
Tio yang penasaran dengan perasaan Sabrina yang sebenarnya. Memutuskan untuk mengajak Sabrina jalan-jalan setelah acara reuni selesai.
"Aku tidak mengerti dalam rangka apa kamu mengajak aku untuk berjalan-jalan?" tanya Sabrina yang merasa sangat senang saat Tio mengajaknya jalan-jalan.
"Tidak ada, aku sudah memutuskan untuk mengambil cuti selama perayaan ini. Karena acara reuni selesai lebih cepat dari perkiraanku, jadi aku masih memiliki cukup waktu untuk menghabiskan hari ini dengan bersantai."
Sabrina sangat bahagia lalu mengajak Tio untuk menghabiskan hari itu di pantai.
Dengan semilir angin yang membuat jiwa menjadi tenang, Sabrina bermain-main dengan air yang sesekali mengajak Tio untuk bermain bersama.
Saat Tio dan Sabrina sedang asik bermain air pantai, pandangan Tio tidak sengaja melihat Cyila dan Arlo.
"Oh tidak, jangan sampai pasangan raja dan ratu gombal itu melihat aku dan Sabrina ada di sini." Lirih Tio sampai mulai memikirkan cara agar Sabrina mau saat dia mengajaknya pulang.
Lalu, sebuah ide tiba-tiba datang saat
Tio melihat seorang karyawan rumah makan sedang membawakan makanan menuju tempat yang ada di tepi pantai.
"Sabrina, Bagaimana jika kita mencoba kuliner yang berada di sekitar pantai. Aku ingin sekali menikmati makan di pinggiran pantai."
"Ide bagus."
Tio akhirnya bisa bernafas dengan harga saat Sabrina mau diajaknya untuk menikmati kuliner yang berada di pinggiran pantai.
Tio sedikit mengintip ke arah raja dan ratu gombal itu, untuk memastikan bahwa mereka berdua tidak melihat keberadaannya.
Tio dan Sabrina kemudian memutuskan berhenti di salah satu rumah makan yang berada di pinggiran pantai dan sangat jauh dari pandangan Cyila dan Arlo.
Sabrina dan Tio mulai memilih menu makanan yang disajikan, sambil menunggu makanan datang. Mereka berbicara,
"Sabrina, menurutmu apa definisi cinta?" tanya Tio yang sepertinya ingin segera mengorek informasi mengenai isu yang disampaikan teman-temannya bahwa Sabrina menyukainya.
"Cinta bukanlah sesuatu yang alami. Melainkan membutuhkan disiplin, konsentrasi, kesabaran, keyakinan, dan mengatasi narsisme. Itu bukan perasaan, itu adalah praktik"
"Jadi, apa kamu sudah mempraktekkan cinta yang baru saja kamu katakan?"
"Ya, aku selalu mempraktekkannya hanya saja tidak pernah mendapatkan balasan yang aku inginkan."
"Apa kamu sedang mencoba untuk mengatakan bahwa selama ini kamu hanya bisa mencintai dalam diam?"
"Bisa di bilang begitu."
__ADS_1
"Sudah berapa lama kamu mencintai dalam dia?"
"Haha, lucu sekali kamu bertanya seperti itu karena aku tidak yakin kamu akan percaya saat aku mengatakan bahwa aku sudah mencintainya dalam diam selama lebih dari 10 tahun."
"Apa? Bagaimana bisa kamu bertahan dalam waktu selama itu dengan mencintai seseorang, yang tidak pernah mendapatkan balasan?"
"Ketika kamu merindukan seseorang, waktu terasa berjalan lebih lambat, dan ketika aku jatuh cinta dengan seseorang, waktu terasa berjalan lebih cepat," ucap Sabrina yang membuat Tio kembali mengingat tentang Mutia.
Ya Tuhan, kenapa setiap kali aku berbicara dengan Sabrina aku selalu saja ingat terhadap Mutia.
"Kalau kamu bagaimana?" tanya Sabrina yang membuat Tio tersadar dari lamunannya.
"Aku sangat percaya pada 'Aku harus mencintai diri sendiri sebelum aku bisa mencintai orang lain' dan aku pikir bagi aku itu melahirkan hubungan yang paling menginspirasi."
"Benarkah?"
"Ya, karena kita tidak akan pernah bisa membuat orang lain bahagia jika kita sendiri tidak merasakan bahagia."
"Lalu bagaimana dengan kata yang mengatakan jika misalnya kebahagiaanku tergantung pada orang yang aku cintai."
"Bukankah itu berarti kamu bahagia walaupun kamu tidak akan pernah bersama dengannya?"
"Tidak, yang coba aku katakan adalah seperti ini. Misalnya aku menaruh harapan dan perasaan ini terhadap kamu. Dan yang bisa membuat aku merasa sangat bahagia adalah ketika aku bisa menghabiskan waktu ini bersama denganmu."
"Maaf, Sabrina. Tapi tidak seharusnya kamu mengharapkan kebahagiaan kepada orang lain. Kebahagiaan itu adalah dimulai dari dirimu sendiri, sementara orang lain hanya pelengkap dari kebahagiaan itu."
"Jika kamu tidak berusaha untuk mencari kebahagiaan kamu sendiri dan membuat kamu bahagia, kamu tidak akan pernah mendapatkan apa yang kamu harapkan."
Tio langsung mengatakan apa yang sebenarnya dia ingin katakan, menolak Sabrina secara halus walaupun Tio tidak mengerti apakah Sabrina bisa menangkap pesan tersirat yang ada pada setiap kata yang diucapkan Tio.
"Tujuan hidup manusia, tidak peduli siapa yang mengendalikannya, adalah untuk mencintai siapa pun yang ada di sekitarnya untuk dicintai" ucap Sabrina sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Sabrina seolah-olah sudah mengetahui pesan tersirat yang disampaikan oleh Tio.
"Kamu mungkin belum mengerti jika ada yang namanya kebahagiaan itu tidak harus saling mencintai. Ada kalanya kebahagiaan hanya bisa didapatkan ketika kita hanya terikat dalam hubungan persahabatan."
"Tak jarang, ikatan yang lebih tinggi dari ikatan persahabatan justru membuat kebahagiaan itu semakin jauh."
"Aku tahu, karena itu aku lebih nyaman dengan caraku yang mencintai seseorang itu dalam diam hingga sekarang."
"Sampai kapankah makan dicintai seseorang itu dalam diam?" tanya Tio.
__ADS_1
"Entah lah, aku tidak tahu."
"Sabrina, ini adalah saran dariku sebagai teman. Sebaiknya kamu berhenti mencintai seseorang itu dalam diam jika memang kamu tidak akan pernah mendapatkan balasannya."
"Berhentilah terjebak dalam dunia pengharapan dan mulai bangkit untuk melihat kenyataan yang ada."
"Aku tahu, hanya saja sangat sulit bagiku untuk menemukan orang yang benar-benar bisa mendapatkan hatiku, seperti saat seseorang itu yang mencuri hatiku tanpa dia sadari."
"Maaf, Sabrina. Aku rasa kamu sudah salah paham tentang teori yang sedang kamu katakan. Menurut aku, kamulah yang tidak sadar telah memberikan hatimu kepada seseorang yang sedang kamu cintai dalam diam. Lalu kamu yang begitu terbuang sehingga kamu menganggap bahwa seseorang yang kamu cintai dalam diam itulah yang sudah mencuri hatimu."
"Ya, mungkin saja kamu benar."
Sabrina sebenarnya ingin menangis karena menganggap bahwa setiap jawaban yang diucapkan oleh Tio, mengarah kepada penolakan Tio secara halus.
Menjadi temanmu adalah satu-satunya yang kuinginkan, dan menjadi kekasihmu adalah semua yang pernah aku impikan.
Namun, sepertinya impian itu harus aku kubur dalam-dalam mengingat tidak ada satupun kata-kata yang terucap darimu yang memberikan kode bahwa kamu juga memiliki perasaan yang sama terhadap aku.
Tak lama berselang makanan yang dipesan oleh mereka telah tiba. Tio yang melihat ketegangan di wajah Sabrina, segera mencari cara untuk mencairkan suasana.
Sabrina yang memang sangat mudah untuk tersenyum dan bercanda tawa, membuat Tio dengan mudah mengalihkan suasana yang tadinya menjadi tegang kembali santai.
Tio tidak tahu jika Mutia juga berada di pantai itu dan sedang merayakan keberhasilan mereka melakukan sidang skripsi terakhir.
"Hei, Aku lapar nih gimana kalau kita keliling untuk mencari rumah makan mana yang paling ramai," ucap salah seorang temanmu dia yang pernah rambut lurus panjang dan berkacamata.
"Cus lah.."
Sudah menjadi kebiasaan bagi Mutia dan teman-temannya, ketika mereka sedang pergi berjalan-jalan dan merasa lapar. Mereka akan mencari rumah makan yang ramai dengan pembeli, mereka selalu beranggapan bahwa rumah makan yang ramai pembeli berarti makanan yang ada di sana sangat enak.
Tepat saat Mutia dan teman-temannya sedang berkeliling untuk mencari tempat makan dengan pembelian ramai, pandangan Mutia tidak sengaja menangkap sosok Tio yang sedang bercanda tawa bersama dengan Sabrina.
"Tio?"
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1