
ππππ
Keesokan paginya Clara terbangun pada saat Matahari mulai terbit diufuk timur. Wanita itu perlahan bangkit sembari memegangi perutnya yang sudah membuncit. Clara melirik ke kanan dimana Mike masih tertidur pulas. Kata sang mertua, jarang-jarang sekali Mike tidur dirumah, biasanya pria itu menghabiskan waktu dengan menginap dikantor atau dirumah Jelo
Clara tersenyum menatapi wajah suaminya yang tampak tenang. Sejak semalam Mike tidur menghadap Clara seolah menjaganya, meski tak memeluk Clara malah yang dipeluknya adalah guling yang jadi pemisah mereka
Suara ponsel mengalihkan perhatian Clara, tatapanya tertuju pada ponsel Mike yang berdering dibelakang tubuh pria itu. Clara sedikit mencondongkan tubuh untuk melihat siapa yang pagi-pagi buta menghubungi suaminya
" Wanita gila." Gumam Clara lalu meraih ponsel Mike dan mengangkat panggilan yang ternyata dari Airin
" Morning Mike." Bibir Clara mencebik mendengar sapaan lembut itu
" Bukankah suamiku adalah atasanmu?" Tanya Clara ketus
" Uuhhhm sorry, bisakah aku bicara dengan Mike." Clara melirik Mike yang tak terganggu sedikitpun
" Dia masih tidur, kelelahan karena semalam." Jawab Clara asal, padahal keduanya tak melakukan apapun, hanya tidur
" Kalau begitu-"
" Jangan mengganggu saat Mike sedang berada dirumah." Potong Clara lalu mematikan panggilan itu secara sepihak. Ia langsung melempar ponsel Mike kembali pada tempatnya dengan kesal
" Mammi juga tidak suka sayang, bila wanita itu mengganggu Daddymu" Gumam Clara menunduk bicara sendiri sembari mengusap perutnya
" Mammi tidak cemburu, tidak, mana mungkin Mammi cemburu. Kamu tidak menyukainya jadi Mammi pun ikut tidak senang." Gumam Clara bicara sendiri seperti orang gila
Kemudian Clara kembali pada Mike, ia mengulurkan jemarinya akan membelai rambut Mike yang menghalangi dahi namun mengurungkan niatnya ketika melihat kelopak mata pria itu bergerak. Clara jadi salah tingkah dan beringus turun dari kasur
" Jam berapa ini?" Tanya Mike membuat Clara berhenti dan berbalik padanya
" Ini masih terlalu pagi untuk pergi bekerja!" Jawab Clara seraya meremmas kedua jemarinya. Mike hanya menatap lalu kembali menutup kedua matanya yang masih terasa berat
Clara melanjutkan kembali langkahnya dan keluar dari kamar. Perut Clara mulai berbunyi ketika menghirup aroma masakan dari arah dapur. Semenjak menikah dengan Mike, Clara selalu dibuatkan makanan rumahan oleh ibu mertuanya, dimana lagi Clara bisa menemukan mertua sebaik Mammi Riana
Clara langsung menuju dapur dimana Mammi Riana sedang memasak
" Hai sayang, apa Mike sudah bangun?" Tanya Mammi Riana, Clara menggelengkan kepalanya
" Dasar anak itu kalau tidur seperti Bab*.! Gerutu Mammi Riana
" Memangnya ada apa? bukankah ini masih terlalu pagi."
__ADS_1
" Ini hari senin, biasanya Mike sangat sibuk!" Clara menggigit bibir bawah merasa bersalah, tapi ia benar-benar tak suka Airin selalu mengganggu suaminya
" Kemarilah, coba masakan Mammi." Clara mendekati sang mertua dan menerima suapan darinya. Wanita itu bertepuk tangan
" Ini enak sekali Mam." Teriaknya heboh, padahal bagi Mammi Riana itu hal yang biasa. Sejenak wanita itu memandangi Clara, dimatanya gadis ini tampak kekurangan kasih sayang
" Kenapa kamu lebay sekali." Mammi Riana mencubit pipi Clara
" Karena ini sangat enak!" Clara mengacungkan jempolnya membuat Mammi Riana tersenyum
" Kalau begitu ayo sarapan."
" Tapi aku belum mandi."
" Bukan masalah Clar, isi perutmu dulu." Clara mengangguk senang kemudian membantu sang mertua membawa semua masakan ke meja makan. Bukan tak ada pembantu namun Mammi Riana memang terbiasa melakukannya sendiri, ia tak ada kegiatan selama dirumah
Ditengah-tengah sarapannya bersama Mammi Riana, Clara dikejutkan dengan suara sepatu yang bebenturan begitu keras dengan lantai. Clara menggigit bibir bawahnya, ia takut Mike akan marah padanya
" Clara, bisa-bisanya kau membohongiku, kau bilang!" Benar saja apa yang Clara takutkan, kepala wanita itu langsung menunduk takut
" Jangan menyalahkan istrimu, kamu saja yang tidurnya seperti bab*!" Saut Mammi Riana memotong perkataan Mike
" Aku tadi sudah bangun!" Mike tampak benar-benar marah kali ini, dengan berkaca pinggang ia menatapi Clara
Clara mengangguk pelan
Mike berdecak kesal lalu meninggalkan meja makan diikuti pandangan Clara yang tampak merasa bersalah
" Bukan salahmu sayang, Mike memang seperti itu. Pekerjaan selalu membuatnya lupa pada keluarga." Ucap Mammi Riana sembari mengelus punggung Clara
" Lihat, dia bahkan melupakan sarapannya." Gerutu Mammi Riana menggelengkan kepala
Mike berlari kedalam ketika mobilnya sudah ia parkirkan didepan kantor. Pria itu melewatkan beberapa kali meeting bersama para atasannya. Tiba didalam Mike sudah terlambat, Meeting terakhir sudah selesai. Mike membungkukan badan ketika bertemu atasannya
" Maaf saya terlambat." Ucap Mike, namun sang atasan malah tersenyum, ia memaklumi Mike yang menurutnya masih pengantin baru, meskipun perut istrinya sudah membuncit
" Lanjutkan pekerjaanmu, Ferry dan Martin ada diruang introgasi."
" Terima kasih Pak." Saut Mike lalu bergegas menuju ke sebelah ruang introgasi. Pria itu masuk kedalam dimana semua orang berada, memperhatikan Ferry dan Martin yang sedang ditanyai Jelo didalam ruangan yang tersekat kaca besar didepan matanya
" Menikah membuatmu jadi tidak disiplin." sindir Airin yang juga berdiri disana
__ADS_1
" Maaf, Clara tidak membangunkan aku." Jawab Mike tak mengalihkan perhatiannya dari Ferry dan Martin. Airin mendelik sebal, rasanya kesal pada sahabatnya yang tampak takluk pada istrinya
" Sudah berapa-"
" Baru dimulai." Potong Airin dan Rena secara bersamaan. Mike mengabaikan keduanya dan keluar dari ruangan. Ia masuk keruang introgasi
Ferry dan Martin bersorak senang dengan kehadiran Mike
" Hai boss ... oopps Kapten!" Mike tak terkecoh akan ledekan itu, ia duduk disebelah Jelo dengan bersedekap dada. Pria itu tampak sangat berwibawa meski tanpa seragam polisinya
" Jelo, katakan pada mereka berdua, jangan banyak berbasa-basi atau akan kurobek mulut mereka!" Ferry dan Martin tertawa kencang
" Bagaimana keadaan Clara? kudengar kau menikah dengannya?" Mike tak langsung menjawab pertanyaan Ferry , ia hanya menatap dengan santainya
" Seperti yang kau lihat aku sangat puas, setiap malam aku menghabiskan malam dengannya." Mike jadi ikut-ikutan melenceng dari pertanyaan
" Kau memang licik sejak awal, Mike." Mike tersenyum bak iblis
" Tidak ada yang tidak bisa kudapatkan., bahkan wanita sekelas Clara sekalipun" sautnya sombong
" Statusmu hanyalah topeng, sebenarnya yang lebih kriminal adalah kau." Mike tak menjawab, ia akui kesalahannya memang memperkosa Clara. Mike melirik kaca lalu menekan tombol off sehingga orang-orang yang berada dibalik kaca tak mendengar ucapannya
" Kau tahu Ferry, Clara masih perawan saat kutiduri. Itu sebabnya aku tak mau melepaskan Clara." Ferry yang sangat terobsesi pada Clara itu tampak marah, kedua tangannya yang diborgol itu mengepal kuat, tatapannya menajam pada Mike, ingin menghajar pria itu habis-habisan dengan kedua tangannya. Niatnya menghasut Mike untuk mendapatkan, setidaknya sekali merasakan tubuh wanita itu namun kenyataannya tak sesuai rencana Ferry, Mike tak membiarkannya. Jika saat itu tahu Mike adalah seorang polisi, mana mungkin Ferry mau menjadi anak buah pria itu, sejak awal pria itu mengaku sebagai orang yang sama-sama bergelut dalam bisnis hitam bersama Jelo
" Bukankah kau sendiri sudah melihat rekaman videoku dan Clara."
" Psikopat brengsek!" umpat Ferry membuat Mike terbahak kencang, sedangkan Jelo hanya menggelengkan kepala dengan Mike sikepala batu, pria itu tampak tak takut sedikitpun celah buruknya diketahui atasan mereka
Mike kembali menyalakan tombol hijau sehingga yang dibalik kaca mendengar mereka lagi
" Ayo cepat mengaku, kejahatan apa saja yang dilakukan Guzman? Dimana lagi kalian menyimpan semua sisanya?"
" Sampai matipun kami tidak akan pernah membuka mulut!"
" Kenapa bodoh sekali, melindungi orang yang akan segera dihukum mati." Ferry dan Martin tampak terkejut, padahal itu hanya tipuan Mike. Bahkan kejahatan Guzman belum ia serahkan ke persidangan
" Kalau kalian bersikeras melindunginya, kalian yang akan merugi. Kalian akan mendapat hukuman yang sama karena dianggap bekerja sama!" Ucap Jelo dengan tatapan mengintimidasi lalu bangkit berdiri dan duduk diatas meja disamping Martin
" Kami sungguh tidak tahu, kami hanya menjalankan tugas yaitu menjual ke pelanggan."
" Apa kau tahu tentang pelecehan yang dilakukan Guzman?" Martin tampak ragu, tapi pria itu membuka mulutnya, semua ia ceritakan pada Jelo dan Mike. sementara Ferry hanya diam menatapi Mike dengan tatapan penuh kebencian
__ADS_1
-
-