
Ali bergegas menuju ke rumah sakit. Setibanya di sana ia melihat sepasang suami istri yang sedang berdebat dengan seorang petugas medis.
Seorang wanita tampak bersikeras untuk membuka sebuah peti mati namun dua orang tenaga medis melarangnya.
"Sudahlah Bu, kita tidak perlu berdebat lagi. Mungkin ini yang terbaik buat Vian. lebih baik kita ikhlaskan dia," ucap seorang pria membujuknya
Namun wanita itu malah menangis meraung-raung membuat semua pengunjung rumah sakit langsung menoleh kearahnya.
Ali kemudian bertanya kepada resepsionis tentang jenazah Vian.
"Permisi, kalau boleh tahu, dimana jenazah Alvian dari SMA Tunas Bangsa di semayamkan?"
"Jenazah anak SMA korban bullying ya, itu ibunya yang lagi teriak-teriak," jawab resepsionis menunjuk kearah seorang wanita yang terlihat di depan kamar mayat
"Ok, terimakasih,"
Ali kemudian bergegas menemui orang tua Vian.
"Selamat siang, perkenalkan saya orang tua Beni temannya Vian. Apa boleh saya melihat Vian?" tanya Ali
"Jangankan Bapak, saya saja sebagai ibunya tidak boleh melihat wajahnya. Mereka sudah memasukannya kedalam peti tanpa meminta izin dari kami, bukankah itu keterlaluan," jawab wanita itu menatap kearah kamar mayat
"Kenapa bisa begitu?" tanya Ali
"Mereka bilang, jenazahnya rusak Jadi mereka melarang kami melihatnya," jawab wanita itu tampak kesal
Ia kemudian memberitahu Ali jika hal itu semakin membuatnya berpikir jika putranya mati tak wajar.
Bagaimana tidak, jika benar Vian meninggal karena jatuh di dorong oleh temannya mustahil mereka melarangnya untuk melihat jenazahnya. Apalagi pihak keluarga sudah legawa dan menerima dengan ikhlas kematian putranya.
Namun Ibu Vian tak habis pikir kenapa mereka justru melarangnya melihat jenazah putranya untuk terakhir kalinya.
"Sabar saja Bu, aku yakin sebentar lagi semuanya akan terjawab," jawab Ali.
"Terjawab, apa maksudnya?" tanya wanita itu
"Kebenaran penyebab kematian Vian," jawab Ali
__ADS_1
Tidak lama seorang petugas memberitahukan mereka jika jenazah Alvian akan segera diantar ke rumah duka menggunakan ambulans.
"Bapak Ibu, siapa yang akan mendampingi jenazah?" tanya pria itu
Kedua orang tua Vian menolak ikut mobil jenazah karena harus mempersiapkan rumah mereka.
"Biar saya saja," jawab Ali
Sebelumnya ia memang sudah meminta ijin kepada pihak keluarga untuk mengawal jenazah Vian.
Ali kemudian mengikuti petugas medis menuju ke ambulance.
Tak lupa ia menghubungi Kris dan Baron untuk menyusulnya. Ditengah perjalanan mobil ambulance diberhentikan oleh sebuah mobil jeep yang menghadangnya.
Baron dan Kris segera turun dan menyuruh sang sopir keluar. Setelah berhasil menyingkirkan sopir ambulance mereka membawa jenazah Vian ke sebuah rumah sakit tempat di mana Kris bekerja.
Ia membawa Vian ke ruang autopsi.
Hasilnya sungguh mencengangkan, hampir sama dengan kasus Beni. Seperti Vian juga meninggal sebelum jatuh dari gedung karena penganiayaan.
Ali meminta hasil autopsi jenazah.
Ali pun setuju. Ia bersama dua orang sopir ambulance mengantar jenazah Vian ke rumah duka.
Setibanya di sana, Ridwan dan Max menyambut kedatangannya.
Bukan hanya mereka yang datang ke rumah duka, namun semua guru dan perwakilan siswa juga datang untuk menyampaikan rasa belasungkawa mereka untuk Vian.
Tidak lama setelah jenazah tiba, Seorang pria paruh baya kemudian memimpin untuk menyolatkan jenazah. Namun peti jenazah hendak dibawa ke pemakaman, kembali orang tua Vian menangis histeris membuat pemakaman di tunda.
Wanita itu tampak enggan melepaskan jenazah putranya ke pemakaman hingga terus memeluk peti matinya.
Meskipun beberapa orang sudah berusaha membujuknya namun tidak ada satupun yang berhasil membuat wanita itu melepaskan pelukannya.
Hanya Ali yang mengetahui bagaimana perasaan wanita itu hingga memberikan pengertian kepada tetua dan kemudian meminta untuk menunda pemakaman.
Beberapa orang langsung bereaksi saat mendengar ucapan Ali. Mereka mengira jika Ali hanya menjadi provokator alih-alih bersimpati kepadanya.
__ADS_1
Mereka yang sebagian besar tidak setuju dengan pendapat Ali, berasumsi jika mayat Vian akan rusak dan membusuk jika tidak segera di kebumikan.
Melihat Ali terus membela Ibu Vian yang bersikeras untuk menahan jenazah membuat beberapa orang geram, terutama Ridwan.
"Kalau seperti ini terus kasian Vian Ibu, sebaiknya ikhlaskan saja dia. Jika begini terus, Ibu hanya akan menghalangi putra ibu ke surga!" ẞ ucap Ridwan
"Kalau kalian memang bersikeras untuk menguburnya maka ijinkan aku untuk melihat wajah putraku untuk terakhir kalinya," jawab wanita itu tampak pasrah
"Mungkin bagi kalian itu terlihat lebay, apalagi aku setiap hari melihatnya. Namun kematian andalah suatu perpisahan yang begitu menyakitkan karena kami tak akan bertemu lagi selamanya, jadi aku mohon sekali saja ijinkan aku melihatnya. Aku janji aku tidak akan histeris apalagi pingsan saat melihatnya," imbuh wanita itu
Melihat kesedihan wanita itu, seorang ustadz mengizinkannya untuk melihat mayat Vian.
Tentu saja hal itu membuat Ridwan terlihat ketar-ketir. Ia menoleh kearah Max yang tampak mengalihkan rasa paniknya dengan memainkan ponselnya.
Saat ayah Vian hendak membuka peti mati, Ridwan buru-buru menahannya.
"Maaf Ibu, bukannya kamu melarang ibu melihatnya kami hanya takut ibu tidak kuat melihatnya."
Sebagai ibu, wanita itu sudah memiliki firasat buruk terhadap kematian putranya. Dan semua itu semakin terbukti saat melihat bagaimana sikap Ridwan yang terus melarangnya melihat jenazah putranya.
"Melihat anda begitu gigih untuk segera mengubur jenazah putraku dan melarang ku untuk melihat putraku, membuat aku curiga jika sesuatu terjadi pada putraku. Dia bukan meninggal karena di rundung oleh teman-temannya namun ada rahasia besar di balik itu," tandas wanita itu.
"Ibu jangan mengada-ada, polisi sudah mengusut tuntas kasus ini dan menangkap si pelaku Perundungan. Jadi apalagi yang kami sembunyikan. Bahkan pihak sekolah sudah berusaha sebaik mungkin untuk memberikan yang terbaik untuk membantu pihak kepolisian mengusut tuntas kasus ini," ujar Ridwan
"Kalau begitu lihat saja!" seru Max menggeser tangan Ridwan yang menempel di peti mati.
Pria itu kemudian mempersilakan wanita itu untuk melihat wajah Alvian.
"Silakan,"
Ridwan tampak tak bisa menyembunyikan rasa paniknya
Tak mau terlihat mencurigakan, Max memberikan isyarat kepada Ridwan agar tenang.
Perlahan Ayah Vian membuka peti mati itu. Lelaki itu seketika membulatkan matanya saat melihat luka memar di wajah Alvian.
"Putraku meninggal bukan karena jatuh dari atas gedung tapi dia di bully!" seru Ibu Vian
__ADS_1
Wanita itu kemudian mendekati Ridwan, "Anda menjadi saksi jika putra ku tewas karena Perundungan, aku mau si pelaku di hukum seberat-beratnya dan bila perlu di keluarkan dari sekolah!" seru wanita itu mengguncang tubuh Ridwan.
"Tentu saja Ibu, pihak sekolah pasti akan mengeluarkan si pelaku!"