
Alexa tertawa saat Kim digendong ayahnya layak karung beras, Kim berteriak minta tolong pada Alexa yang mengejar mereka.
Adegan manis itu dihiasi tawa sambil berlarian di tepi pantai, Alexa tidak menunjukkan sikap penolakan atas kemesraan ayah dan pengasuh nya itu, seolah gadis kecil itu mengerti makna cinta yang tersirat di sana.
Untuk pertama kalinya Kim merasakan kehangatan orang yang menerima kehadirannya, tidak seperti perlakuan keluarga nya dulu.
Malam menjelang, Kim terkejut saat penutup matanya dibuka oleh Alexa. Ia mendapat kejutan makan malam romantis dari Aiden yang tersenyum padanya.
"Makan malam ini?" tanya Kim.
Alexa dan Aiden kompak mengangguk.
"Ayo, Bibi Kim duduk di sini." Alexa mendorong Kim untuk duduk di salah satu kursi.
Kim menuruti kemauan dua orang yang selalu membuatnya tertawa sejak siang tadi.
Mereka makan malam bersama, lalu Aiden mengajak Kim berdansa, mereka larut dalam kehangatan layak keluarga kecil yang bahagia.
Untuk pertama pula Alexa begitu lepas dalam berekspresi, mereka menari bertiga diiringi sebuah gitar akustik yang Aiden mainkan.
Sampai pada mereka berjalan kembali ke penginapan yang tidak jauh dari bibir pantai. Aiden menggendong Alexa di punggung, Kim berjalan di samping, mereka bicara banyak hal yang membuat keduanya tampak akur satu sama lain.
"Kim," panggil Aiden setelah melihat perempuan itu keluar kamar mandi habis berganti pakaian.
"Iya?" Kim mendekat.
"Tidurlah bersama Alexa, biar aku di sofa." Tunjuk Aiden pada Alexa yang sudah mulai memejamkan mata.
Kim mengangguk saja.
"Terimakasih."
"Untuk apa?"
"Untuk pengertian mu bahwa memang seharusnya aku tidur di kasur, aku ini pembantu yang banyak pekerjaan jadi harus istirahat dengan benar, jika tidur di sofa badan ku sakit semua," jawab Kim.
Aiden berdecak mendengar perkataan Kim itu, pria itu bangkit dari samping Alexa menghampiri Kim lalu mencium pipi perempuan itu.
"Kau selalu pandai menjawab ku!" bisik Aiden.
Kim tersenyum. Aiden ke kamar mandi, Kim segera mengistirahatkan tubuhnya di samping Alexa, ia memeluk putrinya dengan perasaan mulai berbunga.
Pagi menjelang, Kim terbangun ia menoleh pada Alexa yang masih tertidur di sampingnya dengan wajah menggemaskan, lalu matanya mencari keberadaan Aiden.
Seorang lelaki yang ia yakini adalah ayah dari Alexa itu sedang berdiri membelakanginya dengan bertelanjang dada, otot punggung yang gagah, fisik sempurna sebagai lelaki perkasa.
Aiden berdiri hanya memakai celana boxer saja, menghirup udara segar pagi hari yang indah, embun yang masih membasahi tanaman-tanaman hias di pinggir kolam ikan itu membuat pikiran dan raganya terasa jauh lebih baik saat ini.
__ADS_1
Kim tersenyum, entah kenapa ia suka pemandangan itu. Kim menggeleng kepala atas apa yang ia pikirkan, ia segera turun dari ranjang lalu ke kamar mandi.
Saat mencuci wajah Kim terkejut ketika menatap tangannya di cermin. Ia mengerutkan dahi melihat sebuah cincin bermata satu berwarna emerald melingkari jari manis tangan kirinya.
"Sejak kapan aku pakai benda ini?" gumam Kim sambil melihat jelas cincin itu.
Kim tersenyum, perutnya geli saat meyakini bahwa Aiden yang telah memasangkan benda itu saat dia tidur, kenapa Aiden menjadi romantis seperti ini pikir Kim.
"Oh God," lirih Kim memegang dadanya yang berdenyut geli. Kim tidak bisa menyembunyikan senyuman nya.
Kim membasuh wajah lalu sikat gigi tanpa mandi, ia keluar kemudian menyusul Aiden yang masih berada di balkon kamar mereka.
"Ehem," kode Kim.
Aiden menoleh.
"Kau sudah bangun?" tanya Aiden, Kim mengangguk, lalu perempuan itu maju mendekati Aiden yang masih berdiri dengan tangan bertengger di saku celananya.
"Alexa masih tidur, apa tidurmu nyenyak? Aku lihat kau pagi-pagi sudah bangun, apa tidak nyaman tidur di sofa?" tanya Kim basa basi.
Aiden menggeleng, "Aku terbiasa bangun pagi, udara di sini bagus, rasanya enggan pulang," kekeh Aiden.
Kim menggigit bibir bawahnya sambil mengangguk angguk.
"Apa ini darimu?" ucap Kim sambil menampilkan jari manisnya dengan cincin tadi.
"Ck, apa kau begitu pengecut hingga memasangkan benda ini saat aku tidur?"
"Aku lupa memberikannya semalam, jadi baru teringat saat kau tidur," jawab Aiden polos.
Kim berdecak.
"Ternyata kau bukan pria yang romantis."
Aiden tersenyum geli.
"Apa kau suka?"
Lama Kim diam, lalu ia mengangguk perlahan saat Aiden meraih tangannya.
"Apa kau menerima lamaran ku?"
Kim terkejut.
"Memang nya kapan kau melamar ku?" tanya Kim heran.
"Huh, ini adalah cincin untuk melamar mu bodoh. Kau pikir ini hanya cincin biasa?" Aiden mencubit hidung Kim dengan gemas.
__ADS_1
Kim terkekeh.
"Bisakah kau sedikit lebih romantis dalam mengatakannya, aku terkadang masih melihat sosok Aiden yang mesum dan gila, aku ingin melihat mu sebagai pria normal yang benar-benar menginginkan ku tanpa syarat."
Kini Aiden yang berdecak kesal namun ia tidak tahu harus berkata apa selain semakin menggilai perempuan itu sekarang. Kim selalu pandai berkata-kata, selalu saja membuatnya penasaran untuk segera memiliki gadis itu.
"Oke baiklah, menikah dengan ku dan kita akan menjadi orang tua yang lengkap untuk Alexa?" ucap Aiden berlutut.
Kim terkejut. Ia segera menuntun Aiden agar kembali berdiri.
"Tidak perlu berlutut juga!" ujar Kim terkekeh.
"Ayo jawab!" kata Aiden sambil menggenggam tangan Kim dengan raut penuh harap.
"Huh, aku saja bingung ingin jawab apa," gumam Kim menggoda.
"Ayolah Kim, jangan bercanda! Aku serius, dan kita akan menikah setelah ini."
Perempuan itu terkekeh melihat wajah kesal Aiden yang berharap padanya.
"Kau terlalu bersemangat sekali Tuan, aku ini hanya seorang pengasuh, lagi pula kau belum mengenal siapa aku."
"Kim!" lirih Aiden dengan tatapan tajam.
"Aiden aku....."
"Aku apa?" desak lelaki itu.
Kim tersenyum, ia tidak menjawab dengan kata-kata melainkan dengan pelukan tiba-tiba. Kim memeluk Aiden yang jauh lebih tinggi darinya.
Lelaki itu tersenyum lalu membalas pelukan Kim dengan sangat erat.
"Kau membuatku frustasi," cetus Aiden berbisik di telinga Kim.
Kim terkekeh.
"Ayo lepaskan aku, dadaku sesak ini terlalu erat!"
"Tidak, tidak akan ku lepaskan kau kali ini," jawab Aiden lalu tanpa menunggu lama mereka saling berciuman untuk pertama kali saling meraih dan saling menginginkan.
Kim tersenyum saat beradu pandang dengan lelaki itu, Aiden sosok yang ia butuhkan, ia butuh pengakuan atas Alexa, ia juga butuh kehidupan yang layak setelah banyak direndahkan oleh orang lain.
Saatnya merubah nasib dengan menerima Aiden dalam hidup nya pikir Kim, perempuan ini tidak ingin terus hidup tanpa tujuan, terlebih fokus utamanya saat ini adalah Alexa.
Ia mau Alexa tumbuh normal dengan kasih sayang yang lengkap, tentu pula ia tidak ingin Alexa punya ibu tiri jika Aiden menikahi wanita lain.
Kim mengecup bibir Aiden sekali lagi.
__ADS_1
"Aku mau menikah dengan mu!"