
"Kamu sudah gila ya?"
"Ya. Kamu sudah membuat aku menjadi gila." Ucap Tio.
"Udah lah, aku mau pulang."
"Mutia, tunggu."
"Ada apa?"
Tio menahan Mutia yang akan pergi dari sana, dengan cara memegang tangan nya.
"Menurut Zick Rubin, cinta adalah suatu sikap yang ditunjukkan dari seseorang kepada orang lain yang memiliki nilai sebagai sesuatu yang istimewa, memiliki rasa, memengaruhi pikiran, dan juga tingkah laku." Ucap Tio.
"Jadi?"
"Aku melihat tingkah laku kamu yang tidak biasa dan aku mengartikan itu sebagai cinta." Ucap Tio dengan senyuman.
"Menurut Masters, W. H., dkk. cinta merupakan suatu tugas yang sulit. Artinya setiap manusia tidak hanya mencintai laki-laki maupun perempuan. Manusia dapat mencintai yang lainnya juga seperti, Tuhan, orang tua, saudara, hewan peliharaan, negara, makanan kesukaan, pelangi, dan kegiatannya sehari-hari." Ucap Mutia.
"Jadi jangan selalu mengartikan jika tingkah laku yang aku tunjukkan merupakan sebuah tanda cinta kepada lawan jenis." Ucap Mutia.
"Saat kamu mencintai seseorang, pastinya kamu akan selalu senang ketika kamu sedang berdekatan dengannya. Hidupmu akan terasa lebih menyenangkan ketika ada di sampingnya. Biasanya orang yang sedang jatuh cinta akan melakukan beberapa hal kecil seperti, jalan bersama, makan bersama, dan mengobrol berdua." Ucap Tio yang semakin memangkas jarak antara dia dan Mutia.
"Ka... mu mau apa?" Tanya Mutia dengan gugup.
"Hal yang menandakan bahwa kamu jatuh cinta dengannya. Kamu ingin selalu di dekatnya. Ke mana pun ia pergi kamu pasti ingin mengikutinya. Bahkan ketika sudah bertemu, sulit rasanya untuk berpisah ke rumah masing-masing." Ucap Tio.
Jarak keduanya kini sangat dekat, Mutia bahkan bisa mendengar suara detak jantung dari Tio. Begitupun sebaliknya.
"Irama detak jantung ini adalah bukti bahwa kita merasakan sesuatu satu sama lain. Sesuatu hanya bisa dirasakan oleh kita berdua." Ucap Tio sambil mengelus lembut pipi Mutia dan menarik rambut Mutia yang selalu di gelung ke belakang.
Rambut itu berkibar terkena semilir angin, membuat kecantikan alami Mutia semakin terlihat mempesona.
"Menyayangi termasuk dalam sebuah cinta. Menyayangi dan mencintai ini adalah hal yang terpenting dalam sebuah hubungan. Perasaan menyayangi dapat terlihat dari perlakuan pasanganmu. Jika pasanganmu tulus denganmu maka ia akan memperlihatkannya tidak hanya melalui perkataan, namun perbuatan juga." Ucap Tio yang menarik pinggang Mutia agar semakin mendekat padanya.
Mutia menatap Tio, entah kenapa tatapan itu seolah-olah menghipnotis keduanya.
Perlahan, Tio mendekatkan wajahnya ke wajah Mutia. Mutia sudah memejamkan mata, menutupi rasa gemetar karena ini adalah kali pertamanya mereka sangat dekat dengan lawan jenis.
Saat bibir mereka hampir bersatu.
__ADS_1
"TIO ...!!!!"
Jepret..
Mutia refleks mendorong tubuh Tio menjauh darinya.
Tio memejamkan mata karena dia melihat Cyila berlari ke arahnya dengan kondisi Tolip yang memegang tangannya seolah-olah berusaha menggantikan langkah kaki Cyila.
Brak !!
Cyila yang sudah hilang kesabaran karena sedari tadi Tolip selalu saja menghalangi langkah kakinya untuk menemukan keberadaan Tio. Langsung mendorong Tolip, hingga Tolip masuk ke dalam parit.
"Ya Tuhan, salah inyong apa?" Pekik Tolip.
"Tio, kenapa kamu tega sama aku? Aku adalah wanita yang sudah jauh-jauh datang dari kota ke desa, hanya untuk menemui kamu. Tapi lihatlah, kamu justru sedang asyik berduaan dengan wanita... cantik sih." Ucap Cyila.
"Tapi masih cantikan aku. Iya, harus cantikan aku." Ucap Cyila.
"Intinya adalah, kenapa kamu hendak menciumnya, sementara kamu sendiri belum pernah mencium aku?" Ucap Cyila.
"Siapa juga yang mau mencium wanita jadi-jadian seperti kamu?" Kekeh Tio.
"Tio, kamu tidak boleh seperti itu. Adik ini cantik kok." Ucap Mutia.
"Hati manusia memang seringkali rumit dan sulit dijelaskan lewat kata-kata. Jangankan memahami isi hati orang lain, mengerti isi hati sendiri saja terkadang jadi hal yang sulit dilakukan. Pasalnya, hati dapat merasakan beragam emosi yang dapat berganti dengan mudahnya. Apalagi, setiap orang juga mempunyai tingkat kepekaan hati yang berbeda." Ucap Mutia dengan senyuman.
"Tio, seandainya kamu tahu jika seluruh jiwa dan ragaku sudah aku serahkan kepadamu. Kenapa kamu selalu menolak diriku yang datang dengan membawa segudang cinta untuk mu."
"Jangan segudang, sekeranjang aja kamu nggak akan muat membawa cinta itu." Ucap Tio.
"Kuat kok."
"Mana coba?" Tanya Tio.
"Mana ya? tadi aku membawanya segudang penuh." Ucap Cyila sambil berputar mencoba untuk mencari keranjang cinta yang dia bawa untuk Tio.
"Jatuh kali, coba deh kamu berjalan mundur dan mencari nya. Siapa tahu, kamu akan menemukan keranjang cinta itu di tempat lain?"
Cyila dengan anehnya mengikuti apa yang baru saja Tio katakan. Cyila mulai berjalan menelusuri jalan yang sempat dia lalui sambil melihat ke kanan dan ke kiri.
"Hahaha..." Tio dan Tolip tertawa melihat tingkah laku lucu Cyila.
__ADS_1
Tolip yang baru saja bangun dari parit memilih untuk berendam di aliran air jernih untuk membersihkan diri.
"Tio, kamu memang suka mengerjai seseorang ya? kan kasihan wanita itu."
"Tidak apa apa, dia memang seperti itu. Dia tidak akan marah walaupun aku sudah mengerjainya berulang kali."
"Aku melihat cinta yang begitu tulus dari matanya, kenapa kamu tidak sedikitpun berniat untuk membalas perasaannya?"
"Cyila?, dia gadis yang lucu dan imut. Aku menyayanginya. Perasaan yang aku miliki adalah perasaan sayang dan cinta seorang kakak kepada adiknya."
"Apa?"
"Aku pernah memiliki seorang adik yang lucu dan imut seperti Cyila. Namun, dia harus lebih dulu meninggalkan dunia karena leukimia." Ucap Tio yang tiba-tiba sedih saat mengingat tentang Lala. Adik perempuannya yang meninggal dunia beberapa tahun lalu.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk membuatmu sedih karena mengingat tentang adikmu."
"Tidak apa apa. Aku juga tidak lagi merasa sedih. Karena aku tahu bahwa kebahagiaanku sudah berada di depan mata." Ucap Tio sambil tersenyum.
"Ayo, sebaiknya kita segera pulang. Bukankah kamu mengatakan jika kamu ingin pulang agar kamu bisa beristirahat?" Ucap Tio sambil membantu membawakan keranjang berisi jamu kocok.
"Oh, Aku kira kamu akan melakukan hal yang tidak sempat kita lakukan."Ucap Mutia.
Sret !!!
Tio yang sudah melangkah beberapa langkah, langsung berhenti dan berbalik arah begitu mendengar apa yang baru saja Mutia katakan.
"Kamu tadi bicara apa?"
"Aku pikir, kamu akan melanjutkan apa yang tadi sempat kita lakukan."
Tio rasanya udahan kembali berjalan mendekati Mutia.
"Apa kamu mau melakukannya dengan ku?"
Mutia tersenyum sambil mendekatkan diri kepada Tio. Tio tersenyum dan langsung memejamkan mata.
"Tentu saja tidak." Bisik Mutia sambil berlari meninggalkan Tio.
"Jatuh hati mengajarkan aku bagaimana memberanikan diri. Juga bagaimana menjadi sabar saat kau tinggalkan sendiri." Ucap Tio sambil tersenyum melihat Mutia yang terus berlari meninggalkannya.
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...