Terjerat Cinta Pengasuh Arogan

Terjerat Cinta Pengasuh Arogan
Bab 10


__ADS_3

Aiden belum kembali dari kantor, namun tidak juga memberi perintah untuk mengeluarkan Kim dari gudang.


Ia masih menantikan sampai gadis itu memohon ampun padanya. Akan tetapi hingga malam ia tidak menerima informasi apapun dari Eli.


Pelayan kepercayaannya itu tidak memberi kabar apapun hingga sore. Aiden tidak pernah segelisah ini jika menyangkut seorang wanita, tapi Kim kenapa bisa membuat otaknya tidak bekerja secara maksimal akhir-akhir ini.


Gadis keras kepala itu sudah membuat hari ini tidak tenang pikir Aiden, ia menyudahi pekerjaannya dan memutuskan untuk pulang.


Aiden tampak frustasi selama di perjalanan, macet dan hujan deras membuat waktunya banyak tersita di jalan dengan pikiran yang dipenuhi oleh sosok pengasuh putrinya itu.


Hingga hari berganti malam, ia bahkan baru bisa melewati macet.


Saat Aiden ingin berbelok di persimpangan menuju kediamannya namun ia dibuat heran ketika matanya menangkap sosok perempuan yang baru saja berada di pikirannya beberapa saat lalu.


"Kimora?" gumam Aiden sambil menepikan mobilnya.


Pria itu bergegas keluar setelah memastikan penglihatannya.


Benar saja, Aiden melihat Kim tampak kehujanan dengan seragam pelayannya. Gadis itu meringkuk memeluk tubuh dengan tangannya sendiri karena kedinginan, entah kenapa ia bisa berada di depan sebuah ruko yang sudah tutup saat ini.


"Kim, kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Aiden sambil membangunkan Kim yang terpejam.


Tidak ada sahutan dari gadis itu, wajahnya tampak pucat dengan bibir yang bergetar.


Beberapa kali Aiden menggoyangkan tubuh Kim namun Kim tetap tidak bersuara, ia hanya bisa membuka matanya dengan lemah menatap Aiden tanpa berkata-kata.


Tanpa berpikir panjang Aiden menggendong Kim menuju mobilnya, gadis itu diam saja tanpa berontak.


Aiden memasang sabuk pengaman lalu membuka mantelnya menutupi tubuh kedinginan Kim saat ini.


"Siapa yang melakukan ini?" tanya Aiden sambil ia menjalankan lagi mobilnya.


Kim hanya diam saja, ia lemah dan kedinginan. Ia tidak mampu menjawab apapun pertanyaan Aiden sekarang.


Kim menatap wajah Aiden dari samping, ia pikir pria itu tidak akan peduli padanya meski melihat Kim kedinginan dan kehujanan seperti tadi.


Saat mereka sampai rumah, Aiden kembali menggendong Kim masuk rumah.


Demi apa semua mata melihat pemandangan itu, termasuk Hera yang hendak makan malam di meja makan.


"Aiden? Kenapa kau membawa gadis pencuri itu kembali lagi?" tanya Hera menghampiri.


Tatapan tajam yang Hera dapatkan.


"Jadi ini ulahmu?" lirih Aiden tajam.


Pria itu melewati Hera begitu saja menuju tangga. Aiden membawa Kim ke kamarnya.


Melihat itu Hera ikut berlari menyusul langkah Aiden.


"Bukankah dia tidak mau mengaku, jadi ku usir saja daripada membuat masalah lagi di rumah ini, tentu kita jangan memberi ampun pada pencuri bukan?" ucap Hera percaya diri.

__ADS_1


Aiden masih diam, ia membaringkan Kim di ranjangnya.


"Aiden kenapa kau membawanya kemari? Apa dia merayumu?"


"Cukup, keluar dari kamarku sekarang juga!!!" perintah Aiden mendorong Hera lalu mengunci pintu kamarnya.


Demi apa Hera terkejut luar biasa atas sikap Aiden itu, bukan hanya Hera tapi semua pelayan yang melihat pemandangan itu menjadi terkejut.


Semua tahu bahwa Aiden suka mempermainkan wanita jika diluar sana. Namun tidak pernah dibawa ke rumah apalagi ke kamar seperti ia membawa Kim saat ini.


Pria itu bahkan tidak memperbolehkan wanita manapun termasuk Hera bebas mengakses kamarnya, hanya Eli pelayan yang boleh membersihkan kamarnya selama ini.


Tapi Kim? Siapa sebenarnya Kim bagi Aiden? Hanya seorang pengasuh yang bekerja belum lama di sana digendong dengan mesra menuju kamar utama rumah itu, semua pelayan berpikir keras untuk hal ini.


Aiden membuka seluruh pakaian Kim dan menggantinya dengan kaos miliknya dari lemari. Kim hanya diam tanpa membantah, entah apa yang ada di pikiran gadis itu sekarang, otak dan hatinya tidak sejalan.


Ia lemas, ia bahkan tidak mampu menolak Aiden yang lancang mengganti pakaiannya tanpa permisi.


Menyelimuti Kim dengan selimut tebal. Aiden melakukan semua itu dengan lembut dan perhatian.


Seolah permasalahan tadi pagi hilang entah kemana, Aiden tidak bisa melihat gadis itu lemah seperti sekarang, ia menjadi tidak tega.


"Kau mau makan?" tanya Aiden menggenggam tangan Kim agar memberi kehangatan.


Kim menggeleng.


"Kenapa kau tidak melawan saat diusir Hera?"


"Aku lemas tidak diberi makan," jawab Kim tanpa ekspresi. Namun hatinya kian berkembang saat mendapat perlakuan manis dari seorang Aiden, seolah Kim melihat pribadi yang lain pada diri Aiden.


"Bibi Eli memberiku makan, tapi Nona Hera merampasnya dan membuat ku kelaparan."


"Lalu kenapa sekarang tidak mau makan?"


"Aku kehilangan selera."


"Kim."


"Aku tidak mencuri Tuan, percaya padaku!" lirih Kim saat mendapat tatapan dalam dari Aiden.


Aiden mengangguk.


"Eli sudah melaporkan padaku, bahwa Mira yang melakukan ini atas perintah Hera."


"Sudah ku duga," ucap Kim meneteskan airmata.


Aiden mengusap pipinya.


"Kenapa kau keras kepala?"


Kim menatap Aiden.

__ADS_1


"Aku kemari untuk Alexa, aku sama sekali tidak berniat apapun padamu," balas Kim.


Aiden bernapas kasar. Ia mendekatkan wajahnya.


"Maafkan aku," ucap Aiden dalam.


Demi apa Kim mendengar kata yang mungkin menjadi mustahil bagi ia dengar, pria itu meminta maaf padanya.


Lama mereka saling memandang. Aiden membelai pipi Kim dengan lembut, sungguh gadis itu seperti tersengat listrik saat mendapat sentuhan hangat dari tangan Aiden.


Kim memejamkan matanya perlahan saat mendapat kecupan bibir dari ayah putrinya itu, entah kenapa lagi-lagi otak dan jantungnya tidak bekerja dengan baik hingga ia diam tanpa melawan seperti biasa.


Aiden tersenyum.


"Tidurlah, aku akan keluar sebentar."


Kim mengangguk. Aiden menyelimuti hingga dada, entah kenapa hati Kim kian menghangat dibuatnya


Lama Aiden menatap Kim yang mulai memejamkan mata, entah kenapa pria itu jadi ketagihan hingga ia mengecup lagi bibir gadis itu.


Kim membuka mata.


"Kenapa kau melakukan ini lagi?"


"Aku menyukaimu Kim," ucap Aiden pelan.


Kim menatap bola mata Aiden, tidak ada kebohongan di sana.


"Terimakasih."


"Untuk apa?" tanya Aiden.


"Sudah menyukai pengasuh yang kau anggap menjual diri ini."


"Maafkan aku atas kata-kata itu."


"Keluarlah, aku ingin tidur."


"Tidur bersamaku?" canda Aiden.


"Jangan sembarangan."


"Ini kamarku!"


"Kau yang membawaku kemari."


Aiden tersenyum. Ia menjadi gemas sendiri melihat wajah pucat Kim yang meracuninya saat ini.


"Baiklah, aku akan keluar!"


"Iya."

__ADS_1


Aiden mencium pipi Kim.


"Aku menyukaimu Kim."


__ADS_2