Terjerat Cinta Pengasuh Arogan

Terjerat Cinta Pengasuh Arogan
Bab 9


__ADS_3

"Bangun!!! Bangun gadis pencuri!"


Kim perlahan membuka matanya, ia melihat wajah Aiden dan Hera di sana. Kim terkejut saat Mira menyiraminya dengan air agar terbangun.


Kim perlahan berdiri.


"Berlututlah meminta maaf atas apa yang kau lakukan kemarin!" perintah Hera.


Kim melirik Aiden yang masih diam menatapnya dengan wajah dingin.


"Aku bukan pencuri, jadi tidak perlu meminta maaf," ucap Kim menahan tangis.


"Sayang kau lihat? Gadis ini sungguh tidak tahu malu, sudah mencuri masih saja keras kepala. Aku sudah menduga niatnya pasti tidak baik bekerja di rumah ini, dia sengaja menjual wajah cantiknya untuk menipu kita semua!" seru Hera memanasi Aiden.


Mira mengangguk, ia ikut memanasi Hera dengan mengatakan Kim tidak bersikap layaknya pengasuh profesional.


Aiden masih diam.


"Terserah kalian mau bilang apa, yang pasti aku dijebak, aku sama sekali tidak mencuri kalung Nona Alexa."


"Tinggalkan kami berdua!" perintah Aiden tiba-tiba dengan suara yang tajam lagi menusuk jantung.


Mira dan Hera terkejut.


"Aku bilang tinggalkan kami berdua, kalian keluarlah! Biar dia menjadi urusanku!" kata Aiden menegaskan.


Mendengar suara Aiden marah, Hera dan Mira menjadi ciut, tidak berani membantah hingga mereka keluar dengan segera.


Kini hanya Kim dan Aiden.


Hening untuk beberapa saat, Kim yang lemah karena menahan lapar sebab tidak diberi makan sejak siang kemarin, ia dibiarkan bermalam di gudang dengan banyak nyamuk dan kedinginan.


"Kenapa kau melakukan ini?"


Kim menoleh, wajah pria itu sungguh menakutkan jika marah seperti sekarang.


"Aku sama sekali tidak mencuri, aku dijebak percayalah."


"Ck..... Kau juga mengatakan hal yang sama atas kejadian malam itu. Apakah bisa kebetulan hingga dua kali mengaku dijebak?"


Aiden perlahan berjalan mendekat, Kim kian mundur karena takut.


"Aku tidak mencuri, mereka keliru. Aku sama sekali tidak mencuri kalung Alexa."

__ADS_1


"Jika bukan kau lantas siapa yang berani menaruh kalung itu di tas mu?"


Kim terdiam, tentu ia tidak punya bukti untuk menuduh siapa yang melakukannya.


"Kau butuh uang? Katakan berapa?"


"Aku tidak...." Kim tergagap saat Aiden sudah mengunci tubuhnya di dinding.


"Munafik, kau dengan percaya diri menolak tawaranku, kau mengatakan tidak mengincar uangku, kau bilang tulus ingin berdekatan dengan Alexa, tapi kalung itu buktinya."


Kim ingin menjawab namun lebih dulu Aiden membungkam mulutnya.


"Bukankah sudah ku janjikan jika kau berkelakuan baik selama menjadi pengasuh Alexa, maka status Ibu baginya akan aku pertimbangkan untukmu, bukankah itu kesempatan untuk mengakui siapa dirimu bagi Alexa? Apa mencuri bagian dari kelakuan baik?"


Kim tidak menjawab, ia hanya bisa menahan sakit akibat cengkraman tangan Aiden.


"Mana lebih terhormat menjual diri atau mencuri? Kau butuh uang bukan, aku butuh tubuhmu, tapi kau berlagak jadi gadis terhormat selalu menolak ku, tapi kini kau mempermalukan diri dengan menjadi pencuri kalung putri mu sendiri!"


Kim tidak bisa menahan airmata lagi, mendengar kata-kata Aiden yang menyakitkan hatinya.


"Mengaku dan meminta maaf padaku!"


"Tidak," bantah Kim.


"Karena aku menyukaimu, jadi minta maaflah dengan benar. Aku akan melupakan kejadian ini!" ujar Aiden melunak.


"Sudah ku katakan, aku tidak mencuri. Jadi tidak perlu meminta maaf, aku tidak melakukan apa yang kalian tuduhkan!" ucap Kim mantap.


Aiden berdecih, ia melepaskan Kim lalu mengusap wajahnya kasar. Pria itu tampak frustasi.


Lalu ia kembali mendekati Kim.


"Jika begitu, mari kita teruskan kasus ini ke polisi."


Mendengar itu Kim menjadi ciut, bisa panjang urusannya jika menyangkut polisi, jika ia tidak bisa menemukan bukti bahwa ia dijebak maka ia akan dipenjara, lalu bagaimana dengan Alexa putrinya. Bukan ini yang Kim inginkan.


Melihat Kim terdiam membuat Aiden terkekeh.


"Kau takut? Sudah ku katakan, kau pelayan istimewa dari yang lain seharusnya bersyukur. Kau ku ampuni jika menerima tawaran ku."


"Aku bukan pencuri," tegas Kim lagi.


"Ck, seberapa tinggi harga dirimu gadis bodoh?" Aiden menarik pinggang Kim hingga menempel pada tubuhnya.

__ADS_1


"Lepaskan aku!"


"Berapa kau butuh uang? Katakan saja, akan ku bayar untuk tubuh dan harga dirimu yang terlalu sombong ini!"


"Aku bukan pelac*r Tuan, terserah kau mau apa. Sudah ku katakan aku datang kemari untuk Alexa bukan untuk menjual diri, apalagi untuk mencuri, sama sekali tidak," tegas Kim sekali lagi.


Aiden kehilangan akal, ia keluar dari sana membiarkan Kim masih terkurung di gudang.


"Jangan katakan apapun pada Alexa tentang kejadian ini, biarkan dia tetap di dalam! Aku ingin lihat sampai mana dia mampu bertahan di gudang pengap itu. Atau lebih memilih berlutut padaku!" ucap Aiden pada Eli yang berdiri di hadapannya.


Eli mengangguk mengerti.


"Baik Tuan, tapi Kim belum makan sejak siang kemarin karena Nona Hera melarang ku memberinya makan, apa sekarang aku boleh memberinya makan?" tanya Eli memberanikan diri.


Aiden hanya diam saja, ia tidak menolak namun juga tidak memberi izin ada Eli.


Aiden pergi begitu saja dari hadapan Eli sang pelayan setianya.


Eli bergegas mengambilkan nampan yang sudah ia siapkan, ia melihat situasi aman untuk ia ke gudang memberi Kim makan.


"Kim," panggil Eli pada gadis yang sedang meringkuk memeluk dirinya sendiri di sudut gudang.


Kim membuka mata perlahan, matanya sembab oleh tangis.


"Aku bukan pencuri," lirih Kim pada Eli.


"Aku kemari untuk memberimu makan, kau pasti lemas. Ayo makanlah," ucap Eli sambil memberi nampan berisi makanan.


Kim melihat itu, ia mengangguk.


"Terimakasih," lirih Kim lagi.


Eli mengusap punggung Kim dengan belas.


"Aku percaya padamu, aku tidak bisa lama, makan dan kuatkan dirimu. Aku tahu Nona Hera dan Mira tidak menyukaimu, tapi Tuan Aiden menyukaimu, kau bisa mengambil kesempatan untuk itu," kata Eli sambil menyibak rambut Kim yang tidak beraturan saat ini.


Kim menggeleng.


"Aku tidak menjual harga diriku, terimakasih atas makanan ini. Pergilah sebelum Bibi mendapat masalah."


Perempuan hampir paruh baya itu hanya bisa menghembus napas panjang.


"Baiklah, aku akan kembali ke dapur."

__ADS_1


Kim mengangguk saja sambil mengunyah rotinya.


__ADS_2