya khawatir saja." kata Caroline menunduk.
Raymond meraih tangan kanan Caroline, lalu mencium punggung tangan itu dengan lembut. Tangan Caroline digenggam erat oleh Raymond.
Caroline tersenyum, "Jadi untuk liburan ini, kamu khusus meluangkan waktu untukku, ya? Aku tersentuh," kata Caroline.
Raymond mengatakan, jika ia akan mengajak Caroline mengelilingi sekitaran. Ada pasar malam yang buka setiap malam dan ada pasar ikan yang tentunya menjual berbagai macam hasil tangkapan laut.
"Wah, pasti menyenangkan." kata Caroline.
"Kamu mau kan ikut pergi denganku?" tanya Raymond.
Caroline pun menganggukkan kepala, ia mengiakan permintaan Raymond untuk pergi bersama. Caroline juga merasa, dengan ikutnya ia pergi, ia akan selangkah lebih dekat dengan Raymond.
Raymond dan Caroline segera kembali ke villa. Untuk pergi ke pasar ikan, mereka perlu naik mobil. Jika jalan kaki, Raymond takut Caroline kelelahan. Dan setelah pergi ke pasar ikan, Raymond akan langsung mengajak Caroline ke pasar malam, lalu kembali pulang ke villa.
__ADS_1
***
Lily mencoba menghubungi Caroline, tapi ponsel Caroline tidak aktif. Lily ingin mengajak Caroline bertemu untuk memberikan sesuatu pada Caroline.
"Ada apa dengannya, sampai ponselnya tidak aktif," gumam Lily melangkah pergi meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya.
Tak jauh terlihat Alex sedang mengintip. Ia juga mendengar apa yang digumamkan Mamanya. Alex berjalan mendekati meja makan. Karena ia lapar, ia ingin makan. Alex meminta pelayan untuk menyiapkan makananannya.
Tak beberapa lama Lily datang. Ia menarik kursi dan duduk di hadapan Alex. Lily menatap Alex, ia bertanya apakah Alex tahu, kenapa.Caroline tak bisa dihubungi?
Alex menggelengkan kepala. Tanpa menjawab. Alex diam saja, ia juga tak memberitahu Mamanya, kalau ia sudah mencoba datang ke rumah Pamannya
Lily mengerutkan dahi, "Aneh sekali. Padaha dia selalu sigap menjawab pesanku. Dia itu hanya bidak catur, tetapi banyak tingkah." omel Lily.
Alex melirik ke arah Mamanya, lalu menatap makanan di atas meja. Alex berpikir, apakah Mamanya adalah reinkarnasi penyihir jahat, atau semacamnya. Karena cara bicara Mamanya selalu kasar, kalau sedang kesal.
Lily terus mencoba menghubungi Caroline. Tapi ponselnya masih saja tidak aktif. Alex diam saja mengamati Mamanya yang tak melepaskan pandangan dari ponsel dan terus mengomel.
***
Malam harinya ...
Setelah puas berkeliling pasar malam, Caroline dan Raymond kembali pulang ke Villa. Mereka langsung bergantian mandi dan menikmati makan malam bersama.
Caroline lahap makan. Raymond tersenyum senang melihat istrinya.
"Apa seenak itu?" tanya Caroline.
Caroline menganggukkan kepala perlahan. Bohong kalau Caroline bilang tidak enak. Rasanya sangat enak sampai Caroline terus saja ingin makan.
Raymond lekat memandangi Caroline. Ia merasa sebenarnya Caroline adalah seseorang yang baik. Ia dan Caroline sejak pagi bersama-sama pergi ke beberapa tempat. Raymond tentu saja mengamati gerak-gerik dan prilaku Caroline. Pada orang lain, Caroline bersikap ramah dan hangat, bahkan tadi membantu seseorang Ibu-Ibu yang sedang kesulitan mengangkat barang.
__ADS_1
"Apa orang sebaik kamu bisa menghabisi nyawa seseorang? Sebenarnya apa yang kamu dapat dari Lily, Caroline?" batin Raymond.
Caroline tersenyum senang. Ia bisa menikmati makanan yang enak. Ia bisa pergi dan bersenang-senang tanpa beban. Ia akan memanfaatkan waktu liburannya dengan Raymond sebaik mungkin.