TERNYATA AYAHKU SEORANG JAGOAN

TERNYATA AYAHKU SEORANG JAGOAN
Bab 42


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan??" ucap Hera menatapnya sinis


"Sorry, sepertinya gue sudah gak bisa menjadi anak buah lo lagi. Terlalu banyak kecurangan yang kau lakukan. Dan terlalu banyak rahasia yang kau sembunyikan!" sahut Green


Hera menarik nafas pelan, wanita itu hampir tak mengerti apa yang dikatakan oleh Green.


Ia mencoba melakukan negosiasi dan menenangkan pria itu. Hera tahu jika Green adalah tipe pria yang penurut dan sangat setia, ia merasa jika seseorang telah menghasutnya sehingga membuatnya menjadi semarah itu padanya.


Berkali-kali ia berusaha memberikan pengertian dan menenangkannya, namun seperti seorang kekasih yang telah di khianati hati Green benar-benar tertutup dan tak mau mendengarkannya.


Hera yang tak mau mati konyol pun berusaha meraih telepon di mejanya.


"Jangan bergerak atau aku akan menarik pistol ini!"


"Ok Green, slow.... mari kita selesaikan masalah ini baik-baik. Kita bisa menyelesaikannya dengan kepala dingin jadi turunkan pistol mu," sahut Hera


"Kau terlalu meremehkan aku Ra!"


*Buugghh!!


Seketika Hera mengambil sebuah benda dari meja kerjanya dan memukulkannya ke kepala Green. Ia juga melepaskan tinjunya dan berusaha menjatuhkan pistolnya saat pria itu mulai lengah.


Tak ada seorangpun yang mengetahui perkelahian Green dan Hera.


Semua anak buah Green masih terlihat santai di ruangan sparring bersama para trainee.


Begitupun dengan para agent tampak menunggu kedatangan Hera di ruang rapat.


Blue baru saja tiba saat suara pecahan kaca terdengar dari lantai Tiga.


Hera tampak terluka setelah terlempar dari ruangannya.


Suara tembakan terdengar membuat Blue segera naik ke atas.


Pemuda itu tampak kaget saat melihat Hera terkapar di lantai. Ia buru-buru melakukan sleeding saat Green berusaha menarik pelatuk pistolnya.


Melihat Green yang terjatuh Blue segera membantu Hera bangun.


"Apa anda baik-baik saja?" tanyanya dengan wajah gugup


Hera memberikan sebuah sebuah kalung kepadanya.


"Tunjukan kalung ini kepada para agent di ruang rapat dan beritahu mereka untuk segera menghabisi anak buah Green,"


*Doorr!!


"Argh!!"


Hera memekik keras saat timah panas mengenai lengannya.


Green mengerutkan keningnya saat melihat Blue memasang badan untuk melindungi wanita itu.


"Sebaiknya kau pergi dari sini brengsek, aku tidak punya urusan denganmu jadi pergilah sebelum aku kehilangan kesabaran!" seru Green kembali mengarahkan pistolnya


"Semuanya bisa dibicarakan baik-baik, jadi tolong jangan lakukan ini Bang!" tandas Blue berusaha menyadarkan Green yang tampak kalap

__ADS_1


"Cih, dasar anak ingusan kau belum tahu apa-apa tentang bisnis ini, jadi menyingkir lah selagi aku masih berbaik hati padamu,"


Melihat celah saat Green dan Blue berbincang, Hera memanfaatkan peluang itu dengan mengeluarkan ponselnya.


Ia sengaja menghubungi Ali untuk meminta bantuan.


Ia segera mendorong tubuh Blue saat Green menarik pelatuk pistolnya. Ia mencoba lari saat melihat pria itu jatuh sempoyongan.


Sementara itu di ruang bawah mulai terjadi keributan. Anak buah Green mulai melakukan aksinya.


Para gengster mulai menyerang para trainee dan menghabisi mereka. Beberapa orang trainee berusaha keluar meminta bantuan para agent yang tengah berkumpul di ruang rapat. Namun seorang anak buah Green segera membombardirnya.


Suara senapan dan pecahan kaca membuat para agent akhirnya keluar dari ruang rapat.


Mereka mulai menyadari ada yang tidak beres saat menyadari Hera tak kunjung tiba meski tenggat waktu yang diberikan telah berlalu.


*SMA Tunas Bangsa


Melihat video kekerasan yang terjadi dan beberapa gambar siswa sedang bertransaksi ganja seketika memancing kemarahan para wali murid.


Bukan hanya di serbu ribuan komentar. Bahkan beberapa wali murid datang ke sekolah untuk melakukan demo.


Begitupun dengan para siswa yang mulai terprovokasi dengan tindakan Ilham yang begitu bengis saat menghukum para siswa dalam video membuat mereka tak tinggal diam.


Melihat situasi sekolah mulai kacau Max segera menghubungi Darren dan memintanya segera pulang. Ia menyuruh seorang bodyguard nya untuk membawanya pergi dari tempat itu.


Max juga memerintahkan Windu untuk menghabisi para siswa yang brutal dan berusaha menyerangnya. Ia bahkan menggerakkan semua bodyguard yang dibawanya untuk melawan para siswa yang mulai anarkis.


Ali tak tinggal diam saat melihat Windu dan Max yang mulai beraksi.


Gerakan Ali yang cepat dan menghabisi para bodyguard hanya dengan beberapa pukulan membuat adrenalin para siswa semakin terpacu.


Mereka begitu bersemangat dalam melawan anak buah Max bersama Ali.


Kini Ali sudah berhadapan dengan Windu.


Pria itu menyeringai dan mengeluarkan dua buah belati dari saku celananya.


Pertarungan sengit kedua bintang ring membuat seorang Beni terlihat was-was.


Meskipun Ali tak pernah tersentuh api oleh Windu, namun pemuda itu tak bisa menyembunyikan rasa takut saat Windu berkali-kali berusaha menikamnya.


*Buugghhh!!


Tubuh Windu jatuh terhempas saat tendangan keras Ali menghantam dadanya.


Ali segera menggilas telapak tangan pria itu saat ia berusaha mengambil belatinya.


*Door!!


Ali seketika menoleh ke belakang saat timah panas menebus lengannya.


Max tersenyum melihat tembakannya tak meleset.


"Sepertinya kau sekarang mulai lemah Balck Kaiser!!"

__ADS_1


Ali menatap nyalang pria itu, raut wajah memerah dengan tangan yang mengepal membuat Max sedikit gentar.


Ali melepaskan tendangan keras saat Max kembali menarik pelatuk pistolnya.


*Buugghhh!!


*Doorr!!


*Greep!!


Terlihat Ali melayang dan tangannya menangkap pistol Max yang terlepas dari tangannya. Ia kembali melepaskan pukulannya kearah Max saat mendarat membuat pria itu terhempas ke lantai.


*Buugghhh!!!


Beni benar-benar takjub melihat kehebatan ayahnya. Ia benar-benar tak menyangka jika ayah yang selama ini begitu di bencinya adalah seorang petarung handal.


"Wah Om Ali benar-benar keren!" seru salah seorang siswa


"Benar-benar jagoan gue, The real Hero!" sahut yang lainnya


"Gue iri sama lo Ben, punya bokap keren kaya Om Ali," tegur Ranti menepuk bahu Beni


Sementara itu melihat sekolahnya ricuh, Ridwan segera menghubungi polisi.


Tidak lama polisi datang ke sekolah.


Windu berusaha kabur saat melihat kedatangan polisi. Tak mau kehilangan Windu Ali pun bergegas mengejarnya. Keduanya kembali berhadapan.


Kali ini Windu tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menyerang Ali dengan membabi buta. Tiba-tiba konsentrasi Ali terpecah saat ponselnya berdering.


Windu mengambil sebuah tongkat pemukul bisbol dan menghempaskannya kearah Ali.


*Buugghhh!!


Darah segar mengalir dari pelipisnya saat tongkat kayu itu patah menghantam kepala Ali.


Windu tak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia segera melepaskan tendangan keras kearahnya. Ali tak mau berlama-lama menghadapi Windu karena Hera sudah memanggilnya.


Ia berhasil menghindari tendangan Windu dan menyerangnya.


Tak butuh waktu lama baginya untuk mematahkan tulang-tulang pemuda itu.


Ia kemudian meninggalkan Windu saat pria itu tak bisa berkutik lagi. Selesai menyerahkan Windu kepada polisi beserta barang bukti, Ali melesatkan mobilnya menuju ke Ares Group.


Kali ini Ali sengaja menyelamatkan Hera dan menghabisi Green dan pasukannya yang dianggap berkhianat.


Green begitu marah saat Ali tiba-tiba membelot dan membela Hera.


Meskipun hanya berdua dengan Blue, Ali berhasil memukul mundur Green dan pasukannya.


Ia bahkan berhasil membombardir pasukan bersenjata Green dengan senapan laser yang sudah ia pasang di mobilnya.


Green lari tunggang-langgang langgang meninggalkan Ares Tower.


Namun belum sempat ia kabur, polisi datang dan mengamankan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2