
"Kamila?"
Kim terkejut, kakak perempuan nya itu terlihat nyata sekarang, perlahan masuk ruangan Aiden dengan canggung.
Kim menatap Aiden seolah bertanya lewat sorot mata dan ekspresi wajahnya yang begitu penasaran.
Aiden berdiri disusul Kim.
"Oh maafkan aku, aku mengira kau sedang tidak ada tamu," ujar Kamila cukup canggung.
Kim menoleh pada Aiden lagi.
"Tamu?" lirih Kim tidak suka dengan sebutan tamu baginya.
"Kim, sebenarnya Kamila adalah karyawan baru di kantor ku," ucap Aiden sambil mengusap lehernya yang tidak gatal.
Mendengar jawaban itu membuat Kim terdiam lama, banyak hal yang tidak ia ketahui tentang Aiden dan pekerjaan nya. Kim berdecak dalam hati, ia tidak menyangka Aiden bisa satu kantor dengan mantan kekasihnya.
Setelah hening cukup lama, Kamila tahu adiknya terkejut dan melihatnya tidak suka berada di sana, Kamila pun kembali bersuara.
"Hai Kim, bagaimana kabar mu?" sapa Kamila mencoba untuk tetap tenang.
Dengan dada yang cukup sesak Kim menoleh pada kakaknya itu.
"Tidak perlu bertanya hal yang tidak kau sukai!" sarkas Kim tanpa basa basi.
Kamila tersenyum miring, ia sudah menduga Kim tidak akan menjawabnya dengan kata-kata yang baik jika bertemu.
"Baiklah jika kau tidak suka aku kemari, aku kemari untuk Aiden, maksud ku untuk meminta tanda tangan nya."
Aiden mengusap lengan Kim sekilas sebelum melangkah mendekati Kamila, pria itu juga bingung ingin berkata apa pada calon istrinya yang sedang marah saat ini.
Kim hanya diam dan memperhatikan gerak gerik Aiden dan Kamila selama membahas kertas yang dibawa oleh kakak perempuan Kim itu.
Kim menilai komunikasi antara Aiden dan Kamila tidak canggung lagi seperti sudah terbiasa, jika sudah lama Kamila bekerja di sana lalu mengapa Aiden tidak pernah cerita sebelumnya pada Kim?
__ADS_1
"Baiklah, terimakasih Aiden. Aku akan keluar sekarang," ucap wanita itu sambil melirik Kim.
Aiden mengangguk.
Kemudian Kamila berhenti sejenak saat menoleh pada saudara perempuan itu.
"Kim," lirih Kamila sambil tersenyum tipis.
Kim hanya diam, ia berpaling ke lain arah. Kamila tahu kehadirannya tidak disukai, maka darinya ia segera melangkah pergi.
Namun belum juga mencapai pintu lebih dulu Kim mendekatinya seraya berkata, "Bukankah kau selalu dibanggakan oleh Papa untuk kelak bekerja di kantor Papa? Lalu mengapa kau bekerja pada Aiden?" tanya Kim yang tidak bisa menahan diri.
Kamila akhirnya menghadap Kim, mereka bertatapan mata dengan jarak dekat.
"Bukankah kau tidak akan peduli aku ingin bekerja pada siapa?" balas Kamila menatap Kim tanpa ragu.
"Ck, aku peduli karena Aiden adalah calon suami ku, aku ingin tahu alasan kenapa mantan kekasihnya ini mau bekerja di sini sedang pilihan menjadi bos bisa saja kau dapatkan di kantor Papa!" ucap Kim dengan nada tajam.
Melihat mereka berhadapan membuat Aiden geleng-geleng kepala sambil memijat keningnya terheran akan dua beradik yang kurang akur itu.
Pria itu mendekat.
Kim menoleh pada Aiden dengan napas kasarnya, entah kenapa ia menjadi kesal pada Aiden saat ini.
"Apa kau tahu alasannya bekerja disini sedang dia bisa jadi bos di perusahaan Papa yang selalu membanggakan Kamila selama ini?" tanya Kim pada calon suaminya itu.
Aiden bernapas panjang dibuat tatapan intimidasi dari Kim.
"Kim, jangan seperti ini. Aku dan Aiden berteman, jangan terlalu pencemburu jadi wanita, bukankah harga dirimu terlalu tinggi selama ini, tapi sekarang malah terlihat kau yang menggilai Aiden dengan curiga padaku!" cetus Kamila.
Kim menatap Kamila lagi.
"Bagiku tidak ada istilah teman pada mantan kekasih. Aku tidak cemburu, hanya saja merasa heran kenapa kau mau menjadi karyawan biasa padahal posisi bos di perusahaan Papa sudah kau dapatkan bahkan sejak kau kecil, apa karena berteman dengan Aiden kau lupa bahwa Papa menaruh harapan besar padamu untuk mengembangkan perusahaan keluarga?"
Kamila terdiam, ia berdecak sambil menggigit bibir bawahnya dengan kesal. Ia tahu percuma jika berdebat dengan Kim.
__ADS_1
"Sayang," tegur Aiden lagi, pria itu bahkan kehilangan kata-kata pada sosok Kim yang begitu menantang kakak perempuan nya sendiri.
"Kenapa kau tidak pernah cerita bahwa Kamila bekerja di sini?" tanya Kim pada Aiden.
Melihat ekspresi wajah Aiden membuat Kamila tidak enak hati oleh sikap adik perempuannya itu.
"Aku akan keluar sekarang! Aku rasa aku tidak perlu ikut campur urusan kalian," cetus Kamila kembali pamit.
Aiden mengangguk mengerti, Kim hanya bisa diam menatap kepergian kakaknya yang kian menjauh.
"Kim, aku rasa kau terlalu keras kepala pada Kamila. Kalian kakak beradik, kenapa harus bertengkar hanya karena hal sepele ini?"
"Apa? Sepele? Kau bekerja sepanjang hari di kantor yang sama dengan mantan kekasih mu, bicara dan sering bertemu seolah tidak ada kesan canggung sedikitpun, kau anggap hal sepele?"
Aiden mengambil napas dalam, ia meraih tangan Kim dengan lembut.
"Aku bisa menjelaskannya dengan baik oke? Jangan salah sangka dulu, jujur aku dan Kamila menjalin hubungan baik sejak kami putus hingga sekarang, kami berteman Kim tidak lebih. Dia bekerja secara profesional di kantor ini, percaya padaku!!"
"Entahlah. Aku mau pulang sekarang!! Kepala ku pusing, ada banyak hal yang mengganggu pikiran ku tentang kita, tentang Alexa, tentang ibumu."
"Aku kemari karena aku pikir bisa tenang jika bertemu dengan mu, tapi aku malah dibuat bertambah pusing dengan kehadiran Kamila sebagai mantan kekasih mu," sambung Kim lagi dengan nada lesu.
Ia melepaskan tangan Aiden lalu melangkah ke meja kerja Aiden untuk mengambil tasnya.
"Aku rasa sebaiknya aku pulang saja."
Aiden menangkap tubuh Kim lalu memeluknya dari belakang.
"Maafkan aku, jangan seperti ini Kim. Kita akan menikah, aku butuh kepercayaan mu!" ucap Aiden pelan setelah mencium pipi Kim dengan lembut.
"Aku cemburu," lirih Kim seraya berbalik badan membalas pelukan Aiden.
Aiden tersenyum.
"Tadi kau bilang tidak cemburu."
__ADS_1
"Kamila menyebalkan!!!!" ucap perempuan itu sambil terus membenamkan wajahnya di ceruk leher Aiden.
Aiden terkekeh, tingkah Kim selalu membuat moodnya naik turun.