
Pagi itu Aldi masuk sekolah seperti biasa. Semua semua siswa menatap sini sekarang saat ia memasuki gerbang sekolah.
Bahkan beberapa orang siswa langsung berbisik-bisik membicarakannya. Namun Aldi tak ambil pusing, ia tetap berlalu tanpa menghiraukan mereka.
Saat ia memasuki ruangan kelas, situasi tak jauh beda seperti saat Ia memasuki gerbang sekolah.
Semua teman-temannya tampak menggunjingkannya bahkan ada beberapa yang mencemoohnya.
"Wah benar-benar muka tembok, padahal sudah membunuh teman sendiri tapi masih pede datang ke sekolah," celetuk salah seorang siswa
"Jangan asal bicara, kalau dia sudah bebas itu tandanya Aldi gak salah," tandas Beni membelanya
"Palingan dia bebas bukan karena gak salah, tapi bisa aja kan karena orang tuanya menyuap polisi," sahut yang lainnya
"Jangan asal jeplak lo, orang susah kaya dia masa iya sih bisa nyuap aparat. Jangankan buat nyuap polisi bahkan buat makan aja susah!" seru Derren
"Bisa aja ibunya jual diri Ren, jaman sekarang apa sih yang gak bisa di jual. Bahkan bukan tubuh aja yang bisa di jual tapi harga diri juga!!"
Seketika semua siswa langsung tertawa terbahak-bahak Mendengarnya.
Beberapa siswa langsung membalikkan jempolnya kearah Aldi.
Aldi yang semula diam akhirnya tak tahan juga saat teman-temannya mulai membawa-bawa ibunya.
Ia segera mendatangi seorang yang sudah menyebut ibunya menjual diri dan mencengkeram lehernya.
"Gue gak marah saat lo mengatakan apapun tentang gue, tapi gue Paling gak suka saat lo bawa-bawa nyokap gue,"
Pemuda itu langsung menurunkan lengan Aldi dan mendorongnya.
Semua siswa mulai berteriak dan memprovokasi keduanya hingga perkelahian pun tak bisa di hindarkan.
Beni berusaha memisahkan mereka namun sayangnya ia malah kena tinju hingga harus menyingkir.
Beni mencoba keluar untuk melaporkan kejadian itu kepada wali kelas mereka namun Darren melarangnya.
"Jangan menambah urusan makin panjang, biarkan saja mereka, sebaiknya kau juga jangan terlalu ikut campur jika taj mau menjadi korban seperti dulu," tukas Darren
"Sekarang gue gak bisa jadi pengecut seperti dulu. Gue gak bisa membiarkan Aldi jadi bulan-bulanan kalian. Kali ini gue harus bertindak agar tidak ada korban lagi," seru Beni
"Justru kalau lo lapor, bakal ada korban berikutnya!" seru Justin
Ia kemudian meminta Darren untuk menghentikan pertikaian Aldi dan Mario.
"Hentikan mereka Ren, karena hanya lo yang bisa menghentikan mereka!" seru Justin
__ADS_1
"Stop!!"
Seketika semuanya terdiam saat melihat seseorang berteriak. Darren seketika menoleh kebelakang melihat siapa yang berteriak. Seketika wajahnya pucat saat melihat Windu memasuki ruangan kelas tersebut.
"Siapa yang berkelahi pagi-pagi buta seperti ini?" ucap Pria itu menyeringai
Semua siswa langsung memberikan jalan kepada pria itu.
Windu menyeringai saat melihat sosok Aldi yang babak belur setelah terlibat baku hantam dengan Mario.
"Oh, jadi kau sudah datang rupanya. Good, sekarang ayo ikut aku keruangan ku. Mari kita selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin," tukas pria itu membuat semua siswa langsung menundukkan wajahnya
Tak ada satupun siswa yang berani menatap guru baru yang terkenal killer itu.
Bahkan Justin tampak gemetar saat melihat pria itu membawa Aldi ke ruangannya.
"Lakukan sesuatu Ren, apa kau mau melihat Aldi keluar tinggal nama," bisik Justin
"Aku tak bisa berbuat apa-apa," jawab Darren
"Telpon ayahmu," sahut Justin
"Tidak bisa, dia tidak mau terlibat dalam urusan seperti ini," jawab Darren
"Dasar banci semua!" seru Ranti kemudian keluar menyusul Windu dan Aldi
*Buugghhh!!
Karena terburu-buru Ranti tak sadar menabrak Ali.
"Aww!" seru Ranti mengusap keningnya
Gadis itu kemudian menyipitkan matanya melihat siapa yang ditabraknya.
Seketika ia berteriak kesakitan saat melihat Ali yang ditabraknya.
"Aduuh mataku!" serunya dengan mimik wajah ketakutan
Melihat ekspresi wajah Ranti membuat Ali seketika menarik lengan gadis itu.
"Kenapa kau selalu berusaha menghindar saat bertemu denganku?"
"Sorry Om, ada yang harus aku selesaikan. Nanti lain kali aku pasti akan memberitahu Om semuanya!" sahut Ranti
"Katakan ada apa sebenarnya?" hardik
__ADS_1
"Sebaiknya Om segera ikut aku," Ranti kemudian menarik lengan Ali dan membawanya menuju ke ruangan Windu.
Ranti kemudian meminta Ali untuk mengeluarkan Aldi yang berada di ruangan Windu.
Ali yang tak mau terlibat baku hantam dengan Windu menghubungi Ridwan. Ia memberitahu pria itu jika Aldi sudah masuk ke sekolah.
Mendengar Aldi ada di sekolah, Ridwan segera mencarinya.
Ali tak lupa memberitahunya jika Aldi berada di ruangan Windu.
Tidak lama Ridwan memasuki ruangan Windu dan mengajak Aldi ke ruangannya.
Melihat Ali begitu mudah mengeluarkan Aldi dari ruangan Windu membuat Ranti takjub.
"Wah om keren banget!" puji Ranti
"Sebentar lagi kau akan melihat yang lebih keren setelah ini," Ali kemudian mengikuti Ridwan ke ruangannya.
Ridwan begitu terkejut saat mengetahui Ali masuk ke ruangannya.
Ia segera menghentikan ucapannya dan mempersilakan Ali duduk.
"Kalau bapak benar-benar ingin mengeluarkan Aldi dalam rangka membasmi para Perundung di sekolah ini, sebaiknya anda mengumumkan hal ini di media untuk memberikan efek jera kepada para pelaku perundungan. Bukan hanya akan mendapatkan pujian dari para netizen karena anda berhasil menegakkan keadilan di sekolah ini. Tidak lama para wartawan itu mendatangi sekolah
Ridwan kemudian menjamu para wartawan itu dan mengarahkannya ke tempat yang sudah dipersiapkan untuk mereka.
Ridwan memulai konferensi.
Awalnya semua berjalan sesuai dengan rencana.
Saat Ridwan hendak menutup acara konferensi pers Ali sengaja mematikan lampu ruangan itu dan menyalakan sebuah hasil rekaman para pelaku yang sudah ia rangkum menjadi sebuah perjalanan dokumenter.
Ridwan tercengang saat melihat tayangan di belakangnya.
Ia begitu malu saat melihat video tersebut. Para Netizen yang awalnya memuji Ridwan tiba-tiba menghujatnya dan meminta lelaki itu mundur dari jabatannya.
Tidak lama Max menghubungi Ridwan dan memintanya untuk mengakhiri konferensi persnya.
Aldi begitu senang dan berterima kasih kepada Ali karena ia tak jadi dikeluarkan dari sekolahnya.
Sementara itu Max yang kesal segera memerintahkannya Hera untuk mengirim anak buahnya untuk memberikan pelajaran kepada Ali yang sudah membantu Ali.
"Ok, segera akan meluncur!" seru Hera
Hera mematikan ponselnya dan menghubungi sekretarisnya. Ia memberitahu sekretarisnya untuk menghubungi Green.
__ADS_1
Hera begitu terkejut melihat kedatangan Green yang begitu cepat menemuinya. Namun bukannya bantuan yang ditawarkan oleh Green, melainkan sebuah senjata yang ditodongkan ke arah Hera.