TERJERAT CINTA PENJUAL JAMU KOCOK

TERJERAT CINTA PENJUAL JAMU KOCOK
Salah Paham


__ADS_3

"Cyila hentikan." Ucap Tio.


"Tio, apa kamu sudah buta. Lihatlah akan yang cantik ini, apa kecantikanmu tidak bisa memikat hati sehingga kamu memilih melamar nenek yang sudah tua?"


"Aku tidak sedang melamar nenek itu, kamu sudah salah paham karena sejatinya aku ingin melamar cucunya."


"Tidak, tidak Tio. Aku tidak akan membiarkan kamu melamar siapapun karena kamu hanya boleh bersanding dengan ku."


"Dih, memangnya kamu siapa?" Tanya Tio.


"Aku Cyila. Wanita yang akan menarik perhatianmu sehingga kamu akan berlutut di hadapanku."


"Jangan mimpi." Ucap Tio sambil berlalu pergi dan berbalik menemui Mutia.


"Mutia..." Tio terkejut saat dirinya tidak menemukan Mutia.


"Dia sudah berangkat untuk berjualan jamu." Ucap Tolip.


"Loh, bukannya aku sudah membeli semua jamunya?" Ucap Tio.


"Ya, Bos kan hanya mengatakan akan memberi semuanya. Tapi bos belum memberikan uangnya dan kesepakatan di antara kalian belum terjadi. Jadi ya, Mutia menganggap bahwa Bos tidak benar-benar ingin membeli semua jamunya."


Tio menepuk dahinya sendiri kemudian dia bergegas mencari keberadaan Mutia.


Namun, belum sempat Tio melangkahkan kakinya lebih jauh untuk mencari keberadaan Mutia. Cyila dengan cepat menghentikan langkah Tio.


Cyila segera menarik tangan Tio dan membuatnya berhenti melangkah.


"Cyila, kamu apa apa sih?" Ketus Tio.


"Kamu dong yang apa apaan. Aku sudah jauh-jauh datang dari kota ke desa ini hanya untuk mencari dan menemui kamu."


"Ya, suruh siapa kamu datang ke sini mencari aku. Aku tidak meminta kamu untuk datang ke sini?"


"Iya, aku datang ke sini khusus untukmu karena..." Cyila terlihat berlenggak-lenggok dan melakukan gerakan memutar di depan Tio.


"Cyila, ini bukan panggung hiburan. Kamu tidak perlu menunjukkan bakat kamu di sini, karena tidak akan ada yang menilai dan menjadikan kamu juara."


Cyila langsung cemberut dan menatap tajam Tio.


"Tio, apa kamu tidak melihat perubahan yang ada dalam diriku?"


"Ya, bagaimana bisa aku melihat perubahan di dalam, jika kamu tidak menunjukkan isi yang ada di dalam." Lirih Tio.


"Jika Tio ingin melihat perubahan yang ada di dalam. Aku akan dengan senang hati menunjukkannya." Ucap Cyila sambil tersenyum dan mengedip-ngedipkan mata.

__ADS_1


"Kamu kenapa? kelilipan?" Tanya Tio.


"Tio, kenapa sih kamu itu tidak mengerti isyarat cinta dan bahasa tubuh yang menunjukkan itu adalah cinta?" Tanya Cyila.


"Cyila, kenapa kamu tidak menjadi guru cinta saja?"


"Bagaimana jika aku akan menjadi guru dan kamu yang menjadi muridnya. Bersama, kita akan membahas tentang segala bentuk cinta. Terutama cinta kita."


"Cara bicara kamu seolah-olah kamu mengetahui segala tentang cinta."


"Tio, aku mengetahui semuanya tentang cinta?" Ucap Cyila dengan bangga.


"Oh ya?"


"Tentu saja."


"Kalau begitu, apa itu cinta?"


"Cinta sangat identik dengan perasaan kasih sayang, suka, dan sebagainya. Semua orang pastinya juga pernah merasakan cinta, mulai dari bayi, remaja, dan juga dewasa. Cinta tentunya ada pada masing-masing individu, namun cara mengungkapkan sebuah cinta juga akan berbeda-beda. Cinta tidak hanya membahas persoalan pasangan, namun di dalam sahabat dan keluarga juga terdapat cinta."


"Itu kan *******..."


"Teori." Pekik Tolip dan Cyila.


Tio hanya nyengir kuda sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Tolip menatap Tio karena dia ingin tahu apa yang sebenarnya di rencana oleh Tio. Tio memberikan kode dengan mata nya.


Ah jadi bos akan membuat Non Cyila sibuk, sehingga nanti dia bisa mengejar Mutia.


"Setiap orang memiliki berbedaan pemahaman soal cinta. Hal ini tentunya akan membuat bingung, terutama bagi orang yang tidak mengetahui arti sebenarnya dari cinta. Jadi, apa itu cinta?" Tanya Tio.


"Bila dijabarkan secara umum, cinta ini tidak memiliki arti yang konkret. Cinta itu tidak bisa dilihat secara nyata, namun hanya bisa dirasakan pada setiap orang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), cinta adalah suka sekali, sayang benar, kasih sekali, terpikat, ingin sekali, berharap sekali, rindu, khawatir, dan risau."


"Pada dasarnya cinta termasuk dari bagian hidup kita. Tidak mungkin seseorang hidup tanpa cinta dan kasih dari orang-orang di sekitarnya. Contohnya seperti ibu kita sendiri. Tidak mungkin seorang ibu tidak cinta kepada anaknya, dan juga sebaliknya."


Cyila boleh terlihat menjelaskan dengan panjang lebar apa itu cinta. Tio memberikan kode kepada Tolip agar mereka pergi secara diam-diam.


Tio dan Tolip mulai berjalan dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara agar Cyila tidak menyadari jika mereka berdua sudah pergi meninggalkannya, dan membiarkan Cila berbicara sendiri.


Beberapa orang yang lewat tentu saja tersenyum karena mengira Cyila adalah orang gila yang baru saja masuk ke dalam desa mereka, mengingat Cyila terus saja berbicara tanpa melihat ke arah belakang. Dimana Tio dan Tolip sudah pergi dari sana


Tio dan Tolip tertawa terbahak-bahak saat melihat beberapa orang yang melintas mengira bahwa Cyila gila.


"Bos kenapa jahat sekali dengan Non Cyila."

__ADS_1


"Biarkan saja. Sekarang aku harus mencari pujaan hatiku agar dia tidak dikocok oleh orang lain."


Mutia terus berjalan sambil menggendong jamu, kali ini dia tidak berteriak seperti biasanya.


Entah kenapa, Mutia merasa kesal dengan kejadian di mana Tio tiba-tiba ditarik oleh Cyila.


"Dasar orang kota, baru juga menyatakan cinta dan belum mendapatkan jawaban. Sudah ketahuan ada wanita lain. Mau nya apa coba." Ketus Mutia.


Mutia memutuskan untuk duduk di rumah bambu yang ada di pinggiran sawah.


Sebenarnya dagangan Mutia sudah habis sebagian karena diborong oleh orang yang sedang membuat acara ibu-ibu lansia. Hanya saja, Mutia enggan untuk kembali karena masih merasa kesal dengan tingkah laku Tio.


Tolip menemukan Mutia dan melihat Mutia sedang berbicara seorang diri sambil menunjukkan rasa kekesalannya.


"Bos, sepertinya Mutia sudah salah paham tentang bos dan Nona Cyila."


"Dari mana kamu tahu?"


"Lihatlah, itu Mutia sedang berbicara sendiri sambil menunjukkan tingkah laku yang mengarah pada kekecewaan."


Tio tersenyum penuh kemenangan, dia kemudian mengkode kepada Tolip agar mengawasi Cyila.


"Ingat, jangan sampai Cyila menemukan keberadaan aku dan Mutia. Aku tidak ingin wanita centil itu mengganggu momenku bersama dengan Mutia."


Tio segera berjalan dan berdiri di belakang Mutia.


Tio terus mendengarkan omelan Mutia perihal dirinya.


"Memang benar kata si Mbok. Cowok kota itu mata keranjang."


"Kata siapa?" Tanya Tio.


"Ya itu to, ada pria kota yang baru saja menyatakan perasaannya kepadaku. Bilangnya mau serius dengan perasaannya, tapi ternyata pria itu justru sudah memiliki kekasih. Mana kekasihnya centil merintil."


"Percayalah, pria itu benar-benar mencintai kamu."


Jret....


Mutia langsung menoleh ke belakang, Tio tersenyum manis.


"I love you, Mutia. jangan salah paham. percayalah, cinta kang mas hanya untuk kamu."


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2