
"Mutia, tega sekali kamu pergi saat aku sudah datang."
"Mutia...." Tio berteriak hingga menyebabkan gempa bumi.
"Mbok, suara siapa itu?" tanya Bibi.
"Itu suara orang gila."
"Astaga."
"Jaga anak-anak agar tidak keluar. Mbok takut mereka tertular gila seperti orang yang sedang ada di luar itu."
"Anak anak, ayo kita masuk."
Bibi kemudian membawa anak-anak untuk masuk ke dalam kamar dan mengunci mereka.
Mbok Sumi mengintip di balik jendela dan dia melihat Tio sudah seperti orang gila yang baru saja kehilangan kaos kaki.
"Mutia.."
Tio mulai berjalan sambil terus memikirkan Mutia.
"Kenapa aku sangat bodoh sehingga tidak mengatakan ke mana Mutia akan pergi."
"Eh..."
Tio yang baru saja ingat, memutuskan kembali ke rumah Mbok Sumi untuk menanyakan alamat Mutia di kota.
Dengan lari, Tio sudah sampai di depan rumah Mbok Sumi dan dia segera mengetuk pintu.
"Mbok... mbok.."
"Ada apa?" tanya Mbok Sumi.
"Mbok, mbok adalah nenek yang paling cantik di dunia. Apalagi ketika Mbok mengatakan alamat tempat tinggal Mutia di kota, Mbok akan terlihat semakin cantik."
"Heh bocah perkedel, jika memang kamu mencintai cucuku. Kamu harus berusaha keras menemukan keberadaannya."
"Apa?"
"Segera temukan sebelum kedua orang tuanya menjodohkan dia dengan pria di kota."
"Bercanda."
"Hei, apa menurut kamu wajah si Mbok yang cantik jelita ini menyembunyikan kebohongan?"
Tio kemudian memandangi wajah Mbak Sumi. Untuk sesaat mereka berdua saling berpandangan, hingga orang-orang yang melintas mengira jika keduanya sedang terlibat cinta.
"Wah, Aku tidak menyangka ya jika masih ada pria yang mencintai Mbok Sumi."
"Bener, aku pikir pria itu menyukai Mutia. Ternyata menyukai Mbok Sumi."
"Nenek nenek semakin di depan."
__ADS_1
Beberapa pria itu terkekeh sambil berlalu meninggalkan rumah Mbok Sumi.
"Aku mohon mbok, beri tahu aku alamat Mutia di kota."
"Cah ganteng, kamu harus berusaha mendapatkan informasi sendiri mengenai Mutia."
"Bagaimana cara saya mencari informasi tentang Mutia, Mbok?"
"Itu bukan urusan si mbok. Udah lah, Mbok mau jualan jamu kocok dulu. Kamu mau ikut?"
"Apa kalau aku ikut, Mbok akan memberi tahu alamat tempat tinggal Mutia di kota?"
"Tergantung."
Tio memejamkan mata, kemudian dengan sigap dia menggendong jamu kocok yang sebelumnya sudah siap di bawa Mbok Sumi.
"Mu jamu.... jamu kocok." Ucap Tio sambil mulai meninggalkan rumah Mbok Sumi dan berteriak.
Mbok Sumi terkekeh melihat itu, kemudian dia berjalan mengikuti Tio.
Tiga hari sudah berlalu, Tio selalu datang saat pagi hari membantu Mbok Sumi menyiapkan jamu hingga berkeliling menggantikan mbok Sumi.
"Kamu memang cocok menggantikan si mbok untuk berjualan jamu. Jika kamu yang berjualan kamu selalu pulang lebih awal."
Ya, Bagaimana aku tidak dengan cepat menjual jamu kocok ini. Jika aku selalu dikerubungi oleh emak emak berdaster yang geli akan ketampananku yang mempesona ini.
"Mbok, Aku kan sudah banyak membantu mbok. Apa sekarang mbok tidak ingin membantu aku, untuk memberikan alamat tempat tinggal Mutia di kota?" tanya Tio dengan penuh harap sambil memandang Mbok Sumi
"Tentu saja mbok ingin."
"Mbok ingin kamu bisa menemukan Mutia dan bertemu dengannya."
"Yah, aku pikir Mbok akan memberikan aku alamat tempat tinggal Mutia."
"Cah ganteng, mbok sebenarnya pengen sekali memberikan alamat tempat tinggal Mutia yang di kota. Tapi jika Mbok melakukan itu, itu artinya kamu tidak berusaha sendiri untuk menemukan Mutia."
"Mbok, kota itu sangat luas. Bagaimana bisa aku menemukanmu tiadalah waktu cepat jika aku tidak menemukan setitik petunjuk?"
"Ya, itu sih urusanmu. Bukan urusan si mbok. Iya to?"
"Mbok tega ya sama aku?"
"Ini adalah derita kamu," kekeh si Mbok.
Tio pamit pulang dengan perasaan kecewa, ingin rasanya dia menangis karena ternyata Mbok Sumi tidak memberitahukan alamat tempat tinggal Mutia di kota.
Tio, Mbok berharap kamu akan menemukan Mutia dengan cara kamu sendiri. Itu akan membuat pertemuan kalian menjadi sangat istimewa.
Mbok Sumi tersenyum saat melihat tingkah laku Tio yang seperti anak kecil sedang marah karena tidak diizinkan membeli balon.
"Hei.."
"Apa, hei hei. Kita bukan teman," ketus Tio.
__ADS_1
"Ya, kita memang belum berteman."
"Siapa kamu?" tanya Tio pada seorang pria yang tiba-tiba saja menghentikan langkahnya.
"Aku Amar, pacarnya Mutia."
Amarah Tio tiba-tiba langsung mendidih saat mendengar pria yang ada di hadapannya mengaku sebagai pacar Mutia.
"Aku beberapa hari ini melihat kamu selalu datang ke rumah Mbok Sumi. Aku jadi penasaran sebenarnya, maksud dan tujuan kamu datang dan membantu Mbok Sumi berjualan jamu apa?" Tanya Amar
"Bukan urusanmu. Minggir, aku mau lewat," ucap Tio.
"Ya ini memang bukan alasanku. Tapi, karena aku tidak pernah melihatmu dan aku juga tidak mengenalmu. Dan kamu yang baru aku lihat selalu tiba-tiba selalu berada di rumah Mbok Sumi bahkan membantunya. Tentu saja membuat aku harus berurusan denganmu."
"Kenapa?"
"Loh, kamu nggak tahu kalau Mbok Sumi itu adalah nenek mutia?"
"Ya tahu, terus hubungannya sama kamu apa?"
"Mutia itu kekasihnya aku. Kami bahkan akan meresmikan hubungan kami setelah Mutia kembali dari kota."
"Haha, mimpi."
"Kalau kamu tidak percaya ya sudah terserah, tapi memang itulah yang terjadi. Mutia pergi ke kota karena dia harus menyelesaikan kuliahnya. Setelah selesai kuliah kami akan langsung bertunangan"
Sial, setelah ini aku harus meminta Tolip untuk mencari tahu tentang laki-laki bernama Amar, yang mengaku sebagai kekasih Mutia.
Ah tidak, Mbok Sumi benar. Jika aku terlalu banyak meminta bantuan kepada orang lain untuk menemukan keberadaan Mutia atau untuk urusan lainnya. Itu artinya aku tidak benar-benar mencintai Mutia.
Jika Aku ingin semester tahu betapa besarnya cintaku kepada Mutia, aku harus berusaha sendiri dalam mencari segala sesuatu yang berkaitan dengan Mutia.
"Baiklah Amar. Kamu boleh bermimpi dan mengatakan jika kamu adalah kekasih Mutia. Tapi, bagi aku. Sebelum aku mendengarnya langsung dari Mutia. Aku tidak akan pernah mempercayainya."
"Memang nya siapa kamu, sehingga kamu tidak percaya saat aku mengatakan bahwa aku adalah kekasih Mutia?"
"Aku adalah orang yang akan mendapatkan hati Mutia. Mutia adalah milikku. Dan aku akan membuktikan nya kepada mu."
"Hahahaha, jangan mimpi bro. Mutia adalah wanita yang sangat sulit untuk didekati pria dari zaman sekolah. Hanya aku satu-satunya teman pria yang berhasil menjadi sahabatnya hingga saat ini."
"Dih, ternyata kamu cuma sahabat. Kenapa tadi kamu mengatakan jika kamu adalah kekasih Mutia?" tanya Tio.
"Denger, aku dan Mutia sebelumnya memang seorang sahabat. Tapi aku dan dia sudah saling menyatakan perasaan kami satu sama lain."
"Lihat dan tunggu saja. Saat kita kembali bertemu, kamu akan melihat aku bersama Mutia."
TIDAK !!!!
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...