TERJERAT CINTA PENJUAL JAMU KOCOK

TERJERAT CINTA PENJUAL JAMU KOCOK
Kembali ke kota


__ADS_3

Brak !!


Cyila yang berjalan sambil menunduk karena mencari keranjang cinta untuk Tio. Tiba tiba merasa jika menabrak seseorang.


Cyila menoleh dan dia seperti melihat seorang laki-laki turun dadi langit dan tidak sengaja tersesat di area persawahan.


"Hai.."Sapa Cyila.


Seperti film romantis yang sudah banyak beredar. Pertemuan tidak sengaja antara Cyila dan pria tidak di kenal, menciptakan suasana indah nan romantis.


Alunan lagu tiba tiba muncul entah dari mana. Menambah suasana romantis di antara mereka.


"Nona manis, siapa nama mu?" Tanya pria itu yang membuat Cyila meleleh.


"Cyila."


"Perkenalkan, aku adalah Arlo. Pria yang siap menggocok harimu agar tercampur dengan kebahagiaan yang sempurna. Dengan takaran yang pas, membuat kocokan ku di setiap harinya akan semakin membuat hidup kamu lebih berwarna."


Argh....


Cyila pingsan !!


Pria itu panik dan tidak menyangka jika kata kata nya mampu membuat orang pingsan.


Untung saja saat itu Tio dan Tolip melintas dan langsung menghampiri Cyila.


"Cyila?" Tio menepuk-nepuk pipi Cyila.


Sementara Tolip yang mengenal Arlo langsung bertanya tentang apa yang terjadi.


"Arlo, apa kamu sedang mencoba meluncurkan kata katamu pada nona Cyila?" Tanya Tolip.


"Tolip, apa lagi yang harus aku lakukan jika bukan menyebar kebahagiaan?" Ucap Arlo.


"Oh Ya Tuhan. Ternyata dari dulu kamu belum berubah."


"Hehe.."


Arlo kemudian menawarkan diri untuk menggendong tubuh Cyila sebagai bentuk ganti rugi karena dia sudah membuat Cyila pingsan.


"Walaupun tubuh kamu sebesar sapi, tapi bagiku lebih berat cinta yang akan aku berikan kepada mu." Ucap Arlo saat dia mulai mengangkat tubuh Cyila.


"Siapa dia?" Tanya Tio yang setengah berbisik pada Tolip.


"Arlo. Raja gimbal."


"Maksudnya gombal?"


"Iya."


"Asyik..."


"Lah, kok asyik sih bos?" Tanya Tolip yang heran karena Tio terlihat bersemangat ketika Tolip mengatakan jika Arlo adalah si raja gimbal, ah bukan gombal.


"Bukankah aku bisa mendapatkan kerjasama dengannya." Ucap Tio.


"Kerja sama?"


"Iya, besok buatkan perjanjian kontrak yang isinya adalah Arlo akan memberitahukan tentang tips dan rahasia saat akan merayu seorang wanita."


Tolip menepuk dahinya sendiri kemudian memilih untuk pergi meninggalkan Tio.


"Yah, malah pergi."


Sementara itu...


Arlo terus berjalan sambil mengeluarkan kata-kata gombal nya.


"Maafkan aku jika kesan saat pertemuan pertama kita membuat kamu menjadi pingsan. Aku berjanji jika semesta memberikan kita kesempatan untuk bertemu. Kita akan bertemu sebagai dua insan yang akan saling menyatakan cinta."

__ADS_1


Cyila tiba tiba membuka mata. Membuat Arlo langsung menghentikan langkahnya dan membuat Tio yang sedang membayangkan bagaimana jadinya jika dia bekerja sama dengan raja gombal, menabrak tubuh Arlo.


"Jika setiap pertemuan membuat aku pingsan karena aku begitu bahagia dengan kata-kata yang akan selalu kamu ucapkan. Maka aku rela selalu pingsan."


"Benarkah?"


"Ya, sepertinya semesta sudah menyatukan kita. Aku pingsan karena mu. Kamu mengangkat diriku dengan cintamu." Ucap Cyila


"Kamu adalah terang yang akan selalu menyinari hatiku. Tanpamu hidupku kosong dan tidak ada apa-apanya." Imbuhan nya.


"Wah wah. Sepertinya raja gombal sudah menemukan ratu gombal nya.." Lirih Tio.


"Bang Arlo?" Ucap Cyila sambil turun dari gendongan Arlo.


"Ya wanita ku?"


"Seberapa tulus kamu akan mencintai ku nanti?"


"Cintaku tulus seputih melati, masih engkau meragukannya? Jika ya, haruskah kurendam hatiku dengan So Klin Pemutih?"


"Aku tidak menyukai aroma so klin pemutih. Bagaimana jika menggunakan vanis? wanginya bahkan bisa tahan 48 jam?"


"Cyila?"


"Ya?"


"Ayo ikut aku.."


Arlo menarik tangan Cyila dan membawanya ke pancoran air.


"Selain cuci tangan, kamu tuh harus sering-sering cuci kaki juga. Soalnya telapak kaki kamu kan bakalan jadi surga untuk anak-anak kita nanti." Ucap Arlo sambil membasahi kaki Cyila.


"A....., bang Arlo?"


"Ya?"


"Ayo ikut aku ke kota."


" Untuk mendaftar pernikahan kita ke KUA setempat."


"Lets go..."


Arlo segera menggendong tubuh Cyila dan hari itu juga. Cyila benar-benar kembali ke kota bersama dengan Arlo. Tio sampai di buat melongo dengan itu


"Bos.." Ucap Tolip.


"Ya?"


"Kita juga harus bersiap. Besok pagi kita harus kembali ke kota."


Tio menelan apa saja sebelum akhirnya dia masuk ke dalam rumah dan mulai membereskan barang-barang.


Besok pagi aku harus sudah kembali ke kota. Itu artinya waktuku tidak banyak lagi untuk bersama dengan Mutia.


Tio bergegas menuju kamar mandi dan berpakaian rapi.


"Loh, bos mau kemana?" Tanya Tolip yang heran karena Tio baru saja pulang dan sudah ingin pergi lagi.


"Tolip, karena besok kita sudah harus kembali ke kota. Aku memutuskan untuk menghabiskan sisa waktu hari ini berdua dengan Mutia."


"Ha?"


Tolip melongo dan hanya bisa menyaksikan kepergian Tio.


Tio berjalan cepat menuju rumah Mutia yang memang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Tolip.


Tio tersenyum saat melihat Mutia sedang duduk sendirian di belakang rumahnya.


"Manis manis kok sukanya melamun." Ucap Tio yang membuat Mutia terkejut.

__ADS_1


"Kamu?"


"Hai.."


"Mau apa?"


"Mau cium, boleh?"


Mutia langsung melotot dengan kedua tangan di pinggang. Tio kemudian melihat gerakan mata Mutia yang menandakan jika di sana ada si mbok.


"Ups, maaf. Jalan jalan yuk." Bisik Tio yang tidak ingin Mbok Sumi mengetahui keberadaannya.


Tio tidak ingin kejadian beberapa jam lalu membuat nya tidak bisa mewujudkan impiannya untuk menghabiskan waktu berdua dengan Mutia.


Mutia tersenyum dan melakukan kepala. Mutia kemudian mengajar beliau untuk berkeliling desa. Melihat berbagai keindahan dan keasrian desa itu.


"Kita duduk di sana saja yuk." Ucap Mutia setelah mereka berjalan cukup jauh dan merasa lelah.


"Aku tidak menyangka jika desa memiliki keindahan dan udara yang sejuk dibandingkan dengan kota."


"Ya, itulah kenapa aku lebih senang tinggal di sini daripada tinggal di kota."


"Tunggu, apa? tinggal di kota?"


"Kedua orang tuaku pindah ke kota beberapa tahun yang lalu. Aku datang ke sini karena bibiku harus pulang ke rumah suaminya. Jadi si mbok tidak ada yang menemani."


"Jadi sebenarnya kamu adalah orang kota?"


"Ya."


Tio langsung tersenyum penuh kebahagiaan mendengar bahwa Mutia tinggal di kota.


"Apa itu artinya kamu akan kembali ke kota dalam waktu dekat?" Tanya Tio.


"Entahlah aku tidak yakin. Aku sangat menyukai suasana desa daripada kota."


"Kamu kapan kembali ke kota?" Tanya Mutia.


"Besok."


Mutia sedikit terkejut dengan apa yang baru saja Tio katakan.


"Itu artinya, ini adalah hari terakhir untuk kita bisa bertemu?" Tanya Mutia.


"Mutia, Aku ikut lah denganku ke kota, aku akan membawamu pada keluargaku. Aku akan membuktikan bahwa aku benar-benar serius tentang apa yang pernah aku ucapkan kepadamu."


"Mana tahu ternyata kita tinggal di satu kota yang sama."


"Kembalilah, jangan pernah berharap bahwa kita akan bertemu di kota."


"Kenapa? apa kamu tidak berniat untuk menerima cintaku?"


"Aku akan menjawabnya setelah kita kembali bertemu." Ucap Mutia sambil tersenyum.


Tio menghabiskan sisa hari itu bersama dengan Mutia.


Pagi harinya, Tio mendatangi rumah Mutia dengan maksud ingin berpamitan kepadanya.


Tio harus menahan rasa kecewa karena ternyata Mutia tidak ada di sana.


Mutia, kamu dimana? Bukankah kamu sudah berjanji akan mengantarkan kepergian ke kota.


Tio akhirnya masuk ke dalam mobil yang baru saja sampai di depan rumah Mutia. Walaupun kecewa dan rasa tidak ingin pergi sebelum menemukan Mutia. Tio tetap harus pergi karena memang dia sudah terlalu lama berada di desa itu.


Dari kejauhan, ada sepasang mata yang melambaikan tangan pada mobil Tio.


Selamat tinggal Tio.


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2