
Eli menggelengkan kepalanya, ia tahu Tuan majikannya itu mulai menyukai Kim sang pengasuh. Perempuan hampir paruh baya itu kagum pada Kim yang tampak menolak sikap Aiden, sedang ia tahu selama ini banyak wanita yang tergila-gila pada lelaki itu namun kenapa Kim malah menolak pikirnya.
"Katakan padaku jika gadis itu bertingkah di rumah ini," ucap Aiden yang menyadari ada Eli di sana.
Eli tersenyum, "Baik Tuan. Tapi selama Nona Kim bekerja di rumah ini, dia perempuan yang baik, tidak banyak bicara apalagi banyak tingkah. Dia fokus pada Nona Alexa saja, dia tampak tidak peduli pada hal lain di rumah ini," sahut Eli dengan wajah tenang.
Aiden terdiam.
"Apa Tuan menyukainya?"
Pada kenyataannya, Eli adalah pelayan terlama yang bekerja di sana hingga ia menjadi pelayan kepercayaan Aiden dan keluarganya.
Aiden diam tapi tidak membantah.
"Tidurlah, ini sudah larut," ucap Aiden dengan nada rendah.
"Sebaiknya Tuan juga segera tidur, semua sudah dibersihkan," ucap Eli seraya menunduk hormat.
"Terimakasih," sahut Aiden sambil melirik sebuah mini bar yang sudah dibereskan Eli dari sisa minumannya.
Keesokan harinya, karena hari Minggu Aiden tidak ke kantor, ia belum bangun dari tempat tidur.
Ia memerintahkan Eli agar menyuruh Kim yang mengantarkan sarapannya ke kamar.
"Tuan Aiden menyuruhmu mengantarkan sarapan ini ke kamarnya," ucap Eli pada Kim yang sedang memakan rotinya di tepi jendela kamar. Gadis itu tampak melamun sambil terus makan roti tanpa ekspresi.
Alexa belum bangun, bocah itu memang suka bangun siang jika hari libur, tidak ada yang berani membangunkannya jika bukan ayahnya.
"Kenapa harus aku?" sahut Kim dingin.
"Tuan Aiden menginginkannya."
"Aku tidak mau!" tolak Kim.
"Selama ini, Tuan Aiden tidak pernah meminta pelayan lain ke kamarnya selain aku, tapi kau berbeda."
Eli tersenyum sambil meraih lengan Kim agar menghadapnya.
"Ayolah, Tuan menunggu mu!" ucap Eli lagi.
Kim berpikir sejenak, barulah ia mengambil alih nampan berisi sarapan itu dari Eli tanpa banyak bertanya lagi.
Pintu kamar diketuk.
__ADS_1
Terdengar suara Aiden menyahut agar langsung masuk, Kim menghela napas panjang meski tidak suka ia harus tetap melakukan itu agar ia masih bisa berdekatan dengan Alexa.
Kim membuka pintu kamar.
Kembali ia menghela napas panjang, Aiden tampak masih berada di bawah selimut tebal.
"Permisi Tuan, ini sarapan mu!" seru Kim dengan suara malas.
Aiden berbalik badan dari posisi tengkurap, perlahan ia duduk menyandarkan diri ke kepala ranjang.
"Kemarilah!" perintahnya dengan suara khas bangun tidur.
Kim mendekat, ia memberikan nampan itu tanpa membantah. Aiden mengambil nampan lalu menaruhnya di atas nakas di samping ranjangnya. Kim melihat itu menjadi kesal.
"Jika tidak ada lagi yang kau butuhkan, aku permisi!" ucap Kim seraya mundur tanpa menatap wajah Aiden.
Namun dengan cepat Aiden menahan dan menarik tangannya hingga Kim terhuyung dan jatuh ke pelukan Aiden di atas tempat tidur pria itu.
"Lepaskan aku!" ucap Kim geram.
Aiden hanya terkekeh seraya menindih tubuh gadis bermata cokelat itu. Lama mereka beradu pandang, Kim segera berpaling saat pikirannya waras.
"Kenapa kau menghindar?" tanya Aiden yang tidak melepas Kim sebentar saja.
"Kau marah padaku?"
"Cih, menjijikkan!" sahut Kim bertambah geram.
"Apa katamu?" Aiden mencengkram pipi Kim agar menghadap wajah nya.
"Iya, kau menjijikkan. Aku membencimu!" kata Kim dengan mata berkaca-kaca.
"Memang siapa kau berani bicara seperti itu padaku!" ucap Aiden kesal.
"Kau pria tidak tahu malu, sudah punya pacar tapi masih menginginkan pembantu seperti ku, dasar serakah!"
"Pacar?" Aiden berpikir sejenak lalu ia terkekeh sambil melepaskan cengkraman tangannya.
"Kau cemburu?" tanya Aiden sambil mengusap bibir Kim dengan lembut.
"Cemburu? Jangan asal bicara, aku kemari untuk Alexa bukan sedang mengejar mu, ingat itu!" bantah Kim.
Aiden tersenyum, "Hera sudah seperti adik bagiku, jangan hiraukan dia. Dia bukan pacarku!" jelas Aiden yang tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Kim yang semakin cantik jika dilihat dari jarak dekat seperti ini.
__ADS_1
"Terserah, aku tidak peduli. Lepaskan aku nanti ada yang lihat!"
"Ini rumah ku, terserah aku mau melakukan apapun siapa yang berani melihat kita?"
Kim ingin menjawab namun lebih dulu pintu kamar terbuka oleh seseorang.
"Papa?"
"Bibi Kim?"
Suara Alexa membuyarkan keduanya, Aiden dan Kim kompak menoleh.
"Alexa!" seru mereka berbarengan.
Kim mendorong tubuh pria itu namun Aiden tidak bergerak sedikitpun.
"Kalian sedang apa?" tanya gadis kecil itu polos. Ia tidak bergerak dari ambang pintu.
Aiden tersenyum setelah memberi kecupan bibir singkat pada Kim sebelum melepaskan gadis itu. Kim kesal luar biasa, ia segera berdiri dan merapikan seragamnya.
"Kami sedang membuat adik, kau mau adik?" canda Aiden sambil menghampiri putrinya.
"Apa?" Kim membesarkan matanya saat mendengar Aiden bicara seperti itu pada putrinya.
Aiden hanya melirik gadis itu dengan senyum miring.
"Dasar tidak waras!" gumam Kim menahan marah.
"Apa aku akan punya adik?" tanya Alexa polos, lagi wajah dingin Alexa semakin membuat bocah itu kian menggemaskan.
"Lupakan apa yang kau lihat, karena kau sudah bangun ayo sekarang kita mandi?" ucap Kim yang langsung mengambil alih Alexa dari Aiden.
Alexa menatap Papanya seolah bertanya.
"Kita menonton TV setelah ini?" ajak Aiden mengalihkan pembicaraan.
Alexa mengangguk.
"Apa Bibi Kim boleh ikut?"
"Tentu saja sayang, sekarang mandilah!" jawab Aiden seraya mengerlingkan matanya pada gadis yang menatapnya dengan tajam itu.
Kim membawa Alexa keluar dari sana tanpa berkata-kata lagi.
__ADS_1
Tidak ada yang tahu pemandangan itu dilihat oleh seorang pelayan lain, Mira. Mira berdecih sambil berpaling lalu ia merogoh kantongnya mengeluarkan ponsel kemudian menghubungi seseorang.