TERJERAT CINTA PENJUAL JAMU KOCOK

TERJERAT CINTA PENJUAL JAMU KOCOK
Salah Orang


__ADS_3

"Aku menemukan nya."


"Benarkah?"


"Lihat saja."


Tolip dan beberapa pasukan khusus lainnya yang sedang berada di ruang rahasia, segera menuju meja tempat di mana salah satu anggota mereka menemukan informasi mengenai Mutia.


Tolip memperhatikan data tentang wanita yang bernama Mutia Saraswati. Tolip sebenarnya sedikit ragu dengan informasi yang didapatkan oleh rekan kerjanya itu.


Tapi tidak ada salahnya Tholib mencari tahu secara langsung apakah benar Mutia Saraswati adalah Mutia yang sama yang menjadi tetangganya di desa.


Tolip segera mencatat tempat Mutia Saraswati menimba ilmu di salah satu fakultas terbesar di kota itu.


Tolip menyamar sebagai mahasiswa juga untuk mempermudahkan dia memasuki area kampus.


Seberapa pasukan rahasia juga dilibatkan dalam hal ini. Mereka menyebar dan berbaur dengan mahasiswa lainnya agar bisa dengan mudah menemukan keberadaan Mutia.


"Mutia, awas aja jika aku benar-benar bisa menemukan kamu. Aku pasti akan memarahimu hingga titik darah penghabisan. Kamu sudah menyita waktu kerja sangat banyak." Ucap Tolip sambil terus mencari orang yang bernama Mutia Saraswati.


Beberapa dari pasukan khusus yang dibentuk oleh Tholib juga sedang berusaha mencari wanita yang bernama Mutia Saraswati.


Mereka memutuskan untuk mendekati teman yang kemungkinan menjadi teman satu kelas Mutia.


Hingga bolehkah kamu udah mendapatkan informasi bahwa Mutia baru saja memasuki kelas seni.


Tolip pasukan lainnya segera berkumpul untuk menunggu kedatangan Mutia.


Mereka memutuskan untuk duduk bersantai di depan kursi yang ada di rumah kelas seni.


"Kalian semua sudah hafal dengan wajah Mutia yang aku berikan?" tanya Tolip


"Sudah."


"Bagus."


Tolip dan pasukan rahasia lainnya mulai memperhatikan mahasiswa yang perlahan keluar dari ruang kelas.


Tolip dan yang lainnya menajamkan pandangan untuk bisa segera menemukan wanita yang bernama Mutia.


"Mutia..." Tolip yang tidak tahan lagi akhirnya memilih untuk berteriak.


Hingga seorang gadis yang berjalan keluar paling terakhir terkejut saat mendengar namanya dipanggil.


Tolip langsung berbalik badan setelah melihat wanita yang bernama Mutia Saraswati, bertubuh aduhai.


Lipatan demi lipatan yang terbayang jelas di bayangan Tolip, membuatnya mengajak semua pasukan rahasia untuk pergi dari sana.


"Geng, sebaiknya kita segera pergi sebelum Mutia Saraswati mengetahui jika aku baru saja memanggil namanya."

__ADS_1


"Ada apa?"


"Kita sudah salah orang." Ucap Tolip yang segera pergi dari sana.


Sial, Bagaimana bisa mereka tidak mendapatkan foto mengenai Mutia Saraswati. Jika mereka memiliki fotonya tentu aku bisa memprediksi apakah dia benar Mutia yang berasal dari desa atau bukan.


Tolip memejamkan mata karena merasa bahwa dirinya kurang detail dalam mencari informasi yang ditemukan oleh para pasukan rahasianya.


Jika saja Tolip memerintahkan kepada seluruh pasukan rahasia untuk mencari juga foto wajah yang bernama Mutia, mungkin Tolip tidak perlu melakukan investigasi secara langsung dan akhirnya kecewa karena ternyata Mutia yang ada di di hadapannya berkali-kali lipat lebih besar dari aslinya.


"Maafkan aku bos, karena sampai detik ini aku masih belum berhasil menemukan Mutia."


...----------------...


Tio mulai terbiasa dengan kehadiran Sabrina. Sabrina yang ternyata menjadi manajer di perusahaan cabang yang baru milik Tio, membuat keduanya jadi lebih sering bertemu karena Tio harus memantau perkembangan perusahaan yang baru rilis itu.


Tolip yang melihat kedekatan antara Tio dan Sabrina, menyelipkan doa agar Sabrina bisa membuat Tio melupakan Mutia.


"Walaupun ini terdengar doa yang sangat memaksa, Aku harap Tuhan mau membalikan hati Bos Tio agar bisa menggantikan posisi Mutia di hatinya dengan Sabrina." ucap Tholib saat dia melihat Tio dan Sabrina sedang berbicara membahas perusahaan yang baru rilis itu.


"Sabrina Aku tidak menyangka jika bakat yang kamu miliki benar-benar membuat perusahaan ini terlihat keren," puji Tio.


"Ah tidak juga, Aku melakukan ini karena memang aku harus menyeimbangi dengan pemimpin dari perusahaan tempat aku bekerja."


"Kamu bisa saja."


"Oh ya Tio, minggu depan aku akan mengadakan reuni angkatan SMA kita di rumahku. Jika kamu tidak keberatan datanglah dan kita bernostalgia bersama."


"Tio, jika ternyata suatu saat aku dan kamu bisa menjalin hubungan yang lebih dari sahabat. Apakah kamu akan menerima itu?" tanya Sabrina.


"Tentu saja aku akan menerimanya, siapa yang tidak mau dengan wanita cantik dan juga pintar seperti kamu Sabrina," ucap Tio sambil tersenyum ke arah Sabrina.


"Benarkah?" tanya Sabrina dengan mata berbinar-binar.


"Tentu saja, jangankan nanti, sekarang saja jika kamu mau merubah status kita yang awalnya menjadi seorang sahabat menjadi seorang pasangan pun aku bersedia."


"Tio ..."


"Sabrina maukah kamu menjadi pasanganku?"


Sabrina tertegun, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja dia.


Sabrina tersenyum dengan mata yang bersinar-sinar.


"Sabrina...?"


"Sabrina?"


Tio menjentikkan jarinya tepat di wajah Sabrina, hingga kemudian Sabrina sadar jika yang terjadi tadi hanyalah sebuah halusinasinya saja.

__ADS_1


"Ah iya, Maaf sampai di mana pembicaraan kita tadi?"


"Tadi aku mengatakan kepadamu bahwa aku pasti akan datang. Lagi pula siapa yang akan melewatkan momen yang jarang sekali terjadi," ucap Tio.


"Aku juga mengatakan apakah rumahmu sudah pindah karena saat aku melihat alamat yang tertera di sini sudah berbeda dengan alamat terakhir yang aku ingat," ucap Tio sambil menunjukkan sebuah kertas yang berisi alamat rumah Sabrina.


"Iya, setelah bekerja selama 5 tahun menjadi manajer. Aku bisa membeli rumah kalaupun itu hanyalah rumah kecil."


"Bagus, seperti apapun bentuk rumahnya asal itu hasil jerih payah sendiri. Kita pasti akan merasa bangga."


"Ya, kamu benar. Jadi sampai ketemu minggu depan," ucap Sabrina sambil segera berlalu meninggalkan Tio untuk menutupi rasa malunya karena tadi dia sempat membayangkan hal yang tidak seharusnya dia bayangkan.


Astaga, sebenarnya apa yang sudah terjadi kepadaku. bagaimana bisa aku membayangkan hal yang begitu memalukan. Untung saja itu hanyalah khayalanku, Bagaimana jika aku benar-benar mengatakan itu kepada Tio. Ah, mau ditaruh mana muka aku ini.


...


Tio dan Tolip kini dalam perjalanan kembali pulang setelah memastikan bahwa perusahaan yang baru rilis itu berjalan sesuai rencana.


Tio menyempatkan diri membuka ponsel yang sudah beberapa hari tidak dia buka.


Tio sepertinya menantikan balasan dari aku MNM, atau sekedar menantikan postingan berikutnya yang sangat membuat dia penasaran akan sosok itu.


Benar saja, saat ia membuka sosial media miliknya. Akun MNM sudah mengirimkan balasan atas pesan yang dikirimkan oleh Tio. Dan juga sebuah postingan yang baru dibuat satu hari yang lalu.


...Sebagai manusia biasa kita pasti memiliki rasa yang sulit sekali dijelaskan secara rasional, yaitu rindu. Ya gimana enggak, kadang ketika baru saja ketemu juga sudah langsung rindu. Namun, bagaimanapun rasa ini harus diryukuri karena menjadi berkah tersendiri bagi kita sebagai manusia....


...Hal yang lebih menyakitkan adalah ketika kita hanya bisa menahan rindu dan tidak tahu kapan rasa rindu itu akan terobati....


Tio merasa bahwa pemilik akun tersebut benar-benar mengalami hal yang sama sepertinya, Tio kemudian memutuskan untuk membuka pesan pribadi untuk membaca pesan apakah yang dikirimkan oleh akun tersebut.


...Nanti akan aku ceritakan padamu, ...


...tentang penantian yang...


... tak kenal akhir waktu, ...


...sebab cinta bukan soal kapan, ...


...tapi ...


...ketika Tuhan...


... sudah menetapkan....


"Akun MNM, sebenarnya siapa dia?" lirih Tio.


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2