
Pada suatu pagi.
Semua pelayan termasuk Kim sudah berbaris rapi menyambut dengan hormat majikan mereka yang akan turun untuk sarapan seperti hari-hari sebelumnya.
Kim mulai terbiasa dengan rutinitas yang menurut nya tidak penting itu, demi terus mendekati Alexa ia rela mengikuti semua aturan yang ada di rumah itu.
Namun pagi ini terlihat berbeda.
Semua pelayan menunduk namun tidak Kim, ia menatap setiap langkah yang menuruni tangga, bukan hanya Aiden dan putrinya Alexa namun juga ada sosok lain yang ikut turun dalam balutan busana indah nan mewah, sosok perempuan cantik yang menggandeng lengan Aiden.
Kim dibuat tidak berkedip, ia penasaran siapa wanita itu.
Lamunannya buyar saat Alexa menyapanya.
"Selamat pagi Bibi Kim!" seru Alexa seraya melewati Kimora.
"Ah iya Nona, selamat pagi juga untuk mu," jawab Kim mencoba biasa saja.
Aiden hanya tersenyum miring saat melewati Kim bersama wanita tadi.
Aiden menghentikan pelayanan seorang maid yang khusus melayani ia di meja makan.
"Mulai hari ini aku ingin dilayani pengasuh Alexa jika di meja makan!" perintah Aiden yang mengibaskan tangannya pada Eli pelayan tertua di sana.
"Apa?" Kimora terkejut.
"Aku tidak suka dibantah!" cetus Aiden masih dengan raut dinginnya.
"Ayolah, aku mau kau yang melayani kami Bibi Kim," timpal Alexa tersenyum pada Kim.
Demi apa, semua pelayan terkejut atas ucapan Alexa. Bahkan Eli pun jarang sekali mendengar Nona Muda mereka itu bicara dengan kalimat yang panjang, semua pelayan tahu Alexa tumbuh sedingin ayahnya.
Kimora, semua mata tertuju pada gadis itu. Sosok pengasuh yang baru bekerja dua minggu di sana, Kim mampu meluluhkan Alexa pikir mereka.
Mira mendesis, "Tentu saja, karena kau pelayan paling cantik disini, pergi sana sebelum Tuan Aiden marah!" bisik Mira seraya mendorong tubuh Kim ke arah meja makan.
__ADS_1
Kim terpaksa mendekat. Ia menghindari kontak mata dengan Aiden, namun pria itu menatapnya tanpa berpaling.
Kim mulai meneruskan pekerjaan Eli, ia malas berdebat dan membantah karena ia tahu itu akan semakin menyulitkan dirinya sendiri nanti, fokusnya hanya pada Alexa.
"Ini kebanyakan, apa kau sengaja bikin aku gemuk?" cetus wanita yang duduk di samping Aiden.
Wanita itu menatap Kim dengan tajam, ia tidak suka cara Aiden menatap seorang pengasuh biasa itu.
"Bukankah bagus jika terlihat lebih berisi!" lirih Kim pelan namun masih bisa didengar.
"Apa katamu?" wanita itu merasa tersinggung, ia mendengar jelas perkataan Kim tadi.
Alexa dan Papanya terkejut melihat reaksi dari perempuan yang akan sarapan bersama mereka itu.
"Aku tidak bilang apa-apa," sahut Kim polos.
"Aku mendengarnya, jangan macam-macam denganku!" seru perempuan itu lagi seraya berdiri.
Aiden menatap mereka berdua dengan kesal.
"Aku bahkan tidak suka bicara di meja makan apalagi ada yang bertengkar!!!" cetus Aiden mulai gerah.
"Sayang, dia yang mulai duluan!!! Kau tidak dengar dia mengejekku!" rengek wanita berambut hitam sebahu itu.
Aiden hanya memutar bola matanya dengan malas.
"Aku ingin sarapan dengan tenang, diam lah! Lanjutkan pekerjaan mu Kim," ucap Aiden menyudahi aksi perempuan yang telah kembali duduk di sampingnya dengan raut wajah kesal luar biasa menatap Kim yang tersenyum miring padanya.
Kim melanjutkan tanpa membantah, ia mulai melayani Alexa putrinya, Alexa tersenyum padanya, Aiden melihat kontak mata ibu dan anak itu. Entah kenapa dadanya bergetar, ia baru menyadari lengkung indah dari bibir putrinya mirip dengan senyuman gadis pengasuh itu.
"Terimakasih," ucap Alexa.
"Senang bisa melayani mu Nona," sahut Kim seraya mundur.
Aiden tahu ini pertama kalinya Alexa ramah pada sosok pengasuh.
__ADS_1
Seperti malam sebelumnya, Kim menidurkan Alexa terlebih dahulu.
Gadis ini keluar dari kamar putrinya, ia tidak sengaja melewati kamar Aiden. Entah apa yang ada di pikiran Kim hingga ia memberanikan diri untuk mengintip saat menyadari pintu kamar Aiden tidak tertutup sempurna.
Ia melihat sosok pria yang menjadi ayah kandung putrinya itu sedang bertelanjang dada membelakanginya menghadap jendela kamar yang terbuka.
Punggung yang kekar dan berotot, tampak pula segelas minuman beralkohol di satu tangannya, Kim meraba dadanya.
Biar bagaimanapun, bayangan percintaan panas di ranjang kamar jebakan waktu itu terus menghantui Kim sejak bertemu setiap hari dengan lelaki tampan itu.
"Masuklah!"
Kim terkejut saat lamunannya buyar ketika mendapati Aiden sudah berada di hadapannya.
"Maaf, aku tidak sengaja melihat pintu kamarmu terbuka, aku tidak bermaksud....." ucapan Kim menggantung saat tiba-tiba Aiden meraih pinggangnya lalu mendesak Kim ke dinding.
"Apa yang kau lakukan, lepaskan aku!" lirih Kim mencoba melepaskan diri namun sia-sia.
Aiden tidak menjawab, melainkan langsung melabuhkan bibirnya pada bibir gadis itu. Kim membelalakkan matanya.
Aiden semakin gila, ia mencium bibir Kim dengan rakus. Sungguh Kim sekuat tenaga mendorong Aiden namun nihil, pria itu lebih kuat dari yang Kim kira, Kim menangis dalam ketidakberdayaan melawan majikannya itu.
Aiden melepaskan Kim dengan dada yang masih naik turun, ia mengurung Kim dengan kedua tangannya.
"Kau mabuk!!!! Lepaskan aku!" ucap Kim disela tangisnya.
"Aku menginginkan mu! Katakan berapa harga yang harus ku bayar agar kau mau tidur bersamaku?"
Demi apa Kim mendengar perkataan Aiden seperti sedang disambar petir. Lelaki itu menawari harga dirinya.
"Apa?" Kim tergagap tidak menyangka mendapat pertanyaan seperti itu, baru saja ia merasa dilecehkan dengan berciuman tanpa permisi kini ia harus mendengar pula kata yang paling menyakiti perasaannya saat ini.
"Aku tidak menjual diri Tuan Aiden, aku bukan wanita seperti itu! Jika kau berpikir aku mau melakukannya, kau salah besar. Aku membencimu, lepaskan aku!" ucap Kim sambil mendorong kasar tubuh Aiden darinya.
Lelaki itu mengetatkan rahang saat melihat Kim menjauh bahkan berlari dari hadapannya. Aiden memukul dinding dengan kepalan tangan, sungguh ia merasa ingin gila berhadapan dengan gadis yang masih saja menyangkal menjual diri itu.
__ADS_1
Kenapa Kim berbeda? Aiden terbiasa menghadapi setiap wanita yang menginginkannya, bahkan banyak wanita yang mengantri untuk bisa ia lirik apalagi jika bisa berakhir di ranjangnya, namun Kim tidak ia selalu menolak Aiden.
Tanpa mereka sadari, kejadian itu disaksikan oleh Eli sang pelayan tertua di rumah itu.