
Alexa fokus pada televisi yang sedang memutar film anak-anak. Aiden sibuk menatap Kim yang sedang membereskan mainan putrinya dari meja.
Aiden dan Alexa duduk di atas kursi, sedang Kim duduk di lantai sambil memungut mainan. Lama pria itu berpikir tentang Kim, siapa Kim sebenarnya? Kenapa ia tidak tertarik mencari tahu selama ini, kenapa baru sekarang ia menyadari bahwa pengasuh Alexa itu gadis yang cukup menarik baginya.
Semula Aiden menyangkal, namun kian hari kian ia menyadari bahwa Kim benar-benar menarik perhatiannya. Pengasuh-pengasuh sebelumnya dengan mudah ia pecat hanya karena berbuat satu kesalahan saja.
Namun Kim, bahkan gadis itu dengan jelas menolak dan mencaci maki dirinya tanpa takut, kenapa Aiden tidak berpikir untuk menyingkirkan Kim dari rumah itu, bahkan ia semakin penasaran dibuat pengasuh arogan itu.
Hening, tidak ada pembicaraan apapun sejak tadi hanya suara TV yang mendominasi.
Aiden kembali menatap putrinya, ia menyibakkan anak rambut ke belakang telinga Alexa, gadis kecil yang cantik dan mirip dengannya. Hasil hubungan satu malam bersama gadis yang kini membuat otaknya buntu berpikir.
Sesekali ia membandingkan kecantikan Alexa dan Kim, tidak ada bedanya, semua terlihat sempurna dari segi fisik, yang paling penting keduanya adalah hal yang indah yang hadir dalam hidup pria yang lama membujang karena kehilangan kepercayaan pada wanita itu.
Aiden berdehem, ia menyuruh Kim untuk duduk di kursi.
"Maaf, aku tidak layak duduk bersama majikanku, sudah sepantasnya aku duduk di lantai," sahut Kim merendah.
"Kenapa bicara seperti itu?"
"Bukankah ini bagian dari peraturan yang harus ku patuhi?" sindir Kim.
"Aku bilang duduk di sini!" perintah Aiden sambil menepuk tempat duduk di sampingnya.
Kim menoleh, ia menahan kesal ia tidak mau berdekatan dengan pria itu sekarang, namun ia harus menjaga sikap di depan Alexa.
"Kau tidak mau?" ucap Aiden lagi.
"Maaf, aku di sini saja."
Aiden hanya bisa menghembus napas kasar seraya menggelengkan kepala atas sikap Kim yang seperti ini, jika bukan karen Alexa sudah ia beri pelajaran Kim saat itu juga.
Aiden mendapat telepon dari orangtuanya. Ada urusan keluarga, karena hari libur maka Alexa ia bawa serta.
"Siapkan semua kebutuhan Alexa, kalian akan ikut aku!" perintah Aiden saat kembali pada Kim dan putrinya.
__ADS_1
Kim terkejut, "Kenapa aku harus ikut?" tanya gadis itu.
"Jangan membantah, kau pengasuh Alexa tentu kau harus ikut sebagai asisten yang melayaninya nanti."
"Bukankah selama ini jika kau membawa Alexa pergi tanpa pengasuh?"
"Kenapa kau banyak sekali mengoceh, disini ku majikanmu, ikuti perintah ku!" bentak Aiden kesal, kenapa Kim selalu membuatnya sulit.
"Ayolah Bibi Kim, ikut saja." Alexa menimpali.
"Maaf sayang, Bibi ada janji bertemu teman Bibi siang ini. Apa kau marah?"
Alexa menggeleng, "Tentu saja tidak, ini hari libur para pelayan termasuk kau, kau berhak kemanapun!" balas Alexa polos.
"Kau sengaja menghindari ku?" bisik Aiden mendekati Kim.
"Tidak Tuan, maafkan aku. Aku memang ada janji dengan temanku siang ini."
Kim menjawab dengan pelan pula seraya menunduk hormat. Entah kenapa Aiden tidak suka.
"Baiklah, ayo bersiap kita akan ke rumah Nenek," sahut Aiden mengalah.
Kim tersenyum puas, ia bisa terbebas dari Aiden hari ini.
Setelah menyiap semua keperluan Alexa hingga mengantar gadis kecilnya itu masuk mobil dan pergi bersama pria yang ingin sekali Kim hindari, Kim menelepon Olive.
Karena hanya hari Minggu para pelayan boleh keluar rumah besar itu untuk menyenangkan diri sendiri. Kim ingin memanfaatkan waktu libur ini dengan Olive sahabatnya.
Namun saat Kim kembali sore harinya, ia dibuat terkejut oleh sosok perempuan cantik yang Aiden sebut dengan nama Hera.
"Bagus jika kau kembali dengan cepat, dasar penipu!" ucap Hera dengan raut wajahnya yang tajam.
"Ada apa ini? Apa maksudmu Nona?" Kim heran saat kamarnya digeledah oleh beberapa pelayan yang berdiri bersama Hera.
Eli menghampiri Kim.
__ADS_1
"Mereka menemukan ini di kamarmu," ucap Eli seraya menunjukkan sesuatu dari tangannya.
"Apa ini?" tanya Kim kian heran.
"Jangan berlagak bodoh, aku tahu kau bekerja pasti ada maunya. Ternyata Tuan Aiden telah mempekerjakan pengasuh yang licik, kau mencuri perhiasan Nona Alexa," ucap Mira tiba-tiba.
Kim menatap semua orang yang berada di sana, ia menggeleng.
"Kalian salah, aku tidak melakukan seperti yang kalian tuduhkan. Aku sama sekali tidak mencuri, aku bahkan belum pernah melihat kalung ini," ucap Kim bingung.
"Mana ada pencuri yang mengakui perbuatannya, ini jelas kami temukan di dalam tas mu!" cetus Hera menunjuk kalung di tangan Eli.
"Jadi ini rencana mu datang ke rumah ini, kau tahu berapa harga kalung ini? Ini adalah pemberian dari orangtua Aiden untuk cucu pertama mereka saat ulang tahun Alexa yang pertama," sambung Hera lagi.
Kim semakin bingung.
"Aku tidak mencuri, kalian telah salah menilaiku!" bantah Kim.
Namun Hera dan Mira semakin menyudutkannya hingga Eli tidak bisa membela Kim dalam hal ini, apalagi pelayan lain yang tidak berani ikut campur.
Mira seolah menjadi kaki tangan Hera, ia menyeret Kim ke dalam sebuah gudang di belakang rumah besar itu.
Kim terus membantah namun Hera semakin membuatnya menyedihkan.
"Kau dikurung, karena Aiden belum pulang kejadian ini belum bisa diselesaikan. Kau harus tahu aku adalah calon Nyonya di rumah ini. Aku tidak mau calon anak sambung ku punya pengasuh yang berani mencuri di rumah ini!!!" teriak Hera setelah mendorong tubuh Kim secara kasar hingga Kim tersungkur.
Kim tidak menjawab, ia hanya menatap wajah Hera dengan wajah merah. Ia ingin melawan terasa percuma karena semua orang lebih mempercayai Hera saat ini.
Sebelum Hera mengunci pintu, Kim menatap wajah Mira yang tersenyum puas seolah meremehkan Kimora yang tampak tidak berdaya.
"Selamat bermalam dengan para tikus pengasuh sok cantik," ucap Mira terkekeh dengan tatapan mengejek, lalu ia pergi mengikuti Hera dari sana.
Kim meneteskan airmata, bagaimana bisa kalung itu berada di tasnya pikir Kim.
"Pasti ada yang menjebak ku lagi kali ini!" gumam Kim menangis.
__ADS_1