Terjerat Cinta Pengasuh Arogan

Terjerat Cinta Pengasuh Arogan
Bab 12


__ADS_3

Kim membuka mata saat merasa silau di wajahnya yang menghangat karena sinar matahari yang masuk di celah gorden.


Ia duduk dan mengumpulkan nyawa, ia melihat sekeliling tidak ada Aiden di sana, ia merutuki dirinya yang bisa tertidur hingga matahari sudah mulai tinggi.


Kim menghela napas panjang seraya meregangkan otot lengannya, ia turun dari ranjang menuju kamar mandi.


Nyawanya terkumpul, wajahnya sudah dibasuh, namun perutnya terus saja berbunyi karena lapar.


Kim keluar dari kamar Aiden, ia menuju kamar Alexa, benar saja putrinya sudah pergi ke sekolah, Kim tersenyum, Aiden benar-benar tidak mengganggu tidurnya hingga urusan Alexa juga tidak membangunkannya pikir Kim.


Entah kenapa perasaan Kim merasa dijungkir balikkan oleh kejadian semalam. Semula ia benci pada Aiden yang sok berkuasa, suka melecehkannya namun semalam pria itu seperti bukan Aiden yang biasa.


Lelaki itu bersikap lembut padanya, menunjukkan penyesalan atas apa yang telah dilakukan oleh Mira dan Hera.


"Ah, sadarlah Kim," gumam Kim menepuk keningnya sendiri.


Ia menutup pintu kamar Alexa, ia menuruni tangga berniat kembali ke kamarnya dan mencari makan di dapur.


Suasana hening, Kim menuruni anak tangga perlahan dengan raut bingung, tidak biasanya rumah itu sesunyi ini pikir Kim.


"Kemana orang-orang?" tanya Kim heran.


Saat ia melewati ruang tengah, Kim terheran saat mendapat sikap aneh dari para pelayan yang tidak berani menatapnya, bahkan mereka ada yang langsung membungkuk hormat.


"Ada apa dengan kalian?" tanya Kim bingung.


"Nona Kim sudah bangun rupanya, segeralah mandi dan sarapan. Semua sudah disiapkan di meja makan," ucap Eli tiba-tiba menghampiri Kim dengan senyum.


"Apa terjadi sesuatu? Kenapa kalian terlihat berbeda pagi ini?"


Eli terkekeh.


"Sebaiknya mandi dulu, ayo sarapan dan bicara setelahnya."


Jawaban bijak Eli selalu membuat Kim menggeleng kepala, wanita tertua di sana itu pandai berkata-kata.


"Huh baiklah, aku akan mandi," sahut Kim sambil berlalu.


Di meja makan.


"Apa Tuan Aiden yang memerintahkan kalian bersikap seperti ini?" tanya Kim penasaran.


Eli mengangguk saja.


"Bagus, sudah seharusnya kalian tidak menuduhku seperti kemarin, huh aku tidak menyangka Nona Hera sejahat itu, padahal aku tidak melakukan apapun," ujar Kim dengan wajah menahan kesal.


Eli menceritakan tentang Mira yang telah kehilangan pekerjaan karena kejadian semalam.


"Bagus, Mira tidak cocok berada di sini. Dia lebih cocok menjadi presenter gosip, terlalu kepo urusan orang lain, aku tidak suka!" kata Kim dengan senyum.


Eli tersenyum.


"Apa aku terlalu jahat?"


Eli segera menggeleng, "Mira menyesal akan perbuatannya."

__ADS_1


"Sudah seharusnya seperti itu, terkadang kita baru menyadari kesalahan setelah semua terjadi yang membuat permintaan maaf tidak ada artinya, aku sudah biasa mendapat perlakuan seperti ini, aku tidak terlalu sakit hati jadi Mira patut bersyukur aku tidak akan dendam padanya!" jawab Kim terkekeh.


Eli tersenyum lagi.


Mereka bicara banyak, Eli semakin yakin bahwa majikannya telah jatuh cinta pada sosok pengasuh itu, sebab Kim adalah perempuan yang bersikap apa adanya.


"Satu hal, jangan kira aku tidur di kamar Tuan Aiden berarti aku telah menjual diri, kalian salah besar jika berpikir seperti itu, aku kemari untuk Alexa bukan mengejar ayahnya," cetus Kim tiba-tiba.


"Tidak ada yang berpikir kau perempuan seperti itu," sahut Eli.


Kim menyambut Alexa dengan girang, ia merindukan gadis kecilnya itu sebab sudah dua hari ia tidak melayani Alexa karena kejadian kemarin.


Alexa mengajaknya ke kamar untuk mengerjakan pekerjaan rumah dari gurunya, Kim bahagia bisa melihat setiap perkembangan anaknya sejak ia tinggal di sana.


Meski Alexa jarang bicara namun anak itu cukup pandai dalam segala hal, ia termasuk anak yang cerdas menurut Kim, tidak seperti dirinya yang tidak suka pelajaran sekolah, berbeda Alexa malah suka sekali jika diberi pekerjaan rumah dari gurunya.


Lama Kim menemani Alexa belajar, menggambar serta membereskan kamar gadis kecil itu yang berantakan karena mainan.


Eli masuk setelah mengetuk pintu.


"Apa aku mengganggu?" tanya wanita paruh baya itu.


Kim dan Alexa saling menoleh, mereka menggeleng berbarengan.


"Tuan Aiden ingin bertemu denganmu Kim, Tuan menunggumu di ruang kerjanya, beliau pulang lebih awal hari ini," ucap Eli sambil membantu membereskan mainan.


Kim berpikir sejenak.


"Apa kau keberatan jika aku tinggal sebentar?" tanya Kim pada Alexa.


"Tidak, pergilah. Mungkin Papa lebih membutuhkan mu sekarang!"


Jawaban itu membuat Eli tersenyum sendiri.


"Baiklah, aku akan kemari lagi nanti."


Alexa mengangguk saja, ia meneruskan bermainnya dengan raut polos.


Kim mengetuk pintu ruang kerja pribadi Aiden, tidak ada sahutan di sana. Kim memberanikan diri membuka pintu.


Tidak ada siapapun di sana, namun tidak lama Aiden keluar dari toilet yang berada di sudut ruangan.


"Maaf, aku masuk karena tidak ada sahutan dari mu," ucap Kim menunduk.


"Kemarilah."


Kim mendekat.


Aiden menuju meja kerjanya, ia mengeluarkan sesuatu dari laci.


"Apa ini?" tanya Kim saat Aiden menyodorkan sebuah kertas.


"Itu tiket liburan."


"Tiket liburan? Untuk siapa?" tanya Kim lagi dengan raut bingung.

__ADS_1


"Untuk mu," jawab Aiden yang perlahan mendekatinya.


"Apa ini semacam sindiran sebuah pemecatan bagiku?"


Aiden tersenyum, "Aku tidak bilang begitu."


"Lalu kenapa kau memberiku tiket liburan? Tidak masuk akal," sanggah Kim.


"Aku ingin kita pergi berlibur, kau aku dan Alexa."


"Apa?" Kim tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


Wanita itu menatap Aiden dengan raut tidak percaya.


"Anggap saja sebagai permintaan maaf karena sikap ku yang kemarin, aku menyesal," ucap Aiden melemah.


Demi apa Kim mendengar suara dengan nada rendah dari pria itu, Aiden menyesal yang benar saja pikir Kim.


"Soal kemarin, anggap saja kita impas. Aku memaafkan mu!" sahut Kim tegas.


"Kita akan pergi besok!" ucap Aiden yang kini berdiri tepat di hadapan Kim dalam jarak yang cukup dekat.


"Kenapa kau pikir aku mau berlibur denganmu?"


"Kau tidak mau?"


"Aku tidak mau, maksud ku kau terlalu berlebihan dalam meminta maaf. Aku banyak pekerjaan, lagi pula Alexa sekolah bukan?"


Aiden menangkap pinggang Kim hingga menempel padanya, wanita itu merasa denyut jantungnya yang mulai tidak normal.


"Lepaskan aku!"


"Kenapa kau jual mahal sekali?" Aiden menatapnya tidak berkedip.


"Karena wanita memang mahal, tidak pantas dilecehkan seperti ini!"


"Aku tidak melecehkan mu!"


"Kau memelukku tanpa permisi, menyentuhku tanpa izin, dan itu sebuah pelecehan bagiku," bantah Kim.


Aiden frustasi dibuat gadis ini.


"Ya Tuhan, Kim aku menyukai mu aku ingin berdekatan dengan mu apa salahnya?" ujar Aiden kesal sambil melepaskan Kim lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Tapi tidak peluk-pelukan juga bukan?"


"Huh, kau semakin membuatku gila!" ucap Aiden kembali meraih pinggang gadis itu hingga mereka kembali menempel.


"Lepaskan aku!"


"Tidak!" Aiden malah meraih tengkuk Kim lalu membenamkan bibirnya di mulut yang siap mengoceh itu, hingga Kim menjadi bungkam seketika.


Aiden tersenyum melihat Kim terdiam tanpa berkutik.


"Aku rasa aku tahu cara membuatmu diam!" seringai Aiden.

__ADS_1


"Mau apa kau? Lepaskan aku!" ucap Kim menghindar namun terlambat Aiden lebih dulu mencapai bibirnya yang kian membuat pria itu gila.


__ADS_2