TERJERAT CINTA PENJUAL JAMU KOCOK

TERJERAT CINTA PENJUAL JAMU KOCOK
Aku Galau


__ADS_3

Tio sangat hilang semangat untuk pertama kalinya dalam menjalankan tugas nya.


Dia menyerahkan semua pekerjaan kepada Tolip. Tio hanya terdiam sambil memikirkan perkataan Amar.


"Tidak mungkin, Amar tidak mungkin menjadi kekasih Mutia. Hanya aku yang pantas menjadi kekasih Mutia. Ya, hanya aku."


Tolip yang sering melihat Tio berbicara sendiri. Memutuskan untuk mencari psikiater terbaik yang ada di kota.


Tolip benar-benar yakin jika Tio sudah mengalami gejala pra gila.


"Sungguh sangat disayangkan, jika bos kamu yang tampan dan super kaya itu menjadi gila," ucap Ibu Tholib saat dia tidak sengaja mendengar Tolip baru saja selesai berkonsultasi dengan psikiater.


"Entahlah bu, semoga saja dia hanya mengalami gejala pra gila."


Tolip kemudian pamit meninggalkan rumah dan menitipkan bosnya kepada sang Ibu.


"Bu, Aku harus pergi untuk menyelesaikan pekerjaan terakhir sebelum kembali ke kota. Tolong jaga bos yang mulai mengalami gejala pra gila. Jangan biarkan dia keluar dari rumah ini. Aku takut dia akan ditangkap oleh keamanan desa karena mengira ia benar-benar sudah gila."


"Pergilah, semoga setelah ini kamu tidak tertular penyakit gila."


Tolip menyempatkan diri untuk melihat keadaan Tio. Tolip menggeleng-gelengkan kepala saat melihat bosnya itu berbicara sendiri.


"Sebaiknya setelah ini aku harus melacak keberadaan Mutia. Atau aku harus mencari tahu sebenarnya siapa Mutia. Dia sudah membuat bos yang sangat fenomenal itu menjadi gila."


"Atau jangan-jangan, bos gila karena dia terlalu banyak mengkonsumsi jamu kocok?"


"Atau karena butuh di kocok?"


"Tolip, sudah sana pergi jangan sampai kamu ikutan menjadi gila." Teriak Ibu Tolip.


"Ah, iya bu. Oh astaga, kata kocok ini memang benar-benar sudah membuat aku gila."


...----------------...


Satu minggu berlalu...


Tio dan Tolip sudah kembali ke kota dan Tolip benar-benar membawa Tio ke psikiater.


Sebelumnya, Tolip juga sudah meminta izin kepada kedua orang tua tio untuk membawa bosnya itu pergi berobat.


"Dasar, sekertaris dan orang tua gak ada akhlaq. Aku yang tampan seperti ini di kira gila," ketus Tio.


"Yakin bos gak gila?" tanya Tolip.


"Iya. Aku gak gila. Aku cuma galau. Aku galau." Tio yang tadinya sudah sangat marah, tiba-tiba menjadi terdiam dan ekspresi wajahnya langsung berubah. Sekarang ekspresinya menunjukkan kesedihan.


"Hiks, Aku tidak menyangka jika dalam sejarah kehidupan aku. Aku bisa menjadi galau. Hiks.."

__ADS_1


Tolip menghela nafas panjang kemudian mendekati sang bos dan memeluknya.


Tolip harus bekerja ekstra sekarang. Bagaimana tidak, selain harus mengambil alih pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh Tio. Tolip juga harus membantu Tio ketika kegilaan dia mulai kumat.


Tolip masih belum menemukan keberadaan Mutia di kota itu.


"Aku yakin, jika kedua orang tua Mutia pindah ke kota ini. Tapi kenapa aku tidak bisa menemukannya?" ucap Tolip ketika dia sedang mencari data tentang penduduk yang baru menempati kota itu.


Satu bulan sudah berlalu, baik Tio dan Tolip juga masih belum bisa menemukan keberadaan Mutia.


Tio mulai kembali bangkit, terbukti dengan dia mulai aktif kembali menjabat sebagai direktur di perusahaannya.


Tolip bisa bernafas lega sekarang, namun dia masih berusaha mencari keberadaan Mutia karena merasa sangat kasihan kepada Tio.


"Aku tidak akan berhenti mencari keberadaan Mutia, walaupun aku harus mencarinya ke ujung dunia," ucap Tolip.


"Tolip..."


"Ya bos?"


"Apa berkas untuk meeting besok sudah kamu siapkan?"


"Sudah, ini dia." Tolip memberikan beberapa berkas kepada Tio dan Tio mulai membukanya.


"Hmm, bagus. Ada apa?" tanya Tio saat melihat sekretarisnya itu terus memandangi dirinya.


"Ya sebenarnya aku masih galau. Tapi kemudian aku percaya jika galau saja tidak akan membuat aku bisa menemukan keberadaan Mutia."


"Galau berkepanjangan hanya membuang-buang waktu dan waktu tidak akan membawaku kepada Mutia."


"Salah," lirih Tolip.


"Apanya yang salah?" Tio mengkerutkan dahinya sambil menatap Tolip


"Selama galau masih berkepanjangan, percayalah beberapa penyakit ini akan merusak kesehatanmu. Contohnya penyakit jantung, depresi, obesitas, dan diabetes."


"Kata siapa?" tanya Tio.


"Kata aku, kan barusan aku yang ngomong."


"Ketika seorang merasakan galau, ada baiknya rasa galau tersebut bisa diluapkan dan diekspresikan dengan hal-hal yang di sukai, atau mungkin juga bisa di tuliskan lewat kata-kata galau di media sosial." Tolip memberikan gadget kepada Tio.


"Dengan begitu, rasa pedih dan berat di hati sedikit demi sedikit akan berkurang. Solusi ini sudah banyak digunakan oleh masyarakat. Maka jangan heran saat membuka media sosial, kamu bisa menemukan satu spesies yang suka mengunggah kata-kata galau."


"Apa benar seperti itu?" tanya Tio.


"Coba saja."

__ADS_1


Tio memilih untuk membawa gadget itu duduk di kursi yang berada di dekat jendela, Tio mulai membuka sosial media miliknya dan mulai meluapkan segala kegalauan yang selama ini dia rasakan.


Mutia, semoga kamu bisa menemukan tulisan ini. Ini adalah bentuk rasa galau karena aku tidak bisa menemukan keberadaan kamu.


...----------------...


Sementara itu...


Di sebuah rumah berantai 3 dengan nuansa modern, seorang wanita sedang duduk di balkon rumahnya.


Wanita itu, tampak duduk santai sambil ditemani segelas minuman dan beberapa cemilan.


Di meja tempat dia duduk juga terdapat laptop dan beberapa buku yang tertata.


Wanita itu baru saja selesai mengerjakan skripsi terakhirnya.


"Mutia, lekaslah selesaikan tugasmu dan kita turun untuk makan malam," ucap wanita cantik yang tidak lain adalah mamanya.


"Ya ma."


Mutia menutup laptop kemudian berjalan menuju pagar balkon dan melihat ke arah langit yang cerah.


Ribuan bintang seolah-olah berlomba untuk menyaingi cahaya bulan yang begitu bersinar terang.


Ini sudah lebih dari satu bulan aku berada di kota, kenapa aku tidak bisa menemukanmu. Bukankah ada peka pepatah yang mengatakan jika dunia tidak selebar daun kelor. Tapi kenapa sampai detik ini aku masih belum bisa menemukan keberadaan kamu?


Tidak. kenapa sampai detik ini kamu masih belum bisa menemukan keberadaan ku? apa kamu benar-benar sudah menemukan wanita lain selain diriku?


Mutia memejamkan mata dan membiarkan angin malam menerpa wajahnya.


"Sekeras apa pun aku berlari dari kenyataan. Sekeras apa pun aku berlari dari takdir. Sekeras apa pun aku mencari jawaban dari semua pertanyaan, jawaban dari semua itu cuma ada satu yaitu kau hanya aku yang terlambat tahu," lirih Mutia.


Mutia kembali duduk dan mengambil ponselnya. Mutia membuka ponsel dan mulai menuliskan kata demi kata yang selalu muncul di dalam pikirannya ketika dia mengingat Tio.


...Ketika kita bertemu tragedi nyata dalam hidup, kita dapat bereaksi dengan dua cara. Entah dengan kehilangan harapan dan jatuh ke dalam kebiasaan merusak diri sendiri, atau dengan menggunakan tantangan untuk menemukan kekuatan batin kita....


...Jika kamu berani mengucapkan selamat tinggal, kehidupan akan memberikanmu hadiah berupa lembaran baru....


...Semoga kita akan ditemukan dalam lembaran baru yang sudah menunggu di depan mata....


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2