
Kim menarik napas dalam-dalam, ia menghirup oksigen sebanyak mungkin agar paru-paru nya bisa mengembang dengan sempurna.
Perlakuan Aiden membuat dadanya kian sesak.
"Tolong, jangan seperti ini Tuan!" ucap Kim pelan.
Aiden tersenyum, ia mencium pipi Kim dengan gemas.
"Aku tahu kau juga menyukaiku," ucap Aiden berbisik.
Bulu kuduk Kim meremang saat Aiden berbisik dengan suara menggoda, napas pria itu seolah menyapu wajahnya yang pucat.
Kim tidak menjawab. Ia juga bingung, kenapa otak dan perasaannya tidak sejalan saat ini, saat mereka berciuman seolah ada kupu-kupu yang menggelitik perutnya.
Perasaan itu kian ke permukaan meski Kim berusaha menghindarinya. Apalagi saat menatap wajah Aiden dari dekat seperti ini, tidak ada jarak diantara mereka. Bahkan hidung pun hampir bersentuhan.
"Lepaskan aku!" elak Kim lagi.
"Tidak."
"Aiden."
"Iya," sahut pria itu.
"Aku hanya seorang pengasuh, aku juga tidak berniat Alexa tahu siapa aku sebenarnya, aku takut dia tidak menerima ku, biarkan aku menjadi seperti ini saja. Aku mohon, jangan seperti ini?!"
"Dan Alexa akan tahu siapa Ibu kandungnya setelah ini, dan aku tidak berniat menutupi nya lagi. Kau berhak atas putriku, putri kita!"
Kim berkaca-kaca.
"Kau tidak mau putri kita tumbuh dengan orang tua yang lengkap?"
"Apa maksudmu?" tanya Kim heran.
"Aku jatuh cinta padamu, dan aku ingin Alexa punya Mama. Aku akan menikahi mu!"
"Apa?"
Kim terdiam.
Perempuan itu kembali ke kamarnya guna menetralisir perasaan yang kian membuat otaknya bingung.
Entah kenapa Kim bahagia mendengar kata menikah dari mulut Aiden.
Tapi wajah Alexa membuatnya takut, takut untuk meneruskan perasaan yang mungkin tidak seharusnya ia juga menyukai Aiden.
Bagaimana jika Alexa tidak menerima kenyataan bahwa ia adalah ibu kandung dari gadis kecil itu jika Aiden memberitahu nanti.
Kim tidak ingin merubah suasana hati Alexa yang kini sudah terbuka untuknya, lagi pula apa Alexa suka jika ayahnya menyukai seorang pengasuh?
"Ah," lirih Kim memegang kepalanya yang pusing.
Ia menjatuhkan diri di atas ranjang single tempatnya beristirahat dan tidur di rumah itu, lalu ia menyentuh bibirnya teringat ciuman tadi. Benar saja jantungnya bereaksi seperti sedang terjadi serangan mendadak.
Karena Alexa yang membujuk, akhirnya Kim menuruti kemauan Aiden untuk mereka pergi berlibur untuk dua hari ke sebuah pulau.
__ADS_1
Tidak banyak yang mereka bicarakan selama perjalanan, hanya menikmati pemandangan laut yang tidak bertepi.
Sampai pada mereka tiba di sebuah penginapan di pinggir pantai. Kim mengira ia akan tidur di kamar yang berbeda namun siapa yang menyangka ternyata Aiden hanya memesan satu kamar untuk mereka.
"Mana kamarku?" tanya Kim setelah membereskan barang dan pakaian Alexa, gadis kecil itu ditidurkan oleh ayahnya di ranjang karena kelelahan selama perjalanan.
"Tidak ada," jawab Aiden enteng.
"Apa?"
"Iya."
"Tuan Aiden yang benar saja, kau mengajak ku jauh-jauh kemari untuk tidur di luar? Ini sudah malam, aku lelah. Ayolah jangan bercanda," ucap Kim kesal.
"Aku tidak bercanda," sahut Aiden mendekat.
"Lalu aku akan tidur dimana?"
"Di sini, kita akan tidur bersama malam ini," jawab Aiden enteng sambil menunjuk ranjang.
"Aku serius!" tatap Kim tajam.
"Iya aku serius."
"Oh God.... Aku tidak percaya ini, kau menjebak ku dengan dalih liburan untuk Alexa, kau benar-benar pria gila mengambil kesempatan dalam situasi seperti ini!" teriak Kim lalu memukul dada Aiden dengan geram.
Aiden menangkap tangan Kim, lalu menutup mulut gadis itu dengan satu tangan yang lain.
"Kau ingin Alexa bangun dengan berteriak seperti ini?" Aiden menunjuk Alexa yang menggeliat karena teriakan Kim tadi, beruntung gadis kecil itu tidak terjaga.
"Aku tidur dengan Alexa dan kau tidur di sofa!" cetus Kim dengan ekspresi kesal.
"Yang majikan itu siapa?" sahut Aiden.
"Huh, baiklah aku yang tidur di sofa," jawab Kim seraya berjalan menuju sofa di sudut kamar.
Aiden terkekeh, ia mengikuti Kim.
Lama mereka berdebat di sofa, entah apa yang membuat mereka terus saja seperti Tom dan Jerry.
"Pergi kau!" ucap Kim pada Aiden yang masih menempelinya.
"Diam sejenak!" lirih Aiden yang masih tidak bergerak dari posisi memeluk Kim dengan paksa.
Kim terdiam. Ia ingin berontak namun Aiden lebih kuat menahannya.
Hening.
Sampai pada Aiden menatap wajah Kim dengan tatapan dalam.
"Kau ingin pernikahan yang seperti apa?" tanya Aiden tiba-tiba.
"Kenapa kau pikir aku mau menikah denganmu?" balas Kim.
Aiden tersenyum. Ia mengecup bibir Kim dengan lembut.
__ADS_1
"Aku tidak sedang bermain-main, aku akan menikahi mu Kim, dan Alexa akan punya orang tua yang utuh."
Kim terdiam, ia seolah terlena oleh mata seorang Aiden saat ini hingga tidak bisa menjawab.
"Kau belum mengenalku Aiden," lirih Kim berpaling ke lain arah.
Aiden menghembus napas kasar. Ia membenarkan dalam hati perkataan Kim, memanglah mereka belum saling mengenal lebih jauh, tapi Aiden sudah merasa mantap ingin menjadikan Kim istrinya demi Alexa dan dirinya sendiri yang telah jatuh hati pada perempuan itu.
Keesokan harinya, mereka menikmati mentari pagi dengan berjemur di pantai, sarapan dan bermain air di sana.
Untuk pertama kalinya Kim melihat pemandangan indah antara ayah dan anak itu. Aiden dan Alexa bermain air sedang Kim memperhatikan mereka dari tempatnya duduk.
Aiden menjelma menjadi sosok ayah idaman, meladeni putri mereka bermain pasir dan air dengan telaten, seolah sosok dingin dan menyebalkan Aiden hilang begitu saja dari benak Kim.
Sesekali Kim tertawa sendiri melihat tingkah mereka berdua, Alexa tampak dekat dan terlihat manja pada Aiden, untuk hal seperti ini membuat Kim berpikir akan tawaran menikah dari Aiden.
Tentu Kim inginkan putrinya punya orang tua yang lengkap seperti anak lain yang juga sedang berlibur bersama kedua orang tuanya, Kim melihat ada banyak anak yang bermain dengan orang tua mereka.
Membuat Kim menyadari satu hal, pentingnya kasih sayang dan didikan kedua orang tua yang akan menentukan karakter si anak saat besar nantinya, Kim ingin putrinya mendapatkan hak seperti anak yang lain.
"Menikah?" gumam Kim dalam pikirannya.
Lamunannya buyar saat Alexa menarik tangannya agar ikut bermain pasir, Kim tersenyum ia menuruti kemauan Alexa.
Aiden duduk di samping Kim, membiarkan Alexa menyelesaikan istana pasirnya.
"Kau tidak bahagia melihat Alexa tersenyum?"
Kim menoleh, "Aku bahagia," jawab Kim pelan dengan mata tidak beralih dari wajah putrinya.
"Kau tahu? Kami jarang sekali liburan seperti ini, aku sibuk bekerja hingga setiap perkembangan Alexa hanya didampingi oleh seorang pengasuh, dan kau pengasuh terlama yang bekerja padaku."
Kim menatap Aiden heran.
"Alexa mencari perhatian ku dengan ulahnya yang nakal, berganti pengasuh setiap dua minggu. Tapi lihat dia nyaman bersama mu, kau pengasuh yang mampu membuatnya bicara banyak."
Kim terdiam.
"Dia menyukaimu, mungkin karena sebuah kontak batin yang tidak kalian sadari."
Lagi Kim tidak bisa berkata-kata.
"Menikah dengan ku Kim, kita akan saling mengenal setelahnya. Alexa membutuhkan mu dan aku sekaligus, kita bisa memperbaiki hubungan yang buruk ini."
Kim berkaca-kaca, ia menatap wajah serius Aiden yang bicara seolah jauh dari karakter pria itu selama ini.
Aiden pria yang hangat jika sudah berdekatan seperti ini pikir Kim, image dingin dan cuek sangat jauh dari Aiden saat ini.
Aiden meraih tangan Kim.
"Menikah lalu punya anak yang banyak, biar Alexa banyak teman tidak kesepian seperti ini."
Kata-kata Aiden membuat Kim tersenyum.
"Kau pikir aku mesin pencetak anak!" jawab Kim masih dengan senyum, ia merebahkan kepalanya di bahu Aiden.
__ADS_1
Lelaki itu hanya terkekeh, mereka menikmati hangatnya mentari layak pasangan suami istri yang mengawasi putri mereka bermain.