Terjerat Cinta Pengasuh Arogan

Terjerat Cinta Pengasuh Arogan
Bab 16


__ADS_3

Kim dan Aiden dalam perjalanan menuju sebuah restoran.


Pada kenyataannya, Kim menghubungi orangtuanya memberitahu jika akan menikah. Karena sang Mama bahagia mendengar kabar Kim, maka Maharani memohon pada suaminya untuk ikut bertemu dengan calon menantu mereka di sebuah restoran agar tidak menimbulkan masalah jika bertemu di rumah mereka yang mana sang nenek masih saja tidak mau menerima Kim kembali.


"Mama tenanglah, mereka akan sampai sebentar lagi," ujar Kamila menggenggam tangan Maharani yang berkeringat dingin.


Maharani merindukan putri bungsunya itu, hubungan mereka tidak juga membaik meski Kim melakukan kesalahan itu sudah sangat lama. Ia terus membujuk suami dan mertuanya agar menerima Kim pulang namun sang nenek belum juga bisa membuka hati untuk Kim yang telah dianggap mencoreng nama baik keluarga.


Pun suaminya, meski jauh di lubuk hati Joko ia merindukan putrinya Kim yang nakal, hanya saja harga dirinya sebagai orang tua terlalu tinggi untuk memaafkan kesalahan Kim waktu itu, padahal sudah sangat lama berlalu.


Dan bagi Kim ini pertama kalinya ia akan bertemu keluarganya lagi setelah sekian lama, sebab sejauh pembuangan dirinya dari keluarga itu hanya sang Mama yang masih peduli dengan kabarnya.


Hanya Maharani yang terus menjaga hubungan ibu anak itu terus terjalin meski hanya melalui telepon.


Perempuan yang belum paruh baya itu sangat gugup, ia bahagia sekali ingin bertemu Kim sebentar lagi. Kebetulan Kamila juga ikut serta, sebab ia juga ingin bertemu dengan adiknya meski Kim masih marah padanya.


"Saat kau bertemu orang tua ku kau sama sekali tidak gugup, tapi malah sekarang kau terlihat gugup," cetus Aiden yang merasakan tangan calon istrinya itu berkeringat dalam genggamannya.


"Aku hanya tidak bisa jika mereka menolak ku di depan calon suami ku, entah lah..... Kami sudah lama sekali tidak bertemu, aku gugup sekali."


Kim membenamkan wajahnya di dada Aiden, saat ini mereka sedang berada dalam lift.


"Tenanglah, ada aku.... Kita hanya meminta restu, bukan mencari masalah."


Kim hanya diam. Sampai pada bunyi denting lift yang membawa mereka ke lantai yang dituju berbunyi.


Maharani berdiri dari duduknya, ia tidak bisa menahan kerinduan yang lama ia pendam pada anak bungsunya itu.


Ia mengejar Kim yang baru datang bersama seorang pria. Memeluk Kim sambil menangis haru. Joko melihat reaksi istrinya pada Kim membuat matanya panas, ia segera menetralisir perasaannya saat ini.


Maharani sibuk menanyai kabar Kim, ia bahkan tidak fokus hingga tidak menyadari siapa pria yang Kim bawa untuk menghadap mereka.


Tanpa Kim sadari, Aiden mengerutkan kening seolah tidak percaya bahwa calon mertuanya adalah Joko dan Maharani. Bukan hanya itu Aiden dan Kamila saling menatap satu sama lain.


"Nak Aiden?" sapa Maharani yang baru sadar bahwa lelaki yang bersama putrinya itu adalah Aiden.


"Bibi Maharani?" sahut Aiden canggung.


Kim menatap keduanya dengan bingung.

__ADS_1


"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Kim.


Maharani melirik suaminya dan Kamila yang juga tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya pada Aiden.


Entah kenapa Kim merasa tidak nyaman dengan aksi saling pandang itu terlebih ia melirik Aiden dan Kamila yang bertemu mata satu sama lain seolah tersirat makna di antara keduanya.


"Ehem, Kim ayo ajak Nak Aiden duduk dulu," cetus sang papa membuyarkan semua lamunan.


Kamila hanya diam tanpa kata. Ia kembali duduk di tempatnya.


Kim benar-benar bingung.


"Jelaskan padaku apa kalian sudah saling mengenal?" tanya Kim penasaran.


Aiden hanya diam, pria itu terlihat sangat canggung.


Maharani meraih tangan putrinya.


"Sayang, Nak Aiden ini sebenarnya sudah lama mengenal keluarga kita. Karena...... Karena dulunya dia....." Maharani tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


Membuat Kim kian penasaran.


Lelaki itu hanya mengangguk perlahan, sesekali ia masih melirik Kamila yang sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Kim, Nak Aiden ini adalah rekan kerja Papa. Kami sudah mengenal lama, lagi pula Kamila kakakmu dan Nak Aiden adalah mantan kekasih," ucap Joko mencoba menjelaskan.


Jderrrrr Kim bagai tersambar petir saat ini, mendengar penjelasan papanya membuat Kim menatap Aiden dan Kamila berulang kali. Dalam hati ia berdecak, benarkah itu?


"Apa?" Kim terkejut.


Ia melirik Aiden dan Kamila berulang kali, memang mereka terlihat canggung satu sama lain.


"Itu hanya masa lalu," balas Aiden yang sejak tadi diam.


Kim percaya sekarang. Ia menatap kakaknya lain, Kamila masih tidak bersuara, gadis itu tampak meminum minumannya dengan wajah pias.


"Ah, lupakan sekarang mari kita makan dulu. Kalian pasti lapar, kita akan bicara setelah ini." kata Joko mencairkan suasana.


Makan malam yang penuh ketidakadilan bagi Kim. Bagaimana ia merasa dipermainkan oleh takdir, Aiden adalah mantan pacar kakaknya sendiri.

__ADS_1


Mereka hampir menikah namun gagal karena satu hal yang Kim belum bisa menebaknya. Bagaimana ia bisa berakhir dengan lelaki yang hampir menjadi kakak iparnya sendiri pikir Kim.


Memang ia mengetahui bahwa Kamila gagal menikah karena tidak direstui oleh orang tua lelaki saat itu, Kim tidak mengenal siapa calon kakak iparnya saat itu sebab ia sedang berkuliah di luar negeri, lagi pula hubungannya dengan Kamila memanglah dingin sejak dulu hingga Kim tidak peduli pada kehidupan Kamila selama ini.


Pikirannya sibuk berperang tentang Aiden dan Kamila, apa Kamila sosok wanita yang Aiden sebut sebagai wanita pertama yang ia bawa ke hadapan orang tuanya dulu namun tidak mendapatkan restu dari Mama Aiden?


Kim belum banyak mendapatkan jawaban, moodnya menurun seketika, hatinya merasa lemas mengetahui Aiden pernah mencintai Kamila yang ia benci.


Aiden meraih tangan Kim saat perempuan itu hanya diam saja selama perjalanan pulang.


"Kim," panggil Aiden.


Kim menoleh.


"Iya."


"Ayolah jangan seperti ini."


"Aku hanya belum menyangka dunia bisa sesempit ini. Kau hampir menjadi kakak iparku, tapi kini menjadi calon suamiku. Aku bingung Aiden, kepala ku pusing."


Aiden tersenyum, ia mengelus lembut pipi Kim.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak, nanti bisa ku jelaskan. Kami sudah lama berakhir, jadi tidak ada yang perlu kau takutkan, percaya padaku pertemuan tadi tidak mempengaruhi apapun tentang kita," tegas Aiden.


"Melihat kau dan Kamila saling memandang, aku jadi....." ucapan Kim menggantung, ia berpaling ke luar jendela, matanya menjadi panas sekarang.


"Kau cemburu?"


"Entahlah."


"Aku juga terkejut, ternyata kau adalah putri dari Bibi Maharani."


"Kenapa dengan Mamaku? Aku lihat Mama juga tampak tidak baik-baik saja saat pertemuan tadi." Kim kian bingung.


"Sebenarnya keluarga mu dan keluarga ku tidak dalam hubungan yang baik sampai saat ini," jawab Aiden sambil fokus mengemudi.


"Boleh aku tahu kenapa?"


"Entahlah, itu menjadi urusan mereka. Yang pasti kita akan tetap menikah apapun yang terjadi, kita akan menikah Kim, aku tidak butuh siapapun, aku butuh kau percaya padaku bahwa kita bisa menikah dan membesarkan Alexa tanpa beban yang lain."

__ADS_1


Kim hanya diam. Ia membayangkan wajah Kamila saat ini, wajah kakak perempuan yang menatap calon suaminya seolah masih tersirat rasa yang tertinggal di sana.


__ADS_2