
Kata orang ada yang lebih menyakitkan daripada sebuah pertemuan singkat dan perpisahan. Itu adalah rindu.
Aku ingin tahu apakah seperti itu rasanya sangat merindukan seseorang? seperti ditusuk sedikit di perut, setiap kali kamu memikirkannya.
Aku benar-benar tidak tahu apa yang sudah terjadi denganku selama beberapa hari terakhir ini.
Aku mulai tidak bersemangat untuk membantu si Mbok dalam berjualan jamu.
Aku yang biasanya sangat suka ketika aku menggoda para pria agar mereka membeli jamu kocok yang selalu aku bawa, aku merasa tidak lagi suka melakukannya.
Tio.
Aku penyebab dari hilangnya rasa semangatku, karena pria yang bernama Tio.
Aku tidak mau tahu dia berasal dari planet mana. Kenapa dia muncul secara tiba-tiba dan membuat aku merasakan getaran yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.
Ada rasa sesak dan rasa tidak nyaman saat aku memikirkan tentang pria itu. Kebenaran yang paling menyedihkan adalah merindukan seseorang dan berharap mereka juga merindukan kita.
Tunggu, apa aku baru saja mengatakan jika aku merindukan seseorang?
"Nduk, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Mbok Sumi sambil menghampiriku yang sedang duduk dan menikmati semilir angin sawah di belakang rumah.
"Aku baik-baik saja mbok, hanya menikmati sisa waktuku berada di desa dan merasakan ketenangan yang ada." Ucapku sambil tersenyum.
"Apa kamu merindukan pria yang sempat ingin melamar si mbok ya?" Tanya Mbok Sumi yang membuat aku terkejut.
"Mbok Sumi ngomong apa sih?" Ucapku sambil berusaha menenangkan diri agar Mbok Sumi tidak melihat wajahku yang mulai memerah.
Ditempat lain, Aku tidak tahu jika dia juga sedang berbincang dengan Ibunya.
IbuTio dan si Mbok malam itu seolah-olah seperti satu orang yang memiliki dua raga terpisah.
Mereka sama-sama memberikan nasehat kepada aku dan Tio.
"Pilih pasangan yang bisa menertawakan dirinya sendiri dan bisa melihat sisi lucu dari segala sesuatu, bukan menertawakan orang lain. Pada akhirnya, cinta akan tumbuh menjadi sesuatu yang stabil. Saat tidak ada lagi getaran dan detak jantung berdebar ketika menatap matanya, perekat cinta yang paling awet adalah tertawa. Saling tertawa dan tidak terlalu kaku mengarungi bahtera rumah tangga. Kalian akan tetap merasakan cinta, kenyamanan dan menikmati serunya hidup bersama."
Aku tiba-tiba membayangkan wajah Tio yang selalu saja tertawa dalam setiap momen.
"Memilih pasangan hidup merupakan salah satu hal paling krusial bagi sebagian besar orang. Sebelum menentukan untuk menuju ke jenjang yang lebih serius, kamu harus menemukan siapa orang yang tepat dijadikan pasangan. Bijak dalam memilih pasangan hidup yang sesuai dengan karakter masing-masing dan bisa membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik."
__ADS_1
Aku memejamkan mata dan berusaha menghilangkan bayangan Tio dari dalam pikiranku.
Namun sepertinya semesta tidak ingin aku menghilangkan bayangan dirinya dalam pikiranku. Karena, semakin keras aku berusaha, bayangan Tio semakin merasuki pikiran ku.
"Aku tidak tahu apa yang istimewa darinya, aku hanya merasa begitu bahagia mengenalnya dan ada perasaan semacam rindu." Ucapku setelah aku lelah melawan dan mencoba menghilangkan bayangan Tio dari dalam pikiran ku.
"Kenalilah laki-laki dari perbuatannya dan bukan dari ucapannya, serta kenalilah cintanya dari matanya, bukan lisannya." Ucap Mbok Sumi.
"Kamu masih muda, perjalanan kamu masih panjang, Mbok harap kamu bisa menemukan seseorang yang tepat untuk menjadi pendamping hidup kamu."
"Aku bisa saja tak sejalan dengan orang-orang di sekitarku. Namun bagaimana jadinya jika aku tidak sejalan dengan orang yang menjadi pendamping hidupku." Ucapku.
"Jika menikah hanya karena cinta kelak kamu akan mengalami suatu kebosanan dan kejenuhan dengan pasanganmu."
"Jika menikah hanya karena wajahnya yang rupawan, kelak kamu akan merasakan ketidakpuasan dari penampilan pasanganmu dan melihat orang lain lebih baik dari pasanganmu."
"Standar duniawi tak menjamin kebahagiaan dalam rumah tanggamu kelak. Semakin kamu perkuat standar itu, bukanlah kebahagiaan yang tercipta, tapi malah sebaliknya."
Aku terdiam dan mulai berpikir tentang apa yang membuatku jatuh cinta kepada Tio.
"Kalau saran si Mbok, jangan hanya melihat satu pria saja. Kamu perlu bertemu dan mengenal beberapa pria lain agar kamu bisa mengetahui mana yang cocok untuk hidup bersama dengan mu."
"Pertahankan mereka yang memperlakukan ibunya layaknya ratu. Karena itu adalah cerminan perlakuannya kepada kamu, setelah kamu dan dia menikah."
Mbok Sumi kemudian meninggalkan aku seorang diri.
Merindukan seseorang bukanlah tentang berapa lama kamu tidak melihatnya atau berapa kali kamu berbicara dengannya. Ini tentang momen ketika kamu melakukan sesuatu dan berharap mereka ada di sana bersamamu.
Mutia melangkahkan kakinya keluar rumah dan sedikit berjalan menjauh dari sana. Hal yang sama juga dilakukan Tio, setelah dia berbicara tentang memilih pasangan yang tepat dengan Ibunya.
Hujan tiba-tiba datang seolah-olah ingin memberikan isyarat kepada keduanya, bahwa mereka masih terhubung satu sama lain walaupun jarak memisahkan.
Merindukanmu itu seperti hujan yang datang tiba-tiba dan bertahan lama. Dan bahkan setelah hujan reda, rinduku masih terasa.
Tio, entah bagaimana denganmu. Tapi aku benar-benar merindukanmu. Aku berharap kamu aku disini, berdiri denganku dibawah hujan malam ini. Sehingga aku bisa mengatakan betapa aku merindukanmu.
Rindu....
Perasaan ini semakin hari semakin memenuhi seluruh ruang dan menyita pikiran ku.
__ADS_1
Tio...
Apakah kamu di sana juga merasakan kerinduan yang sedang aku rasakan. Atau justru kamu sudah menemukan wanita lain yang saat ini bisa membuat kamu melupakan aku.
Ah...
Apa yang terjadi padaku, kenapa aku sangat merindukan seseorang yang bahkan sebelumnya tidak pernah aku harapkan kehadirannya dalam hidupku.
Tio...
Kamu sudah berhasil memporak-porandakan pikiranku dan mengocok-ngocok hatiku.
Kamu harus bertanggung jawab atas itu, kamu benar-benar membuat ketenangan yang selama ini aku rasakan menjadi hilang.
Rasanya aku sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu lagi.
Semesta, apakah kamu akan membuat aku bertemu kembali dengan Tio?
Akan kah kisah cinta ini akan berlanjut pada hubungan yang jauh lebih indah dari sekedar mengagumi dan mencintai dalam diam?
"Mutia?"
Aku menoleh dan betapa terkejutnya aku saat melihat Amar.
"Amar?"
"Mutia? jadi benar kamu adalah Mutia. Apa yang kamu lakukan dan kenapa kamu bermain hujan di malam hari? apa kamu takut jika nanti kamu masuk angin dan jatuh sakit?" Tanya Amar sambil mendekati aku dan memayungi aku.
"Amar, apa kamu lupa jika aku adalah penjual jamu kocok. Jadi, aku yakin aku tidak akan sampai jatuh sakit karena aku sudah memiliki racikan minuman sendiri."
Aku tersenyum, dan siapa sangka jika senyuman itu justru menciptakan getaran-getaran tidak biasa dalam diri Amar.
Oh tidak. Semesta, Aku mohon jangan membuat Amar salah pengertian atas senyuman yang baru saja aku berikan.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...