
Pantai, adalah tempat yang dipilih Tio untuk menjernihkan pikiran setelah sedih yang berkepanjangan.
Tio tidak menyangka jika pertemuannya dengan Mutia justru meninggalkan luka yang amat dalam.
Tio tidak tahu lagi harus berbuat apa, ingin sekali dia berjuang untuk mendapatkan Mutia, namun dia benar-benar takut jika Mutia dan Amar memang benar-benar sudah menjadi pasangan kekasih yang sebentar lagi akan meresmikan hubungan mereka.
Tio sedang tidur bersantai di tepi pantai dengan berbantalkan pasir, saat seorang wanita berambut pirang dengan memakai pakaian bikini mendatanginya.
"Excuse me, can you help me to find my group? (Permisi, dapatkah kamu membantu saya menemukan grup saya?)
Tio membuka mata dan dia tentu saja terkejut melihat pemandangan eksotis yang ada di depannya.
"Kamu turis?"
"Yes, I'm."
"Apa yang kamu lakukan di sini? apa kamu nyasar?"
"Sorry but I don't understand what you are saying. can you speak english so i can understand what you say?"
(Maaf tapi saya tidak mengerti apa yang kamu katakan. Bisakah kamu berbicara bahasa inggris jadi aku bisa mengerti apa yang kamu katakan?)
Tio memejamkan mata kemudian dia bangkit dari posisi tidur ternyaman yang pernah ia rasakan sepanjang umur hidupnya.
"Ok miss, what's your name? (Baik nona, siapa nama kamu?)" tanya Tio.
"Chintia."
"Oke Chintia. Do you have a clue as to where the address of the hotel you are currently staying at is? or from which group and what is the name of your group?"
(Baik Chintia. Apakah kamu tahu di mana alamat hotel tempat kamu menginap saat ini? atau dari grup mana dan apa nama grup kalian?)
__ADS_1
"Woy potato cakes. If I knew where the hotel where I stayed while on vacation here, I would not ask you."
(Woy perkedel kentang. Jika saya tahu di mana hotel tempat saya menginap saat berlibur di sini, saya tidak akan bertanya kepada kamu.)
Tolip menahan tawa saat melihat bule itu marah.
Ah mimpi apa aku sehingga aku bertemu dengan bule nyasar.
"Bule nyasar. I'd love to help you. But, I can not."
(Bule nyasar, aku ingin sekali membantu kamu, tapi aku tidak bisa.) Tio kembali duduk di atas pasir dan berbaring
"Why? (kenapa)" tanya Chintia sambil duduk di sebelah Tio.
"How I will help you overcome your problem of being separated from your entourage. While I myself was separated from the heart of my heart."
"(Bagaimana aku akan membantu kamu mengatasi masalah kamu yang terpisah dari rombongan. Sementara aku sendiri terpisah dari jantung hatiku.)"
"If indeed you are separated from your heart. how come you're still alive and breathing now?" Tanya bule itu sambil mengerutkan dahinya.
Tio menatap tajam ke arah bule nyasar itu.
Ya Tuhan, apa dia bermaksud jika jantungku keluar begitu saja dan berjalan jalan untuk menikmati kebebasannya?
"Not. I want to say that I'm feeling a disappointment. (Tidak, maksud saya adalah saya sedang merasakan kekecewaan.)" ucap Tio.
"Life in this world is not always beautiful and pleasant. Often times we encounter annoying things that can spoil the mood. Upset things are also often done by those closest to you without realizing it. Various kinds of words and deeds of people often make the heart hurt. The words of a wounded heart can be a way of expressing hurtful inner sadness."
(Hidup di dunia ini tidak selamanya berjalan indah dan menyenangkan. Sering kali kita menjumpai hal-hal menyebalkan yang bisa merusak suasana hati. Hal-hal mengesalkan juga sering dilakukan oleh orang-orang terdekat tanpa sadar. Berbagai macam perkataan dan perbuatan orang sering membuat hati terluka. Kata-kata hati yang terluka bisa jadi satu cara mengekspresikan kesedihan batin yang tersakiti.)
Tio menatap Chintia. Chintia tersenyum kemudian menceritakan alasan dia ikut tour ke negara ini.
__ADS_1
"I have a lover. Our wedding date has been set. unfortunately, right on her wedding day she brought her boyfriend who was 4 months pregnant. I can do nothing but let his girlfriend replace me as his bride."
(Aku mempunyai kekasih. tanggal pernikahan kami sudah ditentukan. sayangnya, tepat saat hari pernikahan dia datang membawa kekasihnya yang sudah hamil 4 bulan. Aku bisa apa selain merelakan kekasihnya menggantikan diriku sebagai mempelai wanitanya.)
"I was so down with the painful reality that I had to accept when my parents left me forever. Yes, I was alone when I was about to get married and hoped that I would get happiness in exchange for the death of my parents."
(Aku begitu terpuruk dengan kenyataan menyakitkan yang harus aku terima di saat kedua orang tuaku pergi meninggalkan aku untuk selamanya. Ya, aku sebatang kara saat aku akan menikah dan berharap bahwa kebahagiaan akan aku dapatkan sebagai ganti meninggalnya kedua orang tuaku.)
Tio terdiam, dia tidak menyangka jika ada yang mengalami kekecewaan lebih dari kekecewaan yang dia rasakan.
"Sorry, I didn't mean to tell you about the sadness that has passed a few months ago. I just want to tell you foreigners, that the disappointment that occurs should not make you stop looking at the world. there is still a lot of happiness that awaits you if you want to rise from the downturn that you are feeling."
(Maaf, aku tidak bermaksud untuk menceritakan kesedihan yang memang sudah berlalu beberapa bulan lalu. Aku hanya ingin mengatakan kepada kamu orang asing, bahwa kekecewaan yang terjadi tidak seharusnya membuat kamu berhenti untuk menatap dunia. masih banyak kebahagiaan yang menanti kamu jika kamu mau bangkit dari keterpurukan yang sedang kamu rasakan)
Ya Tuhan, aku merasa malu dengan bule kesasar ini. Dia mengalami nasib yang sangat buruk. Dia harus menerima penghianatan di saat kedua orang tuanya meninggal dan dia berharap bahwa akan ada pengganti kebahagiaan setelahnya.
Bule ini benar, aku tidak boleh terlalu larut dalam kekecewaan ini, aku harus bangkit untuk mendapatkan kebahagiaan yang sudah menungguku di depan.
Walaupun Aku tidak tahu seberapa jauh aku harus melangkah agar bisa mendapatkan kebahagiaan yang ada di depanku. Tapi aku harus berjuang dan semangat.
"Thank you for wanting to share stories and motivation that made me rise from the disappointment that I was feeling." ucap Tio sambil tersenyum.
(Terima kasih karena sudah mau berbagi cerita dan motivasi yang membuat aku bangkit dari kekecewaan yang sedang aku rasakan.)
"You're welcome. So are you ready to drop me off at the hotel and meet up with my group again?" tanya bule nyasar itu dengan mata berbinar-binar.
(Sama sama. jadi apakah kamu sudah bersedia untuk mengantarkan aku ke hotel dan bertemu dengan rombongan aku lagi?)
"Tidak!"
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...