
Kim menatap punggung Aiden yang menjauh, Kim merutuki sikapnya yang seperti ini. Kenapa ia menjadi lemah dengan perlakuan Aiden tadi.
Memikirkan itu membuat Kim pusing sendiri.
"Mungkin karena aku tidak makan seharian hingga aku hilang fokus seperti ini! Tapi jika dipikir-pikir Aiden tidak seburuk yang ku kira," gumam Kim dalam hati.
Matanya berpendar ke seluruh sudut kamar. Tidak siapapun boleh sembarangan masuk ke sana, namun lelaki itu membawa Kim di ranjang miliknya.
Kamar yang bersih dan wangi, Kim sudah lama tidak merasakan kasur seempuk ini, ia menjadi senyum-senyum sendiri.
"Aku merindukan kamarku!" gumam Kim teringat kamar di rumah orangtuanya. Entah kamar itu masih ada atau tidak, Kim menjadi sedih ketika mengingat situasi hubungan dengan keluarganya yang hingga kini tidak juga membaik.
Kim berpikir memang tidak ada yang menginginkannya, di keluarga itu hanya Kamila yang menjadi kebanggaan keluarga dan rekan-rekan bisnis papanya.
Ia tidak ingin kehilangan Alexa juga, hanya Alexa yang ia punya saat ini. Maka darinya Kim ingin mendekati Alexa layak ibu dan anak. Ia berpikir tentang perkataan Eli siang tadi.
Aiden menyukainya, kenapa tidak ia manfaatkan kesempatan ini untuk mendapat pengakuan status ibu bagi Alexa. Kim ingin putrinya tahu bahwa Kim adalah ibu kandung dari Alexa.
Berperang dengan pikiran nya sendiri membuat Kim tertidur sambil meringkuk nyaman di bawah selimut milik Aiden.
Tanpa Kim ketahui telah terjadi sesuatu di lantai bawah. Aiden tampak mengumpulkan para pelayan.
Mira tampak berlutut meminta ampun.
"Sudah selesai bicara nya?" tanya Aiden tanpa ekspresi.
Mira menegakkan kepala. Ia sudah mengaku dan meminta maaf sedemikian rupa sejak tadi namun Aiden tidak bersuara.
"Maaf Tuan, tolong jangan pecat aku," kata Mira mengulangi kata-kata maaf yang sama.
"Jika sudah selesai bicara, segera berkemas! Pergi jangan kembali lagi ke rumah ini, minta pekerjaan baru pada Hera yang menyuruhmu melakukan semua ini."
__ADS_1
Mira melirik Hera yang juga diam tanpa kata sejak tadi, gadis itu tidak berkutik di hadapan Aiden yang benar-benar marah atas perbuatan mereka.
"Tapi Tuan...." Mira memejamkan matanya saat Aiden menatapnya dengan tajam. Pelayan itu segera mengangguk takut, tidak ada yang bisa ia lakukan lagi, memohon pun terasa percuma, karena perbuatannya sungguh melewati batas.
Karena tidak suka pada Kim yang bisa merebut hati majikan dalam waktu singkat, hingga ia melaporkan hal-hal yang ia lihat antara Kim dan Aiden pada Hera yang memang mencintai dan menginginkan Aiden selama ini.
Sampai rela memfitnah Kim mencuri kalung Alexa demi menyingkirkan Kim dari rumah itu, tapi kini dialah yang harus keluar dari rumah besar yang telah mempekerjakan dirinya lebih dari lima tahun itu.
Beruntung Aiden hanya memecatnya saja, jika pria itu meneruskan ke polisi bisa lebih panjang urusannya pikir Mira.
Mira berdiri saat Aiden meninggalkan ruang tengah itu. Ia menatap Hera namun gadis itu tak acuh, Hera lebih memilih mengejar Aiden daripada mengurus Mira.
Eli menyentuh lengan Mira dan mengajaknya untuk segera berkemas jika tidak ingin Tuan mereka lebih marah lagi.
"Apa Tuan Aiden benar-benar menyukai Kim?" rutuk Mira ketika di kamarnya.
"Kita ini hanya seorang pelayan, tidak perlu tahu urusan majikan. Karena hal ini pula kau kehilangan pekerjaan Mira, sangat disayangkan," ucap Eli menasehati.
"Huh, seharusnya Nona Hera juga mendapat hukuman atas perbuatannya, tapi kenapa malah aku yang kena sendiri," gumam Mira kesal.
"Sudah selesai? Jika sudah selesai ayo aku antar kau ke taksi," cetus Eli.
"Kau juga mengusirku!" Mira menangis sekarang.
"Lebih cepat lebih baik, bagaimana jika Tuan Aiden berubah pikiran, dan kau berakhir di kantor polisi?"
"Ah tidak tidak, baiklah..... Aku sudah siap!" ucap Mira menangis menyesal.
Di sisi lain Hera menangkap tangan Aiden yang berjalan lebih dulu darinya.
"Sayang," rengek wanita itu.
__ADS_1
"Hentikan Hera, jangan panggil aku begitu lagi mulai sekarang!" bentak Aiden sambil menepis tangan Hera.
"Apa kau sudah tidak waras? Yang benar saja kau malah membela si pengasuh tidak jelas asal usulnya itu, aku tidak percaya ini! Biasanya kau mana peduli aku mau melakukan apapun di rumah ini, tapi sekarang kau marah padaku?" ucap Hera berani.
"Pergilah jangan sampai kesabaran ku habis, ini sudah malam aku ingin beristirahat!"
"Pengasuh itu ada di kamarmu Aiden, kau ingin beristirahat? Huh, katakan padaku apa yang telah dia lakukan hingga kau seperti ini?"
"Apa kau akan tidur dengannya? Apa dia telah menjual diri padamu?"
Hera meraih tangan Aiden lagi, namun selalu ditepis oleh pria itu.
"Dengar Hera, itu bukan urusanmu! Jika bukan karena kau sudah ku anggap adik sendiri, mungkin kau yang lebih dulu aku bunuh malam ini!" balas Aiden tajam.
Hera terdiam. Ia mengenal Aiden dari kecil, pria itu tidak pernah semarah ini padanya meski ia keterlaluan sekalipun.
"Pulanglah, jangan bicara padaku sebelum kau menyadari kesalahan mu!!" kata Aiden sebelum melanjutkan langkah menuju kamarnya.
Hera kesal luar biasa, ia semakin membenci gadis pengasuh yang kini lebih diperhatikan daripada dirinya. Hera menyukai Aiden sejak lama, namun pria itu tidak juga membuka hati padanya selain menganggap Hera sebagai adik karena orang tua mereka bersahabat dekat.
Aiden masuk ke kamar, ia perlahan mendekati Kim yang meringkuk terlelap di kasurnya. Lama pria itu menatap wajah Kim yang polos, Aiden sungguh penasaran dibuat wanita ini, kenapa Kim begitu menarik perhatiannya sekarang.
Tidak ingin mengganggu tidur gadis itu akhirnya Aiden membasuh wajahnya di kamar mandi, lama pula ia bermenung menatap wajahnya di cermin. Kecantikan Kim memang tidak bisa ia pungkiri, namun satu hal yang membuat Aiden menyukai gadis itu.
Kimora mirip seseorang pikir Aiden, mirip seseorang dari masa lalunya. Mata dan dan hidung Kim mengingatkan Aiden pada sebuah cinta yang tidak kesampaian.
Sesekali ia merasa menyesal telah membiarkan Kim di gudang siang tadi, padahal wanita itu tidak melakukan seperti yang dituduhkan.
Aiden melirik Kim sebentar sebelum ia pergi ke kamar Alexa yang juga sudah tertidur, ia memastikan putrinya tidur dengan posisi yang baik barulah ia mematikan lampu kamar anak gadisnya itu.
Karena mengantuk Aiden memutuskan kembali ke kamar dan tidur di sofa tanpa mengganggu Kim yang sudah berlabuh di pulau kapuk dan berkelana bersama mimpi.
__ADS_1