Terjerat Cinta Pengasuh Arogan

Terjerat Cinta Pengasuh Arogan
Bab 15


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu, perasaan Kim terhadap Aiden kian tumbuh besar, ia mulai mencintai pria itu dengan tulus.


Sejak menerima lamaran Aiden, kini Kim diperlakukan layak nyonya di rumah itu. Pun Alexa, ia menerima niat ayahnya menikahi sang pengasuh dengan gembira, ia menyukai Kim sejak awal perempuan itu bekerja.


Aiden akan membawa Kim bertemu orangtuanya hari ini. Pria itu gugup, ia tahu sekali selera Mamanya yang cukup tinggi pada wanita yang akan menjadi pendamping hidup nya.


Tidak heran jika Aiden belum ingin menikah hingga usia sekarang, sebab di masa lalu juga oleh ulah sang Mama ia gagal menikahi kekasihnya padahal gadis itu dari keluarga kaya raya namun tetap tidak direstui hingga mereka putus.


Sekarang Kim, dari status pengasuh di rumah nya, apa pula tanggapan sang Mama nanti pikir Aiden, namun pria itu mantap ingin menikahi Kim bukan hanya karena Alexa namun juga karena mencintai gadis itu hingga tidak ingin bermain-main lagi dengan perempuan sejak Kim hadir di sisinya.


"Kau terlihat gugup," ucap Kim saat keluar mobil yang telah terparkir di halaman rumah orang tua Aiden.


Aiden tersenyum.


"Ini kedua kalinya aku membawa perempuan menghadap Mama, yang pertama gagal."


"Begitukah?" Kim terkejut.


"Iya," sahut Aiden terdiam setelah nya.


"Kegagalan itu hal yang biasa dalam percintaan, mungkin memang tidak jodoh," hibur Kim.


"Iya, karena itulah kau ada disini sekarang jika tidak gagal saat itu mungkin Alexa tidak akan ada, mungkin aku sudah menjadi suami orang."


Kim terkekeh, "Benar juga...."


Aiden menggenggam tangan Kim, mereka masuk ke rumah besar milik orang tua Aiden.


Ternyata di ruang tamu itu sudah menanti kedua orang tua Aiden, karena mereka memang sudah berjanji untuk pertemuan hari ini.


"Sudah datang rupanya!" ucap Mama Aiden dengan wajah tidak bersahabat.


"Kemarilah, duduk dulu Nak. Selamat datang di rumah kami," sapa Papa Aiden ramah pada Kim.


Kim mengangguk dan tersenyum, ia menuruti langkah Aiden yang membawanya duduk di sofa tamu itu.


Pelayan menyuguhkan minuman.


"Jadi ini calon istri mu? Kau memang seorang pemilih Aiden, gadis yang cantik," ujar sang Papa meleburkan suasana dingin antara istri dan anaknya itu.

__ADS_1


Kim tersenyum mendengarnya, "Aku tersanjung mendengarnya Tuan," sahut Kim.


"Jangan kaku Kim, anggap rumah sendiri. Aiden bukan pria seperti kebanyakan, dia sulit jatuh cinta, kau beruntung bisa meluluhkan pria nakal ini," canda Papa Aiden.


Aiden hanya menggeleng mendengar ocehan Papanya, ia melirik Kim yang tidak gugup sama sekali, ia bangga akan kepercayaan diri gadis itu. Kim memang berbeda.


Mama Aiden menatap Kim lama seolah sedang menyelidiki gadis itu dari raut wajah.


"Kata Hera, dia pengasuh baru Alexa," cetus Mama Aiden yang diam sejak tadi.


Aiden ingin menjawab namun Kim lebih dulu bersuara.


"Benar Nyonya, aku pengasuh Alexa."


"Mama," lirih Aiden yang mulai paham arti raut wajah Mamanya menatap Kim tidak suka.


"Yang benar saja, kau membawa seorang pengasuh kemari sebagai calon istrimu? Ck..... Kau tahu sekali Aiden, usahamu ini akan sia-sia," ujar Mama Aiden.


"Mama," tegur Papa Aiden.


"Aku tidak akan diam jika menyangkut putraku, yang benar saja kau mau menikahi seorang pengasuh? Ini tidak masuk akal Aiden, secantik apapun gadis ini Mama tetap tidak akan setuju."


Suasana mulai tegang, namun tidak Kim ia menghadapi situasi itu dengan wajah tenang. Ia duduk tanpa beban.


Aiden meraih tangan Kim.


"Dan perlu Mama tahu, aku tidak akan mengubah keputusan ku," tegas Aiden.


"Papa lihat, Aiden bahkan membela wanita ini di depan ku!"


"Ini adalah hidup Aiden, dia berhak bahagia atas pilihannya sendiri, kita sebagai orang tua seharusnya mendukung, bukan mematahkan seperti ini," ucap Papa Aiden dengan bijak.


Mama Aiden tampak kesal, ia berdiri lalu pergi dari sana tanpa basa basi.


"Maafkan istriku Nak Kim, seorang ibu tentu ingin yang terbaik untuk anaknya, untuk itu pula aku percaya Aiden sudah memilih yang terbaik untuk hidupnya, aku merestui kalian tentu saja."


Kim tersenyum atas jawaban bijak calon ayah mertuanya itu.


"Terimakasih banyak Tuan, aku begini adanya. Aku memang hanya seorang pengasuh Alexa, tapi aku mencintai putramu dengan tulus, aku juga menyayangi Alexa, tentu ini bukan keputusan yang mudah bagi Aiden," jawab Kim tersenyum.

__ADS_1


Aiden melirik Kim sejenak.


"Dan Papa harus tahu, Kim adalah ibu kandung dari putriku Alexa."


Papa Aiden tercengang, ia terkejut mengetahui hal ini.


"Apa?"


Kim hanya diam, namun Aiden mengangguk dengan tegas.


"Iya, akulah yang menyuruhnya menjadi pengasuh, Kim bukan seorang pelayan dalam arti sebenarnya. Kim punya keluarga, bukan seperti yang Mama kira."


Papa Aiden mengangguk mulai mengerti.


"Kami terlibat hubungan yang rumit saat Alexa lahir, hingga aku yang jahat ini mengambil Alexa dari Kim saat itu. Namun takdir kembali mempertemukan kami, dan aku benar-benar jatuh cinta pada perempuan ini, aku harap Papa setuju kami menikah."


Kim menoleh pada Aiden yang secara jantan mengakui perasaannya di hadapan sang Papa, Kim sangat berbesar hati mendengarnya meski sisi lain ia kecewa atas sikap dari Mama Aiden tadi.


"Tentu Aiden, Papa senang mendengarnya, terlebih saat membayangkan Alexa akan tumbuh dengan orang tua kandung yang lengkap. Ini takdir yang manis, menikah secepatnya, Papa mendukungmu, abaikan kemarahan Mama, nanti akan Papa beri pengertian."


Papa Aiden tampak bersemangat sekali saat mendengar Kim adalah ibu kandung dari Alexa.


Pertemuan hari itu berakhir juga. Kim lega, ia bisa melewati ketegangan tadi tanpa menimbulkan masalah.


Kim mencegah Aiden saat ingin masuk ke kamar anaknya.


"Kenapa? Alexa harus tahu Kim, kita akan menikah dan aku tidak ingin menutupi siapa dirimu sebenarnya bagi putri kita itu."


Kim menggeleng. Ini yang ia takutkan selama ini yaitu saat Aiden ingin memberi tahu Alexa soal Kim yang merupakan ibu kandung anak itu.


"Aku takut, bagaimana jika Alexa tidak percaya atau tidak menerima kenyataan atau dia bisa berpikir kenapa aku baru hadir sekarang?"


Aiden terdiam.


"Tapi Kim."


"Aku mohon, setidaknya jangan sekarang. Bagaimana jika setelah menikah saja, aku benar-benar takut Alexa tidak menerima kenyataan ini, aku takut Aiden, aku takut Alexa marah padaku," ucap Kim dengan nada rendah.


Ia gundah, Aiden memeluknya memberi semangat, memang tidak mudah memberi tahu kebenaran pada Alexa yang masih kecil itu, Aiden juga tidak ingin putrinya berpikir yang tidak-tidak pada Kim yang baru muncul dan mengaku sebagai ibu kandung sekarang.

__ADS_1


"Baiklah, kita akan memberitahu Alexa setelah kita menikah saja. Kita akan memberinya pengertian secara perlahan," ucap Aiden sambil mengusap punggung Kim dengan lembut.


__ADS_2