Terjerat Cinta Pengasuh Arogan

Terjerat Cinta Pengasuh Arogan
Bab 19


__ADS_3

Kim menatap Aiden tidak suka, ia pergi begitu saja dari hadapan Aiden sambil mengusap sudut matanya yang telah basah.


Aiden menghembus napas kasar, ia mengusap wajahnya sambil geleng kepala.


"Sepertinya aku salah bicara, apa dia sedang PMS hingga cepat tersinggung seperti ini?" Gumam Aiden kesal sendiri.


Keesokan paginya, Kim terkejut luar biasa saat membuka mata, Aiden sudah berada di kamarnya tepat di hadapan Kim saat ini.


Perempuan itu segera mendudukkan diri dan berusaha mengumpulkan nyama dengan bersandar di kepala ranjang.


Aiden tersenyum dengan setangkai mawar di tangannya.


"Selamat pagi calon istriku!" sapa Aiden seraya menempelkan mawar itu ke pipi Kim.


Kim menatap Aiden dengan wajah dingin.


"Ayolah, jangan marah lagi oke? Aku minta maaf soal semalam," ucap Aiden memohon.


Kim mengambil mawar itu.


"Mawar plastik?"


"Iya, aku ambil dari vas bunga mu," tunjuk Aiden pada sebuah vas bunga di sudut kamarnya. Lelaki itu tersenyum padanya.


"Mari lupakan, kau tidak ke kantor?" tanya Kim.


"Aku menunggu mu bangun dulu."


"Alexa?" tanya Kim sambil melihat jam dinding.


"Alexa sedang bersiap," jawab Aiden.


Kim tampak menghembus napas panjang. Ia pikir ia telat bangun.


"Maaf, aku tidur terlalu pulas hingga belum bangun." Kim segera berdiri namun Aiden mencegahnya.


"Eli yang mengurus Alexa, berdirilah perlahan nanti kepala mu bisa pusing jika tergesa-gesa," ucap Aiden sambil menuntun Kim berdiri.


Kim menghangat dengan sikap lelaki itu.


"Aku akan mandi, terimakasih bunga nya."


Aiden tersenyum.


Kim hendak berlalu namun Aiden belum melepas tangannya.


"Aiden," tegur Kim.


"Aku mencintaimu," ucap Aiden pelan sambil meraih tubuh kecil Kim dalam pelukannya.


Kim tersenyum dan membenamkan wajahnya dengan manja di dada Aiden.

__ADS_1


"Kita akan menikah, semua sudah ku persiapkan! Dengan atau tanpa restu Mamaku, kita akan tetap menikah."


Kim menoleh wajah Aiden.


"Walau kau tahu aku adalah adik dari mantan kekasih mu Kamila?" goda Kim.


"Huh, bisakah kau tidak bicara tentang Kamila lagi, nanti aku salah bicara kau juga yang marah!" balas Aiden malas.


Kim tersenyum.


"Baiklah, lepaskan aku. Aku mau mandi."


Aiden menggeleng, ia malah lebih memeluk pinggang Kim bertambah erat.


"Aku rasa kau harus bersabar, setelah menikah kau baru bebas melakukan apapun padaku."


Lelaki itu terkekeh, ia meraih wajah Kim lalu ******* bibirnya dengan gemas, Kim terkejut ia menghindar namun Aiden tidak melepaskan perempuan itu begitu saja.


"Aku bau, belum mandi apalagi sikat gigi. Kenapa kau jorok sekali, aku tidak nyaman!" elak Kim setelah melepaskan diri dari keganasan pria itu.


"Aku tidak peduli, belum mandi saja kau manis apalagi jika sudah mandi nanti, ayo segera mandi setelah itu kita lanjutkan!" ujar Aiden dengan nada bercanda.


Kim mendengar itu langsung mengerjai Aiden dengan bau mulutnya.


Hahhhhhh.


"Astaga Kim, ah kau makan apa semalam ha? Jorok sekali," Aiden terbatuk-batuk dibuat perempuan itu sambil mengibaskan tangannya.


"Katamu aku tetap manis meski belum mandi, dasar tukang gombal."


Aiden tersenyum, ia meraih tubuh Kim lagi dengan gemas, memeluk hingga mencium pipi Kim berkali-kali.


"Aiden hentikan, itu geli!" elak Kim tertawa pelan.


Kemesraan mereka harus berhenti saat terdengar seseorang masuk ke kamar Kim.


"Papa!"


Aiden menoleh, ternyata Alexa sudah di ambang pintu kamar Kim.


"Sayang kau sudah siap?" ucap Kim segera melepaskan diri dari Aiden dan berjalan menghampiri Alexa.


Anak itu diam tanpa ekspresi menatap Kim dengan raut penuh arti.


"Bibi akan mandi dan segera bersiap oke, kau bisa mengajak Papamu sarapan lebih dulu," ucap Kim mengusap pipi Alexa dengan sayang.


Lagi Alexa tidak menyahut. Ia menatap Kim tajam.


"Alexa?" tegur Kim heran saat anaknya tidak juga berkedip menatapnya.


Aiden mendekat.

__ADS_1


"Ayo sayang, kita tunggu Mama mu di meja makan!" ucap Aiden sambil menggendong Alexa dan pergi dari sana.


Kim tercengang, demi apa panggilan Mama yang Aiden sebutkan tadi membuat dada Kim sungguh bahagia mendengarnya.


Matanya panas, tetes bening jatuh di pipinya begitu saja. Kim tidak bisa membayangkan jika Alexa yang memanggilnya seperti itu.


Kim jadi bersemangat pagi ini, ia segera mandi dan berniat menyusul ke meja makan.


Kim turun dari tangga, semua mata tertuju padanya, penampilan Kim berubah layak Kimora yang dulu hidup serba ada.


Perempuan itu mendapat kiriman pakaiannya dari sang Mama, pakaian yang tersimpan rapi di lemari kamarnya yang dulu, semua barangnya disimpan oleh Mama Maharani meski Kim tidak pernah lagi pulang ke rumah itu.


Kim merindukan penampilannya yang dulu, Kim seolah kembali pada jiwanya beberapa tahun lalu sebelum semuanya berubah oleh kesalahan satu malamnya bersama Aiden waktu itu.


Kim tersenyum, ia sesekali mengibaskan rambutnya yang hitam sebahu sengaja ia burai dengan indah.


Dress motif berbunga menyapu lantai dengan gemulai, Kim memakainya tanda hatinya juga sedang berbunga saat ini, berbunga oleh bayangan panggilan mama dari Alexa.


Kim duduk, semua pelayan menunduk. Tidak dengan Aiden yang terpana sejak tadi. Pria itu bahkan tidak berkedip, membuat Alexa mengaduk makanan nya dengan wajah murung.


Anak kecil itu tidak suka melihat ayahnya menatap Kim seperti itu.


"Apa kau baru menyadari aku cantik?" tegur Kim pada Aiden.


Perempuan itu duduk di kursinya dengan anggun.


"Aku bahkan kehilangan kata-kata untuk memberimu pujian," sahut Aiden dengan senyum lebar lalu mencium pipi Kim tanpa malu.


"Oh aku tersanjung Tuan," balas Kim membalas genggaman tangan calon suaminya itu.


"Baiklah ayo kita makan!" ajak Aiden. Kim mengangguk.


"Tapi aku sudah tidak berselera makan!" cetus Alexa.


Kim dan Aiden menoleh, mereka menatap Alexa dengan heran.


"Alexa?" tegur papanya.


Gadis mungil itu menaruh sendoknya dengan kasar.


"Aku tidak suka Papa bicara padanya!"


"Alexa kau kenapa?" tanya Aiden bingung.


"Alexa?" lirih Kim lagi.


"Aku tidak mau Papa menikah dengannya!" tegas Alexa tanpa basa basi.


Kim dan Aiden saling menoleh.


"Sayang ada apa?" tegur papanya lagi.

__ADS_1


"Aku tidak mau punya ibu tiri!"


__ADS_2