
Satu bulan berlalu..
Baik Tio maupun Mutia, sudah menjalani kehidupan masing-masing.
Hanya saja keduanya merasa ada sesuatu yang hilang, sejak mereka tidak bisa berkomunikasi satu sama lain.
"Tolip, minggu depan. Jadwalkan blusukan ku ke desa tempat di mana aku bisa menemukan Mutia."
"Tapi, minggu depan seharusnya kita blusukan ke desa B."
"Tolip, aku sudah tidak dapat lagi menahan rasa rinduku. Aku ingin segera menemukan tambatan hatiku sebelum dia diambil oleh orang lain."
"Baiklah."
Tolip segera keluar dari ruangan Tio, dan mulai mengubah rencana yang sudah dia buat.
Tolip menghela nafas panjang karena tidak menyangka jika Tio akan benar-benar jatuh cinta pada gadis desa.
"Mutia memang memiliki pesona yang tidak dimiliki oleh wanita lain, semoga saja sampai sekarang Mutia masih seorang diri. Jika Mutia sampai dipinang oleh orang lain, aku yakin bos pasti akan gila."
Setelah Tolip selesai membebaskan jadwal Tio yang baru, Tolip baru ingat jika mereka harus bertemu dengan klien.
Tolip segera berjalan menghampiri Tio dan mengajaknya untuk bertemu dengan klien siang ini, di salah satu hotel termewah.
Tio rasanya sangat malas untuk bertemu dengan klien yang satu ini. Namun, karena ini merupakan tuntutan pekerjaan yang harus dia lakukan. Akhirnya Tio mengikuti langkah kaki Tolip.
Di hotel...
Pembicaraan bisnis sudah di mulai, Tio tiba-tiba melihat semua wanita itu Mutia.
"Silahkan kopi kocoknya, tuan." Ucap seorang pegawai sambil meletakkan minuman di meja.
"Kenapa kamu tahu jika saat ini aku sedang membutuhkan minuman kocok kamu?" ucap Tio sambil tersenyum.
"Ehem, bos." Bisik Tolip.
Tio memejamkan Mata kemudian kembali fokus pada apa yang sedang dibicarakan.
"Maafkan saya. Sampai dimana kita tadi?" tanya Tio.
"Kita baru sampai pada hubungan kita, akankah ini berlanjut atau berakhir sampai di sini saja?"
"Mutia?"
"Ya, ini aku. Aku sangat merindukan kamu. Kenapa kamu tidak datang? apa kamu sudah melupakan aku?"
"Tidak, aku tidak melupakan kamu. Hanya saja, pekerjaan ini sangat menyita waktuku. Aku harus menunggu jadwal blusukan agar aku bisa bertemu denganmu."
"Aku mohon, bersabarlah untuk menunggu kedatanganku."
"Aku akan segera menjemput kamu."
"Maaf tuan Tio, menjemput kemana maksud anda?" Ucap Vika. Rekan bisnis Tio.
Tolip menepuk dahinya sendiri. Tolip semakin yakin jika bosnya sudah benar-benar gila.
"Nyonya Vika, maafkan Aku. Aku tidak bisa fokus karena pikiranku tertuju padahal lain. Silakan lanjutkan pembahasan ini dengan sekretarisku, apapun hasilnya aku akan menerimanya dengan lapang dada."
Tio kemudian segera pergi meninggalkan ruangan, Tolip hanya bisa menahan rasa kesalnya. Ini adalah kali ketujuh Tio menyalakan semua tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya kepada Tolip.
Nasib bawahan punya bos yang sedang jatuh cinta yang seperti ini.
...----------------...
Mutia kini benar-benar sedang di lema.
__ADS_1
Hari ini, untuk ketiga kalinya. Amar menyatakan perasaannya kepada Mutia.
"Mutia, ini sudah ketiga kalinya Aku mengutarakan perasaanku kepadamu. Tidakkah ada sedikit rasa di hatimu untuk aku?"
Mutia terdiam, dia tidak tahu harus mengatakan apa. Jujur saja, Mutia masih berharap bahwa Tio akan datang dan kembali menyatakan perasaannya.
"Amar, kamu tahu jika aku masih menganggap kita sebagai teman. Kamu lebih cocok menjadi saudara untukku. Kamu selalu ada disaat aku membutuhkan sandaran."
"Mutia, kita sudah melewati banyak hal bersama. Walaupun kita sempat berpisah beberapa tahun, Bukankah itu artinya kita bisa memulai hubungan yang baru."
"Hubungan yang lebih dari teman," ucap Amar.
"Aku tidak bisa."
"Kenapa? apa sudah ada laki-laki yang berhasil menaklukkan hati kamu?"
Amar ingat, sejak duduk di bangku sekolahan. Mutia adalah satu-satunya wanita di lingkungan sekolah yang sangat sulit untuk ditaklukan.
Beberapa dari mereka bahkan ada yang bertaruh untuk mendapatkan hati Mutia, tapi tidak satupun yang berhasil.
Hanya Amar yang berhasil menjadi teman Mutia dan dekat hingga saat ini.
"Mutia, kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan aku? apakah memang benar, sudah ada pria yang berhasil meluluhkan hati kamu?"
Mutia yang sedang duduk di teras rumahnya, langsung berdiri dan sedikit menjauh dari rumah.
Amar langsung mengikuti ke mana langkah kaki Mutia.
"Aku bertemu dengannya saat aku tidak sengaja melintas di daerah ini. Dia orang kota yang sedang blusukan ke desa."
"Awalnya aku mengira bahwa dia seperti pria pada umumnya, yang hanya suka menggoda dan mengobral kata-kata gombal. Ternyata aku salah."
"Dia sederhana, sesuatu dirinya yang membuatnya istimewa. Aku baru menyadarinya saat dia sudah pergi."
"Apa sebelumnya dia sempat mengungkapkan perasaannya kepada kamu?" tanya Amar.
"Lalu apa jawaban kamu?"
"Aku tidak pernah menjawab apapun."
"Apa sekarang kamu menyesal karena kamu tidak memberikan jawaban atas pertanyaan yang dia berikan?"
"Tidak."
"Jika sekarang pria itu sudah pergi dan kamu tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Kenapa kamu seperti masih berharap akan dirinya?"
"Amar, berharap adalah hal amali yang dimiliki oleh setiap manusia. Setiap orang pasti memiliki pengharapan akan sesuatu yang membuatnya bahagia."
"Terkadang, Aku ingin membuat mesin waktu sehingga aku bisa memutar kembali waktu."
"Apa itu artinya benar-benar tidak ada kesempatan untuk aku?"
"Amar, aku selalu menghargai tentang apa yang kamu lakukan, dan apa yang kamu rasakan terhadap aku. Tapi maaf, masalah hati tidak bisa untuk dipaksakan. Aku harap kamu mengerti," ucap Mutia.
"Woy, Amar."
"Yoga?"
Amar melihat sekilas ke arah Mutia, sebelum dia pergi dan menemui Yoga.
Amar, seandainya saja kamu juga bersikap baik terhadap ibu kamu, mungkin aku bisa mempertimbangkan kamu menjadi pengisi hatiku.
Mutia kemudian memilih pulang untuk bersiap-siap. Minggu depan, Bibi nya akan pulang dan sang ayah akan menjemputnya untuk kembali ke kota.
Beberapa hari berlalu, bibi datang lebih cepat dari perkiraan. Itu membuat ayah Mutia segera datang untuk menjemput Mutia.
__ADS_1
"Nduk, apa kamu baik-baik saja?" tanya si mbok saat melihat Mutia terdiam setelah mendengar kabar bahwa ayahnya dalam perjalanan untuk menjemput nya.
Mutia tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Kalau jodoh, kalian pasti bertemu lagi. Apa kamu mau meninggalkan pesan kepada pria tampan itu?"
"Si mbok ini bicara apa sih?" Ketus Mutia sambil berlalu pergi.
Mbok Sumi tersenyum melihat tingkah laku Mutia.
"Anak muda zaman sekarang memang susah untuk di tebak, pas ada orangnya pura-pura nggak mau. Giliran gak ada jadi rindu," ucap Mbok Sumi.
Keesokan harinya...
Tio dan Tolip baru saja tiba di bandara.
"Tolip, ada sebaiknya kita menggunakan helikopter agar kita bisa segera sampai di rumah Mutia?"
"Bos bisa merusak persawahan dan rumah penduduk jika bos menggunakan helikopter."
"Hanya tiga jam saja. Apa Bos tidak bisa menahan diri selama 3 jam lagi?"
"Baiklah, ayo segera berangkat."
Mobil yang membawa Tio segera melesat meninggalkan bandara. Tepat saat mobil Tio meninggalkan bandara.
Taksi yang ditumpangi Mutia dan Ayahnya memasuki halaman bandara.
Semoga aku bisa bertemu dengan mu di kota.
Tio yang sudah sampai, memilih segera berlari menuju rumah Mutia. Tolip hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil membawa koper milik Tio.
"Mutia?" Tio mengetuk pintu rumah sambil terus memanggil nama Mutia.
"Cari siapa?" Tanya Mbok Sumi.
"Mbok, ini saya."
"Oalah, cah ganteng. Ada apa?"
"Mbok. Mutia mana?"
"Mutia sudah kembali ke kota."
"Apa?"
"Jika kamu datang beberapa jam yang lalu, mungkin kamu masih sempat bertemu Mutia."
"Hahaha. aku datang dan kamu pergi. Hahaha..."
"Cah ganteng, kamu tidak apa apa?"
"Aku? hahahah... aku datang, kamu pergi. hahaha."
Mbok Sumi memilih untuk segera masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.
"Ada apa mbok?" Tanya bibi.
"Ada orang gila di depan."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...