Terjerat Cinta Pengasuh Arogan

Terjerat Cinta Pengasuh Arogan
Bab 22


__ADS_3

Kim menghempaskan tubuhnya di atas kasur, lama ia menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan tidak menentu, terkadang Kim merasa amat lelah dengan masalah yang ia hadapi akhir-akhir ini.


Hidup dan hatinya kian rumit disaat ia mulai mencintai Aiden, menerima pinangan pria itu demi Alexa, ia tidak ingin lagi berjauhan dengan putrinya. Namun dibalik niat baiknya mulai muncul masalah satu persatu.


Dimulai dengan Mama Aiden yang tidak merestui hubungan mereka, disaat mulai ingin berdamai dengan keluarganya sendiri namun siapa yang menyangka Kim harus menerima kenyataan bahwa Kamila adalah mantan kekasih Aiden, dan hal ini cukup membuat Kim lelah berpikir.


Namun semua itu tidak ada apa-apanya dibanding kesakitan mendengar Alexa menolaknya mentah-mentah kemarin, bagaimana bisa pikiran putrinya yang masih sangat polos bisa diracuni sedemikian hingga Alexa yang semula menyukai nya kini berubah membenci.


Kim benar-benar tidak menyangka jika Hera selicik itu pada anak kecil.


Merasa cukup untuk bermenung, Kim bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi. Ia membasuh wajahnya agar merasa lebih baik, lalu ia keluar kamar berniat melihat Alexa di kamarnya.


Kim keluar kamar bertepatan dengan Eli yang juga keluar dari kamar putrinya. Segera ia menghampiri perempuan paruh baya itu.


"Nona Kim sudah pulang?" sapa Eli ramah.


Kim mengangguk.


"Apa Alexa sudah tidur?"


"Benar, Nona Alexa baru saja tidur. Ada yang bisa ku bantu?" kata Eli.


Kim menghembus napas kasar, ia melirik pintu kamar Alexa yang masih tertutup.


"Apa Alexa bicara sesuatu?" tanya Kim lagi.


Eli menggeleng, "Tidak Nona, hanya saja Nona Alexa sedang dalam mood yang buruk, dia tidak mau makan dan merajuk pada ayahnya, tidak tahu soal apa."


Eli bicara seolah belum tahu apa-apa tentang masalah Kim dan Alexa.


Lagi, Kim menghembus napas panjang mendengar penjelasan Eli.


"Baiklah, terimakasih banyak Bibi Eli, kau selalu bisa diandalkan untuk mengurus Alexa," ucap Kim seraya mengusap lengan Eli.


"Sudah seharusnya Nona, jangan sungkan padaku," jawab Eli sopan.


"Hmmmm kalau Aiden, kau tahu dia kemana?" tanya Kim saat kehilangan sosok Aiden di rumah itu.


"Tidak Nona, Tuan pergi sejak sore tadi. Tidak memberitahu jika kemana," jawab Eli lagi.


"Baiklah, kau boleh kembali!" ucap Kim mengakhiri pertemuan mereka.

__ADS_1


Eli kembali ke lantai satu dimana ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja. Kim perlahan membuka pintu kamar Alexa, dilihatnya sang putri tertidur dengan wajah mungilnya.


Kim mendekat, ia perlahan menatap wajah Alexa dari dekat, ia menyibak rambut yang menutupi kening putrinya dengan lembut, ada tetes bening jatuh di sudut mata cantik milik Kimora.


Ia sungguh terluka jika Alexa benar membencinya, bagaimana ia bisa mengatakan bahwa mereka punya hubungan darah, darah ibu dan anak.


Bagaimana jika Alexa tidak percaya, bagaimana pula jika Alexa bertanya kenapa ibunya baru datang kala ia sudah besar, kenapa Kim takut untuk memberi tahu tentang rahasia mereka.


Putrinya yang polos, dingin dan tidak banyak bicara, gadis kecil itu tumbuh dalam asuhan sang ayah tanpa kasih sayang seorang ibu selama lima tahun, Kim menyesal baru terniat datang ke rumah itu setelah sekian lama ia mencoba melupakan masalah hidupnya.


Kim merasa buntu untuk berpikir, bagaimana jika Alexa masih membenci nya saat bangun tidur nanti, memikirkan nya saja membuat Kim sakit.


Lama bermenung dengan sekelumit pikiran tentang Alexa membuat Kim lelah dan tertidur di sana sambil memeluk putrinya seperti biasa.


Aiden pulang, ia menemukan pemandangan yang mampu membuatnya hatinya menghangat dan matanya sejuk. Penyesalan selalu datang belakangan, kenapa ia dulu begitu arogan memisahkan Kim dari putri kandungnya.


Membuat Alexa tumbuh tanpa ibu selama bertahun tahun, jika penolakan Alexa pada Kim adalah hal yang wajar jika anak itu berpikir akan memiliki ibu tiri jika ia menikah nanti. Padahal sebenarnya mereka adalah ibu dan anak kandung yang lama terpisah.


Aiden mendekat, ia mencium kening Kim lalu mencium pipi mungil putrinya, wajah Alexa memang lebih mirip dengannya dibandingkan dengan Kim, namun turunan kulit mulus dan mata indah bocah itu tidak pernah berbohong jika Kim adalah pemiliknya.


Sesekali Aiden merasa geli sendiri, sejauh ini ia memang telah jatuh pada sosok Kim meski gadis itu arogan sekali pun, Kim yang cantik, Kim yang membuat hidupnya akhir-akhir ini tidak berpikir dengan baik, selain ingin memiliki perempuan itu secepatnya.


Kamila yang membuatnya menutup hati sekian lama, hingga sebuah takdir menautkannya pada sosok Kim hingga memiliki keturunan dari perempuan itu.


Takdir yang saling terpaut pikir Aiden, karena Kamila ia menjadi pria jahat dan menodai Kim suatu malam, membiarkan Kim hamil dan melahirkan seorang diri, mengambil bayinya dan memisahkan mereka hingga lima tahun sampai pada Kim yang menyerahkan diri padanya beberapa waktu lalu untuk bertemu dan berdekatan dengan putrinya ia rela menjadi seorang pengasuh.


Kimora yang notabenenya adalah adik dari Kamila sendiri, sungguh ironis. Kini Kim pula yang memenuhi relung hatinya yang lama kosong, Kim yang arogan, Kim yang berani padanya, ia mencintai perempuan itu sekarang bahkan sampai nanti-nanti.


Aiden mengelus pipi Kim dengan lembut, sampai perempuan itu merasa terganggu lalu terjaga.


"Aiden? Kau sudah pulang?" Kim terkejut lalu segera mendudukkan dirinya dari ranjang.


Aiden menutup bibir Kim dengan jari telunjuk agar tidak bersuara. Kim menoleh pada Alexa, putri mereka masih terlelap dengan tidurnya.


"Ayo kita keluar," ajak Aiden dengan suara berbisik, Kim mengangguk lalu mengikuti langkah Aiden yang menggenggam tangannya.


"Kenapa kau pulang selarut ini?" tanya Kim yang menoleh jam besar di salah satu dinding.


"Nama juga lelaki."


"Huuh apa kau menghabiskan waktu di club bersama wanita bayaran mu?" tanya Kim lagi seraya berjinjit mencium aroma bibir Aiden jika ada bau alkohol di sana.

__ADS_1


Aiden terkekeh.


"Aku bahkan lupa kapan terakhir minum!"


Kim berdecak, "Aku tidak percaya."


Aiden menarik pinggang perempuan itu dengan mesra.


"Bagiku, kau alkohol ku mulai sekarang," ucap Aiden menggoda sebelum menyambar bibir Kim yang membuatnya gila.


Mereka berciuman, sampai Kim melepasnya paksa.


"Baiklah, kau bebas menenggak ku jika sudah menikah nanti!" ujar Kim menepuk-nepuk lembut pipi Aiden.


"Aku sudah tidak sabar," balas Aiden kembali mengecup bibir Kim.


"Lupakan, katakan padaku bagaimana Alexa setelah bicara padamu?" tanya Kim serius.


Aiden tampak bernapas panjang.


"Tidak seburuk yang kau pikirkan, percayalah kalian akan kembali akur nanti, jangan dipikirkan, aku dengar kau menampar Hera tadi siang, benarkah?" tanya Aiden heran.


Kim menghembus napas kasar mendengar nama Hera dari bibir Aiden.


"Masih untung tidak ku jambak, memalukan!!! Sikapnya tidak secantik wajahnya, berani sekali dia meracuni Alexa tentang siapa aku, dia tidak tahu saja jika akulah yang paling berhak atas putriku," ucap Kim kesal.


Aiden memeluk Kim dengan gemas.


"Aku mencintaimu, ayo kita tidur!!" ucap Aiden sambil tersenyum.


"Kita?"


"Iya, maksud ku kau kembali ke kamar mu, dan aku kembali ke kamarku!" jawab Aiden cepat.


"Tapi aku belum selesai bicara soal Hera!"


Aiden mengecup bibir Kim dengan cepat, "Jangan biarkan Hera menghiasi mimpi mu malam ini, dan percayalah Hera tidak sejahat yang kau pikirkan, aku akan mengatasinya nanti," balas Aiden sambil mendorong Kim menuju kamarnya.


Kim menatap Aiden tajam. Pria itu lagi-lagi hanya terkekeh dengan parasnya yang membuat Kim kian terlena.


"Aku mencintaimu Kim, tidur dengan nyenyak besok kita akan banyak agenda!" seru Aiden setelah mencium kening perempuan itu sebelum keluar dari kamar Kim.

__ADS_1


__ADS_2