
"Silahkan berbuat semau mu, tapi ingatlah bahwa aku tidak akan pernah menerima menantu dari keturunan Maharani!!!" tegas Mama Aiden sebelum pergi meninggalkan Kim seorang diri di sana.
Kim menatap punggung calon mertuanya itu dengan rasa sesak yang kian mencekik, matanya yang merah telah pula meneteskan butiran-butiran bening.
Kim tidak tahu kenapa perseteruan Mamanya dan Mama Aiden berlangsung sangat lama, sebenci itukah Mama Aiden pada Mama Maharani pikir Kim, hingga berlanjut ke keturunan sekalipun.
Kim menetralisir perasaannya dengan duduk di kursi tamu ruang kerja pribadi calon suaminya itu. Kepalanya berputar pada pernyataan Aiden tempo hari tentang kandasnya hubungan pria itu dengan Kamila kakaknya dulu juga akibat terhalang restu sang mama.
Kim mulai berpikir keras, ia memikirkan Alexa jika ia tidak jadi menikah dengan Aiden, baginya tidak akan ada kesempatan kedua jika rencana pernikahan kali ini sampai gagal.
Kim menggeleng pelan, ia memantapkan hati menerima segala bentuk hujatan maupun penolakan dari Mama Aiden di masa akan datang karena tetap memilih menikah dengan pria itu.
Yang terpenting baginya adalah Alexa, gadis mungil itu seolah menguasai hati Kim saat ini. Ia tidak bisa membayangkan jika wanita lain menjadi ibu tiri Alexa, Kim tidak bisa membiarkan putrinya tumbuh dalam asuhan wanita lain.
Cukup baginya terpisah lima tahun lamanya dari bayi yang ia lahirkan susah payah, semua anak berhak atas kasih sayang yang lengkap.
Lama berpikir, kemudian Kim menoleh jam dinding. Entah kenapa ia ingin bertemu Aiden saat ini juga, Kim memutuskan untuk keluar dari ruang kerja Aiden menuju kamarnya lalu ia bersiap menyusul Aiden di kantor pria itu.
Ini pertama kalinya bagi Kim menginjak gedung kantor milik Aiden, Kim berhenti sejenak ia merasa asing di sana. Melihat para pekerja lalu lalang dengan pakaian rapi membuat Kim sedikit minder.
Ia menatap dirinya sendiri, ia hanya seorang wanita yang telah banyak menyia-nyiakan waktu untuk bersenang-senang dulunya, tidak pernah memikirkan untuk bekerja di kantor seperti yang diharapkan ayahnya.
Wajar saja jika ayahnya lebih sayang pada Kamila, karena Kamila penurut dan pekerja keras seperti ayahnya. Sedang Kim, suka membantah dan suka seenaknya kuliah saja ia sering bolos, lulus pakai uang semua pakai uang.
Kini Kim merasa bahwa yang dikatakan ayahnya benar jika ia tidak menggunakan otaknya seperti Kamila, kakaknya pintar dalam bidang akademik, kini Kamila juga sudah bekerja di kantoran dengan karir yang cukup bagus.
Sedang ia hanyalah seorang pengasuh, seorang perempuan yang telah dibuang karena sudah membuat malu keluarga, Kim lagi lagi melangkah dengan ragu, ia tidak berpikir dengan baik saat ini.
Begitu banyak hal yang mengganggu pikiran nya, melihat wanita-wanita yang cantik lalu lalang di kantor Aiden, ia baru menyadari bahwa calon suaminya dikelilingi oleh banyak wanita selama ini.
Kim melangkah lesu, ia memasuki lift dan menekan tombol pada lantai yang akan ia tuju.
Denting lift membuyarkan lamunannya, ia keluar dari sana namun bingung ingin kemana, beruntung matanya langsung tertuju pada pria yang ia cintai saat ini, Aiden.
Aiden yang sedang bicara dengan salah satu pria berdasi lainnya.
"Aiden!" seru Kim seraya mendekat.
Lelaki menoleh, ia mengerutkan dahinya heran melihat Kim berada di kantornya pada jam sibuk seperti sekarang.
"Kim? Kau kemari? Kenapa tidak menghubungi ku dulu?" sahut Aiden seraya memberi kode pada teman bicara nya agar menjauh lebih dulu.
__ADS_1
Kim mendekat dengan senyum, ia lega sudah menemukan Aiden setelah bertemu banyak orang yang menatapnya aneh sejak tadi.
Kim memeluk Aiden. Pria itu terkejut mendapat pelukan tiba-tiba di kantornya yang sedang banyak pekerja lalu lalang.
"Sayang ada apa?" tanya Aiden segera melepas pelukan.
"Aku merindukan mu," rengek Kim manja.
Aiden terlihat canggung.
"Kim, ini kantor." Aiden menegur Kim yang kembali memeluknya.
Mendapat sikap penolakan membuat Kim menjadi kesal.
"Apa aku tidak boleh kemari? Apa kau malu aku mengunjungi mu ke kantor? Kenapa kau membiarkanku berdiri di sini, kenapa tidak membawaku ke ruangan mu? Aku lelah berjalan sejak tadi, aku haus aku lapar!!!" oceh Kim menatap Aiden dengan kesal.
Aiden menatap sekeliling, semua pekerja sibuk dengan pekerjaan masing-masing, ada pula diantara mereka melihat Aiden dan Kim seperti ingin tahu.
Aiden menghembus napas kasar lalu mengangguk, ia mengalah lalu membawa Kim ke ruangannya.
Kim melihat sekeliling ruangan itu. Ruangan kantor yang di kelilingi dinding kaca, perabot mahal dan canggih. Bersih dan membuat nyaman.
Kim memeluk Aiden lagi.
"Apa seperti ini setiap harimu bekerja?"
Aiden mengangguk polos.
"Dikelilingi banyak pekerja wanita?"
Aiden tersenyum.
"Kau cemburu?"
Kini Kim yang mengangguk. Aiden terkekeh, ia mengecup bibir Kim yang menggemaskan.
"Aku pria kantoran, tentu akan berhubungan dengan para pekerja baik lelaki maupun wanita itu sudah pasti dan sudah menjadi hal yang biasa, pekerjaan ini memang seperti itu, tidak mungkin aku punya karyawan lelaki semua bukan?"
Kim berpikir sejenak. Kenapa rasanya ia kesal sekali melihat banyak wanita yang berada di lantai yang sama dengan calon suaminya ini.
"Entahlah," cetus Kim malas.
__ADS_1
"Baiklah kau mau minum apa?"
"Apa saja, yang penting dingin biar bisa menyejukkan otakku yang sedang panas!"
Lagi, Aiden ingin tertawa dibuat perempuan itu. Pria itu menyuruh pelayan membawakan mereka minum melalui interkom pada sekretarisnya.
"Sekretaris mu seorang perempuan?" tanya Kim lagi, Aiden mengangguk saja.
"Apa dia cantik?"
"Semua wanita cantik."
"Huh, itu jawaban pria genit!"
Aiden terkekeh. Ia meraih tangan Kim.
"Ada apa Kim? Kau tidak biasanya seperti ini?"
"Bisakah kita menikah secepatnya? Tidak perlu menunggu minggu depan!" rengek Kim yang memeluk Aiden lagi.
"Aku mencintaimu Aiden!" seru Kim lagi seraya berbisik, mendengar itu membuat Aiden tahu Kim sekarang sudah menyerahkan perasaannya.
"Sepertinya sekarang keadaan berbalik, kau yang tergila-gila padaku!" seru Aiden tersenyum.
"Jangan percaya diri dulu!" kekeh Kim yang kian membenamkan wajahnya di dada Aiden.
"Aku akan mengatur cuti ku, kita akan menikah Kim, jangan ragukan itu!"
Mereka berciuman dengan mesra, sampai pada sebuah suara mengejutkan mereka. Seorang pelayan dengan sungkan masuk, ia meminta maaf karena tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan.
"Kau boleh keluar!" perintah Aiden pada wanita pelayan itu.
"Apa semua pelayan di sini wanita?" tanya Kim lagi setelah perempuan tadi keluar.
Aiden hanya mengangguk dan tersenyum saja melihat sikap posesif Kim setelah mengetahui lingkungan kerjanya.
Kim mengambil gelas minumannya, baru saja setengah tegukan terdengar lagi seseorang masuk ke ruangan Aiden.
"Aiden, aku butuh....." ucapan wanita itu menggantung saat menyadari ada Kim di sana.
Kim tersedak seketika menoleh pada wanita itu.
__ADS_1
"Kamila?"