
Suasana kelas yang berisik seperti pasar tidak membuat ku berhenti untuk membaca novel.
"Fokus banget sih baca novelnya." heran Nia.
"Harus fokus biar kita ngerasain apa yang mereka rasain." ucapku.
Aku tidak sejak akan aku menyukai novel terlebih lagi jika genrenya adalah fantasi romantis, time travel, reinkarnasi dan tentunya dengan latar sekolah ya.
"Kenapa enggak fokus aja sih sama dunia mu sendiri? Kenapa harus fokus sama cerita fiksi kayak gitu?" tanyanya.
"Udah deh kamu tuh enggak akan paham sama dunia ku." ucapku.
Aku masih saja membaca novel karena ini benar-benar sangat menarik.
Aku tidak punya uang untuk membeli buku novel jadi aku selalu membaca novel di aplikasi yang ada di hp.
"Ye lah tuh, masuk kedalam novel baru tahu rasa!" ucapnya.
"Kayaknya sih seru kalau kita masuk dalam dunia novel apalagi kalau kita yang jadi protagonis." ucapku dengan antusias.
Sementara itu Nia mencoba menahan dirinya untuk tidak memaki diriku hingga akhirnya dia memutuskan untuk menjitak kepalaku supaya aku sadar.
"kamu tuh punya dunia sendiri kenapa kamu malah pengen banget sih masuk ke dunia?" heran Nia.
Aku juga enggak tahu kenapa aku mikir kayak gitu. Tapi jujur aja sih kayaknya memang lebih seru kalau kita masuk ke dunia novel yang kita baca.
"kamu baca cerita kenapa serius banget? Emangnya yang sekarang kamu baca tuh menarik banget apa?" tanyanya.
Aku tidak pandai dalam belajar tapi aku sangat pandai bercerita.
"Ini ada cewek namanya Reta, dia tuh cantik dan kayak raya dia juga punya pacar namanya Leo. Asli si cowok tuh suka banget sama dia tapi dia malah gampang banget cemburu dan akhirnya dia ganggu tuh sahabat cowoknya pada akhirnya mereka putus karena ulah Reta sendiri. Pokonya sedih lah aku aja baca samapi keluar ingus saking sedihnya." ceritaku.
"Mampus kau kalau kau masuk ke dalam novel kau jadi Reta." ucap Nia sambil tertawa jahat.
"Enggak mau! Aku maunya jadi sahabat Leo dan pada akhirnya Leo tuh sadar kalau yang dia suka tuh bukan Reta tapi aku." halu ku.
"Otak mu makin aneh ya. Udah enggak bisa tertolong lagi." ucap Nia dengan nada prihatin.
Aku tidak sakit sih dengan perkataannya karena yang dia katakan memang benar. Aku aja kadang merasa heran sendiri dengan isi otak ku.
Kenapa aku malah mengingat cerita novel yang lebih dari 300 halaman dibandingkan dengan tugas hapalan rumus kimia yang tidak sampai 2 halaman.
"Kayaknya harus kena bola dulu deh biar otak mu normal lagi." ejeknya.
Dan entah dari mana datangnya ada bola yang mengenai kepala ku hingga aku terjatuh dengan tidak etisnya.
"Kamu enggak papa?" tanya seseorang.
__ADS_1
Aku cuma bisa nyengir. karena orang yang aku lihat tuh ganteng walaupun sedikit buram. Dan pada akhirnya aku enggak sadarkan diri.
"Kenapa dia enggak bangun-bangun?"
Aku mendengar ada suara cowok dan dari suaranya aku bisa nebak kalau dia tuh cowok ganteng.
"Dia cuma tidur aja. Dia bakalan bangun kok."
Aku kaget denger suaranya. Kok bisa ya suaranya lembut banget. Apa dia enggak pernah makan gorengan ya?
Karena mereka berdua bicara tanpa henti akhirnya aku membuka mataku.
Yang ku lihat ada lampu tapi itu mati karena ini masih siang makanya lampunya enggak dinyalakan.
"Kamu enggak papa?" tanya seorang cowok sambil memegangi tangan ku.
Aku melihatnya dan aku enggak bisa ngomong apa-apa karena dia terlalu ganteng.
Apa aku salah lihat ya? Kayaknya otak ku makin eror ya.
Aku mencoba mencari Nia tapi dia enggak ada disini. Apa dia lebih mementingkan pelajaran ya daripada sahabatnya sendiri?
"Kamu enggak papa?" tanya seorang perempuan.
"Enggak papa." jawabku sambil tersenyum.
"Ngomong-ngomong kalian berdua siapa ya? Kok kayaknya aku baru lihat." tanya ku.
Mereka berdua terlihat bingung dan saling menatap satu sama lain.
"Kamu enggak inget sama aku? Aku pacar kamu loh."
Aku langsung tertawa terbahak-bahak. Apa kuping ku bermasalah ya makanya aku denger dia ngomong aneh kayak gitu.
"Aku mana punya pacar. Aku jomblo sejak lahir." tawa ku.
Dia terlihat kecewakan pada ku. Kenapa coba ekspresinya kayak gitu? Bikin aku merasa bersalah aja sama dia.
"Aku tahu kamu masih marah sama aku. Tapi tolong jangan ngomong kayak gitu." ucapnya.
"Iya. Aku sama Leo enggak ada hubungan apa-apa kecuali sahabat. Dia cuma suka sama kamu." ucap Risa.
"Hah?" bingung ku.
Kenapa aku ngerasa familiar ya sama nama itu. Apa aku masuk ke dalam dunia novel? Tapi enggak mungkin sih. Mana ada hal yang kayak gitu.
"Leo? Risa?" panggil ku.
__ADS_1
"Iya." jawab mereka kompak.
"Aku enggak mungkin Reta kan?" tanya ku.
"Iya kamu Reta." jawab Leo.
Aku cuma bisa cengengesan karena aku inget kata-kata Nia. aku pikir kalau dia tuh sebenarnya nenek sihir.
Yang dia omongin tiba-tiba jadi nyata. Dia menyumpahi ku masuk kedalam novel dan jadi Reta.
Dan dia juga ngomong otakku akan normal kalau aku kena bola dan waktu aku bangun gara-gara kena bola otakku malah makin eror dan kayaknya enggak bisa di perbaiki lagi.
"Kamu enggak papa?" tanya Leo.
"Hah?" kaget ku, "aku enggak papa. Cuma sedikit pusing aja." jawabku.
"Kamu jangan salah paham lagi sama hubungan ku dan Leo. kami berdua cuma teman biasa. Teman dari kecil dan rumah kami juga sebelahan." ucap Risa.
Padahal dia baik. Tapi kenapa Reta sebel banget ya sama dia. Emosinya selalu aja memuncak kalau lihat dia dekat sama Leo.
"Iya. Aku harusnya yang minta maaf." ucapku.
Aku baru sadar kalau suaraku juga berubah. Malah kedengaran lebih lembut dari suara Risa.
Dan aku kan baca ceritanya kalau Reta tuh lebih cantik daripada Risa. Dan ketika aku lihat Risa tub cantik banget.
Aku jadi enggak sabar lihat muka sendiri. Pastinya cantik banget dan lebih cantik daripada mukaku yang asli.
"Ayok ku antar kamu pulang." ucap Leo.
"Pulang? Kita enggak masuk kelas?" tanya ku.
"Aku tahu kamu suka banget belajar tapi sayangnya sekarang ini udah jam pulang sekolah." ucap Leo sambil sedikit tersenyum.
Aku terpesona lihat senyumannya. Baru kali ini aku lihat cowok senyum malah nambah kegantengannya.
"Kenapa diem aja?" tanya Leo.
"Manis benget senyumnya." jawabku tanpa sadar.
"Ayok pulang." ucapnya sambil balik badan.
Leo pergi duluan dan aku di bantu sama Risa. Ketika kami sampai parkiran aku kaget bukan main.
Dan mereka berdua malah keheranan lihat aku.
"Dunia ini emang bukan kaleng-kaleng." batinku.
__ADS_1