TERJERAT CINTA PENJUAL JAMU KOCOK

TERJERAT CINTA PENJUAL JAMU KOCOK
Bukti Cinta Amar


__ADS_3

"Nduk, ini sudah sesuai waktu yang kita sepakati untuk memperkenalkan kamu dengan anak sahabat mama."


"Ma, jujur saja Mutia masih belum siap untuk mama perkenalkan dengan anak sahabat mama."


"Mutia bukankah kita sudah sepakat untuk mempertemukan kamu dengan anak teman Mama setelah kamu lulus sidang skripsi?"


"Entahlah."


"Apa kamu masih berharap bisa bertemu dengan pria itu di kota ini?"


Mutia memang sempat menceritakan tentang dirinya dan juga Tio, Mutia berharap dengan kisah cinta yang bahkan belum sempat dimulai dengan Tio. Bisa merubah keputusan sama mama yang ingin menjodohkannya dengan anak sahabatnya.


"Mutia, Mama tahu rasanya ketika kita berharap untuk bisa bertemu dengan seseorang. Tapi, kita juga tidak boleh terlalu berharap pada sesuatu yang sangat mustahil untuk kita dapatkan."


"Ini sudah hampir 3 bulan dan kamu juga belum menemukan tanda-tanda ataupun petunjuk bahwa kamu akan menemukan pria itu."


"Ya, seandainya saja dulu aku sempat mengatakan tentang di mana dia tinggal atau setidaknya, perusahaan mana yang dia kelola. Mungkin aku bisa menemukannya sekarang."


"Tidak apa apa, sebari menunggu kamu bertemu dengan pria itu. Jalani saja apa yang ada, lagi pula ini hanya pertemuan biasa. Kami tidak akan mendesak kalian untuk bisa menjadi pasangan suami istri jika memang kalian merasa bahwa tidak ada kecocokan di antara kalian."


"Apa Mama yakin dengan apa yang baru saja Mama katakan?"


"Tentu saja nak, mama dan sahabat Mama sudah sepakat bahwa ini hanyalah pertemuan biasa untuk saling mengenalkan kalian. Jika memang kalian merasa bahwa ada kecocokan satu sama lain, tentu saja kami akan sangat bahagia karena ternyata kalian akan menjadi pasangan suami istri."


"Kami juga sepakat jika ternyata kalian tidak memiliki kecocokan satu sama lain, kami tidak akan pernah memaksa kalian."


Mutia yang merasa bahagia langsung menghampiri mamanya dan memeluknya.


"Terima kasih ma karena sejak dulu mama tidak pernah menentukan jalan mana yang harus aku pilih."


"Nak, ini adalah hidupmu. Kamu bebas melakukan apapun dan memilih jalan manapun yang kamu inginkan, selama itu membuatmu nyaman dan membuat kamu merasa bahagia. Kami sebagai orang tua hanya bisa memperhatikan dan menjaga kamu dari jauh, sehingga saat jalannya kamu pilih membuat kamu merasa rugi di kemudian hari. Kami bisa mengingatkan dan mencegah hal itu terjadi."


"Sama hanya dengan perjodohan yang akan kami lakukan terhadap kamu dan juga anak dari sahabat mama. Kita ibaratnya hanya memberikan jalan kepada kalian, selebihnya kalian sendiri yang menentukan. Jika memang kalian tidak bisa untuk bersama, maka kalian bisa mengenal untuk menjadi seorang teman ataupun sahabat."

__ADS_1


"Mama benar."


Saat ibu dan anak itu masih berbicara tentang masa depan Mutia, Ayah Mutia datang untuk memberitahukan bahwa Amar sedang berada di luar rumah.


"Amar?" ucap mama dan Mutia bersamaan dan saling berpandangan tentunya. Mereka terkejut sekaligus tidak menyangka saat Ayah Mutia mengatakan jika amal sudah berada di depan rumah.


Mutia dan mama bertugas untuk turun dan menemui Amar.


Setelah berbasa-basi, mama dan ayah Mutia harus pergi keluar karena pekerjaan sudah menunggu mereka.


"Amar, apa yang kamu lakukan di sini?"


"Mutia, ini adalah salah satu bentuk bukti cintaku terhadap kamu? aku datang jauh-jauh dari desa dan berusaha untuk mencari alamat rumahmu agar kamu tahu bahwa cintaku benar-benar tulus dan aku tidak pernah main-main dengan itu."


"Amar..."


"Mutia, Aku tahu kamu masih mengharapkan pria yang bernama Tio."


"Tunggu, dari mana kamu tahu soal Tio?" tanya Mutia yang sedikit terkejut karena memang sebelumnya Mutia tidak pernah memberitahukan bahwa nama pria itu adalah Tio.


"Mutia, Aku tidak akan pernah berhenti untuk membuktikan betapa aku mencintaimu dan hanya akulah yang pantas mendampingi hidupmu."


"Aku tidak akan membiarkan orang kota itu berhasil mendapatkan hatimu."


Amar terus saja berbicara dengan pembuktian cintanya kepada Mutia, sementara yang dilakukan Mutia adalah tersenyum dan tidak menyangka jika Tio akan benar-benar menepati janjinya untuk kembali ke desa.


Sedetik kemudian Mutia merasa sedih karena ternyata dirinya pergi lebih cepat. Seandainya saja, dia mau menunggu beberapa hari lagi. Mungkin ceritanya tidak akan seperti ini.


"Mutia, Aku tahu tidak semua orang berani berkata 'tidak' atas setiap permintaan yang diberikan orang lain. Penyebabnya bermacam-macam, seperti merasa tak enak hati menolak ajakan atau permintaan tersebut, merasa sungkan, atau bahkan khawatir membuat orang lain marah atau kesal jika menerima penolakan."


"Katakan saja apa yang kamu ingin katakan walaupun jawaban kamu tidak akan pernah seperti yang aku harapkan."


"Amar, jika memang kamu sudah mengetahui tentang jawaban yang akan aku berikan kepada kamu. Kenapa kamu masih berusaha untuk membuktikan cintamu kepadaku?"

__ADS_1


"Aku tidak tahu, aku hanya merasa bahwa kamulah yang pantas menerima besarnya cintaku ini."


"Amar, Bukankah kamu sendiri yang mengajak kita untuk menjadi seorang sahabat dan akan tetap menjadi sahabat selamanya?" ucapan seolah-olah ingin mengingatkan Amar tentang janji yang dulu pernah mereka buat.


"Aku menolak untuk menyenangkan orang lain dengan mengorbankan kesejahteraan emosional. Bahkan jika itu berarti mengatakan "tidak" kepada orang-orang yang terbiasa mendengar 'ya'."


"Mutia. Maaf aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kamu ucapkan."


"Amar, walaupun seandainya aku mencintaimu juga, aku tetap tidak akan bisa menerimamu sebagai pasangan hidupku. Karena itu artinya aku akan menyakiti seseorang yang lebih dulu mencintai kamu dan selalu membanggakan kamu ketika dia bercerita denganku."


"Kamu tidak sedang membicarakan Putri kan?"


"Amar, seandainya saja kamu dapat melihat ketulusan cinta Putri yang dia berikan kepada kamu. Mungkin kamu bisa menjalin hubungan yang bahagia."


"Mutia kenapa kamu tidak memberikan aku kesempatan untuk membuktikan diri bahwa cintaku yang paling pantas untuk kamu miliki?"


"Amar, jika saja kamu mau memperbaiki hubunganmu dengan kedua orang tuamu terutama ibumu. Mungkin aku akan mempertimbangkan kamu untukmu berikan kamu kesempatan dalam membuktikan cinta yang kamu miliki kepada aku."


"Mutia, cintaku padamu tidak ada hubungannya dengan perlakuan aku terhadap ibuku. Aku akui hubunganku dengan ibuku memang tidak terlalu baik karena aku yang tidak bisa bersikap lembut kepadanya. Tapi kamu harus tahu alasan aku melakukan itu karena aku kecewa terhadap ibu yang selalu tidak pernah bisa memahami diriku."


"Jika seorang wanita yang melahirkan kamu saja bisa kamu perlakukan dengan tidak baik saat dia tidak bisa memahami keinginanmu. Bagaimana dengan aku?"


"Aku adalah orang baru yang tidak mengenal sifatmu seperti ibu yang mengenal sifat dan karakter kamu."


Deg !!


Perkataan Mutia benar-benar seperti belati yang menusuk hati Amar.


"Sikap seorang pria bisa dinilai dari bagaimana cara dia memperlakukan ibunya. Jika dia memperlakukan ibunya dengan sangat baik dan terhormat, tetap sama saat dirinya merasa marah dan kecewa. Itu akan menjadi cerminan bagaimana sikapnya kelak terhadap pasangan hidupnya."


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2