Terjebak Permainan Cinta

Terjebak Permainan Cinta
TPC (13)


__ADS_3

[Caroline]


Aku merasa sangat gelisah. Kakak iparku yang jahat tiba-tiba saja datang untuk berkunjung. Bagaimana bisa aku tenang, jika saat berbincang denganku, ia terus menerus menatapku dan menyindirku. Telingaku rasanya panas, dan dadaku tewasa sesak. Meski ia tidak langsung menegurku, namun aku yakin, semua yang ia katakan tujuannya untuk memperingatkanku.


Ya, sudah empat bulan berlalu. Dan aku sama sekali belum melakukan apapun pada Raymond. Aku tidak yakin aku bisa meracuni bahkan membunuh suamiku sendiri. Aku terlalu takut, aku juga tidak berdaya saat ini.


Aku selalu bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi antara Lily dan Raymond. Dua orang berstatus bersaudara yang juga terikat darah ini seperti sedang berperang dingin. Mereka terlihat baik-baik saja di luar. Saling memuji dan menasihati, namun dalam hati mereka sedang saling memaki.


Aku tak ingin terlibat jauh lagi, aku ingin hentikan ini semua. Tapi, aku tidak bisa. Aku tidak punya kekuatan dan kekuasaan. Ada Mamaku yang sedang terbaring sakit yang terus berjuang hidup.


Aku selalu berpikir, akankah sebaiknya aku jujur pada Raymond? Namun, jika aku jujur pada Raymond, Lily akan langsung memerintah orangnya untuk meleyapkanku.


Aku hanya bisa diam, tidak ikut dalam berbincangan mereka. Aku cukup dengan mendengar percakapan Lily dan Raymond, percakapan mereka seperti sebuah pedang yang saling menyerang. Terkesan biasa namun bisa melukai, bahkan  membunuh dan menjatuhkan satu sama lain.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Raymond padaku.


"Ya, aku baik-baik saja. Apa ada sesuatu?" tanyaku tidak mengerti.


"Kamu terdiam dan tidak bicara. Apa kamu sedang melamun?" tanya Raymond.


Aku tersenyum tipis, Aku tidak tahu harus bicara apa. Jika aku mengatakan aku enggan terlibat percakapan dengan mereka, akankah Raymond mau mengerti?


"Katakan saja apa yang ingin kamu katakan, jangan diam saja, Caroline."


Suara Lily terdengar nyaring di telingaku. Aku sesungguhnya sangat tidak menyukai wanita ini. Dia selalu memaksa kehendaknya dan selalu saja mengancam, jika permintaannya tidak diikuti. Sudah empat bulan ini aku sengaja menghindarinya. Aku mengiakan permintaanya, namun aku mengabaikannya pada akhirnya.


Entah mengapa begitu sulit bagiku untuk menyakiti Raymond. Aku sudah mulai nyaman dengannya, dengan keadaan saat ini. Apakah ini semua akan berakhir? ya, mungkin saja.


Jika apa dan Lily rencanakan ketahuan oleh Raymond. Tidak hanya akan marah dan kecewa, Raymond juga pasti akan menceraikanku, lalu mengusirku. Pada saat itu, hidupku akan kembali seperti semula. Hidup kekurangan dan alakadarnya.


Lamunanku terhenti saat Raymond tiba-tiba saja mencium pipiku. Aku terkejut dan tersipu malu, dia selalu bisa memberikan kejutan padaku.

__ADS_1


"Aku akan mandi, kau temani Kakak dulu ya," bisiknya  lembut di telingaku.


Aku mengangguk, "Ya," jawabku yang tanpa terasa mengumbar senyumku.


Raymond mengusap kepalaku dan membalas senyumanku. Dia menatap Lily dan berbicara pada Lily.


"Kak, aku akan mandi. Kakak bsrsantai saja dulu bersama istriku. Anggap seperti rumah sendiri," kata Raymond pada Lily.


"Ya, mandilah," jawab Lily.


Raymond pun berdiri dari sofa tempatnya duduk. Dengan perlahan dia berjalan menuju kamar tidur kami. Aku terus memandanginya, nampak punggung yang selalu menjadi sandaranku saat aku lelah.


"Kita bicara di tempat lain saja," kata Lily dengan nada suara sedikit meninggi padaku.


Aku memalingkan wajah menatap Lily, "Kita bisa bicara di halaman belakang," jawabku datar.


Lily berdiri, aku juga. Dia berjalan menuju belakang rumah melewati dapur, begitu juga aku yang mengikutinya dari belakang.


Benar saja, sesampainya di taman belakang rumah, dia langsung berhenti dan berbalik menatap tajam ke arahku.


"Kamu, mau sampai kapan akan diam membisu? apa kamu sudah bosan pada Mamamu?" katanya kasar.


Deg ... jantungku seakan terhenti. Apa yang aku khawatirkan terjadi, Lily kembali Mama.


"Apa yang kau ingin lakukan pada Mamaku?" tanyaku.


"Aku bisa saja membunuh Mamamu," jawabnya santai.


Mataku melebar, "Jangan! jangan lakukan apapun pada Mamaku. Aku akan lakukan sesuai permintaanmu," jawabku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Mama.


"Jangan banyak alasan. Kamu selalu saja mengatakan jika kamu ingin lakukan. Apa yang terjadi, Raymond masih sehat dan baik-baik saja. Apa saja kerjaanmu, hah?" sentaknya padaku.

__ADS_1


Aku hanya bisa diam, tidak ada lagi kata-kata yang bisa aku ucapkan saat itu. Kepalaku menunduk, aku mencengkram gaun yang aku kenakan dengan erat.


"Atau ... " katanya terputus.


"Atau apa?" batinku menunggu kelanjutan ucapan wanita jahat di hadapanku.


"Atau kamu sudah jatuh hati pada Raymond?" sambungnya bicara


Ucapan Lily di luar perkiraanku. Aku langsung menatap Lily dan mengatakan jika aku sama sekali tidak menyukai Raymond.


"Tidak. Aku tidak menyukainya," jawabku menolak pernyataan Lily.


Lily tersenyum masam, "Baguslah jika seperti itu. Aku peringatkan, jangan sampai kamu mengalami nasib yang sama seperti istrinya yang terdahulu. Jangan sampai kamu jatuh cinta padanya, karena dia harus mati!" ucapnya penuh penekanan.


Aku kembali terkejut, wanita ini begitu mengerikan. Aku mencerna ucapannya, aku mendengar istrinya terdahulu, apa yang dia maksud adalah Anhastasia? mengapa ucapan Lily seperti sebuah peringatan juga pengakuan?


Dengan penuh penekanan memperingatkanku untuk tidak menyukai Raymond. Juga memperingatkanku agar aku tak mengalami hal sama seperti Anhastasia. Ini aneh menurutku, pasti ada apa-apa dibalik kata-kata Lily.


"Kamu punya waktu satu bulan, Caroline. Jika dalam satu bulan kamu tetap sama seperti ini, maka bersiaplah menyiapkan pemakaman Mamamu. Kamu mengerti?" katanya lagi.


"Aku mengerti," jawabku.


"Aku akan pulang. Pergerakanmu jangan sampai ketahuan. Jika Raymond sampai tahu, aku tidak akan melepaskanmu juga Mamamu. Kalian akan mendapatkan hadiah istimewa dariku nanti," peringatan Lily yang langsung pergi begitu saja meninggalkanku.


Aku terdiam sendirian, memikirkan apa yang harus aku lalukan selanjutnya. Aku sudah berkata "Ya" pada Lily untuk segera melakukan tugasku. Nyatanya hatiku terus melemah setiap kali menatap Raymond yang begitu baik dan hangat.


Aku juga tidak bisa mengabaikan ancaman Lily yang akan mencelakai Mama. Bagiamana ini? sungguh aku bingung dan bimbang. Rasanya ingin menjerit sekuat tenaga.


Satu sisi Mama yang aku cintai. Satu sisi suami yang perhatian dan penuh kehangatan meski aku tahu, ia belum sepenuhnya menerima kehadiranku di sisinya, tetap saja perlakuannya bisa membuatku merasakan kenyamanan dan rasa aman.


Haruskah aku menjadi orang paling tidak tahu malu dan tidak tahu diri? Hahhh ... menghela napa) orang yang akan mendapatkn banyak uang setelah membunuh suaminya sendiri. Kenapa hidupku begitu menyedihkan? Mungkin inilah takdir hidup yang sudah digariskan untukku. Apa boleh dikata, takdirku memang selalu buruk dan menyedihkan.

__ADS_1


__ADS_2