
Tio sedang fokus pada tulisan yang baru saja di unggah oleh akun MNM.
Patah hati memang suatu kondisi yang dapat dialami oleh siapa saja. Terutama pada orang yang sedang menjalani hubungan romantis dengan kekasih. Patah hati sering kali datang ketika orang terkasih mengingkari janji atau mengkhianati kasih sayang yang telah di berikan. Tentu saja hal ini akan menimbulkan rasa kecewa dan sedih yang sangat mendalam.
Akan tetapi, Bagaimana kamu mengartikan rasa kecewa saat kamu belum sempat memulai kisah yang sudah ada dalam bayangan.
Ini seperti saat aku tidak tahu apa itu cinta, sampai akhirnya aku bertemu denganmu. Tapi, saat itu juga aku tahu rasanya patah hati.
Tio langsung membalas posting itu dengan caption,
Apapun yang membuat tersenyum, pertahankan. Apa pun yang membuat sedih, tinggalkan. Aku mendapatkan kata ini dari Mario teguh.
Tidak ada balasan, Tio terus menunggunya hingga tanpa sadar dia meminjamkan mata dan masuk ke dalam dunia mimpi.
Pagi harinya...
Tio yang tersadar jika tadi malam dia tertidur segera membuka gadgetnya untuk melihat apakah akun dengan nama yang cukup unik, yaitu MNM sudah membalas komentar yang dikirimkan Tio atau belum.
Sayangnya, Tio tidak mendapatkan balasan atas komentarnya.
"Mungkin pemilik akun tersebut benar-benar terjadi sehingga dia tidak memiliki waktu untuk membalas komentarku."
Tio kemudian memilih untuk baru dari tempat duduknya dapat berjalan menuju kamar mandi.
Hari ini adalah jadwal di mana Tio akan blusukan ke kota bagian selatan.
"Hah, sungguh melelahkan sekali menjadi presiden yang harus selalu blusukan untuk memastikan bahwa semuanya mendapatkan kesejahteraan seperti yang ada dalam visi dan misi perusahaan. Ingin sekali rasanya aku cuti sebentar dan menikmati waktu sebagai seorang manusia yang bebas." Lirih Tio sambil menatap dirinya yang sudah memakai setelan jas dan siap untuk pergi ke kantor.
Tio rasanya sangat tidak bersemangat untuk melakukan aktivitas yang wajib dia lakukan. Tapi, karena tidak ada pilihan lain selain dirinya. Akhirnya Tio dan Tolip mulai melakukan perjalanan menuju kota bagian selatan.
Mutia memilih menghabiskan hari itu dengan berjalan-jalan untuk menjernihkan pikiran dan mencoba menghilangkan Tio dari pikirannya.
Mutia kemudian berhenti di salah satu taman untuk menghilangkan rasa penat.
"Mutia.."
Mutia yang sedang duduk dan memejamkan mata menikmati semilir angin taman, terkejut saat mendengar namanya di panggil.
Mutia melihat Ammar dan Putri sedang berjalan menuju arahnya. Ada yang menarik perhatian dari keduanya, karena Amar terlihat memegang tangan Putri.
"Mutia? Aku tidak menyangka bisa bertemu kamu di sini." Ucap Putri yang langsung memeluk Mutia.
__ADS_1
"Aku lebih tidak menyangka saat melihat kalian bergandengan tangan."
"Ya, kamu sudah membukakan sudut pandangku mengenai cinta dan perasaan yang memang benar tidak bisa dipaksakan." Ucap Amar.
"Ah, aku tidak melakukan apapun hanya mengarahkan kamu ke jalan yang seharusnya kamu pilih."
"Aku sangat berterima kasih kepadamu, Mutia. Kamu sudah membukakan pintu hati Amar sehingga Amar datang padaku dan langsung melamar aku untuk menjadi kekasih seumur hidup." Ucap putri sambil memperlihatkan cincin baru saja melingkar di jari manisnya.
"Wow, selamat. Aku tidak menyangka jika kamu akan segera pindah haluan secepat itu."
"Bagaimana jika kita merayakan ini? tunggu di sini dan aku akan membeli beberapa makanan dan minuman untuk kita," ucap Putri yang dengan semangat pergi meninggalkan amar dan Mutia untuk membeli beberapa makanan dan minuman.
Sepeninggalan Putri...
"Terima kasih Mutia, kamu sudah menyadarkan pikiranku bahwa hati tidak bisa untuk dipaksakan karena kita tidak akan menemukan kebahagiaan di dalamnya," ucap Amar.
"Kau tahu, jika kamu tidak membuat diri kamu bahagia. Bagaimana bisa kamu membuat orang lain bahagia."
"Mutia kita memang lebih cocok untuk menjadi seorang sahabat agar kita bisa saling menguatkan dan mengingatkan satu sama lain. Aku akan selalu mendoakanmu agar kamu segera dipertemukan dengan Tio."
"Yang pergi akan tetap pergi, walaupun kau telah menjaganya dengan begitu kuat. Yang datang akan datang, walaupun kau tidak menginginkan kedatangannya." Ucap Mutia sambil mengingat Tio yang sedang aku bercanda tawa bersama dengan Sabrina.
Tio yang sedang melintasi taman tidak sengaja melihat Mutia dan langsung segera meminta Tolip untuk menepikan mobilnya.
"Hei, mau kemana?"
"Sial, nasib bawahan selalu apes."
Tio segera berlari menelusuri taman untuk mencari keberadaan Mutia.
Tepat saat dia berhasil menemukan Mutia, dia terkejut saat melihat Amar bersama dengannya.
"Amar? jadi benar jika ternyata amarah adalah kekasih Mutia? kenapa Mutia tidak memberitahukan ini kepadaku?"
Tio merasa sedih, dia merasa bahwa sedihnya akan terus menjadi sedih yang berkepanjangan karena ternyata impiannya untuk bisa bersanding dengan mutiara tidak akan pernah terwujud sampai kapan.
Tio menundukkan kepalanya saat Mutia menoleh ke arahnya.
Tio...
Mutia bangkit dari tempat duduknya dan mencoba untuk menghampiri Tio, namun langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita menghampiri dan mengagetkan Tio.
__ADS_1
"Tio.."
"Sabrina? kamu disini?"
"Apa kamu lupa jika rumahku tidak jauh dari taman ini?" ucap Sabrina.
Tio memejamkan mata dan tersenyum.
"Kamu sedang apa berada di sini?" tanya Sabrina.
"Tidak ada, tadi aku hanya tidak sengaja melihat temanku. Jadi aku berpikir untuk mendatanginya, tapi ternyata aku salah orang."
Sabrina sama dia memberitahukan kepada Tio bahwa Tolip sedang menunggunya.
"Tadi aku tidak sengaja bertemu dengan sekretaris mu itu, dia berpesan jika aku bertemu denganmu. Aku harus menyampaikan pesannya bahwa kamu harus melakukan kunjungan kerja jika tidak ingin menghabiskan waktu di jalan selama seharian."
"Hah, seandainya kamu tahu bahwa menjadi seorang presiden adalah pekerjaan yang paling melelahkan." Lirih Tio.
"Cobalah untuk menemukan cinta dan memiliki pasangan agar pekerjaan yang kamu jalani tidak terasa berat dan melelahkan."
Tio hanya tersenyum menanggapi perkataan yang baru saja dikatakan oleh Sabrina.
Tio melihat ke arah Mutia yang sudah tidak lagi berada di tempat yang sama. Kemudian dia memutuskan untuk kembali pada Tolip dan melakukan blusukannya.
Malam sedih kembali tercipta di malam Tio dan Mutia.
Mereka berdua sama-sama berpikir jika Tio ataupun Mutia sudah memiliki pasangan masing-masing dan mereka sudah bahagia dengan pasangannya.
Terkadang, pertemuan dan perpisahan terjadi terlalu cepat. Namun, kenangan dan perasaannya tinggal terlalu lama.
Baik. Aku akan melupakanmu, Tio. Aku akan hidup menjadi diriku sendiri seperti setangkai bunga.
Mutia... Malam ini, aku merindukanmu untuk alasan tertentu. Air mata membasahi wajahku ketika aku mengenangmu dalam hatiku.
Mutia.. Kenapa dulu kita mencoba membuat kenangan sebanyak-banyaknya karena kita tahu, suatu hari nanti, kita tidak akan bisa lagi bersama.
Sedih yang berkepanjangan ini aku harap akan segera berakhir bagaimanapun caranya....
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...